KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Strategi


"Siapa yang punya akses ke brankas?" tanya Kaisar.


"Aku dan Xavier," jawab Valent


"Adinda?"


"Tidak, hanya kami berdua seharusnya. Tapi kalau kutanyakan ke Xavier, ia mungkin akan curiga padaku kenapa tiba-tiba menanyakan kitab padahal selama ini aku terlihat tidak tertarik,"


"Dia bilang ke luar negeri, kan? Kemana dan apa tujuannya?"


"Bisnis batu mulia. Tambang kami di brazil menemukan giok hitam langka,"


Kaisar dan Orion langsung berpandangan dengan tegang.


Valent yang menyadari perubahan suasana langsung tertegun. "Apa? Kenapa reaksi kalian begitu,"


"Olena,"


"Olena? Si elang hitam? Kenapa dia?"


"Dia bukan elang, dia phoenix,"


"Apa bedanya?"


"Phoenix adalah makhluk legenda, dan tidak bisa mati. Kalau sudah batas umur, dia akan kembali jadi telur dan menetas, dan mengulangi kembali siklusnya," jelas Kaisar


"Dan apa hubungannya dengan giok hitam?"


"Itu bukan giok, itu telur phoenix,"


Valent seketika tertegun, "Jadi…"


"Ya, dia berubah jadi giok, itu tandanya sebenarnya dia sudah meninggal saat tertembak panah. Jangan sampai dia menetas saat Xavier ada di dekatnya,"


"Kenapa?!"


"Karena kalau sampai dia menetas dan yang dilihatnya pertama kali adalah Xavier, ikatan di antara mereka akan terjalin. Otomatis Olena akan menganggap Xavier orang tuanya. Kalau Xavier memerintahkannya untuk membunuh kami, dia akan turuti walau pun harus mati dan walaupun bertentangan dengan hatinya,"


"Kalau dia tidak turuti bagaimana?"


"Dia akan terbakar dan kembali menjadi telur,"


"Ya tidak apa dong? Kan tinggal menetas lagi,"


"Kalau telur itu dihancurkan, otomatis dia akan masuk neraka. Api adalah kekuatan Phoenix. Dan bentuk telur adalah kelemahannya," kata Kaisar.


"Astaga Ya Tuhaaaan! Kenapa kau menciptakan makhluk yang sebegitu rumitnya sih!!" keluh Valent. "Kau bayangkan jika ia menetas dan melihat Xavier untuk pertama dalam hidupnya! Mana bisa aku menghancurkan Velladurai, hah?! Gila!!"


"Ya, Olena akan melupakan kami dan mengabdi sepenuhnya pada Xavier. Aku tidak bisa melawan adikku sendiri. Aku tidak akan tega," desis Kaisar mulai kuatir.


"Kemungkinan kitab itu ada di Xavier," geram Valent. "Dia pasti langsung mengerti saat anak buah kami menemukan giok hitam. Aku belum membaca buku itu sampai tamat jadi aku tidak tahu! Aku hanya baca sampai riwayat Orion!" Valent mulai panik.


"Haruskah kita menyusul Xavier ke Brazil?" tanya Orion kebingungan.


"Kita harus tenang dulu," kata Kaisar, "Valentino, kapan jadwal Xavier pulang?"


"Minggu depan, tgl 15,"


"Telur Phoenix akan menetas seminggu setelah ditetesi darah segar,"


"Kenapa kalian suka darah, sih?"


"Itu sama saja dengan pertanyaan 'kenapa manusia suka gula', karena di lidah kami, darah itu rasanya manis. Bahkan lebih nikmat dari gula," kata Orion


"Kalau Xavier pintar, ia akan tunda kepulangannya ke sini sampai telur phoenix menetas," ujar Kaisar sambil berdiri dengan gundah.


"Dia terobsesi dengan kalian dan pasti tahu mengenai hal ini.  Mungkin dia akan perpanjang liburannya di Brazil, kecuali…"


"Kecuali?" tanya Kaisar dan Orion berbarengan.


"Kecuali ada sesuatu yang sangat mendesak terjadi di sini, yang mengharuskannya kembali lebih cepat,"


"Apa kira-kira yang bisa membuatnya begitu?"


"Bisa mengenai sesuatu terjadi pada Adinda, atau kerugian yang sangat besar terjadi,"


"Kau punya usul?"


"Kalau masalah kerugian, aku bisa-bisa dipecat. Kuharap bukan yang itu. Karena berkaitan dengan kredibilitasku," kata Valent sambil.menjatuhkan dirinya di sofa dan mendongak ke atas menatap plafon.


