Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
75. Kelakuan Amira


Allea kembali pulang ke rumah mama Tiara menjelang sore setelah selesai fitnes bersama dua sahabatnya. Terlihat mamanya sedikit kaget melihatnya kembali ke rumah, bukan ke apartemennya.


"Kamu dari mana Al?" tanya mama Tiara setelah Allea keluar kamar.


Allea sudah mandi dan terlihat segar. Ia pun menghampiri mamanya yang tengah menata cemilan di meja makan.


"Dari fitnes mah.."


"Kamu gak sama Sandy?"


"Gak mah, aku sama Nayla dan Rania" jawab Allea lalu membuka satu toples berisi keripik kentang untuk di cemil.


"Hubungan kamu dengan Sandy gimana? Mama lihat koq makin hari makin terlihat berjarak aja?"


Allea berhenti mengunyah lalu melirik mamanya.


"Sebenarnya bukan berjarak mah...tapi, aku lagi membiarkan dia fokus mencari bukti yang aku inginkan.." jawab Allea.


Mama Tiara terlihat menghela nafas lalu duduk di kursi sebelah Allea.


"Jujur aja mah, aku juga mulai ragu sama berita itu. Tapi..aku juga butuh bukti mah, bukti itu nanti yang sekaligus akan membebaskan dia dari perempuan itu. MISAL memang itu bukan benih kak Sandy!" kata Allea panjang menekankan kata 'misal'.


"Berarti dia cari bukti itu untuk menyelamatkan pernikahan kalian juga kan?"


"Ya!" jawab Allea mengangguk tegas.


"Apa dihati kamu udah gak ada cinta buat Sandy?" tanya mama Tiara membuat Allea mengernyit seketika sambil memandang mamanya.


"Mamah ini koq tanya gitu sih? Ya jelas aja masih mah, aku masih sayang sama kak Sandy, cinta aku cuma buat dia mah.."


"Nah...kalo mengaku masih cinta, masih sayang...kenapa kamu biarkan dia pontang-panting sendiri, menghadapi semuanya sendiri demi cari bukti yang kalian inginkan?"


"Ya karena masalah ini muncul kan akibat kesalahan dia mah.."


"Allea...come on, grow up!" Allea menghela nafas lalu memalingkan wajah. "Ini rumah tangga kalian, seperti apa pun masalah yang kalian miliki hadapilah berdua.."


"Mah.."


"Lihat suami kamu!" sela mama Tiara pelan tapi tegas. "Kamu gak ada rasa kasihan melihat dia kaya gitu? Belum juga ketemu bukti, cobaan lain udah datang dengan masuknya pak Roby ke ICU, harus handle perusahaan sendiri, belum lagi dia harus menanggung malu karena sekarang satu perusahaan tau berita miring itu.." kata mama Tiara.


"Mama berkata seperti ini karena bukan hanya sehari dua hari mengenal Sandy. Kalo dia memiliki sifat seperti yang dituduhkan..mungkin sudah dari dulu suami kamu melakukan semuanya pada wanita yang dekat dengannya.." lanjut mama Tiara.


Allea diam lalu meneguk air putih di depannya. Tadi siang Mario yang memberinya nasehat, sekarang mamanya. Tapi keduanya tak terlihat seperti memihak Sandy, semua yang dikatakan mamanya dan Mario memang ada benarnya.


"Al..?" panggilan mama Tiara membuyarkan lamunannya. Allea menoleh.


"Sandy butuh kamu di sampingnya saat seperti ini. Dampingi dia, kalo perlu kamu bantu dia cari bukti itu. Jangan saling menjauh dan akhirnya meninggalkan karena masalah mengalahkan kalian!" sambung mama Allea menatap Allea lekat. Allea tertunduk menekuri gelas di genggamannya. Mama Tiara berdiri dan mengelus kepala Allea.


"Suami istri itu, kalo salah satu roboh yang satu harus menguatkan! Luaskan hati kamu, demi rumah tangga kalian.." kata mama Tiara kemudian pergi, meninggalkan Allea yang masih merenungi perkataan sang mama.


     🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Sementara diwaktu yang sama, Amira perlahan membuka mata karena merasakan pijatan pelan di tangannya. Ia menoleh kanan kiri melihat di sekitarnya. Tampak ia ada di salah satu ruangan spa yang nyaman dengan posisi tidur setengah bersandar. Ada dua orang terapis spa bersamanya, orang yang sama saat menjemputnya tadi.


"Nona sudah bangun?" sapa salah seorang terapis.


Amira masih mencoba mengingat-ingat bagaimana ia bisa ada di tempat itu. Padahal seingatnya tadi ia masih ada di mobil.


"Perawatan spa untuk ibu hamil sudah selesai. Anda bisa berganti pakaian kembali" jelas sang terapis.


"Sandy dimana ya? Calon suami saya.." tanya Amira dengan pedenya.


"Pak Sandy sudah pergi, nona"


"Hah, pergi?! Gimana sih, koq gue ditinggal sendiri disini!" Amira pun lalu beranjak turun dari bed spa dan berjalan menuju kamar ganti.


Setelah berganti pakaian ia pun keluar lagi, tubuhnya memang jauh lebih terasa fresh setelah spa.


"Mbak, ini layanan spa dari rumah sakit ya? Kenapa Sandy memilih tempat ini untuk spa?" tanya Amira sedikit merasa janggal.


