Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
73. Kangen Dinas Malam


Selesai meeting Sandy mengumpulkan semua staf inti di perusahaannya. Sandy berbicara langsung tentang pemberitaan dirinya yang sedang hangat di tengah semua karyawan. Ia menghimbau pada semua staf agar menyampaikan pada bawahan masing-masing untuk tidak begitu saja percaya pada berita itu. Sandy pun berjanji secepatnya akan meluruskan dan membersihkan nama perusahaan kembali. Beruntung semua staf mempercayai dan mendukung Sandy, itu semua karena mereka memandang pak Roby sebagai pemilik perusahaan. Bagi mereka pak Roby ialah atasan yang baik tempat mereka menyambung nyawa selama ini. Dan Sandy pun juga dikenal baik sebelum ada berita ini, biarpun ada beberapa yang tetap memandang buruk karenanya.


Setelah masuk lagi ke ruangannya, Sandy langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruangannya. Ia merasa tubuh dan pikirannya sangat lelah, hari ini merupakan hari yang makin berat. Selain karena papanya terkena dampak akibat ulah Amira, sekarang suasana perusahaan pun jadi canggung. Ia berharap perlahan bisaΒ  mencair kembali setelah memberi penjelasan pada beberapa staf inti. Sandy melihat jam di ponselnya yang ternyata sudah sore. Terlihat ada beberapa pesan masuk, paling banyak dari Mario dan teman-teman kuliahnya. Menanyakan perihal kebenaran berita tentang Amira. Sandy berdecak menghela nafas lelah lalu memijit pangkal hidungnya. Ia malas merespon, biar saja waktu yang menjawab. Ada juga beberapa chat dari kakaknya yang memberinya kabar soal papanya yang belum ada kemajuan.


Sedangkan Allea yang ia nantikan untuk menghubunginya tak ada satu pun chat atau panggilan. Kali ini Allea benar marah padanya dan tak main-main. Sandy membuka galeri foto di ponselnya, ia melihat foto-foto Allea berdua dengannya. Apa Allea tak merasa kalo ia luar biasa kangen saat menghabiskan waktu berdua dengannya? Sandy sampai lupa kapan terakhir kali Allea memuaskannya. Sandy kangen meminta jatah 'dinas malam' pada Allea. Allea yang tak pernah menolak kapan pun ia ingin, tapi sekarang Allea seolah tak mau di sentuh. Sandy menghembuskan nafas berat, mengingat Allea selalu memberinya kehangatan membuat sesuatu memberontak di bawah sana.


"Duhh..kenapa harus sekarang sih?!" gerutunya pada hasrat yang tiba-tiba muncul.


Tok..tok..tok...


Tiba-tiba pintu di ketuk, Sandy pun segera menegakkan tubuhnya.


"Ya masuk!"


Ananta pun melesak ke ruangannya dengan beberapa lembar kertas di tangan.


"Maaf pak, mungkin bapak bisa baca dulu ini.."


"Hhh...apa lagi Nan?" keluhnya sambil menerima kertas dari Ananta.


Ananta tak menjawab malah melirik ke arah sesuatu yang tak biasa di bawah perut Sandy.


"Lihat apa kamu?" tanya Sandy mengangkat dagu lalu menutupi area perut ke bawah dengan kertas.


Ananta pun jadi salah tingkah sambil menahan tawa.


"Ehm...tidak ada pak" jawab Ananta menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Makanya nikah..biar tau rasanya kangen istri!" gumam Sandy sambil beranjak ke kursi kebesarannya.


Sandy mulai membaca kertas itu dengan teliti, perlahan alisnya naik tanda ia tertarik.


"Tapi, apa mungkin? Aku khawatir kalo dia curiga, Nan.." kata Sandy tak yakin.


"Kita coba dulu saja pak. Kalo bapak mau, kita bekerja sama dengan rumah sakit yang biasa dipakai perusahaan ini saja pak"


Sandy mengangguk. "Kalo gitu besok kita mulai, biar aku yang hubungi dia"


"Baik pak, kalo begitu saya permisi"


Ananta pun keluar ruangan lalu bergerak cepat menyusun semuanya. Tak berapa lama ada chat masuk dari Amira yang hanya ia intip saja tanpa membukanya.


πŸ“±: Aku sudah membuktikan kalo aku gak main-main. Gimana keputusan kamu? Aku tunggu minggu ini!


