
Emerald City, Ruby Country, Oktober 20xx
Masa Sekarang, di sebuah kantor psikiater.
Dr. Valentino Rebecca, M.D
Psychiatrist
Duduk dengan melipat kedua tangannya di dada dan wajah sedih, akhirnya Adinda selesai menceritakan kegelisahannya.
Dr. Rebecca hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sebagai seorang ahli kejiwaan, Rebecca bisa melihat kalau gerak-gerik Adinda memang mengindikasikan kegalauannya terhadap kekasihnya dan ketidaktahuannya akan lokasi Kaisar, namun wanita itu bisa melihat kalau masih ada sejuta harapan yang terpancar di diri Adinda.
“Saya besok akan menikahi pria yang tidak saya cintai,” lalu Adinda melanjutkan ceritanya. Matanya tidak menatap ke arah Bu Rebecca, tapi ia melihat jemari wanita di depannya ini merespon saat Adinda mengucapkan kata menikah. “Saya bahkan tidak mengenalnya. Baru seminggu yang lalu kami bahkan bicara berhadap-hadapan,”
“Teruskan,” desis Bu Rebecca.
“Tapi di luar semua itu... saya sebenarnya tidak peduli akan diri saya sendiri. Namun yang saya bertanya-tanya, adalah mengenai Papa Saya,”
“Tuan Velladurai?”
“Ya Bu Rebecca, keadaannya mengkhawatirkan. Beliau mengurung diri di perpustakaan sejak calon suami saya mengaku di depan kami kalau ia lah yang membunuh Mama Saya,”
“Oh,”
“Saya tahu dia menyesal, dia tidak bisa menarik kembali perjanjian yang sudah dibuatnya dengan calon suami saya. Saya takut terjadi apa -apa padanya, Bu,”
Bu Rebecca mengangguk.
“Selama ini, semua langkahnya, semua tindakannya, diurus oleh Mama saya dan Valent. Setelah mereka berdua tidak ada, mendadak dia bagai kehilangan pijakan. Dia mungkin mencoba lepas dari pengaruh Valent dan pertama kalinya mencoba memutuskan suatu hal besar sendirian. Tapi saat itulah dia malah berbuat kesalahan,”
“Kesalahan apa itu?”
“Menyerahkan saya kepada Pangeran Conrad, Pemimpin Abizar Azzarro, untuk jadi istrinya. Dialah pembunuh Mama saya. Saya melihat kejadian itu di depan mata kepala sendiri Bu. Saya tidak lupa wajah itu. Kecantikannya bagai malaikat maut, Matanya yang merah penuh dendam, dan rambut putihnya yang panjang bagai menjerat semua hal baik. Ia sesosok Iblis. Bukan hanya siluman... dia adalah iblis itu sendiri,” Adinda berkata sambil menarik bibirnya.
“A-“ Bu Rebecca berhenti sejenak sebelum berbicara, entah apa yang ia pikirkan saat itu, “Abizar Azzarro memang terkenal kejam, Adinda. Dan sangat berpengaruh,”
“Saya tidak butuh pengaruh, Bu. Saya butuh keluarga saya. Papa, Kai, Valent, Orion... mereka keluarga saya. Saya ingin berada bersama mereka,”
Bu Rebecca mengangguk.
“Adinda, saya akan melakukan beberapa tes setelah ini. Prosedural saja, sih. Tapi kamu bisa menolak kalau tidak mau,” kata Bu Rebecca.
**
Dalam diam dan tegang, Bu Rebecca menatap dari jendelanya di lantai 3. Di bawah sana, ia bisa melihat Adinda ada di sebuah Cafe di depan gedung kantornya. Dia duduk di dekat jendela. sambil menyeruput kopi dari mug nya dan matanya fokus ke layar laptopnya.
“Hasil tes poligraf, negatif,” desisnya melalui ponselnya. “Dan gerak-geriknya juga alamiah,” begitu Bu Rebecca memberi laporan.
“Setidaknya kamu ada gunanya juga,” desis suara dari seberang telepon, suara Ayahnya, Valgar.
Lalu hubungan telepon pun terputus.
Ada gunanya...
Menyedihkan!
Valentino Rebecca menatap Adinda dengan iri.
Gadis itu dicintai banyak orang, diinginkan banyak orang.
Begitu istimewanya diri Adinda sehingga terasa menyesakkan.
Yang Rebecca inginkan sejak ia kecil hanya satu, dicintai orang tuanya. Ia bahkan tidak tahu ibunya siapa, yang ia kenal hanya Valgar dan ketiga saudara laki-lakinya.
Bukan keinginan Rebecca hidup seperti ini, tapi ia berserah pada takdir.
