
...Shangguan Lao POV:...
Dahulu kami merupakan manusia. Manusia yang bahkan telah kehilangan akarnya.
Leher kami seakan terbelenggu oleh ribuan rantai karat; itu selalu berbunyi dan kian menyekik kami layaknya mimpi buruk yang berubah nyata.
Kehidupan tak terasa berarti; khayalan jangka panjang selalu memenuhi pemikiran Kami, apakah ada cahaya yang dapat menyinari rasa putus asa ini?
Cacing perut sering berteriak, hidup bagaikan boneka yang dikendalikan oleh pihak lain, kapankah mimpi buruk ini berakhir? Itu adalah pertanyaan umum di antara benak kami.
Tidak bisa dikatakan sebagai masa depan, masa lalu Kami begitu kelam. Awal mula berada di posisi tinggi, sedangkan sekarang ... Hanyalah budak dengan kehidupan kosong.
Rutinitas Kami sangat gelap, tak peduli umur kami yang masih menginjak angka delapan ataupun sembilan, hak asasi kami telah direnggut oleh orang-orang yang menganggap dirinya sebagai penguasa.
Apa bagusnya menjadi penguasa? Mereka hanyalah makhluk hidup dengan arogansi tinggi; menginjak-injak yang lemah menggunakan kaki kotor mereka dan selalu menatap langit seolah-olah mereka merupakan langit itu sendiri.
Bagi mereka, budak seperti Kami ini sangat tidak berarti. Di antara perbatasan Kekaisaran Wei dan Kekaisaran Tianyu, hidup kami dapat melayang dengan mudah.
Mereka bisa saja menjadikan Kami sebagai tameng tatkala perang kembali pecah. Tidak ada imbalan, tidak ada makanan, mereka seolah memperlakukan Kami setara dengan hewan.
Kami bekerja di siang dan malam, melakukan ini dan itu sampai kulit memarpun tidak bisa memberikan perlawanan yang baik.
Keadilan yang biasanya diperdebatkan oleh para pelajar hanyalah omong kosong belaka. Mereka hanya mengatakan keadilan adalah sebuah perlakuan yang adil dan keseimbangan dengan kesetaraan, namun dalam tindakan nyata? Tidak ada pembuktiannya sama sekali.
Sama halnya dengan tong kosong berbunyi nyaring!
Bodohnya dahulu, Aku sempat menganggap mereka sebagai penjaga keadilan. Betapa lucunya ketika Aku mengingat hal tersebut kembali.
Para pelajar ini merupakan anggota keluarga bangsawan yang pada dasarnya tidak peduli akan manusia lemah apalagi budak rendahan.
Mereka hanya menjaga kehormatan di hadapan publik dan membiarkan kenalan mereka untuk memperbudak Kami secara diam-diam.
Keuntungan dari serangkaian kata manis yang nyatanya palsu. Mereka sungguh tidak tahu malu dalam menjalani kehidupan yang tidak diketahui jangka waktunya.
...----------------...
...Pelajar disini merujuk kepada calon-calon pekerja istana kekaisaran....
...----------------...
Bagi Kami keadilan adalah sebuah moral, sedangkan apa yang tengah kami lalui disebut pemaksaan.
Benar, pemaksaan dari orang-orang melalui kekuatan.
Moral yang pada dasarnya berada di dalam hati nurani setiap manusia bagaikan mitos. Adakah orang baik yang memberikan kami keadilan?
Hak asasi Kami telah direnggut. Kehidupan kami tak lebih rendah dari sampah. Cahaya di dalam kegelapan hanyalah khayalan semata. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa putus asanya Kami saat itu.
...----------------...
...๐Tiga tahun yang lalu๐...
...----------------...
Tak! (suara lemparan batu)
"Hei, sampah!!! Kenapa kalian masih hidup sedangkan kerajaan kalian telah musnah?!!" ucap salah satu anak belasan tahun mencibir.
"Cih! Kenapa kalian tidak bunuh diri saja, seperti apa yang dilakukan oleh para pelayan di istana Kalian?!!" sahut yang lain.
"Benar sekali! akan lebih baik jika kalian menghilang dari muka bumi ini!!"
