
Meskipun keputusanku ini tampak gegabah, namun demi nyawa keluarga ku dan diriku ini, tiada hal yang lebih penting dari itu semua. Bahkan jika Aku harus merelakan ingatanku, Aku tidak akan menolaknya sama sekali.
Nyawa, nilainya seribu kali lebih penting dibandingkan hal lain, dan berdasarkan perkataan kedua wanita ini, jika kami akan kehilangan ingatan kami untuk sementara waktu. Itu artinya, masih ada kesempatan bagi kami untuk memperoleh ingatan lampau yang telah lama kami lupakan, bukan?
Shangguan Yue tampak tersenyum puas, matanya terlihat memancarkan cahaya perak yang kembali berputar secara sekilas, "Bai Tian'e, Kau bisa memulai prosesnya, Aku akan pergi untuk memanggil seseorang," ujarnya lalu menghilang dan hanya menyisakan jejak dedaunan yang berterbangan secara ringan.
Menghela napas panjang, Bai Tian'e lalu menatap kami dengan seksama, "Anak-anak, tutuplah mata kalian itu. Setelah kalian menutup mata, beberapa jam kemudian, kalian akan memperoleh kehidupan baru yang jelas saja berbeda..."
"...Aku harap kalian tidak akan menyesal..."
"... Tam!"
"Hitam!"
"Oi..! Hiiitam!"
Plak!
Shangguan Shan memukul punggung Shangguan Lao agak keras hingga meninggalkan suara nyaring. Tentu saja pria ini terkejut setengah mati! Baru saja membuka mata, punggungnya langsung terasa nyeri!
"Adik sialan! Apa yang Kau lakukan, hah!"
Di bawah rindangnya pepohon hijau, kini tampak ketiganya: Shangguan Shan, Shangguan Que, dan Shangguan Lao tengah beristirahat dalam posisi lotus. Tak lama kemudian, matahari Barat menyoroti sudut mata ketiganya dengan cahaya emas yang begitu menyilaukan. Namun lebih dari itu, Shangguan Shan yang baru saja membangunkan Shangguan Lao tampak berkedut keras, "Adik? sejak kapan aku menjadi adikmu sialan?!" ujarnya jengkel.
Shangguan Que yang ikut terbangun hanya bisa terkikik kecil dengan tampangnya yang penuh remeh , "Mimpi apa kau barusan, hitam? hahahaha! bisa-bisanya kau memanggil si biru tua itu dengan sebutan adik ? Lucu sekali!" Shangguan Que tertawa terpingkal - pingkal. Begini ya, di antara 10 hewan kuno asuhan Shen Long, Shangguan Lao merupakan satu-satunya makhluk paling kaku dan serius dari yang lain, jadi wajar saja jika kali ini Ia terlihat konyol di mata merak hijau itu.
"Akh-!" Shangguan Lao yang baru saja terbangun memegang kepalanya cukup nyeri, 'mimpi ini lagi ... ini sudah ke tiga kalinya, Aku ragu apabila ini hanya mimpi karena ini terasa sangat nyata ... tetapi, di sana terdapat kakak besar dan Bai Tian e ... apakah mungkin ini adalah ingatanku di masa lalu...? jika memang begitu ...'
Shangguan Lao menatap wajah Shangguan Shan dan Shangguan Que secara bergantian. Ia benar -benar tidak memedulikan ocehan menyebalkan yang telah dilontarkan oleh Shangguan Que itu, justru saat ini Ia kian percaya bahwa mimpi tadi bukan hanya sekedar mimpi semata, melainkan ingatannya di masa lalu.
Tatkala Ia menatap wajah keduanya, benar sekali rupa keduanya sangat mirip dengan seseorang bernama Fang Shan dan Fang Que di dalam mimpinya tadi.
"Ada apa ini, kenapa Kau menatap kami dengan tatapan seperti itu?" gerutu Shangguan Shan sebenarnya heran.
Tersenyum tipis seraya menggidikkan bahunya, Shangguan Lao kemudian segera bangkit dan berdiri, "Tidak apa, Aku melihat wajah kalian ini pucat seperti anak ayam kelaparan saja, sungguh malang," Ia berkata demikian dan segera terbang menuju kediaman kakak besarnya itu.
Dengan penuh kekesalan, Shangguan Shan lalu berteriak cukup keras, "SIALAN KAU HITAM!" tak lama kemudian, Ia segera mengejar Shangguan Lao yang telah berada jauh di atas sana. Pria tampan ini mengepakkan sayap biru di punggungnya itu teramat kencang hingga membuat desiran angin di sekitar wajah Shangguan Que.
WUSH!
"Ya ampun, jika kami benar-benar kelaparan, kau seharusnya pergi dan membawa kami ke pusat kota, Lao. Tapi yah, Aku yakin makanan di kediaman kakak besar jauh lebih enak," gumam Shangguan Que sembari mengipasi diri dengan kipas bulu merak kesayangannya itu, lalu pria ini terbang melintasi langit bersama keduanya di atas sana.
Ia tampak dipenuhi oleh senyuman. Kali ini, pasti akan terjadi kegemparan di ibu kota dan Ia sungguh tidak sabar! "Kakak besar, kau pasti akan sangat puas! mari kita kacaukan kekaisaran ini hingga mereka semua tunduk di hadapanmu," matanya sedikit menyipit.
