Legenda Sang Dewi Bulan

Legenda Sang Dewi Bulan
18. Siapakah penghianatnya? Shangguan Ren?


Kembali menuju aula Keluarga Shangguan. Arsitektur serba perak itu telah menggelap mengikuti cahaya matahari yang kian lama kian meredup. Namun, lentera dan artefak penyinaran tidak membuat ruangan itu minim pencahayaan.


Sejak sore hingga kini pertemuan itu masih berlangsung dengan perdebatan menjadi warna biasa permenit nya.


Tampak Shangguan Qingshui yang sedari awal hanya sebagai pendengar memijit pelipisnya berulang kali. Pusing dia, sangat pusing.


"Kak! kenapa mereka begitu berisik?!" tanya Shangguan Shu sedikit berteriak. Ia berada agak jauh dari kakak pertamanya, jadi begitulah. Apalagi tempat ini mengalahkan luasnya 3 kediaman mewah. Jadi mau tidak mau suara perdebatan itu menggema didalam ruangan.


Mata Shangguan Qingshui berkedut. Ia mengangkat bibirnya berniat melerai. Namun, sebelum Ia berbicara, suara gema lain muncul kembali.


"Tidak! Bagaimana bisa seperti itu? Apakah Kau ingin para musuh mengetahui kelemahan kita?"


"Lalu bagaimana? Apa Kau punya ide yang lain? tidak bukan?"


"Kau-!!"


"Kenapa tidak meminta bantuan Keluarga kekaisaran? Bukankah mereka sekutu?"


"Apakah Kau bodoh?! Itu hanya kedok! Apa Kau pikir mereka sebersih itu?! Cih! Omong kosong!"


"Sudah kukatakan, lebih baik ikuti saja rencana ku!"


"Kenapa harus? Ide ku lebih baik. Jika kita mengikuti rencana mu, bukannya berhasil kita hanya akan berakhir dikepung!"


"Ha! Apa maksudmu pria tua?!"


"Ck! Apa kau tuli?!"


"Kau-!!"


"DIAM!!" Teriak suara paruh baya dengan aura yang begitu besar. Orang-orang di sana tiba-tiba berhenti berdebat. Mereka juga mulai merasakan beban berat di punggung mereka. Kemudian, mereka menoleh ke asal suara.


Sebuah pintu dengan dua daun berukiran pedang perak mendadak berderit secara perlahan.


"Apakah kalian tidak bisa saling berpendapat dengan tenang? Hargailah pendapat orang lain, tidak perlu merasa yang paling benar. Ini bukan kompetisi!"


Para tetua dan yang lainnya membelalakkan matanya terkejut. Orang ini tumben sekali datang. Pikir mereka mengernyit.


"Shangguan Ren... Akhirnya kau datang" Ujar Shangguan Qingshui tersenyum tipis. itulah kenapa Ia mencari orang ini. Hanya dialah yang paling tenang dan juga adil di dalam keluarga.


Yah.. Walaupun sering sekali menghilang.


"Qingshui, sudah lama tidak bertemu" Balas pria tua itu tersenyum tipis.


Sesosok pemuda yang tak lain Shangguan Quanshui tampak berwajah datar, namun itu hanya sementara. Sudut bibirnya terangkat sedikit.


"Orang yang mencurigakan akhirnya keluar dari sarang." Ujarnya sinis.


"Hei hei, kenapa Kau tidak bersembunyi lagi?" Tanyanya dengan wajah tanpa dosa dan senyum jahat.


Shangguan Qingshui memicingkan matanya tidak suka, "QUANSHUI! APAKAH KAU TIDAK MENGERTI APA YANG TADI AKU UCAPKAN?!" Teriaknya sembari memukul gagang kursi dengan keras.


Bukannya takut ataupun marah, pria itu malah terkekeh kecil. Ia menggidikkan bahunya seolah tidak peduli dengan apa yang dilontarkan saudaranya. Lalu, Ia menatap Shangguan Qingshui dengan alis terangkat.


