
...Mood Saya lagi bagus dalam membuat Chapter ini😁...
...Fyi...
...Author yg Cans...
...-Marionatte Rose-...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gadis kecil itu terbaring gemetaran di tubuhnya. Tak ada yang menolong, tak ada yang melihat. Pada malam yang sunyi itu, Ia sedang bermimpi. Mimpi yang begitu buruk.
Pertama kali menutup mata, Ia hanya melihat kegelapan tanpa ujung. Tak berlangsung lama kemudian warna hitam itu pecah berkeping-keping layaknya sebuah kaca.
PYAR!!
Ratusan sorot cahaya tiba-tiba menyeruak hingga gadis kecil itu terpaksa menutupi matanya. Sayang sekali, satu detik sebelum Ia menutupi mata, pupil merah gadis kecil itu menyala, tanda bahwa cahaya itu berhasil mengenai Shangguan Yue.
Ia melebarkan kedua bola matanya. Warna hitam tersebut mulai buram mengikuti sekelebat gambar muncul secara bergilir. Jelas Ia akan berteriak nyaring.
Belasan menjadi puluhan, puluhan menjadi ratusan, dan ratusan menjadi ribuan. Gambar itu seolah sedang menggerogoti ingatan Shangguan Yue, hingga lagi-lagi Ia berteriak, penuh sengsara. Bukan karena darah, bukan karena luka luar.
Ingatannya yang tertata rapi berubah kacau ketika ribuan gambar memaksa masuk kedalam sistem saraf dimana sebuah memori episodik milik Shangguan Yue terkumpul.
Lama kelamaan ingatan itu bergabung dengan memori episodik nya memicu gadis kecil itu menjadi histeris.
Air mata tidak bisa membantu, hanya bisa mengalir tanpa henti seolah Dia telah mengingat segala kenangan yang terlupakan. Bukan ingatan menyenangkan, bukan ingatan masa kecil, namun kenangan bagaimana semua 'tragedi' terjadi.
.
.
.
"Tidak ... Tidak ...!"
"In- ini salahku ... salah Yue Yue...!"
"Hiks Kakak Yun...!"
"Kakak Zhu...! Hiks hiks.."
"I ... Ibu..."
Ia bergumam tidak jelas dengan keringat dingin hampir membasahi gaun tidurnya. Ia menangis, kenapa hanya dirinya yang hidup?
Apakah Ia harus marah? Tapi, siapa yang sebenarnya salah? Kalau bukan karena keinginan egois yang Ia miliki, bisakah ini tidak terjadi? Ia adalah anak kecil yang hanya menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tapi, lihatlah sekarang. Hal yang terjadi berubah 180° seolah-olah dunia tidak merestuinya untuk hidup bahagia.
"Hiks Kakak Yun ... Kakak Zhu ... maaf, seharusnya- seharusnya Ak- Aku tidak ... HA...!!!" Ia menangis deras layaknya seorang anak kecil pada umumnya.
"Hiks hiks HA...!!!"
Krek...!
Suara pintu berderit. Tiba-tiba tiga sosok Berbeda langsung lari terbirit-birit, merasa cemas karena kenapa di malam yang sunyi ini ada suara tangisan.
Hantu? hampir terpikirkan oleh Rong Hua. Lupakan saja, otak di kepala peri itu memanglah sempit.
"Yang- Yang Mulia Yue...!" Ujar Bai Tian'e panik, sebab sebelumnya Shangguan Yue yang sakit kepala seketika pingsan. Belum saja bangun, tapi Gadis kecil didepannya telah menangis dalam tidur. Bagaimana Ia tidak khawatir? Shangguan Yue, bagi perempuan itu adalah sebuah batu permata painite. Sangat langka dan berharga, sulit untuk ditemukan di dunia sekalipun terdapat dunia pararel.
"Yue Yue apa Kau baik-baik saja?" Tanya Shen Long seraya berbuat tidak jelas. Intinya pria tersebut tidak berpengalaman dalam mengurusi anak kecil, jadi, Ia bingung.
