
Aku meremat pasir dalam-dalam dengan sebuah gertakan gigi. Mereka sungguh berani dalam melakukan penindasan apalagi di siang bolong yang mataharinya sangat terik seperti sekarang ini.
Bukankah tindakan mereka terhadap kami akan menarik perhatian dan menimbulkan suatu masalah?
Aku paham, Aku benar-benar paham bahwa kesalahpahaman di antara korban maupun Benua Manusia terhadap kehancuran kami sangatlah dalam.
Mereka hanya mempercayai apa yang dilontarkan oleh Kekaisaran Tianyu tanpa adanya penolakan sama sekali.
Baik bukti dan saksi, semua telah dimanipulasi. Tidak ada kesempatan untuk Kami menyuarakan kebenaran yang sesungguhnya.
Namun!
Meskipun begitu...! Aku tidak bisa membiarkan orang-orang menindas keluargaku untuk ke-sekian kalinya, lagi, lagi dan lagi! Itu sangatlah memuakkan!
Dengan susah payah Aku berdiri; menginjak tanah dan berlari seraya melemparkan sejuta debu dalam pasir agar penglihatan anak itu menjadi kabur.
Wush!
"Arkh!" tangannya yang kencang itu tertarik hingga Baihu sedikit terhuyung ke depan. Aku segera menarik lengan Baihu secepat kilat dan pada waktu itu juga Aku mendorong anak tersebut hingga terjatuh.
Setelah itu, kami berdua segera berlari menjauhi kelompok anak-anak tersebut, meskipun kami tahu bahwa cara ini tidaklah bertahan lama.
Namun kurang dari semenit kami berlari, mendadak muncul seorang perempuan berperawakan bangsawan tingkat atas sedikit tersenyum dan menghentikan kami.
Ia memiliki mata merah semerah darah dan rambut pirang seterang cahaya matahari, namun, tatapannya yang begitu dingin akan lebih tepat apabila disebut sebagai rembulan di langit malam yang sepi.
Aku dan Hu'er kemudian berusaha melewatinya; mengambil jalur lain dan berlari kembali, akan tetapi ...
"Dua anak kecil yang membuat masalah seperti kalian ini, apakah tidak tahu bahwa kedepannya akan mati?" ujar perempuan itu yang sekiranya masih berumur 10 tahunan.
Aku dan Hu'er kemudian mendadak berhenti. Aku mendengus lalu berkata, "Lancar sekali bicaramu, seolah mengetahui segalanya, padahal hanya seumuran denganku!"
Mata perempuan itu menyipit menatap mataku dengan seksama. Pupilnya yang yang sekilas memutarkan halo perak membuatku merinding dan tanpa sadar Aku melangkah mundur.
"Kau...! Apa maumu..." gumamku agak takut.
"Hmm ..." Ia lalu melirik ke samping, "lihatlah, mereka hampir mencapai tempat kita berdiri."
Celaka! Batinku.
Sebelum Aku serta Hu'er kembali akan berlari, pada waktu yang bersamaan, perempuan itu juga kembali berulah. Dan tentu saja, apa yang Ia lakukan membuat kami sangatlah terkejut!
"Kalian ini benar-benar menarik, tapi sayang sekali memiliki nyawa yang tipis. Tidak tahu apakah kalian menyadari bahwa ada racun mematikan yang hampir mencapai urat nadi kalian itu," gumamnya yang membuatku terkejut. Sebelum Aku dapat bereaksi, tiba-tiba Ia menarik kerahku dan juga Hu'er menuju suatu tempat dengan kecepatan ekstrim.
Apa ini?! Apakah dia bahkan manusia?!!
Perempuan yang tidak aku ketahui namanya itu meloncat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya dengan sangat dan sangat cepat. Sebelumnya, karena Aku terlalu takut, Aku tidak sempat memeriksa kekuatannya itu. Tapi ya leluhur, apakah ini bahka nyata? Ia telah mencapai pembentukan spiritual tahap menengah untuk usianya yang mungkin tidak jauh berbeda denganku?!!
