
"Iblis hati"
Ia tersenyum tipis, "Apa Kau akan membiarkannya?" Tanya seorang pria dengan hiasan rambut serba berbulu.
Pria yang ditanyakan hanya diam, memandang pantulan wajahnya di permukaan teh. Ia lalu menyesapnya, dan menjawab, "Tidak apa."
"Kenapa? Ini bukan seperti dirimu yang biasanya, Bukankah iblis hati adalah hal buruk?" Pria itu mengernyit merasa bingung.
"Kebencian maupun iblis hati adalah pilihannya, hal itu juga akan membuatnya menjadi sosok yang kuat. Tapi, Aku ingin meminta bantuan mu kali ini..." Jawab pria itu seraya meletakkan cangkir teh di atas meja.
"Hmm ... jadi, Kau meminta diriku kemari karena bantuan?"
"Ya, iblis hati itu memanglah buruk, namun jika membimbingnya menuju jalan yang tidak merugikan, baik untuk dirinya sendiri maupun sekitar, bukankah bagus?"
"Hah ... baiklah-baiklah" Pria itu bangkit, ingin pergi.
"Jadi, apa Kau akan melakukannya?"
Pria itu berhenti, terlihat sudut bibirnya tertarik miring.
"Dengar."
"Aku melakukan ini bukan karena permintaan mu, tapi murni dari keinginanku sendiri. Jadi, jangan salah paham..." Pria itu kemudian menghilang meninggalkan pria lain terduduk sendiri namun terlihat bahagia dari tampilan wajahnya.
.
.
.
...………………...
...Ruang Kerja Shangguan Qingshui...
...………………………………...
"Apa Kau telah menemukan Yue'er...?" Tanya Shangguan Qingshui lemah. Wajah tampan pria itu terlihat kacau. Kelopaknya menghitam layaknya panda, rambutnya acak-acakan tidak terurus, dan juga pakaiannya berantakan tidak menentu.
Pria itu sebenarnya ... mabuk.
Tampak Shangguan Shu hanya mendengus sebagai timbal balik. Suasana hatinya tak berbeda jauh dari sang kakak, begitu buruk. Bahkan sangat buruk setelah menerima kabar bahwa Shangguan Yun, Zhu Lian, dan Zhu Shiyi mati serta merta menghilangnya Shangguan Yue.
Sebenarnya, ini adalah ujian atau malapetaka? Ia merasa kesialan keluarganya bertambah.
"Kak..." Ujarnya seraya menumpu wajah dengan tangan.
"Aku ... Aku tidak menemukannya..." Ia melirik ke bawah, merasa bersalah.
Shangguan Qingshui hanya menghela napas berat, pria itu kemudian menuangkan secarik arak ke dalam cangkir. Berniat meminumnya kembali.
"Hah ... Aku pikir, Aku bisa melindungi keluarga kecilku dengan baik. Tapi ... Tapi lagi-lagi hal yang sama terulang..." Ia meminum arak dalam satu teguk lalu menatap Shangguan Shu.
"Apakah ayah tidak menemukan Yue'er?"
Pria itu menggeleng, "Tidak menemukan. Ayah hanya dapat merasakan aura Yue Yue di Hutan Persik, namun tidak berhasil menemukan keberadaannya..."
"Hah ... Kalau begitu, biar Aku sendiri yang mencari Yue'er..."
"Kak, Kau mau kemana...?" Tanya Shangguan Shu ikut berdiri dan mulai mengikuti kakak sulungnya.
"Hutan Persik" Balasnya datar.
.
.
.
"Shanggu ... apa Kau tidak mau makan...? rasanya manis, bukankah ini kesukaanmu?" Tanya Rong Hua namun tidak digubris oleh Shangguan Yue.
Peri itu hanya bisa menghela napas tanpa bisa memaksa. Lagipula, menenangkan hati yang menggelap tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sangat rumit. Persoalan hati memanglah seperti itu.
"Rong-Rong.."
Peri itu mengangguk senang, Akhirnya Shangguan Yue mau berbicara setelah selalu diam selama beberapa hari ini.