"Itu nanti bisa anda tanyakan sendiri pada pak Sandy"


"Hei, kamu sekretaris Sandy kan?" Ananta menoleh.


"Hmm, ya. Sudah selesai perawatan? Anda bisa pulang, kalo tidak membawa kendaraan bisa saya pesankan taksi"


"Gak usah, gue bisa sendiri. Gue pengen tau, sebenarnya tadi waktu gue tidur apa yang terjadi?"


"Tidak ada. Hanya perawatan spa ibu hamil" jawab Ananta lalu memasukkan amplop putih itu ke saku.


"Apa itu?"


"Maaf, ini bukan hak anda tau. Urusan anda disini hanya untuk spa. Permisi.." kata Ananta kemudian berlalu.


"Tunggu!" Amira mencekal tangan Ananta. "Gue ini calon istrinya Sandy, jadi semua yang berhubungan dengan Sandy gue harus tau! Mana amplop itu?!" Amira membuka telapak tangannya.


Ananta mendengus tertawa. "Yang saya tau, istri pak Sandy itu cuma satu namanya Allea. Jadi...anda gak usah mimpi ketinggian!" kata Ananta di depan muka Amira lalu berjalan pergi.


Amira memandang mobil Ananta yang menjauh dengan tatapan geram bercampur khawatir. Fillingnya berkata Sandy sedang mencari tau tentang kehamilannya. Dan amplop itu pasti hasil dari tes yang dokter lakukan atas perintah Sandy tadi.


'Tidak, Sandy tidak boleh tau soal umur kehamilan yang sebenarnya!' batin Amira lalu merogoh ponsel di tasnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo? Bisa bantu gue? Ya..nanti gue kabari detailnya, siapkan dulu aja semuanya. Oke, thanks.." Amira tertawa licik sambil menutup telpon. "Gue gak akan tanggung-tanggung dalam bertindak!"


🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥


Setelah pulang kerja Sandy bergegas menuju ke apartemen untuk sekedar mandi dan istirahat sebentar. Terasa sangat berbeda sekali di dalam apartemen sendiri tanpa Allea seperti ini.


'Sabar sebentar sayang, kita akan bercanda dan tertawa bersama lagi disini..' batin Sandy. Ia tinggal menunggu Ananta menghubunginya untuk tau hasil tes itu. Berulang kali ia melihat ponsel tp belum ada kabar dari Ananta. Selesai bersiap dengan outfit t-shirt putih dan jaket jeans hitam dipadu celana senada Sandy langsung melesat turun setelah memakai sneakers-nya.


Malam ini ia berencana akan menginap di rumah sakit, menemani papanya. Setelah beberapa hari kak Sherly yang berjaga bergantian dengan mertuanya.


Sampai di rumah sakit Sherly tak lama langsung pamit pulang karena Dio di rumah hanya dengan papanya dan tengah rewel mencarinya. Sandy pun mengiyakan, sebentar kemudian ia yang tak sabar menunggu langsung menelpon Ananta.


📱: 'Hallo pak..'


"Nan..sudah ada sama kamu hasil tes-nya?" tanya Sandy to the point.


📱: 'Sudah pak, ini rencana mau saya antar ke tempat bapak, maaf saya masih di jalan ini pak. Sedikit macet karena-'


"Sudah kamu buka belum hasilnya?" potong Sandy.


📱: 'Saya mana berani pak..' Ananta tertawa rikuh.


"Kamu buka aja sekarang!"


📱: 'Tapi pak-'


"Gak papa Nan, tolong kamu menepi sebentar buka aja hasil tes itu terus kamu foto, kirimkan ke saya ya!"


📱: 'Ehm...ya pak, sebentar saya fotokan dulu'


"Oke, saya tunggu segera ya. Makasih Nan.."


Mereka pun mengakhiri panggilan, dengan harap cemas Sandy menunggu chat kiriman foto hasil tes dari Ananta.


Tapi ditempat lain dimana Ananta tengah menepikan mobil di tempat yang sepi, lalu mengambil foto hasil tes itu, seketika dari belakang...


BRAKKKK!!!


"Aaakkk..!!"


Mobil Ananta di tabrak dengan kerasnya oleh sebuah mobil pick up. Ponsel Ananta pun terlempar ke bawah dan Ananta membentur setir cukup keras hingga luka di keningnya. Jalanan yang tak ada satu pun kendaraan lain itu membuat pengemudi pick up leluasa turun dan memecah paksa kaca mobil Ananta. Di ambilnya kertas hasil tes yang masih ada di tangan Ananta itu dan di bawanya pergi. Tanpa peduli Ananta yang tak terkulai dengan banyak darah di keningnya. Siapa lagi yang patut di tuduh atas semua itu kalo bukan Amira. Ya..semua itu dialah otaknya, Amira benar membuktikan ucapannya lagi kali ini. Kelakuannya begitu nekat dan tega bahkan pada Ananta yang belum begitu ia kenal.


Ananta masih setengah sadar tapi tubuhnya tak kuat bangun. Dengan sisa tenaga ia menjangkau ponsel yang ada di sebelah kakinya lalu menekan tombol panggilan cepat ke nomor Sandy. Satu kali panggilan langsung diangkat.


📱: 'Hallo Nan, gimana? Lama banget kirim fotonya?' cecar Sandy.


"Pak...to...long...sa..ya.." rintih Ananta.


📱: 'Nan?! Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Nan? Ananta?! Hallo?!'