KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Perjanjian Darah


Orion yang saat ini berbentuk ular karena sedang mengandung, memekik kaget saat mendengarkan wasiat Conrad di saat terakhir, “Dia menitipkan jiwa di helaian rambut, dan rambut itu akan dilebur menjadi senjata...” isaknya. “Masih kuingat ia bilang padaku kalau aku payah sekali. Berdarah dingin tapi bisa demam, di saat terakhir kami di Zafiry... itu Kak Conrad yang sesungguhnya atau Sang Iblis? Aku sungguh tidak mengerti!”


Kaisar menatap rambut yang ia letakkan di atas meja. Berkilau dengan semburat kebiruan saat terkena cahaya, milik adiknya.


“Justru kalau tidak kita lakukan, aku akan merasa sangat menyesal. Kalau sudah di posisi begini, Conrad sudah tidak bisa kembali ke sana. Jalan satu-satunya harus maju. Ia pasti sudah mempertimbangkan hal ini,”


“Kenapa dia tidak bisa kembali ke tubuhnya?” tanya Adinda.


“Karena Sang Iblis akan semakin menyiksanya. Kau tahu bagaimana cara sipir penjara memperlakukan tahanan yang melarikan diri tapi tertangkap lagi? Jauh lebih kejam dari pada tahanan lainnya,”


“Jadi... saat kemarin itu kami bertemu, itulah Conrad yang sesungguhnya ya?” desis Adinda sambil termenung. “Begitu cantiknya ia sebenarnya, ia bilang...”


“Aku selalu mencintai Agha... tapi selamanya, Agha adalah milik Kak Cyril. Aku ikhlaskan semuanya. Termasuk hidupku atas dosa yang kuperbuat,” sambung Olena.


Semua menatap Olena.


“Kau tahu hal itu?” tanya Adinda.


“Itu saat terakhir kami terkoneksi,” Olena tersenyum getir. “Setelah itu, semuanya gelap. Sampai sekarang,”


“Jadi...” Kaisar meraih helaan itu dan di tangannya berubah menjadi kristal tajam bagaikan pedang, “Yang di sana sudah bukan Conrad. Aku tak akan ragu lagi menyerangnya seperti kemarin!” geram Kaisar. Tampak matanya membara penuh dendam.


Ia menggenggam pedang kristal itu dengan kuat sampai kulitnya tersayat dan darah mengalir.


“Akan kubunuh dia,” geramnya lagi.


Olena dan Orion mengangguk dengan tegas. Tekad mereka sudah bulat.


“Aku ikut,” Ujar Olena sambil ikut menggenggam pedang itu. Darahnya juga jatuh ke atas meja, bercampur dengan darah Kaisar.


“Aku boleh ikut juga?” tanya Adinda sambil memohon ke arah Kaisar .


“Tentu,” desis Kaisar, "Kau Ratu kami, tentu saja kau bileh ikut,"


Pipi Adinda merona kemerahan mendengar hal itu. Lalu ia menatap lempengan kristal itu dan mengangguk yakin. Ia pun ikut menggenggamnya. Tetesan darahnya bercampur bersama yang lain di meja.


“Aku tentu saja ikut,” desis Orion kemudian sambil meletakkan buntutnya di bawah tangan Kaisar. Darah juga ikut terjatuh karena pinggiran pedang yang sangat tajam.


“Enak saja kau ikut, Kau dirumah saja!” Valent merambah puncak pedang dan mencampur darahnya, “Sambil berdoa kami pulang dengan selamat, dan kau jaga anak-anakku,”


Darahnya juga ikut tercampur ke dalam darah pewaris tahta.


“Kau dengar itu Conrad?! Kau akan memiliki keponakan! 13 Siluman jumlahnya!! Aku akan pastikan mereka semua mengingat pengorbananmu untuk kami...” seru Valent.


Dan akhirnya Sang penyihir merapal mantranya. Mantra Pembangkit.


Tornado mulai terbentuk di sekeliling mereka, petir menyambar diantara mereka.


"Yang bangkit akan kuat, yang terluka akan pulih, kami pewaris tahta Zafiry bersama arwah leluhur, Menyatakan Perjanjian Darah akan berlaku, Setiap insan setuju akan Pernikahan Raja dan Ratu yang baru, Cyril Of Zafiry dan Adinda Xavier de Velladurai,"


"Hah?!" Kaisar dan Adinda terbelalak kaget menatap ke arah Valent.


Valent dan Olena terkekeh.


Ini kejutan dari mereka.


"Wah, mengharukan," desis Orion sambil terisak.


"Ehem! Kulanjut ya…" bisik Valent sambil menyeringai.


"Pernikahan mereka akan menandai era yang baru dari Zafiry, Pernikahan Pemimpin Tahta. Kami nobatkan Raja dan Ratu Zafiry, dengan segala tumpah darah kami! Kami gabungkan kekuatan kami untuk senjata Sang Raja!!"


Tornado semakin membesar, semua rakyat Zafiry berlutut dan diam mengikuti upacara. Perlahan mereka bergumam dan ikut menyumbangkan energi mereka kepada Sang Raja Baru Zafiry.


Kaisar Cyril.


"Aku merestui…" terdengar suara Conrad. "Semoga kalian selalu berbahagia, maafkan aku,"


Semua terdiam tertegun.


Perlahan suara itu hilang ditiup angin.


"Kakak…" isak Orion. Olena hanya mendongak ke atas, ke arah kepingan kenangan Conrad yang perlahan sirna.


