
Kaisar menatap sekelilingnya dengan puas.
Ia duduk di sofa besar yang empuk, lalu menyeringai saat merasa sofa itu memiliki busa yang pas dengan yang ia inginkan. Ukuran sofa itu juga besar, muat di tubuhnya yang tinggi menjulang.
“Bagaimana Boss Kais? Sofa itu juga muat untukmu kalau kau berubah jadi harimau," tanya Jackal, juga dengan seringai di wajahnya. Pria itu yang membeli semua perabotan di dalam kamar baru Kaisar. Hadiah dari Xavier karena Kaisar sudah berhasil merebut Mansion Quon. Yaitu ruangan di dalam Kastil ini, khusus untuk dirinya.
Kini ia tidak harus tidur di kandang di luar.
Walau pun kandangnya lebih luas, dengan kolam untuk…hewan berenang.
“Kau hebat, kau berhasil mengambil hatiku,” desis Kaisar senang.
“Aku membeli semua perabotan ini memakai emas yang kau berikan kemarin. aku hanya menjual bongkahan kecil, tapi uang yang kudapat bisa cukup sampai aku pensiun," Jackal berjalan ke sisi lain ruangan.
"Aku tak pikir panjang, yang kubeli pertama kali adalah barang-barang keperluanmu. Kau lihat ini Boss?” Jackal merentangkan tangannya ke arah tembok dengan koleksi berbagai macam pedang di dinding.
Kaisar melihat dinding itu dengan mata berbinar, “Sebenarnya, aku tidak pernah menggunakan pedang, di Zafiry kami sudah memakai senjata nuklir. Lagipula aku bisa menggunakan sihirku untuk melempar seseorang,”
“Aku tahu Boss, aku tahu. Tapi sosokmu sangat cocok dengan pedang. Eksotis dan berwibawa,” sahut Jackal.
Kaisar menyeringai sambil mengangguk. Jackal memang pintar bicara, satu tipe seperti Alfredo, tapi Jackal versi yang lebih sopan.
“Kenapa kau gunakan emasmu untuk diriku? Semua ini tidak murah. Pakailah untuk keperluanmu dan keluargamu,”
“Mulai sekarang kau dan Boss Valent adalah keluargaku, Para kakakku, Para orang tuaku, kalian bagian dari diriku. Uangku lebih dari cukup untuk seluruh keluarga besarku hidup enak. Aku hanya ingin kau menikmati emasmu sendiri, bukan barang-barang dari kastil Velladurai, tapi semua milikmu sendiri!”
“Kulihat barang-barang di Kastil ini, bukan kau yang merancangnya?”
“Boss Xavier tidak pernah menghargai hobiku dalam dekorasi. Dia bahkan mencela apa pun yang kulakukan untuk kastil ini dan lebih memilih desainer interior mahal dari luar negeri. Padahal tidak cocok dengan imagenya. Semua barang di Kastil ini jarang ada yang berguna untuk organisasi mafia seperti kami,”
“Aku setuju, terlalu banyak pajangan tidak penting,” kata Kaisar.
“Tepat sekali. Kastil ini seperti ruangan pameran saja!”
Dan mereka berdua tertawa.
“Boss, jangan bermalas-malasan di situ dulu, ayo kutunjukan ruang bilas!” Jackal melambaikan tangan dengan bersemangat, meminta Kaisar mengikuti dirinya.
Jackal membuka kenop rahasia di balik lukisan raksasa, “AKu sengaja menaruh lukisan di depan sebagai kamuflase untuk Boss Xavier. Dia tidak boleh melihat ruangan ini atau dia akan merasa dilangkahi. Kau tahu dia seringkali sangat sensitif. Dia tidak boleh tahu masterpieceku yang ini lebih hebat dari semua ruangan mewah di kastil ini,” kata Jackal.
Kaisar penasaran dan mengikutinya.
Saat Kaisar sampai di ruangan itu, sebuah jacuzzi air panas berlapis emas dengan air terjun yang menyentuh atap adalah hal pertama yang ia lihat. Di sebelahnya ada Bar penuh koleksi wine, dan banyak sofa untuk santai.