"Hei! Apa Kau bodoh! bagaimana bisa Kau bertanya saat Shanggu sedang tertidur?" Ketus Rong Hua.
"Cih! memangnya apa yang dapat Kau lakukan? tubuh kecil tidak membantu untuk manusia yang besar!" Balas Shen Long dengan bibir tertarik jijik, merasa jengkel.
"DIAMLAH kalian berdua jangan berisik!" Sarkas Bai Tian'e yang telah masuk kedalam mode 'kepribadian dua'.
Perempuan itu dengan kasarnya melempar Shen Long dan Rong Hua.
"Agh! Apa yang Kau lakukan 'Nenek'?" tanya Rong Hua sembari mengelusi pantatnya yang panas, telah menghantam dinding ruangan, cukup keras.
"Itu benar! Bagaimana bisa Kau membuat wajahku yang tampan ini menjadi merah!" Mata Shen Long berkedut. Bukan punggung dan bukan kaki yang menghantam dinding terlebih dahulu, namun pipinya! Ingat pipinya!
"Diam!"
"Baik...!" Jawab mereka terkejut karena Bai Tian'e melototi keduanya dengan kejam.
Tanpa menghiraukan kedua sosok itu, Bai Tian'e lalu memeluk Shangguan Yue, menimang gadis kecil itu agar berhenti menangis.
"Cup cup, tidak perlu menangis Yang Mulia Yue, hamba ada disini, Saya berjanji akan selalu menemani Yang Mulia tanpa ada tindak penghianatan ... Saya dapat bersumpah demi langit dan akan tersambar petir sampai mati bila melanggar," Ujarnya yang terdengar agak kaku.
Gluduk!
JDAR!
[Suara petir bergemuruh]
"Wanita itu, apa yang sebenarnya sedang Ia lakukan..." Gumam Rong Hua aneh.
"Bukannya menenangkan Yue Yue, Bai Tian'e ini malah membuat sumpah setia?" Shen Long juga merasa aneh akan kepribadian temannya yang satu ini.
.
.
.
...…………...
...Di lain Tempat...
...……………………...
"KALIAN SEMUA TIDAK BERGUNA!! APA KAU INGIN MATI? DAN KAU JUGA! APA KALIAN SEMUA INGIN MATI?!!!"
BOOMMM...!
"Ti-tidak Tua-
"CINCIN PHOENIX BIRU DAN INTI SPIRITUAL HEWAN KOSMOS!!"
"KENAPA KALIAN GAGAL MENDAPATKAN KEDUANYA?!! APA KALIAN LEMAH? APA KALIAN MELEMAH?!!! ATAU SUMBERDAYA YANG DIBERIKAN OLEH TUAN BESAR KURANG?!!!!"
"JAWAB PERTANYAAN KU!! JIKA SEMUANYA GAGAL, TIDAK HANYA KALIAN YANG MATI!! TAPI AKU JUGA!!"
BOOMMM...!!!!
"Tu-tuan buk- bukan seperti itu..." Ucap lemah seorang berjubah hitam yang seluruh tubuhnya telah babak belur, penuh noda darah.
"OH? LALU KATAKAN KEPADAKU ALASANNYA! JANGAN MEMBUANG-BUANG WAKTUKU!!SIAL!!!" Teriak sosok itu dengan wajah bengis, sudah tidak sabar untuk melepaskan amarah.
Mereka hanya mendengus lemah, bukan tidak mau menjelaskan. Tapi, sosok itu sedari tadi tidak membiarkan mereka untuk berbicara. Sekarang, salah siapa jika itu membuang-buang waktu? bukankah pria itu sendiri? pikir kumpulan sosok berjubah hitam mengeluh tapi juga takut.
"Tu-tuan begini ... pada awalnya Kami telah mendapatkan Inti spiritual hewan kosmos, Hany- hanya saja?"
