
Sampai di kampus Sandy melihat ponselnya, Allea mengiriminya chat menjelaskan kalo ia sedang melobi kain ke temannya untuk bahan jersey tambahan. Sandy langsung berjalan mencari keberadaan Allea, ia tau kebiasaan istrinya. Kalo gak di base camp mapala ya di kantin. Saat ia berjalan banyak pasang mata kaum hawa juniornya yang berbisik-bisik. Pasti keberadaannya ditengah kampus sangat mencuri perhatian dengan wajah tampan, penampilan rapi lalu berjalan sambil menggulung lengan kemeja yang nyatanya menambah kharisma pada Sandy.
Tak menemukan Allea di base camp mapala Sandy pun mengalihkan langkah menuju kantin. Dan benar saja, Allea ada disana bersama beberapa teman termasuk Nayla dan Rania. Allea tampak konsentrasi mencatat apa yang di ucapkan teman di sebelahnya. Hingga tak menyadari ada yang mendekat di depan mejanya dan membuat suasana mendadak senyap. Nayla menyenggol lengan Allea beberapa kali. Merasa terusik, Allea pun mendongak lalu nyengir kuda melihat Sandy sudah berdiri di depannya dengan melipat tangan di dada.
"Pu-lang!" kata Sandy pelan tapi penuh penekanan.
"Sebentar...belum selesai ini" rengek Allea sambil menunjuk catatannya dengan pena ditangan kanannya.
"Pacar kamu?" bisik Siska, teman disebelahnya yang belum tau siapa Sandy.
"Hehe...suami" jawab Allea tersenyum rikuh. Siska dan Cessa pun saling bisik dan senggol lalu tersenyum mencuri lihat ke arah Sandy. Mereka pun sok sibuk lagi dengan kesibukan sebelumnya.
"Ehem...berapa menit lagi ya ini?" Sandy mendehem sambil melihat jam tangannya.
"Udah Al, lanjut besok aja gak papa. Yang penting intinya udah fix tadi" kata Siska setengah berbisik.
"Iya Al, gak enak sama suami lu nungguin lama. Kalo gue sih enak-enak aja, ada pemandangan seger.." bisik Cessa menaik turunkan alisnya.
"Udah sold out!" jawab Allea berlagak marah sembari mencubit pinggang Cessa hingga terkekeh.
Allea pun mengemasi catatan dan semua barangnya ke dalam tas sambil meruncingkan bibir. Ia seolah belum rela meninggalkan kampus karena rasanya kangen banget. Sudah seminggu ia tak ke kampus karena pengajuan 'cuti paksa' oleh suaminya kemarin.
Setelah Cessa dan Siska berlalu, Allea pun ikut beranjak dari kursinya.
"Lho, jadi pulang beneran ini? Aku kan belum jadi curhat!" protes Nayla.
"Oiya..ya udah, sebentar lagi ya sayang..setengah jam, ya?" rayu Allea kembali duduk tapi Sandy menggeleng tegas.
"Pulang!"
"Ckk...sebentar aja, gak ada satu jam koq, lagian aku juga cuma duduk aja!" tawar Allea.
"Eng-gak sa-yang.." jawab Sandy memperjelas.
"Please.." Allea masih memohon.
Sandy ganti berdecak. "Kamu boleh cerita-cerita sampai sore tapi gak disini, nanti pada main aja ke apartemen!" jelas Sandy tak mau di tawar.
"Sebentar aja kak, ini penting?" Nayla ikut membujuk Sandy.
"Iya kak, kasian ni Nayla korban dari kegagalan move on lho.." imbuh Rania yang langsung dapat towelan dikepalanya dari Nayla. Rania pun terkikik. Sandy mengangkat tangannya tak setuju.
"Ayo Allea!" ajak Sandy mengulurkan tangan. Allea menggeleng manja.
Sandy menghela nafas seolah habis kesabaran lalu dengan cepat ia mengambil ransel Allea dan menggantungkannya dipundak. Selanjutnya Sandy meraih tubuh Allea dan menggendong paksa ala bridal style. Buru-buru ia membawa Allea pergi meninggalkan dua sahabatnya yang hanya bisa melongo. Allea pun meronta meminta turun paksa tapi jelas aja tak bisa karena tenaga Sandy lebih kuat.
"Sayang, turuniiin! Malu!"
"Biarin, kalo gak gini kamu gak mau pulang!"