"Iya, ada apa? kue osmanthus? berapa-berapa? biar Aku ambilkan."
"Dimana kita sekarang..." Tanyanya seraya membalikkan lembaran kertas sebuah buku.
Rong Hua mendengus sebelum menjawab, "Hm ... Karena Kau berasal dari Keluarga Shangguan maka akan Aku beritahu."
"Jadi, jika Aku bukan berasal dari Keluarga Shangguan, Kau tidak akan memberitahuku?" Tanya gadis mungil itu sedikit cemberut.
"Yah ... Begitulah..." Peri itu tampak termenung sejenak sebelum pada akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Biar Aku beritahu, tempat ini bukanlah Alam Mortal tingkat tinggi..."
Shangguan Yue mengernyit dan berhenti membalikkan lembaran kertas, "apa maksudmu?"
"Apa Kau tahu Hutan Mistis? kurasa Kau tahu karena pernah ke sana-"
"Apa itu ada hubungannya dengan dua pohon kembar yang mengeluarkan semacam fluktuasi...?" Celetuknya seraya menaikkan salah satu alis, mencoba menebak
Rong Hua mengerjapkan matanya merasa bodoh, "Bagaimana Kau tahu?"
Shangguan Yue hanya menggidikkan bahunya malas, ternyata tebakannya benar "Hanya menebak"
Ia memang merasa bahwa pohon tersebut memiliki suatu keanehan. Hal ini dimulai sesaat Shangguan Yue pertama kali menginjakkan kakinya di Hutan Mistis.
Walaupun samar, Ia seolah mendengar suara melodi yang menenangkan namun mistis. Seperti, suara orang bernyanyi dengan bisikan. Menggunakan suatu bahasa yang tidak Ia ketahui namanya. Tapi jujur, itu cukup nyaman untuk didengar.
"Vla restia~ meiyu la hue nar~ les sentiele muai ha ra syar nie~ " Tanpa sadar, gadis mungil ini bernyanyi. Mungkin terdengar aneh untuk kebanyakan orang karena bahasanya yang terbilang asing, tapi tidak untuk Rong Hua.
Peri itu membelalakkan matanya terkejut. Jantung peri itu juga berdetak tidak karuan. Dengan terbata-bata, Ia lalu bertanya, "Sha-Shanggu bag-bagaima bisa k-kau meny-menyanyikan lag-lagu itu?"
Shangguan Yue berhenti menirukan suara asing tersebut dan mulai mengernyit.
"Apakah ada yang aneh?"
Rong Hua gelagapan, melirik ke arah lain kemudian berbalik, "Ti-tidak ada. Suara Shanggu benar-benar bagus! Ka-kalau begitu aku pergi dulu! Sampai jumpa!"
Belum sempat Shangguan Yue ingin bertanya, Rong Hua telah mengepakkan sayapnya pergi.
Perempuan itu mendengus, terlihat sudut bibirnya memiring, "Apa yang Kau sembunyikan dari Ku Rong-Rong? Aku hanya mengetes mu saja. Tidak Aku sangka, kalian benar-benar menyembunyikan sesuatu..."
"Dan lagi, kenapa kalian menahan ku ditempat seperti ini?" Shangguan Yue lalu menatap erat buku yang Ia pegang. Terlihat buku yang Ia pegang adalah semacam buku cerita, namun tak lama kemudian tangan mungil gadis ini Ia taruh di atas sampul.
"Menurut buku ini, tempat yang Aku singgahi sekarang adalah dimensi Naga. Dimensi terpisah dari tiga dunia yang merupakan tempat kekuasaan Paman Shen Long, disini hanya ada Hewan Spiritual sebagai penduduk?"
"Aneh sekali. Lebih aneh lagi jika ada 4 dimensi lain seperti dimensi Naga yang mengelilingi Kediaman Utama Keluarga Shangguan. Pertama Hutan Persik, Paman Shen Long adalah penguasanya, Hutan Salju Bai Tian'e, Hutan Mutiara A-Lin, Hutan Awan Jue Lian. Dan yang terakhir Hutan Mistis..."
