
Mungkin, nasib buruk menghampiri mereka. Tidak. Ini bukan hanya mungkin, tapi memang mereka sedang mengalaminya.
Ingin keluar dari Alam Surga? Mustahil. Dengan meninggalnya Kaisar dan Inti dunia dewa yang mengamuk, membuat Alam ini serasa dikunci. Segala akses menuju alam dan dunia lain telah tertutup. Bahkan, mereka ragu jika kehidupan tidak melayang untuk esok hari. Pikir para penghuni Alam surga.
Para jenderal yang berada tempat itu hanya menghela napas berat. Mereka berpikir, para penghuni Surga sangatlah pesimis, walaupun bisa dikatakan wajar. Hanya saja apakah benar begitu? Para penghuni Surga itu hanya tidak mengetahui fungsi utama dari lingkaran emas kuno di atas langit selain sebagai perisai.
WOOSH...
BOOMMM...!!
Getaran hebat mengguncang daratan. Beruntung, mereka segera melayang di udara atau tidak? tentu akan tergelincir. Mereka kemudian menengadahkan kepalanya ke langit. Terlihat belasan bola api yang satu persatu mulai menabrak perisai emas.
Para jenderal yang berada di sudut utama, segera mengalirkan energi spiritual berjumlah besar agar perisai emas dan lingkaran emas bertulisan kuno tidak hancur.
Namun, mungkin mereka harus menelan fakta bahwa, tiga bongkah bola api raksasa tengah melesat ke arah mereka. Itu sangat besar, dan saking besarnya dapat merubah satu benua menjadi lautan api yang mematikan.
Para penghuni Surga yang melihat bongkahan biru itu segera membantu para jenderal untuk mempertahankan perisai emas. Lonjakan energi tiba-tiba muncul. Para jenderal hanya tersenyum, setidaknya mereka ingin membantu... Pikir jenderal-jenderal sedikit lega.
1 mil...
1000 meter...
500 meter...
100 meter…
80 meter…
…
10 meter…
WOSHH...!!
Penghuni Alam Surga berubah pucat. Energi spiritual mereka terkuras banyak hanya demi mempertahankan perisai emas. Sungguh, bagi mereka tekanan yang dihasilkan bola itu teramat tinggi. Ditambah, ada tiga. Mereka menghela napas berat. Mungkin, nyawa mereka akan melayang hari ini, dan bukan besok. Pikir mereka pesimis.
Jutaan orang itu tanpa sadar memejamkan mata secara serempak. Tinggal beberapa meter lagi, bola api biru itu akan menabrak perisai emas, selebihnya biarkan takdir yang menentukan.
Namun, setelah beberapa saat memejamkan mata. Tidak ada reaksi dari perisai atau bahkan suara tabrakan. Mereka kemudian perlahan membuka mata.
Penghuni Surga dan para jenderal itu tertegun ketika melihat sosok perempuan dengan Surai ungu. Mereka tidak kenal, hanya saja para jenderal merasakan aura familiar dari orang tersebut.
Sosok itu hanya menjulurkan tangannya ke depan, dan ribuan bola termasuk tiga bongkah api biru itu hanya melayang dan berhenti bergerak seolah waktu tidak lagi berjalan.
Lalu, Dia berbalik. Terdapat senyuman ramah dan cantik diwajahnya.
"Kalian telah berusaha ...."
.
.
.
"AHAHAHAHA! AKHIRNYA DEWA INI BEBAS!! SUKU DEWA DAN DUNIA SURGA!! LIHAT SAJA, DEWA INI AKAN MEMBALASKAN DENDAM LAMA!! HAHAHA!!" Teriaknya penuh arogansi menggema luas. Matanya yang merah tampak menyala seolah telah merencanakan berbagai hal untuk waktu berkepanjangan.
Kemudian, Ia melirik kebelakang. Naga ungu Surgawi menyeringai. Biarkan ribuan orang dibelakangnya menjadi yang pertama. Mereka harus tahu, bahwa dendamnya teramat besar hingga dia sendiri ingin melenyapkan segala makhluk dunia dewa yang ada.
Pria sepuh, dan yang lainnya merinding. Tatapan itu amat menakutkan bagi mereka. Ribuan orang itu merasa bahwa, Naga ungu Surgawi memiliki niat membunuh yang pekat.
