Legenda Sang Dewi Bulan

Legenda Sang Dewi Bulan
43. Permintaan Maaf Tak Terhingga


"Jadi, apa yang sebenarnya menimpa dirimu, nak?" tanya Shangguan Qingshui lembut namun masih terselip nada sedih di baliknya.


"Ayah..." balas Shangguan Yue pelan seraya menundukkan kepalanya.


Tangannya yang putih terlihat mencengkeram erat sebuah cangkir, tapi secara perlahan Ia mengendurkan jari-jarinya.


Terlepas dari segala kesedihan, sebagai seorang anak Ia perlu berkata jujur kepada orang tua. Itu adalah sikap berbakti dan berbudi luhur yang wajib dilakukan oleh setiap anak.


Namun ... Dalam kondisi dan situasi sekarang, itu tidak memungkinkan.


Bagaimana pun juga Shangguan Yue tidak mampu berkata seratus persen jujur kepada sang ayah. Ini melibatkan antara skenario dan takdir yang kemungkinan besar bisa lepas dari kehendaknya sewaktu-waktu.


Apabila diperbolehkan memilih, Ia lebih memilih jalan aman namun bukan berarti mulus dalam perjalanan balas dendam ini.


Jalan aman berarti merujuk kepada menghindari hal merepotkan demi ke-efektifan rencana agar bisa terus melaju mencapai keberhasilan.


Dalam kata lain menjauhi masalah dan berusaha menjadi pihak yang paling diuntungkan adalah poin utama. Yah, itupun tidak di segala situasi jujur saja.


Tapi bukan berarti memberitahu keseluruhan masa lalu merupakan masalah dan bukan berarti juga Ia menganggap keluarganya sebagai beban. Tidak ada yang tahu benar isi hati setiap manusia.


Shangguan Yue melihat dari sisi yang paling berbahaya, bagaimana jika ayahnya terlibat lalu orang-orang jahat berniat untuk menargetkannya? Dalam kasus ini, semua hal akan semakin rumit dan bisa saja menyudutkannya ke titik menyerah.


'Terkadang, tidak semua hal perlu diberitahu kepada yang lain. Sebatas hal penting saja, mengingat banyaknya informasi pembawa beban yang tidak baik dibendung oleh Ayah, Aku ... Hanya tidak ingin membuatnya repot,' batin Shangguan Yue dengan mata teduh.


"Sebelum itu, Ayah. Aku ... Aku ingin meminta maaf..." ujarnya pelan. Ia bukanlah orang yang tidak tahu malu, jadi meminta maaf merupakan keharusan.


"Meminta maaf?" beo Shangguan Qingshui sembari mengerutkan dahi. Tak lama kemudian Ia menghela napas berat.


Sungguh, Dia tidak bisa menutupi kulit wajah yang mulai bergelombang.


Buku-buku jari itu terlihat mengepal, Ia dapat melihat bahwa sang anak sedikit frustrasi untuk menceritakan masa lalunya.


Sebegitu sulitkah untuk bercerita?


"Yue'er..." panggil Shangguan Qingshui sembari mengelus punggung tangan sang anak.


Ia lalu dengan lembut berbicara, "kelopak bunga terjun layaknya salju; masa lalu, nostalgia, dan ingatan adalah satu. Dimana kah musim dingin membuat tetesan sedih jatuh...?"


Senyuman Shangguan Yue berubah kecut, "menangis adalah wajar ... Semi merupakan awal; panas merupakan perantara; gugur tak terinjak; pada akhirnya musim dingin merayap..."


"... Ayah ... Puisi ini bukankah sama saja mengatakan bahwa 'abadi adalah khayalan dari yang sementara...?'," lanjut Shangguan Yue dengan mata terbakar.


'Ah ... Betapa realistisnya puisi ini...' batin Shangguan Yue.


Mengernyit sedih, "Yue'er ... masih ingat rupanya."


Menarik napas dalam-dalam lalu Shangguan Yue buang perlahan, "Tidak bisa dilupakan. Bagaimana bisa Yue Yue lupa apabila itu berkaitan dengan Kakak Yun dan juga Ibu?"


"Hah ... Yue'er benar."


Merenung sebentar, Shangguan Qingshui kemudian kembali berkata, "Puisi kuno ini berasal dari buku sastra 'salju dan darah'. Adalah sedikit yang berniat untuk membacanya. Kebanyakan lebih memilih berlatih seni beladiri maupun terjebak dalam keserakahan kultivasi."


"Apakah ... Yue'er sama?" tanya Shangguan Qingshui tersenyum tampan.


Sepertinya Ia sedang diuji sebelum memberitahukan masa lalunya. Ini adalah niat baik secara terang-terangan. Adalah hal buruk jika marah, ayah tetaplah ayah, pikir Shangguan Yue kembali tenang.


