
Tornado di basecamp berhenti seiring dengan kilas balik dalam diri Kaisar. Saat-saat yang paling dia ingat bersama Conrad, di masa remaja mereka.
Karena itu dia suka air terjun, dia suka danau... Karena semua itu mengingatkannya pada masa-masa kejayaan Zafiry. Conrad suka termenung atau bermain biola di tepi danau di dekat istana mereka, dengan deru air terjun yang menghiasi latar belakang.
Di sampingnya, biasanya Olena duduk di bebatuan tersembunyi sambil membaca buku dan Orion kalau sedang galau juga sering berubah menjadi ular dan duduk di atas pohon yang mengarah ke air terjun.
Tiga bersaudara menatap ke arah air terjun di kejauhan. Tempat Rebecca berbaring tadi, danau buatan yang dibuat semirip mungkin dengan Zafiry berdasarkan ingatan mereka.
“Claymore Eternal,” desis Valent sambil menggabungkan bulu, rambut, dan sisik, dan merubahnya menjadi sebuah pedang. Pedang itu ia bagi menjadi tiga bagian. Lalu ia berikan kepada Kaisar, Olena, dan Adinda.
Orion tidak ikut dalam pertarungan,
Ia sebenarnya sangat sedih, namun demi kelangsungan hidup anak-anaknya dan keselamatan rakyat Zafiry, dia tetap tinggal di sana sebagai Ratu sementara.
“Kau sendiri menggunakan apa? Tongkat Albert tidak bisa digunakan untuk bertarung,” desis Kaisar ke Valent.
“Hah?! Tongkat?” Valent mengokang M-16 dan menyampirkannya di bahu, “Aku pakai ini dan ini saja,” Dia juga menyelipkan Glock-Myer di pinggangnya.
“Ini udah tahun berapa, Bro? Jaman sekarang pedang dipakai untuk mengiris sushi! Lets Go!” desisnya sambil merapal mantra untuk mengantarkan mereka ke gedung Abizar Azzarro.
Kaisar hanya mendengus sambil menatap tingkah Valent, di legenda mana pun ia baru kali ini melihat ada penyihir lebih memilih berperang memakai senapan dibandingkan pedang.
“Untuk jarak jauh kami merapal mantra, bukan senapan,” desis Kaisar saat tornado mulai menyelimuti mereka.
“Jiwaku tetap mafia, identik sama pistol,”
“Orion, lemparkan itu,” desis Kaisar sambil menunjuk botol wine di sebelah Orion, Orion melemparnya ke arah tornado dan Kaisar menangkapnya, tepat saat tornado itu tertutup dan berteleportasi ke tujuan.
“Sempat-sempatnya kakak bawa ‘bekal’ ke arena perang. Mereka santai sekali sih...” desis Orion sambil mencibir.
Keadaan di basecamp langsung hening.
Orion pun menatap ke arah 12 anak buah Valent yang ada di sana, menatap dengan tegang.
“Bagaimana dengan kalian?” tanya Orion.
“Kalau boleh, kami juga ingin berpartisipasi,” desis Gale.
Disertai anggukan yang lain.
“Jackal dan Echo di sini, sisanya boleh pergi,”
“Baik, Putri!” seru semuanya.
Echo menyeringai dan membuka laptopnya, “Kau mau pakai kacamata pelacak-mu Princess? Aku sudah modifikasi bentuknya agar bisa dipakai saat kau jadi ular, loh,”
Orion tersenyum bersemangat “Ini sebabnya aku suruh kau tinggal, Jackal masih harus membangun ruangan lain,”
“Aku otw ke air terjun yaaa,” desis Jackal berpamitan dengan scooternya.
Saat akan mengikuti Echo ke ruang IT,
Tiba-tiba Orion berhenti.
Seseorang seakan memanggil namanya.
Orion...
Suara yang sama seperti yang ada di mansion saat mereka menyerang Quon malam itu.
Suara kakaknya, Conrad.
“Kak?” Orion menoleh ke arah meja yang digunakan untuk perjanjian darah tadi.
Masih ada sinar lemah berasal dari sana.