Naga ungu Surgawi kemudian membuka mulutnya. Dengan kecepatan yang dapat dilihat oleh mata, bola angin yang diselimuti petir hitam itu saling berputar dengan intinya sebagai pusat. [Bayangkan saja seperti atom]
Detik selanjutnya, bola hitam yang mencapai setengah mil itu melesat kearah pria sepuh dan lainnya. Sebelum itu terjadi, mendadak bola petir itu berhenti dan melayang di udara tanpa bergerak.
"Hewan buruk rupa, kau masih saja menyerang yang lebih lemah..." Ujar seseorang dengan suara yang teramat lembut tapi ada niat membunuh di tiap katanya.
Naga ungu Surgawi menegang, Kemudian dengan marah Dia berkata, "BOCAH!! KAU MASIH BELUM MATI??!!!!" Rahangnya mengeras. Amat marah dia!
Xing Shi tertawa lembut, lalu membalas, "Kenapa Aku harus mati? dan lagi itu di tanganmu?"
"Oh, maaf. Aku lupa bahwa kaki depanmu sudah menghilang... Berarti, hidup dan mati ku Hanya diriku sendiri yang memilih. Bukan KAU!" Lanjutnya.
Xing Shi kemudian mengepalkan tangannya ke depan. Seketika, bola hitam yang selalu berderak itu lenyap tak bersisa, menyisakan sesosok gadis dengan Surai ungu yang panjang. Xing Shi tersenyum, tapi itu penuh kemarahan.
Rambutnya tergerai indah dengan mata dan rambut selaras, bahkan sayapnya juga telah menjadi ungu tanpa luka sebelumnya. Di dahinya juga terdapat suatu simbol kuno, yang membuatnya tampak berbeda dengan 'Xing Shi yang dulu'.
Naga ungu Surgawi menyipit, "Apa kau benar bocah itu?" Xing Shi tidak menjawab. Detik berikutnya, Ia melafalkan suatu kalimat yang terbilang panjang dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
Seketika, di depan dan belakangnya muncul beberapa pilar emas keunguan dengan jumlah sepuluh. Lima dibelakang, yang membuat pola lingkaran dengan kelompok pria sepuh sebagai pusat. Dan lima lagi didepan, lebih tepatnya mengelilingi Naga ungu Surgawi.
Pilar dibelakang Xing Shi dengan cepat memudar, yang menunjukkan puluhan juta makhluk termasuk suku dewa dengan lingkaran emas raksasa di atas langit. Jumlah lingkaran emas itu ada lima ditambah milik pria sepuh menjadi enam. Dengan tiap satu lingkaran emas terdapat lingkaran lain diatasnya.
Naga ungu Surgawi menyeringai, tapi bagi Xing Shi itu tampak bodoh.
"Bocah... Apakah Kau sedang membawa orang-orang Mu menuju jurang kematian?" Tanyanya sombong.
Xing Shi menutup mulutnya, rautnya menjadi sedih..
"Iya... Hanya saja bukan mereka... Tapi..." Ia melirik Naga ungu Surgawi, kemudian kembali berkata.
"... Kau ..." Ucapnya dingin.
Hewan itu tertawa lepas. Matanya memancarkan rasa remeh yang teramat dalam untuk makhluk-makhluk di depannya.
"ROARGHH..!!" Ia meraung.
Seketika daratan kembali berguncang. Dari dalam tanah tiba-tiba mencuat jutaan sulur petir hitam berukuran raksasa. Benda itu merayap di udara lalu, dengan gesit menuju orang-orang di belakang Xing Shi.
Para makhluk di sana termasuk suku dewa memucat, kemudian mereka menatap punggung gadis bersayap ungu. Ada kepercayaan yang tanpa sadar mereka beri kepada Xing Shi. Semacam harapan akan kehidupan.
Xing Shi berwajah dingin. Hanya dengan satu gerakan jarinya, seluruh serangan berwarna hitam itu berhenti berderak lalu menghilang bagai terkena hembusan angin.
Naga ungu Surgawi melotot tidak percaya, petir.. petir hitamnya menghilang? Bagaimana bisa gadis dewa ini menjadi begitu kuat dalam satu waktu? Pikirnya kacau. Namun, lebih dari itu semua Naga Ungu Surgawi kian tidak terima dan marah karena serangannya lagi-lagi tidak berhasil!
Napasnya memburu tatkala melihat Xing Shi seperti meremehkannya. Kemudian, Dia melesat menuju perempuan itu.