Taman dalam yang sangat indah bagai oase.
Ruangan itu sangat mencengangkan. Bagaikan ada di outdoor, pencahayaannya diatur sedemikian rupa serasa sedang berada di mata air di tepi gunung.
“Hebat,” desis Kaisar terpukau. “Ini seperti kolam air panas di Zafiry,”
“Syukurlah kalau kau suka. Aku sempat kuatir kau mengira aku menghinamu dengan menyamakanmu Harimau biasa yang suka bermain-main di sungai,”
“Astaga… kenapa ini tidak ada di kamarku? Sialan kau…” gumam Valent yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka.
Jackal kaget sampai meloncat mundur.
“Sejak kapan kau masuk?!” tanya Jackal sambil menatap Valent dengan ketakutan.
“Dia ada di sini sejak awal. Aku bisa mengendusnya tapi dia tidak terlihat. Kubiarkan saja lah…” desis Kaisar.
“Aku sedang mencoba mantra penghilang wujud dari Albert. Ada selubung gaib di sekelilingku, dia gunakan untuk menyelubungi Zafiry selama ini. Tak kukira berhasil kugunakan,”
“Percuma saja kau gunakan itu untukku atau Orion, kami bisa mendeteksimu,”
“Kan bisa kugunakan untuk menyusup ke Abizar Building,”
“Untuk apa kau kesana?”
Valent terdiam, lalu mengambil nafas berat.
Hal ini belum ia ceritakan pada Kaisar. Daritadi ia mengikuti Kaisar karena hatinya galau belum menyampaikan kenyataan kepada Kaisar.
“Jackal… bisa tinggalkan kami berdua saja?” desis Valent.
Jackal merasa jengah dan langsung salah tingkah.
“Baiklah Boss,” desis Jackal sambil buru-buru keluar dari ruangan.
“Ada apa?” desis Kaisar sambil duduk di salah satu sofa dan merentangkan tangannya ke sandaran. Ia terlihat sangat nyaman dengan kamar barunya.
“Kau santai sekali setelah semua yang kita alami,” gumam Valent.
“Firasatku mengatakan ada yang jauh lebih parah setelah ini, jadi aku berusaha mengistirahatkan diriku,” desis Kaisar, “Jangan bilang kau kemari karena mau mengeluh mengenai Orion,”
“Bukan itu, aku sudah bisa menebak kalau tindak tanduknya kau yang suruh. Dia mau memikat Xavier agar bisa mengambil telur Olena, dan menggantinya dengan yang palsu. Aku melihat Echo dan Luis di basement sedang mengukir-ukir batu besar,”
“Oh, kau sudah tahu…”
“Ya, Orion mudah ditebak. Walau pun kuakui, aku lumayan cemburu,”
“Jadi, ada apa?”
terlalu banyak untuk diceritakan dengan kata-kata.
“Kaisar, apa Albert bisa mentransfer ingatannya padamu?”
“Siluman tidak bisa membaca ingatan manusia, beda jenis, beda energi,”
“Astaga…” desis Valent sambil duduk di sofa depan Kaisar. “Kalau begitu… tolong siap-siap dengarkan. Tapi beritahukan ke Orion perlahan saja…”
Dengan bimbang Valent kembali ke kamarnya.
Ia sudah menceritakan segala yang ia tahu ke Kaisar.
Kaisar hanya mendengarkannya, menyimak seluruhnya tanpa sekali pun memotong ceritanya.
Dan dengan wajah kaku tanpa ekspresi.
Sampai akhir cerita Valent mengenai Conrad, Valent juga menceritakan infromasi yang diberikan Valgar ke Kaisar, Siluman harimau hitam itu hanya diam.
Diam tak bergeming, sampai akhirnya Valent meninggalkan kamar Kaisar dan kembali ke kamarnya.
Ia juga berharap Kaisar tidak ngamuk tiba-tiba.
Tapi ia merasa Kaisar memang butuh sendirian.
Dengan perasaan kesal ia menjatuhkan dirinya di sofa di dalam kamarnya. Lalu ia menengadahkan kepalanya bersandar di sofa dan memejamkan matanya.