"HANYA SAJA?!" Beo sosok itu tidak sabar.
"Hanya saja ... Hanya saja kami tiba-tiba diserang oleh pria paruh baya..." Jawab seorang berjubah hitam dengan simbol Semanggi takut-takut.
"PRIA PARUH BAYA? HANYA KARENA ORANG TUA KALIAN GAGAL?!! APA ITU MASUK AKAL?!!!" Teriak sosok itu yang kemudian mengeluarkan aura hitam penuh dominasi.
Mereka sesak, leher serasa dicekik. Begitu kejam pria itu kepada bawahannya.
"I ... I-hk Iya Tuan ... Kam- kami tidak dapat berbuat bahn- nyak kep-kepada manusia ter ... sebut..."
"JADI!! KALIAN DIGAGALKAN OLEH PRIA PARUH BAYA BUKAN?!! CEPAT CARI TAHU SIAPA PRIA ITU!! SEGERA!! TUAN BESAR PASTI SULIT UNTUK MEMBERIKAN KITA KESEMPATAN KEMBALI! APA KALIAN MENGERTI!!"
"CEPAT!! PERGI SEKARANG JUGA! CARI PRIA PARUH BAYA ITU DAN JIKA SELESAI, LAPORKAN!! BIAR AKU YANG MENGURUSNYA!!!" Perintah sosok itu penuh kemarahan, terlihat jelas dari buku-buku tangannya yang terkepal bergetar.
"Tu ... Tuan satu lagi ... uhn-tuk cincin ... pheon-ix biru kami tid-dahk tahu apa yang terjad-i jadi..."
"TIDAK TAHU?!! KALIAN SEMUA! KALIAN SEMUA MEMANG TIDAK BERGUNA!! CEPAT CARI TAHU KEBERADAAN CINCIN ITU SEKARANG!!! LAKUKAN SEGERA!!"
"Tap ... Tapi Tuan..."
"INI!" Sosok itu melempar beberapa botol porselin berukir kan serba hitam.
"Te-terimakasih Tuan..."
"HUH! CEPAT LAKSANAKAN!! SEGERA!" Perintah pria itu lagi seraya mengibaskan tangannya kasar.
.
.
.
"Kakak Zhu..." Gumam Shangguan Yue dengan pandangan kosong. Gadis imut itu saat ini telah mengenakan pakaian serba putih, tanda atas kehilangan orang tersayang.
Ia kemudian meletakkan bunga yang melambangkan kesedihan itu di depan Guci porselin. Guci itu adalah guci yang menampung abu jasad seorang Zhu Lian.
Gadis mungil itu termenung mengingat beberapa kenangan bahagia bersama kakak kandung dan kakak iparnya itu. Tiba-tiba matanya memerah, meneteskan air tanpa mengeluarkan suara Isak tangis sebagai pengiring.
"Kakak Zhu ... Kakak Yun ..." Ucapnya bergetar.
Ia lalu bangkit, berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Ehm ... apa baik-baik saja membiarkan Shanggu sendiri?" Tanya Rong Hua yang juga mengenakan pakaian putih.
"Tidak apa, lagipula tidak ada yang bisa kita perbuat untuk menutupi lubang luka, apalagi persoalan ... hati" Jawab Bai Tian'e. Wanita itu memang serba putih, demi menghargai orang yang didedikasikan, Ia memegang bunga lili sebagai simbol 'kehilangan'.
Sedangkan Shen Long, pria itu hanya menampilkan wajah dingin. Namun sempat, matanya yang tampan melirik Shangguan Yue, ketika gadis kecil itu sendiri melangkahkan kakinya pergi.
Pria itu kemudian menghembuskan napas dingin lalu pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Bai Tian'e dan Rong Hua.
.
.
Tap..
Tap..
Tap..
Gadis kecil ini berhenti berjalan. Dipandangnya kini daratan berkubang yang telah kembali ke bentuk semula.