Rebecca menatap hasil tes poligraf.
Semuanya memang mengindikasikan mengenai ketidaktahuan Adinda akan kondisi Kaisar dari sejumlah pertanyaan yang diajukan ke diri Adinda.
Tapi...
Saat Rebecca menanyakan kalimat : “Apakah Kaisar masih hidup?”
“Aku tak tahu,” jawab Adinda waktu itu.
Tapi...
Rebecca sudah lama bertanya-tanya, kenapa ketiga kakaknya semua melawan Sang Ayah.
Yang terjadi di dalam asosiasi memang hal yang mengherankan. Bahkan, Rafael kini entah di mana berada. Ponsel pria itu tidak aktif, ponsel anaknya juga tidak aktif.
Jadi, ia merobek hasil tes poligraf Adinda.
Lalu memakai mantelnya dan jasnya.
**
Sekitar dua jam kemudian, seorang manajer cafe mendatangi Adinda.
“Bagaimana hidangannya?” tanya wanita yang menurut Adinda sangatlah cantik. Adinda saja yang sesama wanita sampai terperangah menatap wanita yang berdiri di depannya itu.
“Eh? Emm...” Adinda menatap mejanya dengan kikuk, hanya ada croissant pastrami dan kopi. “Enak,” hanya itu yang bisa ia sebutkan. Dari tadi Adinda merasa gugup, jadi dia bahkan tidak bisa merasakan makanannya. Ia asal makan saja yang penting ada kesibukan sampai ada yang menjemputnya.
“Nanti di basecamp kau harus makan banyak, kau kurus sekali, Adinda,” desis wanita itu.
Adinda sampai melongo mendengar wanita itu menyebutkan namanya.
Sampai mata wanita itu berubah menjadi kemerahan, dan Adinda langsung tahu kalau...
“Kau Olena,” tebal Adinda.
Ya, wanita berambut hitam berkulit kecoklatan eksotis. Bagaikan Putri Raja yang berwibawa. Garis rautnya yang tegas menandakan kalau wanita di depan Adinda ini menyimpan kekuatan yang dahsyat. Namun sikapnya anggun dan tenang di depan orang-orang.
Olena tersenyum lembut mengiyakan tebakan Adinda, “Kau jauh lebih cantik dan manis dibandingkan Agha, tak heran Kak Cyril langsung jatuh cinta padamu. Tampaknya keturunan Kirana memang yang membuat keturunan Agha menjadi jauh lebih baik,”
“Ehm! Terima kasih, tapi aku sungguh tidak peduli hal itu,” desis Adinda.
“Ya, kau benar, Adinda. Keturunan siapa pun engkau, kalau sudah takdirnya, kau akan bersatu juga dengan Kakakku,”
“Apa kau merestuiku?” Adinda tersenyum lembut.
“Tentu, kau gadis yang baik, apa yang harus kuingkari?”
Pipi Adinda merona, “Kau juga sangat...” Adinda menatap penampilan Olena, lalu jadi tidak percaya diri dan menutupi bagian dadanya, “Stunning,”
Kenapa adik Kaisar semuanya bagaikan Bidadari? Orion saja begitu indahnya, ditambah Olena, astaga... keluh Adinda.
“Terima kasih, Mari kita segera pergi, Kak Cyril sudah menunggumu. Kita mengobrol di basecamp saja,” Kata Olena.
Adinda langsung membereskan barang-barangnya dan berjalan mengikuti Olena. Mereka masuk ke dalam bagian dapur cafe itu.
“Tunggu!” sebuah teguran dari arah belakang mereka.
Olena dan Adinda berhenti dan menoleh ke belakang.
“Apa aku boleh ikut?” tanya Rebecca dengan wajah penuh harap.
“Ba-bagaimana kau...” desis Adinda gugup.
Tapi Olena mengangkat tangannya dan menatap Rebecca. “Tapi aku harus membiusmu dulu,” desis Olena.
“Apa pun yang dibutuhkan, kalian menyanderaku setelahnya tak boleh keluar dari penjara juga tak apa! Aku harus bertemu Michael, Gabriel dan Rafael!” desis Rebecca.
Olena memiringkan kepalanya.
“Rafael? Kau tidak tahu mengenai kondisinya?”
“Dia pasti sedang bersama Michael, mereka selalu berdua walau pun kami menugaskannya di organisasi yang berbeda, biasanya mereka selalu bertemu diam-diam,”
Olena terdiam, lalu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
“Wanita yang malang...” bisik si Phoenix. “Kau bahkan tidak tahu orang yang kau cintai membunuh kakakmu sendiri,”
“Eh?”
“Tidurlah,” Olena merapal mantra untuk membuat Rebecca pingsan tak sadarkan diri.