"Aku ingin bertanya, tapi sepertinya Aku harus mencari tahu sendiri." Ia bergumam yang lalu memasukkan buku tersebut ke dalam cincin ruang. Bukanlah kebetulan Ia memiliki buku tersebut, nyatanya Ia mengharuskan diri untuk mencuri.
Terdengar memalukan memang, tapi apalah daya, gadis mungil ini teramat penasaran. Sehingga Ia mengambilnya diam-diam dari ruang kerja milik sang paman- Shen Long.
Mata gadis mungil ini menyipit, "Sebenarnya masih ada beberapa hal yang aneh ... seperti Bai Tian'e, Perempuan itu ... kenapa seperti menyembahku? lalu, bagaimana bisa Paman Shen Long berteman dengan ibuku? sungguh aneh...!"
Tiba-tiba wajah Shangguan Yue berubah dingin, "Hem, sudahlah ini tidak penting. Aku harus menjadi lebih kuat, agar bisa membalaskan dendam kakak Zhu dan Kakak Yun. Dan juga demi keluargaku...!" Perempuan ini mengepalkan tangannya erat. Sangat erat hingga urat-uratnya sedikit terlihat.
Memang, gadis mungil ini benar-benar menjadi sosok yang pedendam. Namun, itu adalah wajar.
Jika kalian ada diposisi Shangguan Yue, apa yang akan kalian lakukan? Melarikan diri? Bersembunyi? Menjadi pengecut? ini adalah hal 'umum', atau pilihan lain yaitu berjuang demi keadilan? menghabisi mereka secara langsung? Yah, itupun bila memiliki kekuatan lebih. Jika tidak? hanya ada satu cara, yaitu berjuang menjadi sosok yang kuat.
Sama halnya dengan Shangguan Yue saat ini. Ia hanya ingin menjadi sosok yang kuat dan kuat. Tapi bukan karena keserakahan semata.
"Shangguan Yue jadilah kuat, dan lindungi keluargamu. Cukup Kakak Yun dan Kakak Zhu saja, jangan sampai tragedi yang sama terulang..." Gumamnya penuh tekad, tapi tetap, matanya memancarkan ruang dendam tanpa batas. Sangat benci dia, sangat benci. Tapi Ia tahu, hanya dengan pemikiran benci saja tidak akan menyelesaikan masalah. Secara tindakan nyata adalah yang utama dan paling penting.
Shangguan Yue kemudian berbalik, ditangannya kini telah ada sebilah pedang perak yang merupakan pemberian dari sang ayah.
"Aku telah memasuki ranah pemurnian spiritual tingkat akhir. Cukup bagus" Ujarnya tersenyum, tapi masih ada rasa tidak puas, karena Ranah pemurnian spiritual saja tidak akan cukup untuk melawan para musuhnya.
Sedangkan, di Alam Mortal tingkat tinggi sendiri, memiliki beberapa ranah dengan ranah tertentu sebagai batas atau kalimat mudahnya 'batas kekuatan maksimum yang dapat ditampung' oleh Alam Mortal tingkat tinggi. Jika sudah di luar batas, maka akan dikirim menuju Alam yang keberadaannya lebih tinggi daripada Alam ini.
Ranah tersebut yaitu:
[Dari yang terendah hingga tertinggi]
[Pemurnian-> Pembentukan-> Penyempurnaan-> Pencerahan]
Pemurnian Roh
Pembentukan Roh
Penyempurnaan Roh
Pencerahan Roh
Pemurnian Spiritual
Pembentukan Spiritual
Penyempurnaan Spiritual
Pencerahan Spiritual
Pemurnian Bumi
Pembentukan Bumi
Penyempurnaan Bumi
Pencerahan Bumi
Sebagai ketentuan, setiap ranah memiliki tiga bagian yang perlu untuk digapai yaitu, Awal, menengah, dan akhir.
Gadis mungil ini kemudian menatap cerminan wajahnya di bilah perak tersebut. Dia mengelusnya perlahan. Busur bibirnya tertarik, namun penuh akan hawa dingin yang pekat.