Belakangan, sibuk sekali hari-harinya.
Ia ingin bersantai.
Ingin berada di pantai dengan air laut jernih dan cuaca hangat yang nyaman.
Dengan Orion di pelukannya.
Gadis itu tidak menebarkan feromon saat ini, tapi kenapa hanya dengan memikirkannya Valent merasa bergairah?
Lalu ia pun berpikir.
Orion dalam penglihatan Albert, bagaimana gadis di masa lalu?
Ingatan Albert membawa Valent ke masa saat Orion ulang tahun yang ke 16. Gadis itu sedang merapal mantra di kamarnya.
Tidak biasanya ia menutup pintunya.
Saat itu Albert hanya sedang lewat, tidak ada tujuan khusus. Tapi ia penasaran dengan wangi manis yang dipancarkan dari dalam kamar Orion, lalu Albert pun membuka pintu dan mengintip sedikit.
Afrosidiak super kuat yang kalau tercium orang lain sudah pasti akan ‘kepanasan’ langsung menyeruak dan menggelitik hidung pria itu.
Orion meletakkan cairan bening itu ke botol kecil.
“Ini untuk Albert, semoga dia bisa jatuh cinta padaku,” desis gadis itu sambil memandang botol dengan serius. "Aku ingin Albert jadi suamiku, aku ingin sekali bisa melahirkan anak-anaknya. Tolong kabulkan Ya Tuhan,"
Perasaan Albert saat itu langsung tak menentu.
Dengan terburu-buru ia meninggalkan kamar Orion lalu bersembunyi di balik pilar. Menelaah semuanya.
Selama ini dia tahu kalau Orion yang selalu jadi ‘buntutnya’ sejak kecil menaruh hati padanya.Tapi baginya itu hanya ucapan ngasal gadis itu.
Sampai menyiapkan ramuan untuknya, berarti perasaan Orion sudah sangat serius.
Valent membuka matanya lalu menggigit bibirnya.
Namun lagi-lagi ia tertegun.
Kenapa kamar itu terasa lengang?
Ia menoleh ke kanan dan kirinya, lalu memicingkan mata.
Tak ada barang yang hilang, semua perabot masih ada di tempatnya.
Apa yang salah?
Apakah karena tidak ada Orion yang menyambutnya, kamarnya jadi terasa hampa begini?
Ia sudah terbiasa disambut dengan panggilan “Gabriel, kemana saja kau?”
Lalu Valent pun menarik nafas dan beranjak.
Ponselnya berdering saat itu. Dari Gallard yang kini berada di basecamp, pabrik tempat mereka menyimpan emas.
“Ya?” sapa Valent.
“Boss Valent, kami kedatangan tamu, katanya kau mengenalnya. Mereka satu keluarga, ada istri dan dua anaknya juga dibawanya kemari,”
“Hah? Siapa?”
“Dia bilang namanya Michael,”
“Michael?!”
“Ya, kau mau bicara dengannya?”
“Tentu, berikan ponselmu padanya,” kata Valent sambil menggaruk kepalanya dengan heran.
Seketika hatinya langsung tidak tenang, bagaikan ada firasat buruk mengenai sesuatu yang akan terjadi.
“Hey…” sapa seseorang dari seberang. Suara Michael, kakaknya. Valent tentu sangat mengenal suara itu.
“Michael? Hey bro…kenapa kau menghubungiku lewat telepon? Kenapa kalian ke pabrik? Darimana kau tahu tentang posisi pabrik?” pertanyaan bertubi-tubi dari Valent.
“Ada…” Michael terdengar sulit untuk berbicara, “Ada hal sangat penting yang akan kuberitahu padamu. Aku tidak bisa menggunakan jalur biasa karena takutnya ayah akan tahu. Mereka selalu mendengarkan semua perbincangan kita kalau kalian mengakses kode asosiasi lewat laptop. Karena itu kami berdua berpura-pura tidak tahu menahu mengenai Orion. Tapi nyatanya ketahuan juga,"
“Maksudmu apa?”
Michael terdengar terisak. “Rafael…”