
...-Shangguan Yue POV-...
Ditatapku kini sebuah bingkai cermin 'pembuat onar' itu. Mataku hanya menatap datar sembari menunggu proses penyatuan darah. Sekilas Aku melirik lenganku. Bercak darah merah, Aku tidak menyukainya. Tidak terasa sakit penuh keperihan memang, hanya sebatas tidak suka saja.
Hal yang aneh, justru Aku tidak memiliki gejolak perasaan bersalah maupun takut terhadap para makhluk yang Aku bunuh hingga mengeluarkan cairan merah beraroma anyir. Hah ... wajarnya itu karena mereka musuhku. Musuh yang mengancam nyawa baik itu untuk diriku, keluargaku, maupun saudaraku itu tidak perlu dikasihani.
Semakin Kau kasihani, semakin longgar juga ketetapan hati mereka untuk membunuh. Mereka tidak memiliki hati nurani, maka Aku pun juga tidak akan memiliki hati nurani untuk menghancurkan mereka.
"Kakak Yun, Kakak Zhu ... maaf, Aku yang sekarang sangatlah kotor dan telah terbasuhkan oleh banyak darah. Walau begitu, tidak masalah bagiku jika perlu memasuki neraka terdalam ... asalkan, dendam Kalian sudah terbalaskan..." batinku dengan sorot mata dingin.
"Shanggu, apa Kau memikirkan tragedi 8 tahun yang lalu?" tanya Rong Hua tanpa menoleh.
"Hm ..."
Ia menghela napas panjang, "Shanggu, apa Kau pernah bertanya kepada Shen Long?"
"Tentang apa? Lagipula setelah mengantarkan Aku kemari, Ia langsung pergi tanpa permisi. Begitu pula dengan Bai Tian'e."
"Tapi, yah ... Aku selalu merasa bahwa keduanya Selalu menyembunyikan sesuatu. Termasuk Kau, Rong Rong..."
Rong Hua tersenyum pasrah, "memang tidak ada yang bisa kusembunyikan darimu Shanggu. Tapi Kau nanti juga akan tahu..." balas Rong Hua yang bagiku cukup rumit.
...-Shangguan Yue POV off-...
SWISH...!
Mendadak aliran darah itu mengeluarkan sedikit fluktuasi. Akhirnya, apa yang ditunggu oleh Shangguan Yue telah selesai. Darah merah tersebut sudah terbentuk sempurna dengan pola rumit 3 lingkaran dan 12 garis berbeda arah menjadi puncak suatu teknik terlarang yaitu pencari memori.
Perempuan ini kemudian menggigit jarinya lalu Ia lemparkan setetes darah itu menuju pola-pola tersebut.
WOSH...!
"Memori, tunjukkan ingatan kegelapan dan juga hal yang berkaitan dengan pembunuhan..." Shangguan Yue mengalirkan sejumlah energi spiritual menuju sulur hijau.
Tak lama kemudian, sulur penuh hijau itu bercahaya dan mulai menciptakan serbuk-serbuk putih bersuara dengung. Dapat dilihat, serbuk tersebut berputar layaknya angin topan. Hanya saja ujungnya seakan terserap oleh pola darah itu. Hingga detik selanjutnya, fluktuasi kembali datang namun lebih kencang daripada yang lalu.
Sejenak mata Shangguan Yue biasa saja, sampai sebuah gambar mulai terbentuk. Perempuan ini menghela napas dingin. Pupilnya yang tajam sedikit menyipit, tanda akan rasa curiga.
Sebuah warna langit berubah sedikit demi sedikit, menampilkan kegelapan namun berbeda. Bukan kegelapan di langit malam, melainkan kegelapan berpenghuni tertera sebagai latar ratusan lilin beredar.
Bintang digantikan cahaya api kecil, malam rembulan digantikan malam suram. Disana hadirlah beberapa sosok berjubah perak.
WOSH...!
"Kalian ... bunuhlah pria itu dan lakukan sesuai rencana!" ujar salah satu sosok bersuara berat.
"Baik!" jawab mereka.
Para sosok bawahan kemudian menghilang, secara perlahan 'bingkai' yang sudah sepenuhnya memiliki 'cermin' itu merubah arah haluan. Dari gelap menuju semburat petang di sorenya hari.
Salah satu diantara mereka lalu mengubah diri menjadi sosok berbeda, "Apakah Aku sudah mirip dengan Shangguan Ren?" tanya pria itu kepada yang lain.
Mengangguk, "Ya, sudah mirip. Kalau begitu kita akan melakukan misi sesuai rencana"
Detik selanjutnya, sosok berjubah perak menghilang atau lebih tepatnya bersembunyi di balik pohon. Sedangkan pria berwajah Shangguan Ren tetap berdiri disana, seakan tengah menunggu sesuatu.
"Shangguan Ren...?" gumam Shangguan Yue menekuk alisnya.
"Bukankah Ia adalah paman yang sering menghilang?" perempuan ini lalu menyipitkan kedua bola mata.
Karena belum banyak tahu mengenai informasi keadaan Keluarga Shangguan selama 8 tahun, Ia hanya bisa menatap gambar tersebut dengan fokus, seolah semakin yakin terhadap kecurigaannya.
Beberapa saat kemudian, sebuah peristiwa yang menyebabkan Shangguan Yue geram tiba. Betapa tidak tahu malunya pria tersebut! sampai-sampai harus menyandera orang tidak bersalah?! Dimana ada otak?Tidak, pria itu tidak memiliki otak! Ia Hanya memiliki urat malu yang telah terputus! Sungguh perilaku tidak pantas dan pengecut! Shangguan Yue menaikkan bibirnya jijik.
"Katakan! Dimana kalian menyembunyikan inti spiritual hewan kosmos!!" tanya pria berwajah Shangguan Ren.
