Legenda Sang Dewi Bulan

Legenda Sang Dewi Bulan
42. Hidup Yang Rumit


Ufuk timur mulai melambung seraya menyinari alam. Semburat oranye itu menabrak cakrawala di samping segerombolan kapas putih yang bersih. Tak ayal bisa disebut keindahan duniawi.


Pagi hari dimana udara sejuk menggelitik hidung para makhluknya menimbulkan rasa nyaman dan nyaman. Ingin rasanya untuk kembali tidur saking sejuknya suasana.


Namun, Shangguan Yue tidak merasa demikian. Setelah melewati rembulan panjang, Ia akhirnya mengerti satu hal. Mengerti bahwa, tujuan untuk membalaskan dendam sang kakak Yun maupun Kakak Zhu-nya masih terlampau jauh.


Mata Shangguan Yue yang teduh bergerak-gerak, "tidak hanya Kakak Yun dan Kakak Zhu, Ibu juga memiliki keterikatan dengan Tuan Besar. Memori yang Aku lihat kemarin telah menunjukkan kolusi mengerikan antara keluarga kekaisaran dan Tuan Besar. Pertanyaan nya adalah ... mengapa?" gumamnya pelan sembari bersila di halaman belakang.


Mendengus, "Aku pikir, Aku harus segera mendapatkan semua informasi konkret mengenai para musuh." Ia menyipit.


"Semuanya masih terasa abu-abu dan ada yang aneh. Tak disangka, satu masalah memiliki banyak cabang. Dalang sebenarnya sungguh menyembunyikan bagian ekor dengan baik, patut untuk dipuji..." ujar Shangguan Yue dingin.


Ia lalu mulai bermeditasi agar gejolak pikirannya kembali tenang. Nyatanya, satu pancingan memberikan seribu manfaat untuk Shangguan Yue. Segala hal yang terjadi tadi malam memanglah beresiko bagi nyawa perempuan ini, akan tetapi di lain sisi Ia mendapatkan beberapa informasi penting.


Jujur saja Dia masih marah setelah mengetahui alasan lain sang Ibu tiada. Walaupun belum tahu pasti, Ia perlu bertanya kepada Ayah ataupun kakeknya demi mencari kebenaran.


"Informasi penting dipegang oleh orang penting," ujar perempuan ini.


Ia lalu bergumam dengan nada sedih, "terakhir kali Aku melihat Ibu ... Ia sangatlah kurus dan selalu terbaring lemah di atas kasur."


Kemudian Shangguan Yue berpikir, kalau begitu apakah semua ini memiliki kaitannya dengan Tuan Besar? Kalau itu memanglah sebuah fakta, Ia dapat berjanji bahwa Dia akan membunuh orang itu dan menghancurkan nyawanya secara perlahan.


"Aku akan menyiksamu..." geram Shangguan Yue mengepalkan buku-buku jarinya. Nyawa pantas dibalas oleh nyawa dan semua dendam yang menumpuk ini tidak akan pernah dapat diputus meski langit murka.


Tiga korban. Tiga korban merupakan keluarga terdekat, Ia ragu apabila di masa depan tidak ada nyawa yang melayang mengingat ucapan salah seorang yang untuk pertama kalinya Ia habisi di masa lalu.


"Sungguh tidak bermoral...!" geram Shangguan Yue penuh kebencian.


Perempuan ini lalu mulai membuka kelopak mata. Ditatapnya kini sebuah gelang yang entah bagaimana ada di tangannya.


Phoenix itu tampak terbang. Di setiap inci bulu terdapat warna samar para galaksi yang indah. Mungkin saja hewan itu merupakan makhluk tercantik yang pernah Shangguan Yue lihat.


Tanpa sadar Shangguan Yue menatap lekat-lekat mata sang phoenix yang ada di gelang tersebut. Entahlah Shangguan Yue hanya merasa bahwa mata sang phoenix tersebut amatlah menarik. Tidak lama kemudian, Dia merasa hanyut seakan ditelan oleh lubang hitam tak berdasar.


Kesunyian dan kesepian, itulah yang Dia rasa.


Mengernyit lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat, "akh! apa-apaan!" Shangguan Yue segera menjauhkan gelang tersebut dari pandangan mata agar tidak kembali hanyut dalam suasana kesepian itu.


