Legenda Sang Dewi Bulan

Legenda Sang Dewi Bulan
16. Pohon Aneh


...Warning! Ada beberapa dialog dan narasi yang Saya Revisi, So, jangan kaget jika Berbeda dengan awal-awal😳😁...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah merasa bahwa sosok yang tadinya duduk di singgasana pergi, mereka akhirnya bisa bernapas lega. Itu tadi begitu sesak, pikir mereka mengeluh.


Satu sosok berjubah hitam dengan lambang Semanggi kuning mengernyit. Ia adalah orang yang tadi berbicara dengan sosok misterius. Dia kemudian menoleh kesamping. Terdapat raut tidak mengenakan dari wajahnya. Dengan angkuh, Ia mulai melampiaskan amarahnya.


"Ini semua karena Kau! Kalau Kau tidak melakukan kesalahan, Kita tidak mungkin dimarahi oleh Tuan!" Ujarnya seraya menunjuk sosok berjubah Semanggi putih.


Merasa disalahkan, dengan kesal Ia membalas, "Ya Ya Ya, itu memang salahku! Lalu, apa?! Kau tahu sendiri ini tidaklah mudah!"


"Hah! Banyak alasan!!"


"Yang dikatakan Baihe benar! Kau tidak perlu bertindak impulsif seperti itu!" Ujar yang lain berdecak jengkel.


"Cih! Memangnya kenapa? Yang Aku katakan memang benar!"


"Kau-!!"


"BERISIK!! Kau diam lah Da Huang! dan kalian semua juga! Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menyelesaikan rencana!!" Tegas sosok berjubah Semanggi oranye kesal.


"Huh! Hanya kekuatan kecil, apa perlu kita melakukan rencana?! bukankah kita bisa langsung mengambilnya?!" Sinis sosok berjubah Semanggi kuning. Merasa malas dan merasa bahwa mereka adalah sosok yang tinggi.


"Kalau Kau bisa, ambilah sendiri! Dan bila Kau mati, jangan salahkan siapapun!" Jawab sosok Semanggi oranye tersenyum, agak tidak peduli dengan nyawa orang itu.


"Cih!!"


.


.


.


"Yue'er, Kau tunggulah sebentar disini. Kami akan kembali" Ujar Shangguan Yun saat ingin berbicara empat mata dengan Rong Hua.


Gadis mungil itu mengangguk dengan sedikit tidak bersemangat, "Ya ... Jangan terlalu lama kak!"


Shangguan Yun tersenyum, lalu Ia lekas pergi dengan Rong Hua mengikuti dari belakang.


Setelah itu, ruangan yang merupakan tempat bersantai menjadi sepi. Shangguan Yue merasa sangat bosan. Tanpa Kakaknya akan menjadi bosan, tanpa teman barunya [Rong Hua] juga sama saja. Intinya membosankan.


"Hah... Apakah Aku perlu berkultivasi saja? Tapi.. Aku malas~" Ia memangku wajahnya dengan telapak tangan. Wajahnya yang imut tampak merasa bosan.


Ia bukanlah tipe anak yang rajin. Yang Ia sukai adalah bersenang-senang, lagipula dirinya masih kecil. Apa itu umur 6 tahun? Itu memanglah umur yang masih sedikit dan tentunya Shangguan Yue lebih memilih bermain daripada berkultivasi.


Tapi, tidak ada yang tahu masa depan. Apakah Ia akan terus bertindak malas? Entahlah.


"Hem ... Ngomong-ngomong, apakah kak Zhu baik-baik saja yah..? Aku merindukan manisan buatannya. Disini nyaman, tapi ... Apa ada camilan?" Ia celingukan mencoba mencari barang yang yang Ia butuhkan.


Lalu, Ia turun dari tempat duduk dan mulai mengitari sekitar ruangan. Siapa tahu, Ia akan menemukan makanan yang enak. Setelah beberapa menit mencari, Ia menghela napas panjang dan mulai mengeluh.


"Hah... Tidak ada makanan manis. Hanya ada makanan yang asam dan pahit saja! Sudahlah, lebih baik Aku keluar!" Dengan cemberut, Gadis mungil ini menghentak-hentakkan kakinya penuh kekesalan. Kenapa di kediaman sebesar ini makanan yang ada hanyalah untuk kakek-kakek, bukan bocah kecil sepertinya. Pikir Shangguan Yue merasa dunia tidak adil.