Lalu mereka semua terdiam karena berpikir.


Setelah 15 menit, posisi mereka berubah. Valent mengutak-atik ponselnya. Orion membaca sambil memainkan api di ujung jemarinya, dan Kaisar mengernyit saat mendapati banyak sekali benda pusaka berserakan di ruangan itu.


"Ini barang dari suku kami, bagaimana kalian mendapatkannya?!" tanya Kaisar dengan curiga.


Valent dan Orion saling melirik. Tentu saja di sana banyak benda dari Zafiry. Velladurai adalah keturunan Agha, dan manusia yang menyerang Zafiry adalah sekutu Agha. Pastinya ada banyak barang rampasan yang jadi peninggalan Suku Zafiry yang disita oleh Agha.


"Kau bisa tanyakan itu ke Xavier, aku tidak tahu persis," desis Valent akhirnya, mencoba mengalihkan perhatian Kaisar.


"Aku tidak mau berinteraksi dengannya. Kau saja tanyakan padanya," kata Kaisar memberi perintah.


Valent memutar matanya tanda jengkel. "Orion, jangan bermain api, banyak benda mudah terbakar di sini. Kalau kebakaran kerugiannya sangat besar," desis Valent.


"Hoo, begitu ya," gumam Orion, "Kau bilang tadi Xavier akan pulang kalau ada kerugian besar yang terjadi?"


"Ya, begitulah pengalamanku," kata Valent.


"Bagaimana kalau kita bakar saja Mansion Quon setelah kita menemukan ayah dan ibuku?" usul Orion. "Kau tidak akan disalahkan, dan sudah pasti kerugiannya super duper besar,"


Mata Valent langsung berbinar, "dan aku tidak akan disalahkan karena tempat itu sedang dijaga polisi! Kau jenius!" seru pria itu senang.


“Persiapkan semuanya besok, kita serang ke sana,” kata Kaisar sambil berjalan keluar meninggalkan perpustakaan dan berubah wujud menjadi Harimau Hitam.


Valent mendengus kesal, “Astaga, dia bossy banget, sih!” gerutu pria itu.


Orion hanya terkekeh geli.


**


Kaisar berjalan perlahan di sepanjang koridor sambil memikirkan mengenai rencana besok. Ia sekaligus senang karena satu lagi adiknya ketemu.


Setidaknya mereka bisa kembali berkumpul.


Namun langkahnya terhenti karena ia mencium wangi bunga yang khas.


Adinda.


Ada di ujung lorong dengan wine di tangannya.


Suatu hal yang langka melihat Adinda dengan gelas kristal berisi cairan merah hasil fermentasi anggur itu. Seingat Kaisar, Adinda tidak terlalu suka Alkohol.


Kaisar pun mendekati gadis itu.


Dan menyapanya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kaisar.


“Hai, Kai…” Adinda menyodorkan gelas berisi winenya, “Mau?”


“Tentu saja,”


“Aku menunggumu, sebenarnya. Karena tidak tahu kau kemana, aku memutuskan menunggu di area yang paling strategis dan pasti dilewati banyak orang,” jelas Adinda sambil menuangkan wine ke semacam mangkuk keramik.


“Kenapa kau menungguku?”


“Aku ingin bertanya padamu mengenai suatu hal yang sifatnya sangat rahasia,”


“Ya?” Kaisar menjilat winenya.


“Kau kan siluman, jadi kau bisa berubah jadi manusia, tidak?” tanya Adinda.


Kaisar menghentikan acara minumnya, dan terdiam.


Lagi-lagi pertanyaan yang sulit ia jawab, terlontar dari bibir Adinda.


"Kenapa kau bertanya begitu?" desis Kaisar berusaha tetap tenang.


"Belakangan, aku merasa sedang dikerjai seseorang. Dan instingku mengatakan, orang itu ada hubungannya denganmu. Karena suaranya begitu mirip denganmu. Dan aromanya seperti wine, khas dirimu," Adinda tersenyum lembut.


Senyum yang penuh kecurigaan.


"Mungkin hanya imajinasimu," desis Kaisar masih berusaha mengelak.


"Jawab saja Kai, kau bisa berubah menjadi manusia atau tidak?"


Kaisar menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya. Ia sadar kalau tidak ada gunanya berbohong. Adinda sudah mencurigainya.


"Bisa," begitu jawab Kaisar.