"A-aku merestui," isak Orion.


"Aku merestui," tegas Olena.


"Dan aku, sebagai The Wizard yang telah diberi mandat untuk restu Raja dan Ratu terdahulu, mengukuhkan pernikahan mereka. Sekaligus melebur darah ini menjadi pusaka kerajaan!"


Petir saling menyambar.


Bagai dikomando, mereka menggelegar dan menyambar kepingan kristal yang dipegang para pewaris. Memberi energi statis bercampur dengan sihir.


Kaisar berubah menjadi Harimau Hitam, Olena menjadi phoenix. Masing-masing siluman memberikan bulu dan sisiknya.


Adinda merasa sangat kuat.


Lambang Zafiry tertoreh di dahinya. Lambang yang sama dengan milik Kaisar.


Sang Ratu.


**


“CONRAAAAAD!!” Pekikan histeris yang iblis di dalam Gedung Abizar Azzarro, “KAU BODOH SEKALI MELEBUR! KITA BISA JADI KUAT KALAU BERSATU!!”


“Astaga...” Valgar mengangkat tangannya ke atas kepala dan ternganga.


Emerald City dilanda badai yang sangat besar. 5 Tornado besar berskala puluhan km di sekitar mereka, bagaikan membentuk suatu barikade. Tornado itu tidak ke arah kota, hanya diam di sana sambil berputar mengancam. Mereka seakan sedang menunggu aba-aba untuk menyerang.


Dan Tornado itu mengelilingi gedung Abizar Azzarro.


Conrad Si Iblis, berubah menjadi serigala. Tanpa jiwa Conrad di dalamnya, serigala yang ini tampak sangat mengerikan. Bulunya tidak tebal lagi, dan banyak sisik di kulitnya. Sosoknya besar namun lebih berbentuk seperti monster dibanding kemasyuran Serigala Hitam.


"AKU AKAN MEMBUNUHMU CYRIIIIL, AKAN KUBUNUUUH!!"


**


"Kau sedang apa melamun di sini?" Cyril menghampiri Conrad yang menatap ke arah sungai di depannya.


Hanya diam menatap ke depan, tanpa bergerak.


Conrad Remaja, dalam wujud serigala Hitam yang telah berwujud sempurna.


dan Cyril sedang menggunakan wujud Harimaunya.


"Kak, pernah terpikir semua ini akan musnah?" tanya Conrad sambil menatap air terjun di depannya.


"Tidak ada yang tahu kemana takdir akan berjalan, Conrad,"


Conrad menunduk menatap rumput emas di kakinya.


"Kuharap, saat semuanya musnah, kita bisa membangunnya kembali," gumam si Serigala.


"Kenapa tiba-tiba kau berpikir begitu? Apa terjadi sesuatu pada Ayah? Atau Ibu?" tanya Cyril.


Conrad menggeleng, "Kalau pun terjadi sesuatu pada mereka, kuharap bukan aku penyebabnya,"


Cyril memiringkan kepalanya merasa aneh dengan celotehan Conrad, "yang biasanya membuat masalah itu aku atau Albert, kau ini daftar terakhir orang yang akan berbuat kekacauan. Ada-ada saja, kepalamu barusan terbentur atau bagaimana?!"


"Hehe," Conrad terkekeh, "Entahlah, mungkin aku hanya terbawa suasana," desisnya.


"Kau mau jadi Raja? Ambil saja tahtaku," desis Cyril.


"Kau jadi apa, kalau aku jadi Raja?"


"Aku jadi ksatria-mu,"


Conrad berdecak, "Tetap saja kau yang akan ambil keputusan. Tahta itu terpilih, bukan kita yang memilih sendiri. Sebesar apa pun keinginanku jadi Raja, kalau kau adalah yang terpilih tetap saja aku tidak bisa menyamaimu,"


"Kau ini pesimis sekali sih, kalau kau mau aku rela memberikan segalanya padamu," kata Cyril sambil menepuk punggung Conrad dengan tangannya.


Conrad menyeringai memperlihatkan taring raksasanya, "Aku tidak ingin tahtamu. Tapi aku ingin satu hal..."


"Hm? Apa itu? Sebutkan saja,"


"Aku ingin-"


"Paduka," Agha muncul dari balik semak, menghampiri mereka. membuat Conrad berhenti bicara. "Maaf mengganggu obrolan kalian, saya hanya mengingatkan sudah waktunya sesi belajar bersama The Greatest,"


"Ergh! Aku lebih baik belajar bersama Albert. Aku lebih mengerti isi mantranya dibandingkan diajari The Gteatest," keluh Cyril sambil berbalik.


Conrad menatap Agha.


Tatapannya begitu dalam dan sendu.


Tapi Agha hanya melihatnya sekilas lalu menunduk menghormat. Wanita itu pun mengikuti Cyril berjalan ke arah istana.


"Aku hanya ingin Agha jadi milikku," gumam Conrad sambil menatap punggung wanita itu.


Dan Conrad menatap ke arah air terjun di depannya sambil merenung. "Apa Ayah akan merestuiku? Aku begitu mencintainya..."


Dan setelah itu, sesuai dengan perkiraan semua, Sang Raja jelas tidak merestui permintaan Conrad. Sang Raja malah memberikan Conrad puluhan selir sebagai ganti Agha.


Yang mana bagi Conrad, hal itu tidak akan ada gunanya.


Conrad pun kecewa, dan saat itu lah kesedihannya mulai timbul.