“Wah...” desis Orion saat melihat masih ada helai rambut Conrad satu lagi, terjatuh dari saputangan Adinda ke bawah meja. Sinarnya sangat redup, jadi tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya rambut Conrad yang dititipkan ada dua helai.
Orion mengambil rambut itu dengan ekornya, lalu mengamatinya.
Jiwa kakaknya sudah sepenuhnya hilang ke nirwana, langit, surga Tuhan. Atau di mana pun siluman ditempatkan di saat terakhir mereka setelah kematian, Orion tidak tahu pasti. Tapi di rambut yang ini, yang membuat cahaya helaiannya redup adalah...
“Ada darah kak Conrad yang menetes ke sini...” desis Orion.
Lalu bibir Orion pun membentuk senyum tipis dan tatapan lembut.
Ia pun memasukkan helaian itu ke dalam perutnya.
“Nah, tidurlah dengan tenang, Kak. Kalau Tuhan mengizinkan, semua akan indah pada waktunya,” kata Orion sambil mengelus-elus perutnya. Tepatnya di area rahim, tempat telur-telurnya tumbuh.
**
Mereka melayang di udara melalui Tornado dengan frekwensi kecepatan kategori F-5. Seluruh Emerald City melihat fenomena itu. Masyarakat bisa melihat, di atas sana, di bukit Emerald, tempat gedung Abizar Azzarro bernaung, tornado itu berhenti dan menyisakan pemandangan mencengangkan.
Harimau Hitam raksasa, dan Phoenix di tengah-tengahnya.
Sementara, di dua tornado lain, seorang gadis yang sangat cantik, semua orang mengenalnya sebagai,
“Adinda Velladurai!! Itu Adinda Velladurai!!” seru mereka takjub.
Di lain tempat, Xavier yang sedang dalam keadaan depresi, menonton tayangan live orang-orang yang berada di tempat kejadian. Diberitakan di sana, Headline News, Tornado menyerang Emerald City, Anak Mafia berada di tengahnya.
"Adinda? Astaga..." Xavier dengan terbelalak bangkit dari duduknya.
"Begitu agung sosokmu, sayang," desis Xavier sampai terharu. "Kirana, lihat anakmu," ia pun menggenggam kalung salib peninggalan istrinya yang selalu ia pakai.
Di arena perang, di tornado yang satunya, Valent mengucapkan Mantra Selubung.
Gunanya agar dampak akibat peperangan tidak sampai keluar dari pagar gaib dan mengenai orang-orang sekitar.
“Apa itu!!” seru orang-orang.
Kamera menangkap sesosok yang berada di atap gedung.
Seekor serigala yang wujudnya mengerikan, ukurannya sangat besar dengan punuknya yang tajam, juga seorang pria yang berada di depannya.
“Baheppmot, kalau kau bisa masuk ke tubuh Cyril, kau akan lebih kuat,” desis Valgar The Greatest.
Sang Serigala melolong panjang dan kencang, menandakan kalau ia setuju akan usul Si Penyihir.
(Baheppmot atau biasa disebut Behemoth dalam bahasa Inggris, adalah sejenis iblis dan makhluk mitologi yang digambarkan sebagai hewan liar. Secara metafora nama ini menjadi istilah kiasan bagi sesuatu yang sangat besar dan kuat).
“Ayah,” geram Valent, ‘Apa sebenarnya tujuanmu?!”
“Menguasai siapa pun yang menjadi Raja Zafiry, itu tujuanku,”
“Kenapa kau begitu?!”
“Raja terdahulu terlalu congkak dan sombong,mengira ia sangat hebat dan bisa segalanya. Seharusnya dengan kemampuan sepertiku, aku yang jadi Raja! Penyihir di atas segalanya! Bukannya Kaum Siluman!! Kau tersesat wahai anak durhaka... kau berpihak ke mereka!” seru Valgar.
“Astaga Ayah, kalau mau mimpi, sebaiknya kau tidur dulu!” seru Valent.
“Kau cerewet, persis ibumu! Makanya dia kubawa ke Kanada, tanah kelahirannya, dan kubunuh dia di sana! Hahahahaha!!”
“Si Iblis urusan kalian, aku mau menghabisi ayahku sendiri,” geram Valent sambil melayang dengan cepat dan menerjang Valgar.