"Ti-tidak akan Aku katakan...!!"
"Oh?" Shangguan Ren palsu kian mencekik leher sang sandera sembari menyayat lengan pria malang itu menggunakan tangan lain.
"K-kau!!! Aku ... Aku tidak akan MENGATAKANNYA-!!! ada ... ada di Hutan Mistis..." tiba-tiba pria yang diketahui merupakan penjaga inti spiritual hewan kosmos itu menjawab. Pandangannya yang semula normal berubah dengan seluruh pupil menghitam.
Tersenyum miring, "Bagus! Karena Kau telah berbuat kebaikan demi pria ini ... maka..." Shangguan Ren palsu menciptakan satu panah merah hingga menembus jantung sang penjaga. Seketika, pria itu memuntahkan darah segar sembari melebarkan kedua bola matanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Dia akan mati setelah menghadapi pandangan gelap gulita tak berdasar.
"Urk-!"
"Matilah..." ucap Shangguan Ren palsu seraya melepaskan leher si sandera.
"Ada yang salah!" guman Shangguan Yue
"Apa yang sebenarnya terjadi? apakah ini adalah sebuah konspirasi?" gumam perempuan ini cukup merasa kesal. Bagaimana pun, Ia telah menangkap banyak hal yang telah merugikan Keluarga Shangguan.
Pertama, Ia belum tahu mengapa mereka mencari keberadaan inti spiritual hewan kosmos dari Keluarga Shangguan, kedua mereka mencemari nama baik seorang Shangguan Ren, ketiga salah satu anggota keluarganya lagi-lagi terbunuh, Ke-empat hal ini berhubungan dengan Keluarga Kekaisaran, serta kelima ... hal tersebut terjadi sekitar 8 tahun yang lalu. Dalam kata lain...
"Ada dalang dibalik ini semua..." gumam Shangguan Yue menaikkan bibirnya jijik, penuh kegeraman dan benci.
"Oh, astaga ini semakin rumit" ujar Rong Hua menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Delapan tahun yang lalu ... selain Aku dan Rong Hua diculik, rupanya ada hal lain. Apakah masih ada kejadian yang belum Aku ketahui?" gumam Shangguan Yue.
"Untuk membalaskan dendam, mengetahui informasi musuh adalah hal utama, dalam kata lain ... semua tragedi 8 tahun lalu saling berkaitan..."
"Hutan Persik...?!" Tiba-tiba Shangguan Yue melotot setelah menyadari suatu hal.
"Rong-Rong, saat Aku diculik, apakah Kau yang memberi informasi kepada kakakku bahwa Aku berada di Hutan Persik?" tanya perempuan ini seraya mencermati beberapa hal lama yang menurutnya masihlah janggal.
Di semua kejadian lampau, ada beberapa hal yang bagi seorang Shangguan Yue sendiri bagaikan 'ranjau' maupun 'perangkap' pembawa maut. Jadi, Ia bertanya kepada Rong Hua untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Menggeleng enggan, "Hm ... tidak. Waktu itu setelah Aku diculik, Aku langsung mencari bala bantuan ... sedangkan Kau masihlah tertidur... Aku juga tidak dapat membawamu secara terang-terangan sebab banyak penjaga dengan ranah spiritual di atasku ... dan saat itu, Aku tidak sempat kembali ke Kediaman Utama Keluarga Shangguan karena Aku terlalu panik...! dan takut jika Kau kenapa-kenapa...!"
"Jadi, Yah begitulah. Penyebab mengapa Aku membawa banyak manusia pinion..."
**Pinion dalam bahasa Inggris artinya ujung sayap/ bulu burung/ sayap**.
**Ini adalah sebuah ras yang Saya buat sendiri. Ingat** ***Chapter*** **32? Disana Saya menuliskan** ***Sama seperti lelaki tadi, telinganya bukanlah daging melainkan sayap lancip berwarna ungu. Sedikit mencolok***.
**Jadi, manusia pinion adalah manusia dengan telinga berbentuk bulu sayap**.
\-**Fyi: Marionatte Rosé**
Menelaah apa yang telah dilontarkan oleh Rong Hua, Shangguan Yue kemudian mendengus, penuh kejengkelan.
Para sosok berjubah perak sekaligus Shangguan Ren palsu seketika menghilang. Tampilan cermin itu juga ikut berubah mengikuti semburat petang menjadi sebuah latar hitam. Sesungguhnya kembali ke tempat semula.
Api kecil pendukung lilin terkoyak tatkala fluktuasi udara datang, hampir menghilangkan mereka. Sesosok Pria lalu bersuara. Terdengar berat, dan misterius. Tapi yang lebih menakutkan adalah sorot matanya yang bercahaya, terlihat seperti iblis walaupun cahaya disana amatlah minim.
"Sudah selesai?"
"Ya, kami sudah selesai. Hampir sama seperti yang apa yang kami lakukan kepada Zhuge Luoxia..."
Degup jantung perempuan ini berdetak dengan kencang ketika nama ibunya disebutkan oleh kubu musuh. Selain para kakaknya, apakah sang ibu juga turut menjadi seorang korban?
"Apa...?!! Maksud...! mereka...?!!" Geram Shangguan Yue. Ia mengatupkan kedua bagian gigi seraya mengeraskan rahang, tanda sebuah amarah.
...______...
...🌑[Bersambung... ]🌑...
...………………………...
...Mungkin perlu Saya revisi 😁...
...………………………...
...Jangan lupa like dan komentar nya ya, Guys!...
...See U...
...-Marionatte Rosé-...
...****************...
...Note: Oh ya, jika kalian senggang, Kalian boleh saja membaca cerpen yang Saya buat. Hitung-hitung sambil menunggu Saya yang masih agak sibuk. ...