"Yah, apakah Kau marah hanya karena Aku berucap seperti itu?"


"Kakak! Bisakah Kau tidak memancing amarah Kakak pertama? Bukankah bodoh?!" Ujar Shangguan Shu menekuk wajahnya teramat kesal. Kakak keduanya ini terlalu menyepelekan ucapan kakak pertamanya. Entahlah, baginya Ia sangat tidak suka dengan tingkah Shangguan Quanshui yang terlalu bebas.


"Hm, Aku tidak sedang memancing amarah kakak Qingshui. Aku hanya ingin bertanya, apakah dia marah hanya karena Aku curiga? itu saja. Lagipula, bukankah Shangguan Ren tadi berkata bahwa 'Hargailah pendapat orang lain'. Saat ini Aku juga sedang berpendapat!" Balasnya tersenyum tampan.


Shangguan Qingshui yang berada di kursinya hanya bisa menghembuskan udara dingin. Apa yang diucapkan adiknya ada benarnya juga.


"Kau tahu Quanshui, itu hanyalah opinimu. Kalau kau ingin semuanya percaya dan tidak membuatku marah, berikan bukti. Bukti yang kami butuhkan! Bukan hanya sekedar memfitnah! Mengerti?!" Tanya pria itu dengan dingin.


Sedangkan untuk pria itu- Shangguan Ren Ia hanya berdiri tegak, tampak acuh tak acuh dengan apa yang sedang mereka bicarakan tentang dirinya. Pria ini hanya memiliki tampang tenang seolah berkata, tidak perlu mencurigainya. Itu saja.


Shangguan Quanshui tersenyum, "Bukti bukan? Apakah Kau ingin tahu kenapa Aku mencurigai orang ini sejak awal? Pertama, bagaimana mungkin 'mereka' mengetahui tentang benda 'itu' dan juga letaknya. Kedua, apakah kalian pikir keberadaan benda 'itu' dapat diketahui oleh orang biasa? dan yang ketiga..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap keseluruhan para tetua di aula. Bibirnya tertarik miring dengan mata menyipit.


"Siapakah penghianat disini.....?"


Para tetua dan Shangguan Qingshui menghembuskan udara dingin. Mereka tampak serius, dan menatap satu sama lain seolah saling mencurigai.


"Tunggu-tunggu! Kau hanya sedang berargumen, bukti nyatanya apakah kau punya?" Tanya Shangguan Shu merasa bahwa suasananya menjadi buruk.


Shangguan Quanshui tertawa lepas, matanya berkilat dingin, " Tentu saja adik bodoh!" Ia tersenyum, dan mulai berjalan menuju tengah aula.


"Masuklah!" Ujarnya memerintah seseorang.


Secara perlahan, daun pintu berukiran pedang perak itu berderit kembali. Menampilkan pria yang tidak dikenal oleh orang-orang Keluarga Shangguan.


"Siapa Dia?" Tanya Shangguan Qingshui mengernyit bingung yang mewakili pemikiran ratusan Tetua lainnya.


"Itu tidaklah penting, Aku telah membawa buktinya. Jadi dengarkanlah"


Shangguan Ren yang masih berdiri tegap mengerjapkan matanya untuk sementara waktu. Dia agak bingung, tapi mencoba mendengarkan pembuktian dari saudaranya yang satu ini.


"Huh! Aku mengerti Kalian tidak paham dengan maksudku membawa orang asing. Hanya saja... pria ini adalah satu dari dua bukti yang Aku miliki. Jadi, perhatikan baik-baik." Lalu, Shangguan Quanshui menatap pria berpakaian rakyat biasa itu dengan sedikit pancaran dingin.


"Silahkan berbicara!" Perintahnya tersenyum hingga mata tampannya terlihat sipit.


"Nama Saya Wuan Xin, merupakan penduduk biasa dari kota berlian biru. Saya disini atas permintaan Tuan Shangguan Quanshui sebagai saksi mata. Beberapa Minggu yang lalu, Saya yang sedang berburu di hutan biru mendengar suara pertarungan. Saat itu, Saya sebenarnya tidak ingin ikut campur dan secara diam-diam pergi, hanya saja... Hah...