Jujur saja, Ia tidak dapat melepaskan gelang Phoenix tersebut dari pergelangan tangannya. Mungkin Ia memerlukan bantuan para ahli artefak jika ingin melepaskan gelang tersebut.


Apa yang ada tidak bisa membuat Shangguan Yue percaya dan hanya bisa pasrah. Tiba-tiba Ia berdecak, tidak hanya para musuh yang memiliki misteri, Ia sendiri pun juga sama. Ditambah, Bai Tian'e, Shen Long, Rong Hua maupun keluarganya juga sama saja.


"Kenapa hidupku begitu rumit? saat Aku masih kecil, Aku hanya menginginkan hidup nyaman dengan ditemani oleh beberapa hidangan manis dan bisa hidup tanpa beban! Sialan, sekarang sangat berbeda! Takdir, kau sedang bercanda dengan nona ini!" matanya berkedut, penuh jengkel.


Menghela napas berat, Shangguan Yue kemudian mengambil suatu barang dari dimensi gelang phoenix.


"Mereka menyebut cincin ini sebagai cincin phoenix biru. Warnanya memanglah biru, tapi Aku masih belum paham akan kegunaannya..." gumam Shangguan Yue sedikit cemberut. Yah, meskipun Dia adalah perempuan licik pembawa wajah es, Ia masih tidak tahan untuk mencibir langit.


"Hal-hal di dunia sulit untuk dipahami, termasuk hidupku...!"


Ia lalu mulai berkultivasi dalam meditasi mendalam. Satu dua ranah yang ada, Shangguan Yue ingin segera melampaui 3 ranah jika mampu.


Hidup tidak dapat diprediksi, maka dari itu menjadi kuat adalah cara yang paling logis di dunia yang hanya memandang kekuatan ini.


Gender tidaklah penting, yang penting ialah menjadi yang terkuat dari yang terkuat. Adapun hal-hal lain seperti stigma sebelah mata dunia mengenai betapa lemahnya perempuan, Ia tidak peduli.


Apabila pandangan tersebut berlaku untuknya di masa depan, Ia memiliki rencana tersendiri.


"Selama beberapa tahun ini, ranah kultivasiku berhenti di pencerahan spiritual dan sangat sulit untuk menerobos ke ranah bumi." Shangguan Yue mengernyit.


"Demi mengalahkan para musuh, ini masih tidak cukup! Aku harus mencapai pencerahan bumi secepat mungkin..!" gumam Shangguan Yue tanpa sadar mencengkeram erat cincin phoenix biru hingga menimbulkan kepalan tangan yang berdarah.


Shangguan Yue memejamkan mata dengan kuat. Gelombang hati dan pikiran yang bergejolak berangsur-angsur menjadi tenang.


1 jam...


2 jam...


3 jam...


Hingga sekarang telah memakan waktu 4 jam. Shangguan Yue masih tidak bergeming dari posisi lotus. Pelipisnya yang putih bersih bagai porselen mulai mengeluarkan cairan bening yang tidak lain merupakan keringat dingin dengan deras.


Alisnya berkerut tatkala kecepatan detak jantungnya meningkat. Tak lama kemudian, angin tipis mulai menyelimuti tubuh Shangguan Yue dengan cara berputar secara halus.


Tapi itu adalah waktu yang singkat, energi spiritual pembawa pusaran angin tersebut segera lenyap dan tanpa diduga Shangguan Yue menangis.


Bukan menangis sedih melainkan hal lain yang membuat perempuan ini sedikit terkejut.


"Mengapa pendarahan mataku ... akhir-akhir ini sering terjadi?" ujar Shangguan Yue menyentuh aliran merah dari matanya dengan tenang.


Shangguan Yue menghela napas berat dan mulai dikelilingi oleh kebingungan, layaknya kabut di musim hujan yang tidak jelas.


"Seperti udara kosong ... hidup setenang bunga yang mekar ... semua hal cepat berlalu dan ilusi ... biarkan hatimu sejelas cermin..."


Tiba-tiba ada sebuah suara yang masuk ke dalam pikiran Shangguan Yue. Sontak saja perempuan ini terkejut! Dari mana asal suara itu? Ia dapat yakin bahwa di kediaman ini hanya ada dirinya dan Rong Hua.


Lalu...?


Tok!


Tok!