"Iri menyebabkan keserakahan. Keserakahan menyebabkan kesombongan, dimana di dunia ini tidak ada orang seperti itu? Kalaupun ada itu adalah perbandingan 3:7. Bahkan Akupun termasuk di dalam angka tujuh tersebut, Ayah."


Shangguan Yue kemudian berhenti sejenak. Tatapannya berubah menjadi lebih tegas, "Akan tetapi sastra jauh lebih penting daripada kultivasi."


"Oh? Kenapa demikian?" tanya Shangguan Qingshui tertarik.


Shangguan Yue lalu menjawab, "sastra mengajarkan kehidupan melalui puisi-puisi rumit. Hanya saja, orang-orang tidak tahu apabila pemahaman puisi mengenai kehidupan dapat meningkatkan kemampuan mental yang bersifat penting dalam kemajuan kultivasi. Apabila dikatakan, mental adalah energi spiritual internal yang dapat menjadi pihak pertama dalam situasi genting ataupun di saat-saat manusia berada di ujung tanduk. Sedangkan kultivasi adalah energi spiritual internal pada lapisan kedua."


"Apabila kita mati, asalkan energi spiritual mental lebih tinggi daripada tingkat kultivasi, kehidupan dapat terjamin akan kembali. Kekurangannya hanyalah..."


"Hanya berlaku bagi pembudi daya di atas ranah Pencerahan Bumi, " sahut Shangguan Qingshui tersenyum penuh akan suatu nostalgia yang tak sengaja Ia kenang.


"Yue'er, kamu sangat berani. Mementingkan sastra daripada Kultivasi? Itu juga merupakan kebiasaan Ibumu," ujarnya dengan tatapan hangat.


"Akan tetapi, alasan mengapa orang lebih memilih meningkatkan kultivasi daripada energi mental, sudahkah Yue'er tahu penyebabnya?"


"Aku tahu..."


"Dahulu ada seseorang yang menasihatiku dan berkata bahwa semua hal akan sia-sia tanpa adanya pemahaman mengenai kehidupan. Dan di saat itu pula Ia memberitahu Yue Yue mengenai alasan yang tengah Ayah tanyakan..."


Mengangkat alis sedikit tertarik, "hm ... siapa yang memberitahu Yue'er?"


"Aku tidak tahu, Ayah," jawab Shangguan Yue menggelengkan kepalanya pelan. Jujur saja perempuan ini juga bingung.


Tersenyum lembut sebagai tanggapan, "Ayah, Aku hanya bertaruh."


"Bertaruh? Apakah tidak takut akan konsekuensinya?" heran Shangguan Qingshui mengeratkan pegangannya terhadap telapak tangan sang anak.


"Tidak. Untuk menjadi yang terkuat, Aku akan melakukan segala cara meskipun harus bertaruh kepada diri sendiri," jawab Shangguan Yue tegas, tanpa ada jejak keraguan sedikitpun.


Mendesah tidak berdaya, "hah ... Ibu dan anak ternyata sama saja. Akan tetapi, Yue'er terlihat lebih berambisi daripada Xia'er..." gumam Shangguan Qingshui dengan nada sedih.


Ia lalu secara perlahan mengendurkan jari-jarinya.


"Katakan. Apa penyebabnya? Katakan segala hal yang Yue'er tahan selama 8 tahun terakhir. Ayah tidak masalah jika Yue'er membenci pria yang tidak berguna ini. Asalkan Ayah bisa menjadi pohon besar dan dapat melindungi Yue'er kembali, itu bukanlah suatu masalah..." tutur Shangguan Qingshui tulus seraya mengusap-usap punggung tangan sang anak lembut.


Tersenyum sedih, "Ayah ... Apakah Aku boleh meminta maaf lagi...?"


"Bukankah sudah?" heran Shangguan Qingshui.


Shangguan Yue menarik napas dalam-dalam, untuk sekarang tenggorokannya terasa amat gatal.


"Satu kali maaf adalah untuk ke-egoisanku. Maaf ke-dua adalah untuk apa yang telah terjadi. Dan kali ini, Aku ingin meminta maaf kembali ... Ayah, Ibu, Kakak Yun, Paman Shu, Kakek, Nenek, dan Kakak Zhu memang orang yang selalu baik kepada Yue Yue. Karena itulah satu kali permintaan maaf tidak akan pernah cukup...!"


"Hey, Nak. Apa maksud-


Bruk!


Tiba-tiba Shangguan Yue bertekuk lutut di hadapan Shangguan Qingshui.


"Yue'er...?!" pria ini begitu terkejut.