Valgar menyerang Valent dengan mantra penghancur. Valent berhasil mengelak dan mengangkat tongkatnya, lalu mengucapkan mantra yang sama. Mantra penghancur juga, tapi dampaknya bisa 10x lebih besar dari milik Valgar.
Valgar terpelanting jatuh ke bawah gedung.
Tapi ia bisa menguasai keadaan.
Ia berhasil mendarat di selasar di lantai tengah, dan berusaha untuk kembali merapal mantra untuk menyerang putranya itu.
Tapi,
DOR! DOR!
Beberapa anak buah Valent sudah ada di dalam gedung dan menembakinya dari jendela.
"Sial!" Valgar limbung dan kehilangan pijakan, lalu ia terjun ke bawah.
Sementara, Kaisar mengaum dan melayang menyerang Baheppmot.
“GGROARRR!!” begitu raungnya penuh kemarahan. Terbayang Conrad yang tersenyum padanya, bersenda gurau dengannya, sekarang semua itu tidak ada lagi. Tidak bisa terjadilagi.
Lalu terbayang Conrad yang terjaring kurungan api sehingga leher Kaisar tertancap kapak, yang ternyata semua itu hanya akting belaka.
Ditambah.
Jasad Raja dan Ratu yang mengenaskan.
Dendam bergemuruh di diri Kaisar.
Cyril mengelak dengan loncat ke sisi seberang, lalu ia mengeram dan berubah menjadi manusia. Sosok Siluman terlalu besar baginya dan gerakannya terlalu lambat. Kaisar menggenggam pedang dari Conrad.
“Conrad, ini impianmu. Bebas dari belenggu,” desis Kaisar sambil mengecup pedang itu.
Lalu ia melesat ke Baheppmot, ia angkat pedangnya, Baheppmot dengan sigap menggerakkan tubuhnya ke bagian samping. Namun memang itu tujuan Kaisar, agar Baheppmot tak sadar kalau telah berada di bagian pinggir atap gedung.
Baheppmot tidak goyah, ia kembali menyerang Kaisar, Namun Kaisar lebih sigap.
Ia layangkan pedangnya ke arah leher Baheppmot lalu ia putar tubuhnya dan ‘Krakk!”
Leher Baheppmot retak.
Bagian dada dan perutnya tersayat pedang Kaisar.
Ususnya terburai beterbangan ke bawah.
Baheppmot kehilangan pijakan, lalu terpeleset. Tapi cakarnya berhasil meraih jendela dan menggunakannya untuk pijakan.
Ia bergelantungan di sana dan tampak kepayahan.
Dan,
DOR!
DOR!
DOR!
Beberapa peluru menembus jemari panjangnya. Membuat ia kehilangan pijakannya.
Rebecca di dalam gedung dengan M-16nya.
“Ini untuk orang yang kucintai, Conrad...” desis Rebecca dengan mata berkaca-kaca. Sekali lagi ia menarik pelatuknya dan mengarahkannya ke kepala Baheppmot.
DOR!DOR! dua peluru menembus dahi Baheppmot.
Namun Sang Iblis sangat besar. Dua peluru tidak sanggup menjatuhkannya.
Namun, bisa melemahkannya.
Sebelum Baheppmot pulih sepenuhnya, Olena dari atas membakar tubuh Behemnoth, dan Adinda bergelantung di atap gedung sambil melemparkan Bom Molotov.
DUARR!!
Tubuh Baheppmot hancur dan terbakar. Bahkan serpihan bagian tubuhnya jadi abu. Api Phoenix yang membakarnya sangatlah panas. Ditambah efek ledakan membuatnya tak sempat mempertahankan diri.
Sementara,
Valent mendarat dengan mulus di lantai halaman gedung.
Dengan sinis ia menatap tubuh Valgar yang sedang sekarat.
“Kau-kau-kau-...” gagap Valgar karena sudah kehilangan tenaga dan banyak darah. “Kau pikir bisa melenyapkanku semudah itu, hey anakku?” suaranya serak dan sangat lemah.
“Bukan aku yang akan melenyapkanmu, Ayah,” desis Valent.
Kaisar mendarat dengan anggun di sebelah Valent.