Sandy meletakkan ponselnya, ia tak mau jadi lebih emosi lalu bertindak gegabah dan bisa mengacaukan rencananya.


Β Β Β Β  πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯ πŸ”₯


"Kasian papa, kak. Jadi terkena imbasnya dari berita memalukan itu.." kata Allea pelan.


"Iya, namanya orang tua pasti cara berpikirnya gak seperti kita. Beliau pasti gak bisa santai, apa lagi menyangkut nama baik perusahaannya.."


"Hmm...itu mungkin yang bikin beliau langsung drop sampai kaya gini.."


"Yaa...kamu sabar, berdoa aja, yang penting sudah ditangani dokter. Terus...hubungan kamu sama Sandy gimana? Kalian masih baik-baik aja kan?" Allea mengendikkan bahu, Mario menggeleng singkat.


"Tadi aku sempat chat ke dia tapi cuma di baca aja gak ada balasan. Pasti dia juga malu dan pusing mikirin semua ini, soalnya gak biasanya Sandy kaya gini.." kata Mario.


"Biarin aja kak. Biarin dia fokus cari bukti, kalo memang dia yakin itu bukan anaknya! Aku capek kak.."


Mario menatap Allea, terlihat wajah Allea pun penat. Allea pasti juga stress menghadapi masalah ini.


"Dulu...waktu kita masih semester dua, ada kegiatan hiking.." Mario mengawali cerita. "Waktu itu pernah Sandy dan satu personil cewek tersesat, sampai jadi pencarian semua keamanan.." Allea mengangkat wajah sambil mengernyit mendengarnya.


"Oh ya? Koq kak Sandy gak pernah cerita. Terus gimana?"


"Iya..itu kan udah lama banget. Terus ya..waktu itu sempat hujan semalaman. Makanya pencarian sempat dihentikan, sampai akhirnya pagi mereka baru ditemukan. Kamu tau Al..Sinta yang tersesat bareng Sandy itu bilang kalo Sandy sangat menjaga dan melindungi dia. Tanpa berbuat yang aneh-aneh. Padahal kan bisa aja, kalo Sandy mau dia bisa melakukan apa pun"


Mario menceritakan pengalaman mereka saat masih baru jadi anak kulihan. Jelas Allea belum tau karena saat itu ia juga masih SMA. Mario bercerita tanpa maksud membela siapa pun, ia hanya ingin Allea tau kalo dari dulu Sandy sangat menghargai perempuan siapa pun itu. Allea menghela nafas.


"Tapi kejadian di hotel waktu itu kak Sandy diberi minum alkohol, kak. Jadi dia gak sadar. Aku juga antara yakin gak yakin sebenarnya.."


"Menurutku, mmm..sebaiknya kamu tetap dampingi Sandy, dia pasti butuh kepercayaan kamu saat seperti ini. Tapi...semua, aku balikin lagi ke kamu. Gimana baiknya rumah tangga kalian, itu kamu dan Sandy yang tau..kalian yang jalani" kata Mario begitu hati-hati karena tak mau Allea tersinggung.


Allea diam seperti berpikir, ia mengangguk kecil.


"Kamu harus tau, aku bilang semua ini bukan karena Sandy sahabat aku jadi aku belain dia, bukan kaya gitu Al. Aku sendiri juga gak tau persis kejadiannya, tapi buat yang sudah kenal Sandy...rasanya mustahil dia kaya gitu, Al.."


Allea mengangguk mengerti maksud Mario. Mario gak mungkin asal berpendapat tanpa mengenal lebih dulu. Terlebih mereka sudah berteman dari kecil.


"Ehm...oiya kak, soal jersey gimana?" tanya Allea berusaha mengalihkan topik.


"Soal jersey...menurut aku, sementara kamu gak usah handle dulu kayanya Al.."


"Kenapa?" Allea menaikkan alisnya.


"Yaa...kan kondisinya lagi kaya gini, biar sementara aku carikan orang buat rekap pesanan yang keluar masuk sampai situasi semua sedikit membaik. Tapi untuk masalah keuangan, nanti aku yang bantu langsung gak akan aku kasih ke orang lain koq.."


"Tapi kamu kan juga sibuk kak, aku jadi gak enak.."


Mario menggeleng. "Gak...santai aja. Kamu fokus dulu ke mertua kamu, ke Sandy juga. Mereka lagi butuh perhatian kamu. Jangan sampai ujian pertama kalian ini sekaligus mengalahkan pernikahan kalian.."


Degg!