"Sepertinya Aku sedang berhalusinasi..."
Entah Aku harus bersyukur ataukah khawatir karena ditarik ke sana kemari oleh perempuan itu. Sedangkan Hu'er, Ia sudah pingsan duluan karena terlalu mual. Tetapi, itu lebih baik daripada Ia mengalami luka mental maupun luka luar lagi.
"Menurutmu, bagaimana?" Ia malah bertanya balik.
"He-"
"Lihat, saudaramu yang lain telah ada di sini," interupsi perempuan itu kemudian agak melemparkan kami berdua di atas rerumputan hijau.
"Auch!"
"Kakak pertama!" serentak 8 adikku yang lain berlari dengan kaki-kaki mungil mereka.
"Apakah ... apakah kakak baik-baik saja?" tanya Fang Hudie cukup khawatir.
"Tidak apa, Kakak baik-baik saja," jawabku.
"Cih, dasar kakak lemah," gumam salah satu adikku yang bernama, Fang Shan.
Aku yang mendengar itu pun hanya terdiam; tidak menyanggah sama sekali mengenai sarkasmenya itu.
Seolah tidak peduli dengan apa yang tengah terjadi, perempuan itu, kemudian kembali berbicara dengan nada dingin.
"Asumsikan kalian saat ini berada di istana Kerajaan Han Timur, menurut kalian, apa alasan di balik peperangan kerajaan kalian dengan Kekaisaran kami, yaitu Kekaisaran Wei?"
"..." Dengan pertanyaan mendadak yang dilontarkan oleh perempuan itu, tiba-tiba semuanya tampak berpikir keras dan Aku juga tanpa sadar memikirkannnya kembali, kenapa harus Kerajaan Kami yang dijadikan tumbal oleh Kekaisaran Tianyu? Setelah Aku memikirkannya dengan cepat, memang ada sesuatu yang kami para mantan pangeran dan putri bahkan tidak mengetahuinya
"Bukankah ... itu disebabkan oleh dendam Kekaisaran Tianyu terhadap kerajaan kami?" jawabku.
Ia tersenyum tipis dan menggidikkan bahunya, "Entahlah"
"Pikirkanlah terus dengan otak kalian itu dan lambat laun kalian juga akan mengetahuinya," ujar perempuan itu seraya menghilangkan tanda budak yang ada pada tubuh kami semua.
Hanya dengan membuat formasi kecil pada setiap leher kami, tanda budak itu perlahan menghilang.
"Kau..." mataku berkaca-kaca.
Tanda budak ini ... selalu berada pada setiap leher kami setelah Kerajaan Han Timur musnah dari peta dan selalu membuat kami menderita, entah itu siang maupun malam.
Jika ada yang bertanya mengapa, itu semua karena fungsi tanda budak tersebut amatlah krusial bagi para pemilik budak, apalagi fungsi sesungguhnya adalah sebagai pelacak dan juga dapat meledakkan kami sewaktu-waktu para prajurit Kekaisaran Tianyu ingin membunuh kami!
Aku serta para saudara-saudariku meneteskan air mata, seolah tidak pernah berharap bahwa suatu hari nanti, mereka bisa terbebas dari tanda budak sialan itu. Dan rupanya, cahaya di langit malam pada akhirnya akan tiba tatkala awan-awan mulai menyingkir secara perlahan ...
Akan tetapi, "mengapa Kau menolong kami? dan ... siapakah kau ini?"
Tersenyum tipis, "Namaku adalah Shangguan Yue dan kalian beserta semua budak maupun prajurit Kekaisaran Tianyu, berada di dalam teritorial Kakak A-Lin. Sebenarnya itu membuatku agak terkejut, apalagi setelah Aku mencium aroma familiar yang ada pada tubuh kalian itu dari kejauhan ... " matanya berkilat misterius seraya memeriksa tubuh kami dengan menyipit.
"Menarik sekali..." gumamnya pelan.
Shangguan Yue...? Keluarga terkuat setelah Keluarga Kekaisaran Wei? batinku lebih waspada dan merasa sangat aneh di waktu yang sama.