Pada saat ini, di sebuah tempat yang begitu senyap, nampak cahaya lilin hijau terus menerus bergoyang tanpa henti. Di sekelilingnya, terlihat ratusan kursi giok telah ditempati oleh banyak sekali kultivator kuat tengah berdiam diri seraya menunggu kata-kata yang mungkin saja akan dilontarkan oleh pimpinan mereka di atas sana.
Satu-satunya singgasana giok legendaris yang dihiasi oleh puluhan berlian kuno. Namun jangan sampai tertipu, berlian-berlian tersebut bukan hanya sekedar hiasan penuh estetika, melainkan cairan racun yang telah dibekukan pada masa lampau. Hanya sedikit orang saja yang mengetahui rahasia ini dan hanya kultivator racun terpilih saja lah yang layak menepati singgasana tersebut.
Du Guanyi, pria muda berperawakan dewasa, penuh kewibawaan. Ia sangatlah tampan dan tampan dengan ukiran hijau misterius menghiasi dahi maupun ujung matanya yang tajam bagaikan ular berbisa. Pria ini bukan sembarang pria yang tanpa alasan menduduki singgasana tersebut; seorang kultivator jenius; berusia lebih dari satu abad. Orang-orang mengenalnya sebagai ayah dari ayah para jenius racun di Kekaisaran Wei. Bahkan Du Guanyi sangat layak memasuki peringkat 10 besar terkuat dari seluruh kultivator di Benua Manusia pada era sekarang.
Tak lama kemudian, pria tampan yang tengah memangku dagunya ini akhirnya berniat untuk membuka matanya. Iris hijau itu menatap tajam seseorang di bawah sana, penuh tekanan mencekam yang mengintimidasi siapa saja. Bahkan para tetua Keluarga Du tidak bisa berhenti merasakan berat di dada, sungguh pernapasan mereka saat ini sangat berat dan sulit, ditambah tiap inci kulit yang berkeringat dingin menandakan rasa takut yang luar biasa besar terhadap patriark Keluarga Du itu.
"Jelaskan, Apakah benar anak itu kembali dengan selamat?" tanya Du Guanyi dingin.
Seorang tetua yang memang sedang memberikan laporan di bawah sana kemudian membungkuk, "Benar , Patriark. Nona Shangguan Yue telah kembali setelah 8 tahun menghilang."
Du Guanyi sekilas tersenyum tipis, tanpa meninggalkan jejak apa pun di wajahnya. Lalu Ia pun kembali bertanya kepada Tetua ke-dua, "Tetua ke-dua, apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" tanya pria ini seraya turun dari singgasananya.
"Patriark, mohon terima ini, nona Shangguan Yue telah mengutus seorang pemuda untuk memberikan Anda sebuah surat-"
"Tetapi, apakah perlu untuk Anda mengumpulkan kami semua hanya demi surat ini?" ujar tetua kedua penuh tanda tanya. Ratusan tetua di sana saling memandang, memang benar, walaupun terdengar lancang, tetapi hal wajar apabila ada yang bertanya demikian. Bagaimana pun, hanya demi sebuah surat, bukankah ini terlalu berlebihan untuk mengumpulkan mereka semua di satu tempat? pikir para tetua di aula cukup heran, tetapi tidak berani berbicara secara terus terang seperti halnya tetua kedua.
Du Guanyi meliriknya sekilas lalu berbicara sembari membuka surat yang diberikan oleh Shangguan Yue itu, "Tuan muda kalian, pewaris sah keluarga Du kita, baru saja diserang oleh komplotan hitam tidak dikenal. Apakah kalian bahkan tidak mengetahuinya?" jawab Du Guanyi teramat dingin dan tanpa sadar mengeluarkan aura membunuh yang begitu kuat dan kuat!
Hal tersebut tentu saja membuat aula yang berukuran besar ini bergetar kencang hingga menyebabkan para tetua di sana tidak cukup tahan untuk tidak mengeluarkan cairan merah anyir dari sudut bibir mereka semua.
"Urk-!"
BRUK!
Tetua kedua tiba-tiba terjatuh dan membuka matanya lebar-lebar, Ia dan para tetua lainnya sangat terkejut mendengar berita tersebut. Sangat benar bahwa mereka tidak mengetahui kabar mengenai percobaan pembunuhan yang telah dialami oleh tuan muda mereka, akan tetapi- "Pat- riark- tolong-! Am ... pun- ilah kam.. -i"
Pupil hijau Du Guanyi tampak mengecil seiring berjalannya waktu Ia membaca surat tersebut. Mendadak aura membunuh yang Ia lepaskan telah kembali ke tubuhnya. Para tetua akhirnya bisa bernapas kembali seperti sedia kala, meskipun mereka sampai terengah-engah saking kuatnya aura intimidasi yang dikeluarkan oleh patriark mereka itu.
Tatkala tetua kedua mencoba untuk menatap wajah patriark Keluarga Du, Ia kembali dibuat terkejut oleh keadaan ini. Dan saat ini, Du Guanyi tengah tersenyum lebar memperlihatkan taring-taringnya itu secara mengerikan! Sungguh pemandangan yang tidak biasa bagi para tetua, ini benar-benar kejadian langka dan langka. Walaupun tidak ada yang bisa memahami maksud dari ekspresi patriark keluarga mereka itu.
"Dasar cicit nakal! sepertinya otakmu terbuat dari otak rubah dan ular!" gumam Du Guanyi menyunggingkan senyuman lebar dan lalu tertawa terbahak-bahak secara liar!
"Yue'er, tunggulah kakek di sana!" matanya berkilat misterius.