
BOOMMM..!!
KRAK!!
Alangkah buruknya ini terjadi. Seketika tubuh ribuan orang dan juga tiga saudara Xing serasa remuk ketika menghantam tanah. Mereka tidak pernah mengira akan terhempas ke tanah dengan keras.
Xing Shi meringis merasa ngilu di sekujur tubuhnya. Ia menatap inti dunia dewa dengan enggan. Gadis ini berdecak dengan sudut matanya berkedut. Wajahnya menjadi gelap. Kali ini tidak bisa menyia-nyiakan waktu lagi. Jika ini terus berlanjut bukan hanya Alam surga yang akan hancur tapi seluruh Alam di Dunia dewa. Pikirnya.
Sudut bibirnya mengalirkan darah segar. Badannya terasa agak kaku dan sulit digerakkan. Gadis itu mencoba bangkit dari posisi tengkurap. Namun, sayang ini begitu sulit. Rasanya seperti ada gunung besar yang menekan dengan keras di balik punggungnya.
Dengan napas terengah-engah, gadis ini mencoba bangkit walaupun badannya sedikit bergetar. Ia menatap Kristal putih raksasa dengan penuh permusuhan dan kebencian. Ia tidak peduli dengan tanah yang telah berubah menjadi Kubang, yang Ia pikirkan hanyalah bangun dan berdiri. Lalu serang Ia sampai melemah. Begitu saja.
Tapi Ia tahu, untuk melemahkan benda ini dibutuhkan usaha yang ekstrim karena terdapat perbedaan kekuatan. Bagaikan langit dan bumi, seperti itulah. Namun, Ia memiliki cara. Dan hanya satu cara. Maka dari itu, gadis ini tidak ingin mati sekarang.
Xing Shi kemudian menopang tangannya di atas tanah gersang. Tangannya kembali bergetar seolah tidak mampu untuk menahan tubuhnya. Walau begitu, Ia tetap berusaha dengan keras. Tekadnya yang teguh tidak membuat Dia goyah.
Setelah beberapa menit kesulitan untuk bangun, Xing Shi akhirnya berhasil berdiri. Hanya saja tubuhnya masih dilanda oleh tekanan yang besar. Akibat dari itu, aliran merah seketika membasahi gaun emasnya. Hidung dan telinganya berdarah, tapi Xing Shi tidak peduli.
Xing Shi mengernyitkan keningnya, Ia melepaskan energi spiritual dari dalam tubuh. Mencoba, agar inti dunia dewa tidak secara terus-menerus membuat Ia tertekan.
Xing Liang dan Xing Wu juga sama. Mereka melakukan hal seperti yang dilakukan adik kecilnya. Pakaian ketiganya telah bersimpah darah tapi itu tidak membuat mereka putus semangat.
Untuk mendorong tekanan spiritual dari inti dunia dewa memang tidak mudah, namun tetap membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Akhirnya, Xing Shi termasuk ketiga kakaknya bisa bernapas dengan teratur lagi.
Untuk para dewa/dewi dibelakang, mereka masih ada yang terbaring, ada juga yang sudah terduduk setengah badan. Sedangkan pria sepuh, Ia sudah sibuk membuat array telerportasi Surgawi Kuno yang dibantu oleh beberapa orang.
Pekerjaan ini juga termasuk sulit, jadi Ia membutuhkan bantuan dari yang muda-muda. Ditambah dengan intimidasi kristal putih membuat tugas ini semakin berat, hanya saja Ia perlu fokus jadi pria sepuh dan beberapa orang itu telah melapisi diri dengan energi spiritual.
Yah.. walaupun itu berlapis-lapis.
Kembali ke sisi tiga saudara muda.
Xing Liang dan Xing Wu terlihat sedang berjalan mendekati Xing Shi. Dengan tubuh yang kadangkala hampir terjatuh, mereka bersikeras untuk menghampiri sang adik kecil.
Setelah sampai, keduanya memasang wajah serius.
"Shi Shi kecil, inti dunia dewa benar-benar telah lepas kendali. Apakah kita perlu menggunakan teknik itu?"
"Untuk masalah ini, kurasa iya.. Inti dunia dewa sudah keterlaluan sampai membuat Alam surga mengering, dan kekuatannya bila aku perkirakan juga telah meningkat. Dengan serangan biasa saja tidak akan mempan" Jawabnya dengan fokus mengedarkan penglihatannya kearah inti dunia dewa yang secara berkala mengeluarkan asap emas.
"Yang dikatakan Shi'er benar." Sahut Xing Liang.