"Yue'er, apa Kau ada di dalam, nak...?"


Menaikkan salah satu alisnya, itu adalah suara sang ayah. Mungkin Ia kemari untuk ... Yah, itu bisa diprediksi, pikir Shangguan Yue sembari berdiri dan mulai membersihkan segala aliran darah segar agar Shangguan Qingshui tidak curiga.


Setelah selesai, Ia lalu memandang sekitarnya dengan pandangan aneh. Pikiran Shangguan Yue masih berkutat kepada suara asing tadi.


Sewaktu kecil Ia memang memiliki pengalaman yang serupa, hanya saja ... Suara tenang sebelumnya jelas berbeda dari delapan tahun yang lalu.


'Membingungkan' batin Shangguan Yue menyipit.


"Yue'er?" Shangguan Qingshui mengernyit setelah membuka pintu ruangan.


"Iya?" Shangguan Yue tersenyum lembut.


"Ada apa? Kenapa Yue'er melamun?" tanya pria itu heran.


Menggeleng pelan, "tidak ada ayah."


"Benarkah?"


"Tentu saja!"


"Hm ... Kenapa ayah merasa bahwa Kamu sedang berbohong?" selidik Shangguan Qingshui mendekati anaknya.


Berpura-pura berwajah polos, "apa maksud ayah? Aku tidak berbohong- oh, ya! Lebih baik ayah duduk dahulu disana, biarkan Aku mengambilkan teh untuk Ayah di dapur."


"Bukankah ada banyak pelayan di luar, mengapa-"


"Tidak masalah, Ayah. Lagipula, teh buatan Yue Yue lebih enak daripada buatan para pelayan di kediaman ini!" balas Shangguan Yue ceria sembari berlari menuju ruangan sebelah.


"Hah ... Ada-ada saja," Shangguan Qingshui mendesah tidak berdaya ketika mengamati tindakan Shangguan Yue yang sedikit aneh itu.


.


.


.


"Hei, Ayah tua! Apakah kita tidak akan ketahuan apabila bersembunyi di semak-semak seperti ini?" bisik seorang pria muda hingga membuat pihak lain hampir muntah darah.


"Dari mana wajah ini tua?! Jika wajah ayahmu ini tua, bagaimana ibumu mau menikah denganku dan ada kamu di dunia ini? Ha!" kesal pria berperawakan lebih tinggi, penuh jengkel.


Memutar bola matanya malas, "oh, ayah! kumohon! Berhentilah untuk bersikap superior terhadap wajahmu yang memang muda! Aku tahu ayah tampan, tapi umur ayah sudah melebihi batas wajar...!" bisik pria muda itu sedikit jijik.


"Anak kurang ajar! Berhentilah untuk bersikap tidak tahu malu! Bukankah Kau sama saja? Bukankah Kau Sering pamer wajah di mana-mana?!" bisik pria yang lebih tua seraya memukul kepala sang anak.


"AKH-! SAKI-"


"Sst!!! Diamlah Shu!!" pria itu segera mendekap mulut sang anak agar tidak mengejutkan pihak lain.


"Ayah, sialan! Kenapa Kau memukulku?!" bisik pria itu mengusap-usap bagian kepala yang sakit.


"Huh! Itu adalah karma!"


Mengerucutkan bibirnya merasa sang ayah cukup resek sebagai manusia. Ia lalu mulai mencibir, "karma? Aku tidak paham mengenai sebab-akibat di dunia ini! Aku hanya ingin segera menemui keponakan kecilku yang paling cantik di seluruh dunia...!"


.


.


.


"Hm? Siapa di sana?!" Shangguan Qingshui menoleh ke arah semak-semak yang kebetulan tidak jauh darinya. Tapi, Ia tidak menemukan apa pun.


"Ada apa ayah?"


Mengedipkan matanya untuk beberapa kali, "tidak ada. Mungkin Ayah hanya sedikit terganggu oleh suara nyamuk."


"Nyamuk?" Shangguan Yue memiringkan kepalanya.


...-🦋🌔🦋-...


...Terimakasih telah membaca chapter ini~...


...Jangan lupa like dan komennya yah~...


...See U...


...𝑀𝑎𝑟𝑖𝑜𝑛𝑎𝑡𝑡𝑒 𝑅𝑜𝑠𝑒...


...-🦋🌔🦋-...