
"Kakek melakukannya karena merasa curiga..." pria ini menyipit.
"Curiga?"
"Itu benar. Bukan curiga terhadap Yue'er, melainkan curiga terhadap keluarga yang menguasai di atas sana..." ujarnya menunjuk langit.
Meskipun Shangguan Yutian menunjuk ke arah langit, namun Shangguan Yue jelas mengetahui maksud dari sang kakek.
"Apakah kakek ... selalu tidak mempercayai Keluarga Kekaisaran...?" tanya Shangguan Yue blak-blakan.
Tertawa kencang, "hahahahaha!!! Yue'er! Menurutmu bagaimana...? Apakah Kakek terlihat setia kepada Kaisar?" tanya Shangguan Yutian dengan kilatan dingin di wajah.
Memiringkan bibirnya, "huh! Kurasa Kakek tidak mempercayai mereka, apalagi setia kepada Kaisar. Benar bukan?" sinis Shangguan Yue.
"..."
Tidak ada jawaban yang pasti dari pria tersebut. Shangguan Yutian hanya tersenyum sembari duduk. Ia kemudian mengeluarkan sebuah papan kayu dan puluhan batu pipih berwarna hitam-putih yang tak lain merupakan catur dari cincin ruangnya.
"Yue'er, duduklah ... Mari Kakek lihat, bagaimana sifat dan permainanmu saat ini ... Apakah Kamu pernah bermain catur?" tanya sang kakek seraya mengambil salah satu batu berwarna hitam.
Tersenyum tipis, "Aku pernah bermain, tapi akhir-akhir ini Aku jarang memainkannya..." jawab Shangguan Yue ikut duduk.
"Menurut kata orang ... Bermain catur memiliki kesamaan dengan bagaimana cara kita mengatasi rintangan hidup..."
"Hidup yang panjang tidak akan selalu mulus. Setiap pilihan yang ditentukan ketika bermain catur, menunjukkan bagaimana sifat mereka yang sesungguhnya ... Apakah itu agresif? Tenang? Licik? Berambisi? Ragu? Ataukah ceroboh? Bagaimana denganmu, Yue'er...?"
Tak!
Shangguan Yutian meletakkan batu hitam tepat diantara kawasan tengah dan sudut kiri. Itu merupakan pilihan yang bagus, hanya saja itu terlalu menonjol bagi Shangguan Yue.
Mendengus, "Biar Yue'er tebak, apakah Kakek adalah orang yang berambisi? Mengambil satu langkah dengan pendapatan teritorial yang besar ... Ini merupakan cara bermain para ambisius...!"
Tak!
Shangguan Yue meletakkan batu putih tepat di depan bidak hitam milik Shangguan Yutian. Sangat jelas bahwa gadis ini tengah menantang sang kakek.
"Tapi, Kakek ... Aku tidak begitu suka dengan orang yang sejenis denganku, jadi biarkan Aku menghalangi langkah palsumu itu kali ini..." Shangguan Yue tersenyum lembut.
Terkekeh kecil, "melihat bagaimana Yue'er bermain ... Sepertinya para pembunuh tadi malam memanglah tujuanmu sejak pertama kali pulang..." ujar Shangguan Yutian tersenyum tipis.
"Tetapi, itu jugalah alasan Kakek memerintahkan para pelayan untuk memata-mataiku, bukan?" balas Shangguan Yue datar.
"Yah ... sebenarnya mereka ingin membantumu ... Hanya saja, kudengar Kau membunuh para pembunuh itu dengan sadis," ungkap sang kakek menggeleng-gelengkan kepalanya.
Menggidikkan bahu, "kematian cepat apalagi tanpa siksaan, mereka beruntung mati di tanganku..." balas Shangguan Yue menyeringai.
Menghela napas panjang, "hah ... Itulah mengapa, sampai sekarang mereka masih takut kepadamu. Bahkan sempat Kakek tadi lihat, para pelayan itu segera menyingkir ketika Kamu pergi menuju dapur..." ungkap Shangguan Yutian sembari meletakkan bidak lain di atas papan catur.
"Melihat wajah mereka yang takut, entah kenapa membuatku ingin tertawa..." Shangguan Yutian menggeleng enggan sembari terkekeh.
"Ngomong-ngomong Yue'er ... Kakek tahu Kau memiliki kecerdasan yang cukup tinggi sejak kecil. Masa kanak-kanak tidak perlu dipedulikan, itu bukan kesalahanmu sepenuhnya..."
Menatap datar, "tapi tetap itu adalah kecerobohanku, Kakek ... Aku memang tidak bisa memutar balikkan waktu, namun semua pihak yang berkaitan dengan pembunuhan 8 tahun lalu harus lenyap dari dunia ini..." Ia mengepalkan tangan sampai-sampai bidak putih itu hancur lebur bagai debu.
Menyipitkan matanya, "itulah ambisimu. Tapi Kakek lihat, menceritakan fakta 8 tahun lalu apalagi secara keseluruhan, tidak ada dalam daftar rencanamu, 'kan Yue'er?"