"Ha.. tak kusangka dalam durasi beberapa menit, Alam surga yang merupakan Alam paling indah kini telah berubah menjadi hitam tanpa vitalitas kehidupan." Sambung Xing Liang memijat pelipisnya bingung. Bingung karena campuran emosi sedih, marah, kesal, dan juga pasrah.
Yang jelas, ini merupakan perasaan yang menyebalkan baginya.
Setelah memperhatikan kristal putih, Xing Shi kemudian menatap wajah Xing Liang dan Xing Wu secara bergantian dengan cemas, "Apakah Kakak Wu dan Kakak Liang merasa ada yang sakit atau ada tambahan luka? kalau ada katakan biar ak-
"Sstt, Shi'er oh Shi'er. Aku tidak apa. Kakakmu ini tahan banting, kenapa kamu bertanya dengan cemas disaat kamu juga terluka hem...?" Sergah Xing Liang seraya mencubit-cubit pipi gadis itu gemas. Xing Wu hanya terkekeh geli membenarkan perkataan pria itu.
Xing Shi cemberut, bibirnya manyun dengan berbagai gumaman tidak jelas Ia lontarkan. Mendengus kesal, lalu Ia mencibir.
"Ya ya ya, Kakak memang kuat tapi aku hanya khawatir saja. Sudahlah...! Intinya biarkan aku menyembuhkan kalian, terutama luka-luka luar itu" Tanpa menunggu jawaban, Xing Shi segera menyinari tubuh mereka dengan cepat.
Seketika itu, luka-luka luar akibat menghantam tanah menghilang sedikit demi sedikit dan perlahan juga menyatu dengan kulit mereka seolah tidak pernah tergores. Pengecualian untuk bekas serangan langsung inti dunia dewa. Jangan dihitung, Ia tidak bisa menyembuhkannya untuk saat ini.
Namun, belum sempat Xing Shi akan berbicara tiba-tiba angin kencang menerpa wajahnya. Ya, itu berasal dari kristal putih. Dengan dengungan yang memekakkan telinga inti dunia dewa menjalarkan jutaan petir ungu disekitarnya dan merambat cepat di setiap awan gelap.
Seketika itu, gemuruh langit semakin menjadi-jadi. Awan hitam masih berputar-putar membentuk spiral raksasa di puncak inti dunia dewa. Suara berderak juga dapat didengar. Telinga mereka rasanya hampir pecah sangat sakit! terutama para dewa/dewi yang ada dibelakang.
Karena terdapat keterbatasan ranah, beberapa ratus orang mendadak mati ditempat dengan darah mengucur deras dari seluruh indera mereka. Teriakan parau juga dapat didengar dari para korban yang begitu menyayat hati.
Tidak, lebih tepatnya membuat orang takut!
"AARRGHH INI MENYAKITKAN!!"
"AAAKKHH SAKIT SAKITTT TOLONG!!
"AARGGHH TOLONG AKU TOLONG AKUU!!"
"TIDAK!! TIDAKK!! AKU TIDAK INGIN MATII!!"
Dewa/dewi yang dekat dengan para korban seketika mengalami ketakutan berlebih. Keringat dingin benar-benar menghujani mereka layaknya tetesan air langit yang sedari tadi tidak berdampak pada orang-orang tersebut.
"Kumohon, ini hanya mimpi bukan?" Ucap salah seorang dengan wajah pucat pasi.
"Mengerikan! Mengerikan! Ini sangat mengerikan!" Ucap seorang perempuan hampir menangis.
"Aku tidak ingin seperti mereka.." Sahut yang lain dengan tubuh bergetar tak karuan.
"Aku tidak ingin mati bagaimana ini..?" Ujar yang lain ikut menimpali.
Sementara itu, Xing Shi yang berada satu mil dari mereka menyipitkan mata. Ada perasaan marah tatkala melihat orang-orangnya tersiksa. Ia kemudian melihat pria sepuh. Dapat dilihat pria itu tengah disibukkan oleh array telerportasi Surgawi Kuno. Sangat sibuk, ia tidak bisa mengganggunya.
Karena tahu orang tua itu tidak dapat membantu, dengan sigap Ia mengulurkan tangannya ke depan. Seketika itu keluar sebuah pedang perak dengan ukiran rumit pada gagangnya. Ukurannya mencapai satu meter, pedang perak itu juga berdengung disertai aura agung yang muncul tiap kali berputar.
Detik kemudian pedang tersebut melesat ke atas ribuan dewa/dewi yang sebagiannya masih terbaring lemas. Tiba-tiba saja pedang tersebut membesar sampai menutupi pandangan orang-orang dibawahnya.