Ia kemudian beranjak dari kediaman, dan berkeliling di sekitar taman bunga. Tapi, nyatanya selain taman bunga ada tempat lain yang membuatnya merasa penasaran.


Untuk menuju tempat itu Dia membutuhkan banyak waktu karena Ia harus menyusuri sungai, meloncat ke dahan pohon, menyerang balik hewan roh yang akan mengganggunya, dan bahkan Ia harus bersusah-payah untuk meloncat karena badannya yang mungil.


"Hah... Akhirnya sampai juga. Sangat merepotkan!" Ujarnya menggelembungkan pipi. Di sana Ia melihat dua pohon besar yang sedikit melengkung membentuk bagian tengahnya seperti lingkaran. Tempat itu terlihat biasa. Disekitarnya banyak tumbuhan dan rumput. Hanya saja...


"Kenapa ada fluktuasi energi disini?" Gumam Shangguan Yue memiringkan kepalanya. Ia memang belum berkultivasi, tapi sejak bayi Ia telah mencapai ranah pencerahan Roh yang pada umumnya hanya anak belasan tahun mampu menggapai. Itupun jika jenius. Hanya saja, fondasi spiritualnya masih labil, jadi Ia belum bisa menggunakan kekuatannya dengan benar.


Tap..


Tap..


Ia berjalan mendekati pohon itu. Ia hanya ingin tahu dan juga merasa penasaran kenapa ada lonjakan energi disini. Sedangkan di kawasan hutan mistis yang lain, tidak ada energi aneh seperti yang dipancarkan oleh pohon tersebut.


Ia menyipitkan matanya setelah berada di antara dua pohon tua. Ia tampak tersenyum.


"Hm-hm, menarik!" Ujarnya seraya berkacak pinggang.


Kemudian Ia mengangkat tangannya, berniat untuk menyentuh udara yang terlihat normal. Setengah langkah lagi Ia akan mengetahui, tapi tiba-tiba Ia mendengar suara gemerisik samar dedaunan.


Krsek


Krsek


Krsek


.…


"Ha.. Ha.. Ha.. Yue'er Kau disini rupanya!" Ucap seorang pria tampan keluar dari semak-semak.


Gadis mungil itu menoleh, Ia berkedip untuk beberapa kali, "Hm-! Kakak?" Secara langsung Shangguan Yue menghentikan langkahnya, dan menarik tangan kembali. Ia menatap pria dihadapannya dengan bingung. Bukankah kakaknya ini sedang berbicara dengan Rong Hua? Begitu cepat? Pikir Shangguan Yue menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Shangguan Yun yang mendengar pertanyaan itu rasanya ingin menyekik orang. Ditanya kenapa ngos-ngosan? Tentu saja karena mencari adik bandelnya ini. Ia mencari ke seluruh hutan tapi tidak ketemu. Siapa yang tahu sebenarnya Yue'er berada di tempat pelosok dekat taman bunga. Bukankah ini seperti dunia sedang memainkannya? Pikir remaja itu sebal.


"Yue'er Yue'er. Bukankah Kakak sudah berkata jangan kemana-mana Hm...?" Tanyanya dengan senyuman yang sangat manis. Gadis mungil itu menelan ludahnya kasar hingga tidak sengaja terbatuk. Senyuman itu indah, tapi bagi Shangguan Yue, itu seperti pembawa berita bahwa kesialannya akan berlangsung sebentar lagi.


"K-kak... Tidak kok, tadi Yue Yue dikejar hewan roh yang besaaar sekali. J-jadi Yue Yue sembunyi di... sini..." Bohongnya dengan suara yang kian lama kian mengecil. Mungkin di telinga Shangguan Yun itu terdengar seperti suara nyamuk.


Pria itu- Shangguan Yun memutar bola matanya malas. Mendengus sebentar sebelum akhirnya mengangkat adiknya seperti mengangkat karung.


"Huh, tidak percaya!" Ujar pria itu lalu pergi dengan membawa Shangguan Yue. Sesekali, Ia akan mengancam berbagai hal tentang kelakuan adiknya ini ketika di kediaman utama hingga Shangguan Yue ingin menangis tanpa air mata karena kakaknya akan melapor tindakan dirinya kepada sang ayah.


"Uhuuu! Kakaaaak!! Maafkan Akuuu!"