"Kakak Yun..." Gumam Shangguan Yue pelan. Ia mengitari daerah itu, agak Linglung.
Mau seberapa lama Ia mencari, mau sepintar apa Ia meneliti, tetap tidak bisa menemukan abu Shangguan Yun. Terdengar mustahil memang.
"Apa yang Kau cari disini..." Tiba-tiba muncul suara dari balik punggung Perempuan itu. Ia menoleh, sorot matanya berubah dingin. Lalu membuang muka. Berbeda sekali saat pertama kali bertemu dengan Shen Long. Sangat berbeda, bahkan pria itu sendiri dapat merasakannya.
"Bukan urusanmu..."
"Oh benarkah?" Tanya pria itu seraya mengikuti Shangguan Yue.
"Kau tahu, mungkin Aku dapat membantu mu, Yue Yue..." Ujarnya tersenyum. Ia berpikir pasti keponakan barunya itu akan menerima bantuan yang Ia miliki. Ia sangat yakin.
Shangguan Yue merasakan stagnasi di dada. Tapi itu hanya berlangsung sementara. Gadis mungil itu kemudian hanya berdiri tegak tanpa membalas ucapan Shen Long.
Merasa aneh, pria itu lalu bertanya, "Yue Yue ... apa Kau terkejut? Aku memang dapat membantumu, percayalah..."
"Membantu...?" Gumam gadis itu dingin.
"Kalau begitu, kenapa Kau tidak membantu kami saat itu?" Tanya Shangguan Yue dingin tanpa menoleh.
Alih-alih menjawab, Shen Long hanya mengerjapkan matanya berulang kali, "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..."
Shangguan Yue menggertakkan giginya keras, lalu berbalik. Terlihat wajahnya seperti marah, sedih, bingung, dan kesal. Intinya campur aduk.
"Apa maksudku? Jangan berpura-pura bodoh! Paman telah hidup selama beberapa ribu tahun...! Paman pasti paham apa yang tengah Aku tanyakan...!!" Geram Shangguan Yue dengan napas sedikit memburu.
"Yue ... Yue Yue ... Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa marah?" Ujar pria itu seraya mengelus puncak rambut Shangguan Yue namun ditepis.
"Sungguh Kau tidak paham? Paman berkata bahwa ini adalah daerah mu...! Sebagai tempat kekuasaan yang menjadi milik diri sendiri, Kau pasti tahu ada pertempuran di sekitar rumahmu..."
"Yue Yue apa yang Ka-"
"Jangan membohongiku! Paman tahu jika terdapat pertempuran...! Tapi kenapa ... Kenapa tidak membantu Kakak Yun atau ... atau Kakak Zhu...?!" Tanyanya dengan mata memerah.
"Yue Yue-"
Belum sempat pria itu menjawab, Shangguan Yue telah beranjak pergi dengan cara berlari seraya menangis penuh kesedihan.
"Yue Yue...!" Ucapnya sedikit berteriak. Ia lalu menurunkan tangannya yang terulur. Tampak wajahnya yang dingin berubah sedih, merasa bersalah.
"Yue Yue maafkan paman. Tapi, paman tidak bermaksud..." Shen Long Kemudian mengeluarkan sesuatu dari cincinnya. Benda itu berbentuk belah ketupat dengan liontin-liontan bercahaya terlihat bergelantung di antara titik sudut.
"Hanya ini yang bisa Paman perbuat, demi menebus kesalahan..." Gumam pria itu seraya membiarkan benda yang Ia keluarkan melayang di atas langit.
.
.
"Hiks Hiks" Perempuan itu berlari masuk ke dalam istana.
"Shanggu dari masa saj-"
"Shanggu! ada apa?! kenapa ... kenapa menangis?!" Tanya Rong Hua cemas namun tidak digubris oleh Shangguan Yue.
"SHANGGU...!"
Gadis kecil itu lalu berlari dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Brak...!!
