KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Kerasukan


“Dia siapa?” tanya Xavier sambil menatap Kaisar yang saat ini dalam wujud manusia.


“Kakaknya Ori,” jawab Valent.


“Kakaknya Orion,” ulang Xavier, masih menatap Kaisar lekat-lekat, “Sejak kapan dia di sini?”


“Kau yang bawa dia ke sini,” kata Valent.


“Aku?” tanya Xavier.


“Kau,” tekan Valent.


“Kapan aku bawa dia ke sini?”


“Sebulan yang lalu,”


“Bagaimana bisa aku tak pernah melihatnya?”


“Kau lihat dia setiap hari, kok,”


“Maksudmu apa Valentino?!” sahut Xaver sewot.


“Nanti juga kau tahu siapa dia,”


“Aku ingin penjelasan sekarang,”


“Oh iya aku juga ingin jujur padamu,”


“Apa??” Xavier mulai tak sabar.


“Ori pacarku, awas kau sentuh-sentuh dia lagi,” ujar Valent mengancam.


“Astaga...”


Orion hanya tersenyum manis menanggapi Xavier.


“Sebenarnya ada apa ini?!” seru Xavier mulai panik.


“Aku lagi malas cerita, kurang tidur nih...” keluh Valent.


“Mungkin... yang ini akan cukup menjelaskan siapa kami sebenarnya,” kata Kaisar sambil beranjak dan berubah menjadi Harimau Hitam.


Sosok Cyril.


Dan Xavier pun ternganga.


Lalu ia pun pingsan.


“Dasar bodoh,” gerutu Kaisar sambil menjilati kuku besarnya.


“Itu baru kau yang berubah jadi meong, gimana kalau Orion yang macam naga, coba?! Ada-ada saja... Ayo kita berangkat!” sahut Valent sambil membopong tubuh Xavier dan keluar dari kastil untuk menuju ke mobil.


Kaisar berubah lagi menjadi manusia, “Ada tidak sih baju yang bisa menyesuaikan tubuh ketika aku berubah wujud? Aku capek ganti-ganti baju terus,”


“Ya kau wujud Harimau saja terus, kalau di kamar Adinda baru kau jadi manusia. Susah amat sih. Raja dan Ratu saja jarang berubah jadi manusia kalau di depan orang,” kata Valent sambil memasukkan tubuh Xavier yang masih pingsan ke mobil.


“Itu karena kata Ayah, wajah mereka kurang berwibawa saat menjadi sosok manusia,” kata Orion.


“Oh, masalah imej ternyata...” kata Valent sambil duduk di depan dan memasukkan sidik jarinya di tombol samping stir dan menyalakan mesin mobilnya.


**


Mereka tiba di Gedung Abizar Azzarro sekitar satu jam kemudian. Saat tiba, mereka diarahkan ke sebuah ruangan di lantai teratas, lantai 40. Gedung itu sangat mewah dengan ornamen keemasan yang berkilauan.


Orion menggigil. Lalu mendekap lengan Kaisar di dadanya.


Tanda kalau ia merasakan adanya suatu entitas kuat, namun berbahaya.


“Ini bukan Kak Conrad,” desisnya.


“Bukan? Lalu apa?”


“Kak, sejujurnya aku pernah merasakan hawa Kak Conrad saat kita menyerang ke Mansion Quon. Dia sempat memanggil namaku di saat terakhir, tapi sayangnya waktu aku mencari, suara itu menghilang. Angin yang berdesir membawaku aromanya. Kupikir lebih jauh, itu tampaknya bukan khayalanku. Tapi yang sekarang...” Orion bergidik, “Yang sekarang, aku berani bilang kalau semuanya berbeda. Ini bukan dia,”


“Aku juga pernah merasakannya, saat di Mansion itu ada yang mengelilingi kita, mondar-mandir. Tapi kuhiraukan karena kupikir itu hanya khayalanku,” Kaisar menggenggam jemari Orion berusaha menenangkan gadis itu, “Kurasakan, ia ingin masuk ke menara 3 tapi tidak bisa. Selalu terpental. Dan ia bagai meraung putus asa,”


Valent yang mendengar pembicaraan mereka menoleh sekilas, lalu menghela nafas.


“Gallard dan Luis melihat Conrad, bahkan hampir terbunuh. Jadi itu sudah pasti dia,” kata Valent.


“Kalian dari tadi membicarakan apa sih?” tanya Xavier kebingungan.


“Maksudmu apa Valentino?!”


Xavier tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Xavier, “Usahakan yang terbaik untuk kami ya Boss. Kamu itu... Keturunan Agha yang termasuk baik. Kau bangun dan kau jaga kastilnya dengan perjuanganmu. Kami...”


Valent berhenti dan menghadap Xavier dengan senyum.