... Seorang berjubah hitam menangkap Saya dan melukai Saya hingga pada akhirnya Saya dijadikan sandera." Kemudian pria Wuan Xin ini menekuk kain di lengannya hingga terlihat 4 sayatan luka baru di tangan bagian kanan.


Para tokoh yang hadir mengernyit dan wajah mereka berubah masam yang menandakan rasa tidak suka ataupun buruk. Mereka tidak menyangka bahwa rakyat kota mereka sampai terkena imbasnya.


Melihat itu semua Shangguan Quanshui tersenyum, "Lanjutkan!" Pintanya.


Wuan Xin mengangguk, lalu Ia kembali berbicara, "Saat Saya disandera, Saya tidak sengaja melihat..." Pria itu melirik Shangguan Ren dengan ragu.


"Saya melihat orang itu!" Ucapnya seraya menunjuk Shangguan Ren. Sedangkan orang yang ditunjuk hanya mengernyit dengan wajah menggelap.


"Lancang!! Apa maksudmu! Aku tidak pernah pergi ke hutan biru! Jangan asal berbicara!" Ujarnya tidak terima difitnah, apalagi oleh orang asing. Rahangnya mengeras, dengan tatapan memburu Ia ingin sekali mencabik-cabik orang ini. Setiap manusia pasti memiliki batas kesabarannya tersendiri dan Ia paling tidak suka jika difitnah.


Wuan Xin bergetar saat ditatap seperti itu, lalu Ia menoleh ke arah Shangguan Quanshui mencoba meminta tolong.


Pria itu hanya bisa menghembuskan napas lelah, "Adik, lanjutkan pembuktian Mu" Katanya dengan suara berat.


Shangguan Quanshui mengangguk, detik berikutnya Ia mengambil sesuatu dari cincin ruangnya dan keluarlah bola kristal bening seukuran kepalan tangan.


"Ini adalah bukti kedua ku, lihatlah!" Secara perlahan bola tersebut mengeluarkan sinar dan tiba-tiba di tengah aula muncul sebuah gambar yang menunjukkan hutan biru.


Seperti yang telah diceritakan oleh Wuan Xin, pria itu benar-benar dijadikan sandera dengan pria berjubah hitam menyekik nya.


Tapi, mendadak...


"Shangguan Ren... Kau! Kau!!!"


"Tidak pernah Kusangka Kau selicik ini Shangguan Ren.... Hah..."


"Tidak masuk akal, Kaulah penghianat nya?!!!"


"Tidak tahu malu!!!"


"Bisa-bisanya Kau menyandera rakyat biasa!!! Apa Kau gila ha!!"


"Bagaimana bisa kau membunuh saudara sendiri?!! Tidak bermoral!!"


Setelah pemutaran gambar Wuan Xin dicekik, Pria berjubah hitam itu membuka tudungnya dan memperlihatkan sosok Shangguan Ren yang begitu jahat. Pria itu juga tampak memeras informasi dari sosok yang bertarung dengannya. Pria yang diperas merupakan penjaga benda 'itu' sekaligus anggota keluarga Shangguan, dan setelah mendapatkan informasi, Shangguan Ren membunuhnya dengan kejam.


Melihat semua kejadian ini Shangguan Qingshui menatap Shangguan Ren dengan penuh kekecewaan dan kebencian. Dengan amarah Ia berteriak.


"TETUA KEDUA, TETUA KETIGA! BAWA PENGHIANAT INI MENUJU PENJARA ABADI!!!"


"BAIK, TETUA PERTAMA!" Balas mereka serempak lalu melaksanakan perintah yang telah diberikan. Disini, tetua pertama adalah tetua paling berkuasa ketiga setelah Tetua Agung dan juga Patriark. Jadi, wajar saja jika mereka menuruti Shangguan Qingshui.


"Apa! Jangan! Lepaskan! Aku tidak melakukan itu semua! Jangan percaya! Shangguan Qingshui jangan percaya!! Aku tidak melakukannya!! percayalah!!"