Matanya yang datar menatap tajam pohon bercahaya. Pohon tersebut adalah bagian dari taman yang saat ini sedang digunakan oleh Shangguan Yue untuk keperluan pribadi.
Ia tidak peduli lagi dengan hal lain selain menjadi kuat dari yang terkuat.
Meskipun Ia adalah Perempuan, lalu mengapa? apakah gender begitu penting? Perempuan maupun laki-laki sama-sama manusia, sama-sama keberadaan eksistensi yang selalu melengkapi dan membuat dunia ini seimbang.
Jika terdapat perbedaan, itu hanyalah pemikiran dangkal dari seseorang yang mengharuskan pria menjadi keberadaan nomor satu dalam segala hal.
Kesetaraan gender diperlukan, dan di dunia Kultivator yang kejam ini hanya ada satu kalimat sebagai pedoman, 'Yang kuatlah yang berkuasa' Kemudian yang lemah? terimalah saja nasib mereka yang sial.
Segera setelah itu, Ia memutar gagang pedang perak dan menghunuskan nya ke arah depan. Gaunnya yang merah tampak berkibar mengikuti terpaan udara yang kian lama kian mengencang.
Saat ini, Shangguan Yue tengah berlatih suatu teknik tersulit dari Keluarga Shangguan. Namanya adalah Teknik Pedang Tsunami.
Sesuai namanya, teknik ini membutuhkan ketenangan dan irama yang tepat. Gerakan perlu sedikit lembut namun tiap perubahan detik, kecepatan harus ditambah. Jika itu digambarkan, maka gerakan teknik ini bagaikan gelombang laut yang pada akhirnya menghasilkan suatu tsunami.
Shangguan Yue kemudian mengangkat kakinya lurus, membentuk sudut 90°. Lalu Ia berputar, menciptakan siluet air yang ikut bergerak.
Air ini bukanlah air biasa, jika ada yang menyentuh air tersebut bisa dipastikan tubuh yang menyentuh itu akan terpotong. Tetapi, hanya berguna untuk Ranah Pencerahan spiritual ke bawah.
Perlu diketahui, meskipun Shangguan Yue baru mencapai pemurnian spiritual tingkat akhir, Ia dapat menyamai seseorang dengan ranah Penyempurnaan Spiritual. Lalu bertambah satu tingkat, dengan menggunakan teknik Pedang Tsunami.
Tangannya yang bergerak lurus, merubah haluan ke atas membentuk setengah lingkaran dengan tubuh ikut bergerak lalu bersalto. Sesekali, disaat badannya melayang di udara, Gadis mungil ini akan mengayunkan kakinya dari bawah ke atas. Hingga aliran air tampak merayap di kosongnya udara dan meledak.
Ia kemudian memperagakan teknik lanjutan, yaitu serangkaian menghunus dan menghalau pedang. Kakinya yang kecil terlihat berlari dengan kecepatan ekstrim, membuat rerumputan sekitar menari-nari.
"Gerakan terakhir, gelombang tsunami...!" Ia membelah udara, seketika kumpulan air vertikal bergerak lurus ke arah pohon bercahaya dan...
BOOMMM...!!!
"Kalian para musuhku, lihat saja...! Nona muda ini pasti akan membalaskan dendam...!!" Ujarnya mengeraskan rahang, dengan wajah penuh kebencian.
...________________...
...🌑[Bersambung... ]🌑...
...……………………………………...
...Maaf sekali Saya tidak up untuk 2 hari....
...Saya sebenarnya ingin melanjutkan ceritanya, hanya saja Saya dihalangi oleh berbagai kesibukan seperti les, lomba dsb....
...Jujur ini agak meresahkan, karena Saya perlu tidur sampai larut malam. Bagaimanapun juga, menulis adalah salah satu hobi Saya....
...Kebayangkan kalau ga bisa melakukan hobi dengan leluasa. Pasti antara bete, kesal gimana gitu. Tapi yah, ini adalah ujian, jalani saja, dan tabah 😷😳...
...…………………………………...
...Jangan lupa like dan komennya~...
...-Marionatte Rose-...