
Setelah beberapa detik berdiri di atas altar, mendadak pola-pola bercahaya mulai saling sambung-menyambung. Hingga tak lama kemudian altar tersebut bercahaya, meninggalkan Dimensi Naga menuju Alam Mortal tingkat tinggi.
Terlihat, sebelum mereka dibawa pergi, sepasang mata kedua patung itu menyala dan sedikit bergerak. Begitu misterius dan menakutkan tatkala sepasang mata itu melirik mereka. Tidak ada seorangpun menyadari, maupun merasakannya. Termasuk Shen Long, Bai Tian'e dan juga Rong Hua. Tidak seorangpun.
Kecuali ...
"Menarik..." Gumam Shangguan Yue seraya menutupi sebagian wajahnya dengan kipas lipat.
Sudut bibirnya tertarik, dengan mata berubah menatap segalanya menjadi sesuatu hal 'rendahan'. Walau begitu, terdapat kilasan rencana yang telah tersusun rapi di balik pandangannya yang begitu sombong.
Ia adalah seorang wanita pedendam tanpa ada kata baik, jangan menyamakan Dia dengan dirinya yang lama. Bahkan, Ia sendiripun akan tertawa saat mengingat hal tersebut.
Begitu naif dan bodoh! pikir Perempuan itu ketika ingatannya melayang menuju masa lalu. Sebuah penyesalan terikat, dan juga dendam darah Ia juga masih mengingatnya dengan jelas. Tidak akan pernah Ia lupakan. Kebencian ini, pasti akan dia balas kan beribu-ribu kali lipat.
"Tunggu saja pembalasan dari nona muda ini, jangan khawatir. Pastinya ini akan menjadi menarik ... Seperti, domba yang akan dikuliti oleh Serigala."
"Tapi, bukan Aku yang akan menjadi sang domba itu ... melainkan, Kalian. Kalian semua tak terkecuali..." Batin Perempuan ini dengan pandangan dingin, penuh haus akan darah.
Ia kemudian terkekeh kecil, membuat orang-orang di sekitarnya melirik ke arah lain. Perlu diketahui, kebiasaan nomor satu seorang Shangguan Yue ini cukup mengerikan. Jika Ia sempat terkekeh, pasti di kedepannya akan ada nyawa melayang.
Intensitas terkekeh hanya ada beberapa orang, tapi jika itu tertawa ... Mereka meneguk saliva nya kasar. Sungguh kemalangan nasib bagi para bidikan.
Selama 8 tahun terakhir berada di Dimensi Naga, selain memperkuat diri, Shangguan Yue juga melakukan pemburuan terhadap hewan spiritual. Namun khusus untuk yang bukan termasuk penghuni, dalam artian semacam 'penjahat' yang telah memburu sesamanya.
Kanibalisme.
Ya, kanibalisme. Dan tentu telah disetujui oleh Shen Long. Pria itu tidak berharap, pertama kali memburu, Shangguan Yue akan begitu menikmatinya. Jika itu dirinya, mungkin tidak. Pekerjaan pria itu terlalu banyak, membunuh para 'kanibalisme' hanya akan membuang-buang waktu saja.
Jadi, Ia dengan senang hati menyerahkan tugas tersebut kepada sang keponakan. Biarkan Dia bersenang-senang, jangan buat Ia stres, pikir pria itu kala mengingat sebuah memori lama.
"Huh ... Kuharap Yue Yue mendapatkan kebahagiannya kembali..." Pikir pria itu sedih. Kebahagiaan memburu nyatanya bukanlah suatu kebahagiaan yang sebenarnya. Bisa dikatakan, itu hanyalah tempat pelampiasan.
Di usia 6 tahun, bagaimana perasaan Shangguan Yue ketika melihat kedua kakak kesayangannya mati tepat di depan mata? apalagi demi dirinya, tentu mental terguncang.
Dapat diyakini kebenciannya terhadap dunia sangatlah tinggi dibandingkan kebanyakan makhluk.
Wajar.
Akhirnya mereka telah sampai di Alam Mortal tingkat tinggi. Tampak Shangguan Yue menghirup udara ringan dengan pandangan nostalgia.
Alam Mortal tingkat tinggi, adalah tempat kebahagiaan sekaligus kemarahannya.
"Kakak Yun, kakak Zhu ... Aku pasti akan membalaskan dendam kalian. Meskipun kalian tidak memintanya..." Gumam Shangguan Yue dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Melihat itu Rong Hua kemudian hinggap di bahu Shangguan Yue, "Shanggu ... tenang saja, Aku juga akan membantumu ... Kau tidak sendirian..."
"Kenapa membantuku...?" Ia mengernyit.
Rong Hua terkekeh geli, "Hei Hei, anggap saja sebagai pembalasan Budi karena telah menyembuhkan Aku dan juga tentu karena pertemanan kita. Sudah Aku bilang, Aku adalah tipe peri yang menghargai kebaikan..."
"Aku bukan orang baik..." Balas Shangguan Yue mendengus.
"Hihi Shanggu terserah Kau saja. Bagiku, Kau tetaplah orang baik!" Ujarnya menyebabkan pipi Shangguan Yue sedikit memerah. Merasa malu.
"Ekhem! Paman, sekarang kita berada dimana?" Perempuan ini mengalihkan topik.
Pria itu tersenyum, "Hutan Biru."
.
.
.
...…………...
...Aula Kediaman Utama Keluarga Shangguan...
...………………………...