“Bagianmu, Bro... “ desis Valent ke Kaisar
Kaisar hanya tersenyum menanggapinya.
"Akhirnya kau pakai tongkat juga, bukan senapan, dasar bodoh..." desis Kaisar ke Valent.
"Terserah kau, Kaisar Cyril," nama baru untuk Kaisar.
“Atas nama Raja dan Ratu Zafiry,” Kaisar pun mengangkat pedangnya, lalu memenggal kepala Valgar.
**
“Melamun saja kau,” Harimau Emas menghampiri Serigala Hitam yang sedang termenung di tepi danau, menatap ke arah air terjun.
“Aku nggak mau jadi Raja,” dengus si Serigala.
“Ayah dan Ibu sudah sepakat kau yang jadi Raja menggantikan mereka,”
“Aku kan keponakannya, masih ada Kau,”
“Aku kan perempuan, Garth,”
“Masih ada 12 saudara laki-laki-ku yang lain,”
“Kau kan yang tertua di antara mereka,”
“Kenapa sih semua saudaramu harus perempuan...” gerutu Si Serigala Hitam sambil menghela nafas. “Aku merasa berdosa saat menerima tekanan ini,”
“Anugerah,” ralat Harimau Emas.
“Tekanan,” ralat Serigala lagi.
“Anugerah,”
“Tekanan dan siksaan,”
“Anugerah, anugerah, anugerah, kurang bersyukur sih kau,” desis Harimau.
“Kau saja jadi Ratu, Bagaimana? Atau kita bisa bersama naik Tahta agar aku ada yang menemani,” tawar Serigala.
“Kita ini sepupu, Garth,”
“Astaga, kenapa semuanya begitu runyam!” Serigala berubah menjadi manusia. Sosok laki-laki berambut putih panjang, dengan wajah yang sangat cantik. Matanya berwarna merah membara, senada dengan warna bibirnya. Kulitnya yang seputih salju semakin meyakinkan siapa pun yang melihat bahwa sudah pasti ia adalah makhluk Mitology.
“Bagaimana kalau begini saja,” Harimau Emas di depannya berubah menjadi Gadis berambut pirang yang sangat cantik. “Kau jadi Raja, aku akan jadi penasihatmu, semua keputusan atas kerajaan kita ambil berdasarkan kesepakatan bersama,”
Garth mengangguk sambil mengelus dagunya, “Brilian!” desisnya, “Yang penting ada kau di sisiku,”
“Baru kali ini ada yang menolak jadi Raja Zafiry, Negeri kita sangat kaya dan indah. Dan kau menolaknya,”
“Aku hanya merasa... tidak pantas menerima tahta ini. Kau tahu, aku merasa seperti pernah ada yang menawari tahta sebelumnya, tapi aku menolaknya juga. Aku malah menginginkan seorang wanita,” Garth menatap gadis di depannya.
“kita ini sepupu Garth,” dengus si Gadis cantik.
“Jangan ke-GR-an dong! Maksudku bukan kau, Greta,”
“Saat bilang ingin wanita, kau melihat ke arahku,”
“Kau ini ‘betina’ bukan ‘wanita’, kau kan harimau!”
“Dan kau si anjing yang menginginkan wanita,”
“Aku serigala,”
“Anjing,”
“Anjing itu keturunan serigala,”
“Yang Serigala itu Pangeran Conrad, kau itu anjing,”
“Ya aku kan reinkarnasinya,”
“Kata Ibuku, sifatmu amat sangat berbeda dengan Pangeran Conrad yang kalem dan tenang. Kau malah berandalan tak jelas yang suka narsis, persis Paman Valent,”
“Ya dia kan ayahku. Dan aku memang cantik, semua tahu itu,”
“Ergh!” Greta mulai tak sabar, “Sana naik tahta sendirian, lama-lama bersamamu tekanan darahku naik,”
“Jangan gitu dooong, sensitif banget sih...”
Tapi Greta si Harimau Emas sudah kabur berlari dari sana.
“Gretaaaaaaa,” seru Garth memanggil sepupunya itu.
“Masa bodo denganmu!” terdengar seruan balasan Greta dari kejauhan.
-TAMAT-