KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
The Beauty


“Bunyi ‘krak’ apa itu?” tanya Kaisar langsung waspada.


Semua langsung menatap ke arah Gallard.


Gallard hanya menatap telur yang ada di pangkuannya dengan tegang.


Retakan sepanjang 5 cm menghiasi bagian atas telur, tepatnya di dahi Olena.


“A...anu...” gagap Gallard.


Belum sampai ia bersuara, sinar yang amat terang langsung menyembur keluar dari telur. Berikutnya sinar kemerahan yang sangat terang sampai semua menunduk menutupi mata yang silau terkena cahayanya.


Terdengar erangan.


Erangan yang seakan diteriakan oleh banyak orang.


Lalu erangan seekor hewan.


Erangan yang berbeda dari semua suara, bagaikan pekikan, teriakan, namun membentuk nada nyanyian yang indah.


Entah bagaimana, nyanyiannya terdengar menyedihkan.


Sinar itu lalu menghilang.


Menyisakan pemandangan mencengangkan.


Ratusan orang di depan mereka, dengan pakaian ala kerajaan. Berlutut menghadap ke arah Kaisar. Beberapa tampak bersujud.


Laki-laki, perempuan, semua memberi hormat ke Kaisar.


Mereka semua berwajah sangat rupawan, dengan perhiasan emas yang berkilauan.


Dan mereka tampaknya berusia sama. Tidak tua dan tidak muda.


“Yang Mulia, Raja Zafiry. Cyril The King...” salah satu dari mereka berujar begitu. “Kejayaan Abadi untuk Anda,”


“Kejayaan Abadi Untuk Anda!!” seru semua makhluk Zafiry.


Kaisar, kini berdiri di samping Valent, masih dengan ponsel di tangannya. Terpaku menatap semua orang di sana.


Tapi fokusnya langsung beralih ke arah Gallard.


Benar saja.


Seorang wanita berambut hitam panjang duduk di atas perut Gallard. Wajahnya eksotis dengan kulit yang kecoklatan. Sayap di punggungnya yang terbuat dari api, perlahan menghilang ke punggungnya dan membentuk ukiran berbentuk api.


Kecantikannya tidak kalah dengan Orion.


Dan dia sedang menatap Gallard dengan matanya yang berwarna membara.


Semua ternganga melihatnya.


Gallard hanya bisa diam sambil balas menatap Makhluk yang duduk di ‘atasnya’.


“Gale...” bisik Kaisar perlahan, “Sebutkan nama Olena Of Zafiry, maka dia akan ingat segalanya,”


Gallard melirik sekilas ke arah Kaisar. Pria itu tahu, kalau ia menyebut namanya sendiri, Olena akan patuh kepadanya.


“Gale....” kini nada Kaisar dibuat lebih rendah seakan memperingatkannya.


“Tapi aku akan memiliki seseorang yang dapat membuatku mengalahkanmu,” desis Gallard dengan seringai penuh kelicikan.


“Gale...” desis Kaisar lagi, “Aku akan membunuhmu kalau kau sampai melakukan hal itu,”


“Dia bisa melindungiku dari kau,”


“Jangan coba-coba Gale,”


“Boss Kais, mengertilah, ini kesempatanku seumur hidup,” gumam Gallard.


“Sialan...” bisik Kaisar.


“Hehe,”


“Apa maksudmu dengan Hehe’?”


“Maafkan aku,” kata Gallard.


“Gale!!” seru Kaisar marah.


Gallard menatap ke arah Olena lagi, dan mengucapkan kata-kata dengan cepat.


**


Kelahiran, Kemurnian, Kematian, Kesedihan.


Phoenix mengalaminya berulang-ulang.


Ribuan tahun ia lalui, sekali terlahir ia akan hidup abadi.


Burung indah pembawa keberuntungan, yang sebenarnya sangat malang.


Karena ia hidup berkali-kali dan mati berkali-kali.


Semoga saat ia dilahirkan kembali, sang Tuan tidak akan pernah menyadarkannya.


Akan masa lalu kelam yang telah dihadapinya dulu.


(Septira, 2022)


“Untung saja aku berhasil membuat selubung Gaib,” desis Albert saat melihat ratusan orang berada di depan mereka. “Bagaimana kita akan menampungnya di Velladurai? Kau bayangkan itu Kaisar?”


“Ya...” Kaisar mengulurkan tissue ke Valent, “Hidungmu berdarah,”


“Tenagaku terkuras habis,”


“Kau masih bisa berdiri,”


“Sia-sia saja kau ingin terlihat kuat kalau membandingkan dirimu dengan siluman. Terima saja apa adanya dirimu yang manusia ini,”


“Kenapa sih Albert harus menitis menjadi manusia, dia bisa memilih salah satu dari siluman muda di sini. Lihat tuh ada yang berubah jadi elang. Aku kan bisa jadi penyihir sekaligus siluman,“ Valent menunjuk si elang “Jangan terbang tinggi-tinggi, aku hanya membuat selubung dengan ukuran 1000meter di atas tanah dan seluas 2 hektar saja,” serunya ke elang.


“Kenapa hanya sekecil itu area kita?”


“Kita di tengah kota, drone masih sering beterbangan. Dan 2 hektar adalah luas area di sertifikat tanah pabrik ini,”


“Kalau ada mobil yang berkendara di sini?”