"Hah... Maaf, tapi kau telah mengecewakanku Shangguan Ren. Kini, untuk hidup dan matinya Kau, bergantung pada keputusan Patriark."


Sedangkan Shangguan Quanshui Ia masih tersenyum, lalu berjalan mendekati Si Pria Ren.


"Yah... ternyata bola perekam yang telah dipasang di seluruh daerah kekuasaan Keluarga Shangguan berguna juga. Bukan begitu?" Tanyanya menatap mata penuh permusuhan Shangguan Ren.


"Kau!! Kau!!! Kauuu!!!! SHANGGUAN QUANSHUI AKAN AKU INGAT HARI INI!!!!" Teriaknya sebelum pada akhirnya menghilang dibawa oleh tetua kedua dan ketiga.


Pria yang diteriaki hanya menggidikkan bahunya masa bodoh, lalu menggaruk telinganya merasa gatal, "Tidak dengar!"


.


.


.


"Hm~ Kue osmanthus memang yang terbaik, apa Kau mau?" Tanya gadis kecil itu menyodorkan tangan ke depan.


Sesosok mungil yang tak sampai dua jari menggeleng ragu. Dengan wajah ingin tahu, Ia lalu bertanya, "Apakah... Enak?"


Shangguan Yue mengangguk cepat, "Tentu saja! Rasanya sangat manis dan lembut! Ambilah bila mau, nanti Aku bisa meminta Kak Zhu untuk membuatnya lagi~"


Rong Hua mendekati kue itu, dengan sedikit ragu Ia memotong sebagian kecil makanan tersebut.


"Baunya memang menggiurkan, baiklah! Semoga saja enak!"


"Hm~ Tentu saja enak! Makanlah!" Ujar gadis mungil itu sedikit mendorong tangan Rong Hua agar cepat memakannya.


"Urk- Uhuk Kau!"


"Bagaimana?" Tanya Shangguan Yue menopang wajahnya dengan telapak tangan.


Pertama Rong Hua merasa kesal dengan tindakan gadis imut didepannya, tapi setelah sedikit mengemut dan lalu menelan kue itu wajahnya menjadi berbinar.


"In- Ini enak!" Ucapnya kemudian mengambil banyak potongan kue osmanthus dengan semangat. Shangguan Yue hanya terkekeh geli. Tentu saja enak, itu adalah makanan favoritnya. Ia juga tidak masalah bila harus berbagi. Pikir gadis menggemaskan itu.


"Ekhem!"


Shangguan Yue mengerjapkan matanya untuk beberapa kali, lalu Ia menoleh ke asal suara. Seorang perempuan cantik dengan pakaian serba biru tampak menyandarkan badannya di dinding ruang tamu kediaman Shangguan Yue.


Gadis mungil itu tersenyum cerah, dengan langkah pendeknya Ia berlari dengan cepat.


"Kakak Zhu Lian!!!" Perempuan itu melebarkan tangannya seolah bersiap untuk memeluk Shangguan Yue.


"Xiao Yue!" Dengan gesit anak kecil itu meloncat dan memeluk gadis remaja itu dengan penuh kegembiraan.


"Kakak ipar, kenapa Kau kemari?" Tanya Shangguan Yue masih memeluk perempuan itu.


"Hehe, tentu saja untuk menemui adik kecil kakak. Oh ya, Kakak Zhu ingin mengajak Yue Yue bermain di kediaman kakak sebelum hari pertunangan tiba, di sana juga sedang diadakan festival kuliner. Bagaimana? tertarik?" Tanya Zhu Lian menaik turunkan alis.


Matanya berbintang, Ia menatap gadis remaja yang tak lain Zhu Lian itu dengan menggemaskan.


"Benarkah!"


"Tentu saja!"


...__________________...


...🌙[Bersambung... ]🌙...


...………………………………………...


...Readers~ Jangan lupa Like dan komennya~...


...It's easy Guys~...


...See U~...


...-Marionatte Rose-...