"Ayah...! Meskipun Aku meminta maaf ... Bahkan untuk ribuan kali sekali pun ... Rasa bersalah ini...! tidak akan pernah padam...!" lirih Shangguan Yue dengan nada bergetar, hampir mengejutkan Shangguan Qingshui karena jejak air mata mulai membasahi wajah sang anak.


"Yue'er, jangan menangis ... Ayah ada disini, Ayah ... Ayah tidak akan membuatmu menderita lagi...! Ayah juga akan selalu melindungi Yue'er...! Jadi, tenanglah..." Shangguan Qingshui berdiri dan mulai mendekap erat sang anak.


Bahkan itu sangat erat, tidak ingin melepaskan.


Shangguan Yue sedikit berdecak, "Kenapa kalian semua selalu mengatakan hal yang sama...? Melindungiku? Menjagaku? Lalu bagaimana dengan nyawa kalian...?! Tiap kali ada yang mengatakan melindungiku, apakah pernah berpikir...? Setidaknya berpikir satu kali untuk melindungi diri sendiri daripada nyawaku ini?" lirihnya pelan.


"Diantara 3 Dunia, triliunan nyawa hidup! Aku hanyalah satu bagaikan debu yang berembus...! Ini, bukankah ini tidak sepadan? Kehidupan hanya ada satu kali, dua kali merupakan kebetulan, 3 kali merupakan keberuntungan! Namun ... takdir tidak bisa dipercaya!"


"Dua nyawa demi satu nyawa? Kenapa harus seperti itu...?" lirih Shangguan Yue kembali mengejutkan sang ayah.


"Yue'er ... Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu...?"


Shangguan Yue kemudian mengeraskan rahang, berusaha agar tidak menjatuhkan genangan air yang telah membuat pupil itu lebih panas.


Dapat dilihat Ia menggigit bibir bagian bawah, merasa apakah Ia pantas untuk tetap tinggal di Keluarga Shangguan? Keluarga baik namun apakah Dia pantas? Pikir perempuan ini pesimis.


"Ayah ... Aku- Aku tidak pantas bagi Keluarga Shang-


"Yue'er adalah anggota Keluarga Shangguan. Mau itu satu abad, dua abad, bahkan apabila menjadi pengkhianatan pun, Yue'er tetaplah Shangguan Yue. Perempuan bermarga Shangguan...!" tegas Shangguan Qingshui tersenyum lembut.


"Apapun yang terjadi, masa lalu telah berakhir. Saat ini adalah saat ini, masa depan adalah masa depan. Bagi Ayah, Yue'er merupakan gadis paling cantik dan tidak akan pernah berubah. Yue'er merupakan anak Ayah, tanggung jawab Yue'er juga merupakan tanggung jawab Ayah. Apakah Yue'er mengerti...?"


"Ayah..." gumam Shangguan Yue bergetar.


"Maka dari itu, tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, Yue'er akan selalu menjadi kesayangan Ayah. Di masa depan pun juga sama saja."


Shangguan Yue mengernyit sedih, "T-tapi Ayah ... Kakak Yun dan Kakak Zhu mati karena Aku ... Mereka terbunuh di hadapan Yue Yue ... Namun..."


Perempuan ini tersenyum pahit, "Yue Yue sangat tidak berguna ... Bahkan sampai detik terakhir ... usaha adalah kosong dan hanya bisa menyesal..."


"Jadi, Ayah..." Shangguan Yue mengangkat kepalanya dan mulai menatap mata sang ayah lekat-lekat, "apakah Kau membenci diriku?"


Wajah perempuan ini mendingin, bahkan dapat terlihat itu bukanlah raut sedih lagi, melainkan suatu raut yang mewakili kehampaan, penyesalan, kebencian, dan juga rasa pasrah yang mendalam.


"Anak pertamamu mati bersama dengan tunangannya ... Bahkan Ibu juga meninggal beberapa tahun setelah kelahiranku. Debu seperti Yue Yue ini, merupakan kesialan bagi keluarga Shangguan memang..."


"..." pria itu- Shangguan Qingshui hanya menampilkan wajah datar namun seperti sedang menahan panas dari kepalanya.


"Bukankah Kau setuju, Ayah? Biar Yue Yue tebak, akankah detik selanjutnya Kau akan mengusirku dari rumah ini? Ataukah membatalkan diriku menjadi pewaris sah Keluarga Shangguan...?" tanya Shangguan Yue beruntun menyebabkan kepala sang ayah hampir meledak.


"Yue'er bukanlah debu...!!! Yue'er adalah anak ayah!!!" kesal Shangguan Qingshui meninggikan nada bicaranya kepada sang anak.


...🦋🌖🦋...


...Jangan lupa like dan komennya~...


...Jaga kesehatan juga, yah~...