"Ini.. aura ini.." Ucap salah seorang.
"Ya leluhur, Putri kecil benar-benar penyelamat" Ujarnya dengan raut wajah memuja tapi masih basah karena menangis.
"Putri kecil terimakasih..hiks hiks" Ujar salah satu pemuda dengan berlinang air mata.
"Putri kecil.." Kata seorang perempuan dengan mata berkaca-kaca.
Untuk menghalau serangan inti dunia dewa, pedang perak itu lalu membuat perisai dari elemen angin dan cahaya hingga ribuan lapis. Berbentuk setengah bola, petir-petir ungu juga akhirnya dibuat memantul oleh perisai dari pedang perak tersebut.
Akhirnya Xing Shi bisa bernapas lega, setidaknya dengan adanya pedang perak, orang-orangnya dapat bertahan hingga dua jam lebih. Lalu, ia menekuk alisnya.
"Kenapa mereka begitu cengeng?" Tanya gadis itu yang membuat Xing Liang maupun Xing Wu tidak tahu harus tertawa ataupun menangis. Mereka hanya mengusap-usap puncak rambut Xing Shi dengan gemas.
Adik, mereka hanya takut mati dan menangis lagi karena diselamatkan. Pikir keduanya tidak ingin menjawab.
Namun, baru saja melepas beban. Tiba-tiba tanah bergoyang lagi hingga membuat ketiganya hampir tergelincir. Kemudian, Xing Shi mengamati inti dunia dewa. Saat ini benda itu tengah dikelilingi aliran udara berwarna emas yang menyerupai ular panjang dengan posisi melilit kristal.
Xing Shi sedikit tertegun, intuisinya mengatakan bahwa ini berbahaya.
"Kakak, sekarang kita harus menggunakan teknik itu. Tapi... apakah kalian akan baik-baik saja?" Tanyanya serius tapi masih ada nada khawatir.
"Tidak apa, kami masih mampu" Kedua kakaknya hanya mengangguk, jelas mereka dapat merasakan bahaya yang mengancam dari aliran emas yang melilit kristal putih.
Kemudian ketiganya menjaga jarak, lalu secara perlahan mereka menutup matanya. Ini adalah transformasi terkuat mereka. Entah berdampak pada pertarungan nanti atau tidak, itu semua kini bergantung pada takdir.
Rambut Xing Shi kemudian berubah menjadi perak keemasan secara perlahan. Kedua tangannya juga muncul tatto bergambar teratai yang dikelilingi rasi bintang. Dipunggung nya juga kini membentuk sayap berbulu putih halus sepanjang 20 meter.
Xing Liang juga berubah, rambut coklatnya berganti menjadi pirang. Sama halnya dengan Xing Shi, punggungnya membentuk sayap berbulu merah dengan hawa panas mencekam.
Sedangkan Xing Wu, Surai rambutnya kini berwarna biru laut dengan warna sayap yang selaras. Beberapa detik telah berlalu, kini mereka benar-benar bertranformasi. Mata ketiganya juga terbuka secara perlahan menampilkan simbol berbeda di tiap pupil mereka.
WOOSH...!
Xing Shi, Xing Liang, dan Xing Wu melebarkan sayapnya yang lebar, lalu terbang ke atas dengan cepat. Aura agung seketika merembes dari tubuh mereka. Rambut perak Xing Shi melayang-layang di udara dengan gaunnya yang berkibar, membuatnya semakin cantik.
Tidak berlangsung lama setelah ketiga saudara Xing bertranformasi, aliran emas yang melilit kristal putih tersebut berubah bentuk menjadi ular raksasa. Apakah itu benarkah ular? Belum tentu. Kulitnya yang halus perlahan tumbuh sisik berwarna emas.
Tapi, ini hanya sementara, karena setelah itu sisik-sisiknya berganti menjadi ungu pekat dengan kecepatan yang dapat dilihat oleh mata telanjang. Dalam sekejap, ular panjang tersebut membesar hingga terbentuklah naga berwarna ungu beserta petir yang selalu berderak dengan kencang.
Skala naganya yang berwarna ungu menimbulkan hawa dominasi dan intimidasi yang mengerikan bagi orang-orang, termasuk tiga saudara Xing. Wajahnya yang khas, menatap daratan dibawahnya dengan ganas.
"ROOARRGHH"
..._____________________...
...🍁[Bersambung... ]🍁...
...……………………………………………...
...Readers~ Jangan lupa like dan komennya, it's easy guys~...
...See U~...
...-Marionatte Rose-...