“Mereka akan melaju tembus dan melewati pabrik lalu langsung ke bukit anggur. Pokoknya tau-tau mereka di bukit itu,” Valent menunjuk ke arah depan.


“Boss Kais!!” Jackal menghampiri Kaisar dengan mata berbinar, “Aku boleh-“


“Ya, kau dekor sesukamu, tak usah kau jelaskan apa saja yang mau kau lakukan,” potong Kaisar.


“Aku janji akan senyaman mungkin, tak bisa kubuat mirip dengan istana megahmu, tapi setidaknya orang-orang di sini akan punya tempat yang layak untuk mereka istirahat!” seru Jackal sambil menggeret Alfredo untuk menemaninya ke pasar.


Alfredo hanya mendengus malas sambil mengikuti Jackal.


“Kau punya rakyatmu, kau punya adik-adikmu, kau hampir memiliki tahtamu. Kini tinggal ratunya,”


“Hm,”


Dan mereka terdiam sambil melihat suasana di depan mereka.


“Kau sedang memikirkan Conrad,” tebak Valent.


“Hm,”


“Dia tak akan mendapatkan Adinda. Conrad sudah ku-kutuk,”


“Apa isi kutukanmu?”


“Tanpa izinku, keturunan Agha tidak akan jadi miliknya,”


“Kenapa aku sangsi kalau kutukanmu tidak akan berhasil ya?!”


“Memang itu kebiasanmu kan, menyangsikanku,”


“Apa kau mengutukku?”


“Ya, sedikit,”


“Apa jenis kutukan yang kau lancarkan untukku?!”


“Kau tidak bisa memiliki Ratu-mu sepenuhnya, siapa pun wanita yang kau pilih, sampai kau menikahinya dengan perjanjian darah,”


“Sialan kau,” gumam Kaisar sambil menunduk.


“Kutukanku berhasil kan? Kalau wanita yang kau pilih adalah Adinda, Kau pasti belum mengambil keperawanannya kan? Pasti ada saja penghalangnya,”


“Sialan kau,” ulang Kaisar.


“Kau punya 50 selir, Kaisar. Setiap hari kau olahraga. Istirahat dulu lah satu dua tahun dari kegiatan pe-ranjangan-mu itu,”


“Kau hanya iri padaku,”


Valent menatap Orion, “Sekarang tidak lagi,” desisnya dengan senyum simpul.


“Kau benar-benar sialan,” gumam Kaisar mencoba bersabar.


“Ngomong-ngomong, dimana Gallard?” Valent melayangkan pandangan ke segala arah mencari anak buahnya itu.


“Kenapa dari semua laki-laki harus Gale yang dipilih untuk jadi budaknya,” gerutu Kaisar sambil balik arah untuk mencari Gallard dan Olena di sepanjang pabrik.


“Itu namanya Takdir, Yang Mulia. Hey Luis, tolong carikan makanan untuk semua orang-orang ini,” kata Valent sambil berjalan mengikuti Kaisar.


“Boss, “ bisik Luis, “Mereka bilang rindu rasa darah,” Luis bergidik.


“Kau ke tukang jagal di pinggir kota saja sekalian beli darah dan daging, bilang ke para siluman adanya darah hewan karena di zaman ini ilegal memiliki darah manusia tanpa izin,” sahut Valent.


**


PRANG!!


Gelas kristal berisi wine itu terjatuh ke lantai granit dan pecah berhamburan. The Greatest, Valgar, menahan geramnya saat merasakan suatu suasana magis yang sedang menyelimutinya.


“Bagaimana bisa?!” desisnya sambil beranjak dari duduknya, “Bagaimana mereka bisa mendapatkan Olena?!”


Di sebelahnya, ada pembawa pesan. Salah satu asisten kepercayaannya sekaligus anak kandungnya, yang sebenarnya tidak diinginkannya karena sosoknya adalah seorang wanita. Hampir saja dibunuhnya kalau istri terakhirnya tidak memohon-mohon padanya. Bilang kalau anak ini akan menjadi anak yang sangat berguna untuk Asosiasi.


Namanya Rebecca, saat ini bekerja sebagai seorang dokter spesialis kedokteran jiwa. Tugas utamanya lebih sering di unit pasca trauma di Kepolisian, namun ia juga berhasil menyusup ke Velladurai untuk menjadi psikiater keluarga.


“Tuan Conrad bilang... Karena kecerobohanmu, ayah,”


“Dia sendiri tidak bisa mendeteksinya, dan bilang itu karena kecerobohanku?”


“Ya,”


Valgar memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. “Sudah ada kabar dari Gabriel?”


“Sudah ayah, dia akan datang besok bersama Xavier,”


“Kenapa anak-anakku jadi berbalik melawanku,” gumam Valgar sambil menatap keluar jendela. “Dan kenapa Albert harus menitis ke Gabriel,”


“Apa rencana ayah selanjutnya? Biar saya persiapkan,” kata Rebecca tanpa ekspresi.


“Menyambut mereka dengan sajian terbaik tentunya,” Valgar tersenyum licik sambil menatap Mansion Quon di kejauhan.


Tampak, sosok serigala Raksasa melayang di udara, melesat ke arah Mansion.


“Pangeran, walau pun kau ke sana sesering mungkin, kau tidak akan dapat diterima di singgasana. Kau tidak dapat mendekati Menara 3 atau kau akan terbakar,” desis Valgar.