"Patriark, Dalam satu tahun kedepan kompetisi beladiri Kekaisaran Wei ke-3000 akan diadakan. Menurut Anda, siapa pilihan terbaik untuk mengikutinya?" Tanya salah seorang tetua.
Ditatapnya kini ratusan orang di aula, pria tua itu kemudian hanya menghela napas lelah.
"Menurut kalian, siapa yang cocok?"
"Biarkan anakku ikut" Ujar tetua Xue.
"Sisanya, kita akan memilih dengan sistem 'menyaring'" Lanjut wanita itu yang disetujui oleh sebagian besar tetua.
"Shangguan Xiu, Shangguan Mingzhi, dan Shangguan Yin? Hm ... Baiklah"
"Jadi, kita memiliki 3 perwakilan tetap dan 7 anggota yang akan melalui tes terlebih dahulu?" Ujar Shangguan Yutian mengangguk mengerti. Pria ini kemudian melirik Tetua pertama- Shangguan Qingshui dengan pandangan sedih.
Andai saja Shangguan Yun masih hidup, kini pasti akan dengan semangat mengikuti kompetisi 5 tahun sekali tersebut. Sayang sekali, ditambah cucu perempuan satu-satunya masih belum ditemukan. Entah sudah mati atau tidak, Ia hanya berharap bahwa Shangguan Yue masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Yun'er, Yue'er maafkan kakek. Andai waktu itu kakek tidak membiarkan Yun'er pergi dan tidak membiarkan Yue'er ke Kota Teratai, apakah tragedi itu tetap akan terjadi?" Shangguan Yutian Menghela napas panjang.
Walaupun Shangguan Yue masih belum ditemukan, Ia tetap menyuruh anggota lainnya untuk mencari sang cucu. Ia tidak akan menyerah.
Demi keturunannya Ia akan melakukan segala cara. Meski harus melawan kekaisaran? itu tidak apa. Keluarga adalah nomor satu. Harga diri dan kebangsawanan, hanyalah nomor sekian. Tidak begitu penting Sebenarnya. Hanya sebagai penghormatan kepada para leluhur.
"Kau tidak perlu cemas kepada Shangguan Yue"
Tiba-tiba terdapat suara gema di dalam ruangan tersebut. Para tetua, Shangguan Qingshui dan juga Shangguan Yutian segera berdiri. Mereka mengernyit, terdapat tamu tidak diundang ditambah mereka tidak bisa merasakan aura sosok tersebut.
Tentunya hal ini mengancam. Tanpa aura sama dengan orang kuat. Lalu, orang kuat mana yang pernah mereka singgung.
Bahkan Shangguan Yutian saja yang merupakan terkuat di aula itu tidak dapat merasakan aura sang pembicara. Kalau bukan lebih kuat, lalu apa? Apakah bencana akan datang lagi? pikir mereka sedikit berkeringat dingin.
"Siapa Kau-!" Tanya Shangguan Yutian sedikit sopan. Karena Ia belum tahu, kedatangan orang tidak diundang tersebut berniat baik ataukah buruk?
Ia menyipit dan mengedarkan pandangannya, "Kenapa Kau ... memanggil nama cucuku?" Ujarnya sedikit lembut.
Shangguan Qingshui pun juga sama, Ia ingin tahu, "Itu benar, kenapa Kau memanggil nama anak perempuan Ku ... Apakah Kau yang menculiknya...?" Geram pria itu tanpa tahu kebenaran.
Adalah wajar jika seperti itu, Ia telah kehilangan sang anak selama kurang lebih 8 tahun. Bayangkan 8 tahun tanpa sang anak dan istri, pastilah orang tersebut merasa kesepian dan mungkin ... stres?
Kurang lebih seperti itu. Ia juga terlihat jarang berbicara kepada siapapun setelah kehilangan kedua anaknya. Bahkan jika itu ibu dan ayahnya? Mereka berdua sudah angkat tangan. Tidak bisa dibujuk ataupun ditenangkan.
"Hahaha"
"Kenapa Kau tertawa-"
"Qingshui tenanglah" Sela Shangguan Yutian mulai serius.
"Hah ... Kedatanganku kali ini bukanlah buruk. Aku hanya mengirimkan sebuah hadiah dari langit, jangan sampai kalian membuatnya lecet kembali ... atau"
Sosok itu berhenti berbicara, menyebabkan semua orang di sana merasakan perasaan campur aduk. Namun keringat, tidak dapat dipungkiri terus mengalir karena sosok itu mengeluarkan aura menekan tapi bukan permusuhan. Semacam ... peringatan.
"Atau ... yah itu tergantung dari 'dia'" Lalu suara itu menghilang.
Akhirnya mereka bisa bernapas lega. Namun hanya sementara, tiba-tiba ada suara lain dari balik pintu utama.
"Paman, tidak bisakah Kau santai?" Tanya sesosok bersuara Perempuan. Terdengar agak dingin.
Tidak dijawab.
Perempuan itu hanya tersenyum. Mungkin, Ia tidak perlu memanggil pria itu paman kembali, pikirnya setengah kesal.
Lalu Perempuan itu membuka pintu dengan senyuman.
"Hm ... Ini sudah berapa tahun?" Tanya Perempuan itu seraya berjalan.
...______________...
...🌑[Bersambung... ]🌑...
...………………………………………...
...Jangan lupa like dan komennya~...
...It's easy~...
...See U~...
...-Marionatte Rose-...