"Hiks Hiks Kenapa ... kenapa Ini semua terjadi...? hiks Kenapa...?" Ia merosot di daun pintu dan mulai terduduk lemas.
"Ini semua salahku..." Lagi-lagi Ia menyalahkan diri sendiri. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian tersebut. Memang telah berlalu, tapi ingatan itu tidak akan pernah lepas dari dirinya. Penyesalan.
Apa yang perlu Ia katakan kepada sang Ayah kelak? Menjelaskan sembari menangis? cengeng! Marah-marah? kepada siapa!
Benar ... Kepada siapa seharusnya Ia marah?
Takdir?
"Benar kata Ibu, Aku tidak dapat mengendalikan segala hal dalam hidupku ... termasuk takdir ..." Ucapnya dengan nada bergetar.
Tiba-tiba sebuah ingatan melesat di kepalanya,
"TUAN INI MENGUTUK MU SHANGGUAN YUE!"
"DI MASA DEPAN TUAN BESAR PASTI AKAN MENGHANCURKAN MANUSIA MAUPUN KELUARGA SAMPAH MU ITU-ARKHHH!!"
"Tuan Besar?" Ia akhirnya mengerti. Ia akhirnya mengerti, bahwa tragedi tersebut terjadi bukanlah karena satu atau dua orang, tapi Tuan Besar. Semua yang berkaitan dengan sosok itu termasuk antek-anteknya adalah yang bersalah. Jika saja bukan demi keserakahan, bisakah tragedi ini tidak terulang? bisakah ini tidak terjadi? Dan bisakah Zhu Lian ataupun Shangguan Yun tidak tiada?
"Huh ... Omong kosong...!" Ia lalu bangkit dan menatap dirinya yang berantakan melalui cermin.
Senyumnya mengembang, tapi bisakah sang mata berbohong? tentu tidak! Ia menangis. Merasa bahwa ini sangat lucu.
"Seakan dipermainkan oleh langit..." Gumamnya seraya tertawa seperti kehilangan akal. Namun tetap, matanya terus memancarkan rasa sakit yang teramat dalam. Sangat pedih, gadis kecil itu sangat terpukul untuk usianya yang terbilang sangat muda di dunia Kultivator.
"Ya ... Yang kuat memanglah selalu menindas yang lemah ... selalu seperti itu hukum rimba yang digunakan!" Ia memukul-mukul kepalanya merasa bodoh, kenapa Ia begitu lemah dan begitu malas saat itu. Kenapa? Bukankah sudah wajar jika kematian terjadi di antara rimba dunia yang hanya memandang kekuatan?
"Shangguan Yue ... kau benar-benar bodoh!" Ujarnya bergetar.
"Sangat bodoh!"
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Lalu, matanya yang memerah memandang cermin, penuh air mata.
"Mereka semua BERSALAH! dan Aku? Bukankah Aku juga bersalah...!!!" Teriaknya seraya memukul cermin dihadapannya hingga retak.
"Hahaha...! Yang 'Dia' katakan memang benar! Aku bersalah! Tapi mereka juga bersalah! Untuk apa Aku membunuh pria itu jika yang lain masih hidup? Apakah akan Aku biarkan?"
"TIDAK AKAN PERNAH!!" Pekiknya sembari memukul cermin hingga hancur menjadi debu. Napasnya memburu mengikuti irama dada yang naik turun.
Shangguan Yue kemudian mengepalkan tangannya erat.
"Tidak akan Aku lepaskan kalian...!! meski itu di neraka...!!! kalian tetap akan Aku buru!!" Ucapnya penuh akan dendam yang telah merajalela.
...________________...
...🌑[Bersambung... ]🌑...
...-The eclipse has come-...
...……………………………………...
...Fyi...
...Gerhana\= Kebencian dan dendam....
...Bulan\= Yue \= Shangguan Yue...
...……………………………………...
...Jangan lupa like dan komennya~...
...it's easy~...
...See U~...
...-chan(deobi-...