Allea makin malu saat melewati koridor yang penuh mahasiswa dan mereka bercie-cie meledeknya.
"Ciee...Sandy, udah gebelet ni kayanya pengen malam jumat!" celetuk salah satu anak mapala cowok yang ada disana.
"Yoi...gempur lagi biar cepat jadi!" sahut yang lain.
"Iyalah! Kenapa..pengen? Makanya nikah!" jawab Sandy dengan wajah tengil sambil terus berlalu menggendong Allea.
"Kamu ni ah, malu-maluin!" gerutu Allea setelah mereka duduk di mobil.
"Ya habis kamu juga sih, di suruh istirahat malah main kabur aja, gak ijin suami lagi" kata Sandy
"Gimana mau ijin, kalo ijin pasti gak boleh!" sahut Allea sewot melipat tangan di dada.
"Lagian ngapain sih pake ke kampus, emang ngurus kain gak bisa lewat telpon aja? Atau teman kamu yang diminta datang ke apartemen, gitu.." jawab Sandy melunak tak mau terjadi pertengkaran.
"Ya gak bisa dong, aku kan pengen pastiin langsung jenis kainnya. Tadi dibawakan beberapa contohnya sekalian daftar harganya. Siska hari ini kuliah sampai sore jadi gak bisa kalo disuruh ke apartemen. Aku tuh bukan asal kabur aja, tapi juga punya tujuan!" cerocos Allea panjang membuat Sandy mengulum senyum.
Lalu di raihnya tangan Allea yang untungnya tak menolak bahkan saat Sandy mengecupnya.
"Bener? Bukan tujuan kabur karena udah gatel pengen ke kampus?" goda Sandy. Allea langsung memukul lengannya, Sandy pun terkekeh.
"Nih...kalo gak percaya!" Allea meletakkan buku file ditangan Sandy.
Di bukanya buku file dari Allea itu dan membaca barisan tulisan yang membuat matanya membulat.
Sandy membanting file Allea dipangkuannya lalu menopang kepala dengan kedua tangan.
"Huuffhh...gak sanggup...gak sanggup! Pusing!"
Sandy heran, baru beberapa hari aja Allea memegang kendali pesanan jersey yang masuk, makin kesini pesanan malah makin membludak aja.
"Pusing kan? Makanya... Orang mau bantuin koq malah dituduh pengen kelayapan. Di kasih fasilitas asisten gratis tuh seneng dong harusnya.." Allea.
Sandy terbahak lalu mengacak-acak rambut Allea dengan gemas dan mengecup keningnya.
"Iya..maaf istriku yang galak. Kalo gitu mulai sekarang aku serahkan urusan jersey ke kamu ya, asisten aku yang cantik.." rayu Sandy.
"Yakin? Nanti aku pergi nyari kain marah, dikirain gatel pengen..." Allea menggantung kalimatnya menyindir ucapan Sandy.
"Enggak...aku gak marah, asal ijin dulu baru berangkat. Tadi kalo gak telpon mama kan aku gak tau kamu ke kampus, iya kan?"
Allea nyengir. "Iya, maaf. Aku takut kamu marah soalnya kalo ijin dulu. Rencana tadi pulang dari kampus baru mau aku kasih tau.."
"Nakal.. Lain kali jangan gini, selain khawatir kamu belum sehat, aku juga khawatir kalo kamu ketemu Andre di kampus atau dijalan. Emang kamu gak takut?"
Allea menaikkan bahunya. "Aku tetap hati-hati koq. Lagian katanya sekarang Andre itu hampir gak pernah keliatan di kampus" jelas Allea.
"Ya aku tetap khawatir kalo dia ngapa-ngapain asisten plus-plus aku ini.."
"Apa?" sahut Allea menahan tawa mendengar Sandy menyebutnya asisten plus-plus.
Sandy lebih mendekatkan tubuhnya ke kursi Allea.
"Asisten plus-plus! Paham?"
"Enggak!" sahut Allea.
"Kalo gitu aku tunjukin sekarang aja plus-plusnya kaya apa. Biar paham!" kata Sandy lalu menangkupi wajah Allea dan mendekatkan bibirnya dengan tatapan nakal.
"Eeh...mau apa sih ini?" tanya Allea mendorong dada Sandy panik. "Kamu gak balik kerja lagi apa?" tanya Allea mengalihkan.
"Enggak..pengen pulang aja sama asisten aku terus minta plus-plus dirumah.." bisik Sandy membuat wajah Allea memerah.