"Itu benar! Kalian hanya membuat pandangan kami menjadi kotor! Sana! Pergi! Matilah dasar sampah!!!"
"Sialan! Berhenti untuk memukuli adikku!!" Pekikku menghalangi anak-anak yang tengah membogem Fang Baihu.
"Kakak..." Ia menggeleng pelan, "Kak ... Tidak apa, Aku ... Aku baik-baik saja hiks..." ujarnya sedikit mengelap air mata.
"Bagaimana bisa baik-baik saja?! Lihat! Kau berdarah, Hu'er...!" ujarku cukup panik sembari mengelap dahi berdarah Baihu menggunakan kain lenganku.
Melihat bagaimana Baihu menerima banyak luka, Aku tidak bisa menahan gertakan gigi, "ck!"
Aku berbalik, "Kalian! Bukankah ini terlalu berlebihan untuk seorang gadis kecil?!!" geramku kepada anak-anak tersebut.
Menggertakkan rahang, "Kau bilang berlebihan?! Kalau begitu, apakah perang yang disebabkan oleh kerajaan kalian itu...! tidaklah berlebihan bagi Kami?!!" balas anak belasan tahun lainnya penuh akan amarah.
Aku kemudian membalas, "Apakah itu patut untuk disamakan!! Baihu hanyalah perempuan kecil!!"
"Jangan konyol!!" geram salah satu dari mereka seraya menendangku hingga tersungkur.
(Menunjuk) "Gara-gara Ayahmu itu...!! Kami harus kehilangan orang tua!! Apakah Kau pikir, hanya kalian bersepuluh yang tersiksa di dunia ini...!! Ha?!!"
Dadaku naik turun, "ini bukan kesalahan Baginda Raja! Dia melakukan perang karena dipaksa oleh Kekaisaran Tianyu!! dan bukan kesalahan Kerajaan Han Timur kami!!" balasku mendorongnya hingga terjatuh.
"Kau-!!" salah satu anak lain mengangkat tangannya, hampir ingin membungkamku dengan sebuah tamparan.
"TOLONG HENTIKAN!!!" teriak Baihu seraya bersujud di hadapan para anak tersebut.
Tentu saja Aku terkejut! Aku tidak berharap adik kandungku harus melakukan hal hina seperti itu terhadap mereka, apalagi Ia adalah korban sesungguhnya...
Sambil sesegukan Ia berkata, "tolong hentikan hiks kumohon...! Kami tahu kami salah, jadi tolong jangan memukuli Kakak Pertama...! Hiks Kumohon...!" ucapnya kembali membuatku terkejut.
Aku lalu menyeret lengan Baihu agar Ia segera berdiri, "Hu'er...! Apa yang Kau lakukan...? Cepat berdiri, jangan bersujud seperti itu-
Krtak!
Tiba-tiba tulangku terasa remuk ketika Aku dihantam oleh tinju yang keras, "Urgh-!"
"Apakah ini Pangeran pertama dari Han Timur? Betapa lemahnya!" sarkas salah satu anak yang sudah mencapai ranah pembentukan roh.
Aku yang saat itu telah kehilangan kultivasi hanya bisa menggeliat penuh rasa sakit di atas permukaan tanah.
"KAKAK!!" teriak cemas Baihu seraya berlari menuju arahku. Sebelum Ia sampai, rambut panjangnya mendadak ditarik dengan kejam oleh seseorang.
Untuk kesekian kalinya, hatiku terasa nyeri.
Pundakku ada untuk melindungi para adik, keselamatan mereka adalah tanggung jawabku sebagai yang tertua, namun ... Aku merasa sangat malu dan tidak berguna bagi Baihu kali ini.
"Akh!!" pekik Baihu tak bisa menahan air mata.
"HU'ER!" teriakku parau, "SIAL! LEPASKAN ADIKKU...!" Mataku memerah tatkala mendapati Baihu kembali menangis di tangan orang yang sama.
"Kak- ak- hiks," rintihnya menyakitkan.
"Hu ... Er-!" ujarku mencoba untuk berdiri.
...๐ฆ๐๐ฆ...
...Jangan lupa like dan komennya~...
...Jaga kesehatan juga, yah~...