Xing Shi mengangkat tangannya, seketika keluar aliran udara berwarna ungu dengan bintik-bintik perak. Aliran itu memadat dan membentuk sebuah pedang besar seukuran lima mil. Detik berikutnya, Pedang ungu itu meluncur ke arah Naga ungu Surgawi yang masih meliuk-liuk di udara.
BANG!!
BOOMMM!!!!
"ROARGHH...!!" Naga itu meraung kesakitan. Amat sakit. Intinya ini lebih seperti perasaan tersiksa.
Pedang ungu yang dilemparkan Xing Shi telah menancap erat di punggung Naga ungu Surgawi hingga hewan itu sendiri terjerat di antara tanah gersang.
"Bagaimana ... Sakit?" Xing Shi kemudian melemparkan lagi belasan pedang serupa.
"ROARGHH...!!" Naga ungu Surgawi meraung lagi. Matanya menatap nyalang perempuan cantik itu. Ia ingin mencabik-cabik gadis bersayap ungu yang tak lain Xing Shi, tapi Dia sadar bahwa tubuhnya saat ini tidak bisa digerakkan.
"Ada apa dengan mata itu ..... Benci? ASAL KAU TAHU AKU XING SHI JUGA MEMBENCIMU!! GARA-GARA KAU KAKAK KU HAMPIR MATI-!" Pekiknya seraya melemparkan belasan pedang ungu raksasa.
"APAKAH HANYA KAU YANG BOLEH MENYERANG! AKU TIDAK PERNAH BERKATA SEPERTI ITU!!" Lagi-lagi Ia melemparkan puluhan pedang ungu dengan penuh amarah. Matanya yang lembut telah memerah. Ia benar-benar naik pitam hingga membuat Naga ungu Surgawi meraung menderita.
Naga itu kini telah diselimuti oleh darah. Banyak tusukan pedangnya yang membuat hewan itu mengalami pendarahan tidak lazim. Bahkan suku dewa dan suku lainnya yang melihat agak merasa ngeri, tapi juga bersyukur.
"KAU TAU AKU AMAT MEMBENCIMU! KAU ADALAH TITIK PENYEBAB ORANG-ORANG KU MATI DAN MENDERITA! APAKAH HANYA SEPERTI INI SELESAI? TIDAK!" Kemudian Ia melemparkan cakram ungu yang Naga itu sendiri tidak tahu jenis apakah elemen yang menyerang dirinya.
"ROARGHH!! KALAU KAU INGIN MEMBUNUH DEWA INI, BUNUHLAH! JANGAN SUNGKAN-SUNGKAN!! HAHAHAHA!" Teriak Naga ungu Surgawi mulai gila.
Tubuhnya telah berantakan, banyak darah di sekujur tubuhnya. Matanya yang menyala sedikit redup, namun ada kilatan licik sekilas.
Xing Shi menggertakkan giginya, Ia tersenyum. Sudah bisa mengendalikan emosinya kembali. Ia cukup puas menyiksa hewan busuk tersebut. Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melancarkan rencananya.
Ia sudah tidak memedulikan apapun lagi kecuali, membuat dunia dewa dan Alam surga aman dari Naga ungu Surgawi yang menurutnya adalah pembawa kiamat.
"Sudah kubilang berkali-kali, Aku tidak bodoh..!"
"Mati? Bila kau mati... beberapa ribu tahun kemudian Kau dapat terlahir kembali dengan bentuk dan kekuatan yang sama. Kau pikir.. Aku hanya menyiksamu tanpa bisa membunuh? Kalau Kau berpikir seperti itu, maka salah besar" Tutur perempuan itu pelan yang hanya Naga ungu Surgawi dapat dengar.
Naga itu terperanjat untuk sementara waktu. Apa yang diungkapkan Xing Shi merupakan rahasianya. Hanya segelintir orang yang mengetahui informasi ini. Ia heran, kenapa bocah didepannya ini serba tahu?
Kemudian Dia tersenyum sinis, "Jika Kau mengerti... Maka kau juga sadar, bahwa bocah busuk seperti Mu tidak dapat berbuat apa-apa untuk dewa ini."
...____________________...
...🍁[Bersambung... ]🍁...
...…………………………………………...
...Readers~ Jangan lupa like dan komennya, it's easy guys~...
...See U~...
...-Marionatte Rose-...