Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
66. Sedikit Menghangat


Allea dan Sandy jadi menginap di rumah papa Roby karena kak Sherly beserta anak dan suaminya sedang datang berlibur untuk beberapa hari. Suasana malam itu jadi meriah dan penuh tawa karena semua berkumpul, termasuk Stevie adik bungsu Sandy yang sedang pulang dari pondok. Wajah Pak Roby terlihat sangat bahagia bisa berkumpul dengan acara sederhana tapi hangat seperti ini. Jadi Allea pun juga akan sedikit menepikan perasaan sedihnya dulu, ia tak mau merusak suasana. Malam ini ia ingin terlihat baik-baik saja di depan semuanya. Biarpun Sandy tetap tau hal itu.


Sesuai rencana, mereka akan bercamping di halaman belakang rumah dan membuat barbeque. Dari sore tadi tenda sudah didirikan diatas hamparan rumput yang terawat rapi itu. Jadi malam ini mereka tinggal membuat makanannya. Allea dan Sherly pun telah menyiapkan apa saja yang mereka butuhkan untuk barbeque. Selesai mematangkan semua makanan mereka pun makan malam sambil mengobrol ringan. Pak Roby terlihat asik mengobrol dengan Sandy dan suami kak Sherly. Sementara Dio tak mau pisah dengan Allea, begitu juga Stevie terlihat cocok mengobrol dengan Allea di depan tenda. Biarpun mereka jarang sekali bertemu, tapi memang Allea selalu bisa membuat orang di dekatnya nyaman.


"Sosis bakar siaaapp!" seru Sherly  membawa sepiring penuh sosis yang selesai ia bakar bersama bi Yanti.


Stevie pun menyambutnya juga Sandy yang langsung datang mencomot sosis lalu membawanya ke tempat Allea duduk bersama Dio.


"Mau gak sayang?" Sandy menyuapkan sosis ke mulut Allea yang langsung disambut oleh Allea.


Dio yang ada didepan mereka melihat dengan cemberut lalu...


Plakk!!


Tangan mungil Dio memukul wajah Sandy tepat di matanya. Mereka pun kaget bersamaan.


"Aduh! Diooo...!!" Sandy langsung memejam mengusap matanya.


"Eh...Dio, kenapa pukul om Sandy?" Allea langsung memangku Dio sambil menjauhkan dari Sandy.


"Gak boleh suapin! Dio aja!" jawab Dio.


Allea tertawa, ternyata Dio cemburu. Anak kecil itu gak suka melihat Sandy menyuapi Allea.


"Ya udah nih kalo gak boleh suapin, Dio aja" Sandy mengulurkan sosis ditangannya.


Dio pun menerimanya dengan cepat lalu menyuapkan ke Allea. Sandy dan Allea saling pandang lalu tertawa melihat tingkah keponakannya. Allea mengusap pelan pinggir mata Sandy yang sedikit merah hasil karya tangan Dio.


"Sakit?"


"Gak papa koq" jawab Sandy. "Heh, cowok kecil galak! Tante Allea kan punya om Sandy, awas minggir.." Sandy memeluk Allea dengan satu tangan sementara tangan lainnya pura-pura menyingkirkan Dio.


"Gak mauuuu...tante punyakuuu!!" teriak Dio lalu mengacungkan tusukan sosis ke arah Sandy.


"Eh...jangan sayang, gak boleh gitu. Nanti kalo om berdarah gimana, kasian kan..." bujuk Allea lembut sambil meminta tusuk sosis dari tangan Dio lalu membuangnya.


Untungnya Dio menurut biarpun matanya masih saja mengincar Sandy. Sementara Sandy terus menggodai tak melepaskan tangannya dari pundak Allea sambil menjulurkan lidah ke arah Dio.


"Nakal!" teriak Dio sambil melirik sinis membuat Sandy terkekeh.


"Jangan di godain dong sayang, kamu nih.." sungut Allea memarahi Sandy.


Tapi Sandy justru senang terlebih Allea memanggilnya 'sayang'. Beberapa hari setelah kejadian foto itu, Allea hampir tak pernah memanggilnya dengan sebutan itu. Biarpun tetap melayani apapun kebutuhannya setiap hari. Malam ini hubungan mereka sedikit menghangat lagi karena ada Dio.


"Asik ya ternyata godain anak kecil" kata Sandy nyengir. "Habis tantenya lagi gak mau digodain, ya udah godain ponakannya aja" bisik Sandy ditelinga Allea.


Tak terasa Allea pun terlelap bersama Dio di dalam tenda. Sampai tak menyadari saat Sherly mengambil Dio yang sudah pulas dan memindahkannya ke tenda sebelah. Sandy pun gantian masuk dan tidur di sebelah Allea. Ia tersenyum melihat Allea tidur lalu mengusap wajahnya dan mencium keningnya. Allea pun membuka mata sedikit kaget.


"Eh..maaf sayang, jadi bangunin kamu" kata Sandy.


"Dio mana?"


"Udah diambil kak Sherly tadi" jawab Sandy lalu Allea mendesah kecewa. Ia masih ingin tidur dengan ponakan gemesnya itu.


"Padahal masih pengen tidur sama Dio.." sungut Allea.


"Soalnya takut nangis ntar malam nyariin kak Sherly katanya" jelas Sandy.


"Oowh...ya udah" jawab Allea pelan. "Kamu jam segini koq baru masuk, habis dari mana?" tanya Allea.


"Tadi aku ngobrol dulu sama kakak.."


"Ngobrolin apa?"


"Yaa...masalah yang ada saat ini. Karena aku gak mungkin cerita ke papa.."


"Hmm..."


"Tadi aku juga bilang ke dia, jangan kasih tau ke papa. Aku bener belum siap kalo sampai papa tau.." kata Sandy menerawang.


"He-em. Aku juga gak akan kasih tau hal ini ke mama papa, karena aku berharap semua selesai dengan baik tanpa orang tua kita tau.." kata Allea panjang sambil menatap Sandy dan memainkan kerah t-shirtnya. Mereka saat ini tidur miring saling berhadapan.


"Iya. Makasih ya sayang" kata Sandy sambil merapikan rambut Allea. "Aku boleh cium?"


"Tumben bilang, biasanya langsung main nyosor aja.." jawab Allea mengerling membuat Sandy mendengus tersenyum lalu mendekap Allea.


"Aku sayang kamu..." kata Sandy pelan.


Tanpa menunggu jawaban ia lalu memagut bibir Allea. Allea pun tak menolak tapi juga tak begitu menyambut meskipun Sandy sangat intens mencium bibirnya.


"Kita bikin yang kaya Dio aja yuk sekarang?" goda Sandy membuat Allea memutar matanya.


Allea langsung memunggunginya mendengar pikiran mesum suaminya yang tak tau tempat itu. Sandy tertawa kecil lalu memeluk Allea dari belakang.


"Love you.." bisik Sandy tapi tak ada jawaban, Allea hanya mengangguk kecil saja.


Mereka pun terlelap dengan suasana yang sedikit menghangat malam ini, diiringi suara jangkrik dan diterangi oleh bulan separuh. Menambah suasana romantis malam itu yang sayangnya Sandy tak mendapatkan apa yang ia inginkan..