.


.


.


...………...


...Kediaman Keluarga Shangguan...


...……………...


"Shu, bagaimana?"


"Kak, semua undangan sudah pria tampan ini selesaikan. Ekhem! Ekhem! Jadi... apa bayarannya?" Tanya pria itu menaik turunkan alis dengan melipat tangan di dada. Terlihat menjengkelkan memang.


Mata Shangguan Qingshui berkedut "Dasar adik tidak berbakti!" Ucapnya kejam, lalu mengambil beberapa berkas.


Kenapa Ia memiliki adik kurang ajar seperti ini? Salah apa dia? Tidak tidak, yang harus ditanyakan adalah mengidam apa ibunya hingga melahirkan anak nakal seperti ini? Pikirnya mendengus kasar.


"Kak, ayolah! Setidaknya beri Aku hadiah. Kau tahu, untuk mengirim semuaaa undangan itu, Aku sampai kelelahan." Ujarnya seraya memegang pelipisnya, merasa sok pusing.


Mendengar penuturan pria dengan pakaian longgar itu membuat Shangguan Qingshui yang sedang menata berkas berdecak malas, "CK, kelelahan kelelahan...! Memangnya Aku tidak tahu kalau kau sempat ke rumah bordil?! Jangan terlalu drama jadi manusia!"


"Ekhem! Ya... Ya kalau memang, tetap saja Aku kelelahan!" Balasnya menatap sisi lain.


"Cih, itulah kenapa Kau tidak pernah memiliki kekasih. Wanita mana yang ingin bersanding dengan pria alay sepertimu...?" Cibir Shangguan Qingshui yang menusuk tepat di jantung Shangguan Shu.


"Oh kak...! Perkataan mu kenapa selalu pedas..?! Kau hanya tidak tahu, bahwa di luar sana banyak wanita yang masih mengantri di depanku. Dan lagi, di kekaisaran ini siapa yang tidak mengenal nama Shangguan Shu? Aku yakin mereka mengenalku denga-


"Pria pemain wanita"


"Ya benar" Ujar Shangguan Shu mengangguk-angguk. Tapi, tunggu dulu...


"Sebentar, kenapa menjadi pria pemain wanita?"


"Ck Ck, itu karena paman yang sudah tua terlalu banyak bermain. Dimana ada wanita yang setia disekitar paman" Cibir suara yang begitu menggemaskan.


Pria berpakaian perak dengan kain longgar hingga memperlihatkan dadanya tampak berpikir. Ia juga mengerjapkan matanya untuk sementara waktu. Lalu, Ia berbalik.


"Hah~ Keponakan kecilku yang paling imut dan cantik sedunia. Dimana wajah ini tua? Pamanmu ini baru berumur 22 tahun. Kenapa sangat kejam?" Ujar pria itu tersenyum kecut. Padahal wajahnya tampan-tampan saja, kenapa tiba-tiba ada yang mengatakan Ia 'Tua'? Apalagi satu keluarga. Pikirnya mendesah pelan.


"Hehe maaf paman maaf!"


Shangguan Yun yang ada dibelakang adiknya hanya bisa menggeleng pasrah. Adiknya ini begitu jahil, sampai yang dewasa pun Ia tidak peduli.


"Yun'er ... Bukankah Kau berada di hutan mistis bersama Yue'er? kenapa begitu cepat pulang?" Tanya Shangguan Qingshui setelah selesai merapikan seluruh tumpukan berkas.


Shangguan Yun menghela napas berat, dengan tatapan serius Ia lalu berkata, "Ayah, ada yang ingin Aku bicarakan denganmu"


Pria yang terlihat berumur dua puluhan itu mengangkat alisnya bingung, "Apakah tentang pertunangan?"


Shangguan Yun menggeleng, "Bukan, ini tentang hal lain"


Melihat ada yang ingin dibicarakan secara serius, secara alami Shangguan Shu menggendong keponakan kecilnya.


"Nah, ayah dan kakakmu ingin berbicara. Lebih baik kita keluar terlebih dahulu"


Shangguan Yue mengerucutkan bibirnya, "Yah... Baiklah"


...___________________...


...🌙[Bersambung... ]🌙...


...………………………………………...


...Readers~ Jangan lupa like dan komennya, it's easy guys~...


...See U~...


...-Marionatte Rose-...