“Kami, warga Zafiry, atas nama Raja dan Ratu, dan Para Pewaris Tahta,” Valent menunjuk Kaisar dan Orion dengan telapak tangannya, “Mengucapkan banyak terima kasih,”


Xavier menatap Valent dengan terbelalak.


Ia tidak sepenuhnya mengerti kata-kata yang diucapkan Valent, tapi entah kenapa hatinya terasa sakit dan sedih.


Terdengar raungan dari dalam ruangan.


Lalu...


Valgar keluar dari dalam salah satu pintu raksasa.


“Selamat datang,” sapa Valgar.


Xavier semakin terbelalak.


Valgar adalah Ketua Assossiasi Pemerintah yang tugasnya mengamankan setiap mafia yang ada di Ruby Country. Peraturan mereka mutlak dan terkenal tak tanggung-tanggung dalam mencegah semua pergerakan mafia.


Semua yang dicurigai Mafia tidak boleh bertransaksi di dalam Ruby Country. Ini adalah area bersih. Segala peredaran dan penggelapan, jual beli dan hal lain yang illegal, harus diperdagangkan di luar negeri.


Misi mereka yang utama adalah menghancurkan semua Mafia, tapi saat ini mereka terbentur dengan  peran mafia di pemerintah itu sendiri. Organisasi seperti Velladurai, Quon dan Abizar Azzarro adalah penyumbang pajak paling besar di Ruby Country. Juga imej pertahanan yang mereka ciptakan membuat negara lain segan kepada Ruby Country.


Jadi suatu hal yang mencengangkan melihat Valgar muncul di sini.


Apalagi saat Valgar berujar ke Valent...


“Gabriel,” sapanya ke Valent.


“Ayah,” balas Valent tanpa ekspresi.


Xavier memekik kaget.


“Ah, karena kita sekarang ada di lingkup Azzarro, mungkin lebih pantas kalau kupanggil... Albert The Wizard,” desis Valgar sambil tersenyum sinis.


Senyum mengerikan yang sangat licik, membuat Valent ingin sekali merapal mantra pemusnah.


“Bagaimana pun, Gary The Greatest,” balas Valent, “Di dunia ini aku lahir dari DNA mu dan kandungan ibuku yang entah siapa. Ah iya, kenapa namamu tak berubah ya dari dulu, tetap saja Gary...? apa kau menambahkan inisial GG di setiap jas dan dasimu juga? GG, Gary The Greatest, hehehehe,”


Senyum Valgar lenyap, digantikan dengan geraman pelan.


“Aku dan Conrad pernah berkelakar tentang itu,” Kaisar angkat bicara, “Karena GG itu terlalu feminin, seperti anak perempuan dengan lollipop di tangannya. Gigi Hadid, kesannya kan manis dan cantik,” Kaisar dan Valent terkekeh geli.


“Lebih mending itu daripada Valentino Gary jadi VG, jadi disebutnya Veggie, menandakan kalau kau vegetarian, hehehehe,” lagi-lagi Valent dan Kaisar terkekeh geli


Mereka memang sengaja membuat Valgar kesal, karena mereka sangat yakin dalang semuanya adalah dia.


“Kita lihat saja berapa lama tawa kalian bertahan,” geram Valgar.


“Valgar, akui saja kalau mereka benar. Aku juga bertanya-tanya kenapa kau begitu bangga dengan Julukan The Greatest. Padahal jabatan itu hanya panggilan halus untuk ‘Asisten Raja-Ratu’,”


Sebuah suara membuat mereka menoleh ke arah Pintu.


Conrad ada di sana.


Dengan gelas kristal di tangannya, dan senyum tipisnya.


Ia terasa hampa dan lelah. Dengan mata sayu yang tampaknya tidak tidur berhari-hari.


Kaisar dan Orion menatapnya tegang. Orion bahkan mundur selangkah.


Di dalam hatinya, gadis itu berkecamuk.


Itu jelas bukan Conrad, tapi ada secercah cahaya di dalam dirinya. Serpihan diri yang sebenarnya, terjebak di dalam dan tidak ingin keluar. Bagaikan menyesali semuanya dan takut untuk menghadapi semuanya di luar sana.


Valent menatap Conrad dengan tajam. “Kamu dan aku sama. Terjebak. Bedanya... aku memang ingin  berdiam di tubuh ‘Valent’ dan tubuh ini menerimaku dengan baik, kalau kau dipaksa masuk tapi tak ingin keluar lagi karena sudah terlanjur ketakutan,” desis Valent pelan.


Ia baru bisa mendiagnosa apa makhluk di depannya ini, saat berjumpa langsung.


Dan sekarang Valent pun mengerti, apa penyakit Conrad.


Kerasukan yang parah.


Bisa jadi, dilihat dari aura yang membayanginya, Conrad tidak bisa diselamatkan kecuali ‘dukun’nya mati atau dia sendiri yang mati.