Shangguan Yue mendecakkan lidahnya, "mau bagaimana lagi, kebaikan ayah telah menghancurkan dinding yang telah Aku buat..."
Tertawa pelan, "itu bukanlah kebaikan Ayahmu...! Melainkan ada di dalam hati Yue'er sendiri. Kamu tidak mampu untuk membohongi orang tua! Hatimu yang dipenuhi mawar berduri masih memiliki celah kebaikan..." ujar Shangguan Yutian menghentikan tindakan sang cucu yang ingin mengambil bidak lain.
Melempar ke dalam wadah sedikit kasar, "Aku baik atau tidak, Aku tidak peduli Kakek ... Dan lagi, jika Kau tahu hatiku ini bisa berubah menjadi mawar berduri, mengapa masih membiarkanku menjadi penerus sah?!" ucap Shangguan Yue sedikit jengkel.
Mengerutkan dahi, "Kakek. Apa maksudmu tidak bisa menjawa-
Mengibas-kibaskan tangan, "sudahlah! begini saja. Yue'er, tebak alasan mengapa Kakek memberimu posisi itu sejak kecil dan tidak mencopot posisi itu ketika Kakek tahu bahwa Kau memiliki iblis hati ... Bagaimana?"
Mendengus, "jadi Kakek meminta Yue Yue untuk menebaknya...?"
Mengangguk, "tepat sekali..."
Memangku wajahnya dengan malas, "kakek, bukankah Kau hanya ingin membuatku repot saja?"
Tertawa lepas, "jadi Yue'er menganggapnya merepotkan? Tapi ... apakah menurut Yue'er, tantangan ini muncul tanpa adanya sebuah imbalan...?" Shangguan Yutian tersenyum lebar sampai matanya berubah sipit.
Kembali duduk tegap, "jadi maksud Kakek..."
"Kavaleri Angsa biru tingkat kosmos, bagaimana dengan itu? Apakah Yue'er tertarik...?" tanya Shangguan Yutian.
Kavaleri angsa biru apalagi tingkat kosmos...?
"Apakah Kakek sedang bercanda? Kalau tantangan ini dapat Kakek pegang kebenarannya, maka ... Yue Yue rasa Keluarga kita terlalu kaya!" ucap Shangguan Yue diam-diam terkekeh sinis.
'Inilah tujuan utama Kakek mendatangiku. Mengubah rahasia menjadi tantangan? Cukup menarik,' batin Shangguan Yue tersenyum dingin.
"Kakek tidak bercanda, Yue'er. Kakek serius dalam hal ini..." balas Shangguan Yutian.
Memangku wajahnya kembali, "Kakek, kesampingkan mengenai tantangan Kavaleri. Bukankah ... Kau memiliki hal penting untuk disampaikan kepadaku...?" tanya Shangguan Yue dengan sebuah kilatan dingin.
Sekilas pria tersebut menegang, tapi tak lama kemudian Ia hanya menghela napas berat, "apa maksudmu, Yue'er? Kakek tidak paham..." Shangguan Yutian menggeleng pelan.
Ia lalu beranjak dari kursi dan mulai memunggungi sang cucu, "kalau begitu, Yue'er ... Kakek pergi dulu. Kakek harus menyelidiki mengenai siapakah Tuan Besar itu..."
Tap.
Tap.
Tap.
"..."
Menarik sudut bibir, "hah ... tadi Aku mendengar sesuatu yang menarik, Kakek..." ujar Shangguan Yue menghentikan langkah Shangguan Yutian.
"Aku mendengar bahwa Paman sempat berkata: 'Tuan Besar' dan 'mereka lagi'. Menurut Kakek, apa maksudnya itu...?" Ia menyipit.
"Apa yang ingin Kau katakan, Yue'er?" tanya Shangguan Yutian mulai serius.
Terkekeh kecil, "simpel. Kakek tidak perlu menutupinya lagi."
"..." Shangguan Yutian hanya berdiam diri menunggu maksud dari perkataan si cucu perempuan.
"Mencari informasi mengenai siapakah Tuan Besar? Bukankah itu sangat tidak berguna bagi kakek? Apalagi Kakek adalah seorang patriark Keluarga Shangguan, pemimpin Keluarga terkuat kedua setelah keluarga Kaisar di Kekaisaran Wei ini."
"Hah ... Lalu, apakah Kau bisa menyimpulkan bahwa kakek tahu menahu mengenai Tuan Besar hanya karena Kakek adalah seorang Patriark?" tanya balik Shangguan Yutian mengernyit.
Mata Shangguan Yue sedikit bercahaya, "Kakek ... Kau tidak mungkinkan menduduki posisi ini tanpa adanya informasi. Dan lagi, menjadi boneka para musuh bukanlah kebiasaan Keluarga Shangguan. Kami adalah pengguna pedang dari langit dan berambisi untuk membunuh langit..." ujar Shangguan Yue arogan membuat sang kakek berbalik menatapnya.
...🦋🌖🦋...
...Jangan lupa like dan komennya~...
...Jaga kesehatan juga, yah~...