KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
darah


“Adinda?”


Samar-samar ia mendengar suara itu.


“Sayang? Bangunlah...”


“Hmh?” Adinda mengeluh. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


“Adinda, kekasihmu membutuhkanmu, hanya kamu yang bisa meredakan amarahnya,”


Adinda sadar...


Itu suara yang sangat ia kenali.


Suara Kirana, Ibunya.


Yang telah meninggalkannya saat Adinda 7 tahun.


Adinda membuka matanya.


Ibunya ada di depannya, menatapnya dengan sedih.


“Ibu kenapa?” tanya Adinda. Sepanjang hidupnya ia belum pernah melihat wajah ibunya seperti itu. Muram dan khawatir.


Di depan Adinda, ibunya selalu ceria dan lembut.


Saat itu Adinda menyadari satu hal.


Ia tahu ibunya sudah meninggal, ia tahu ini hanya mimpi atau dalam keadaan terbius. Atau mungkin juga ia sedang koma saat ini.


Tapi, ia merasakan kerinduan yang amat sangat terhadap sosok di depannya ini.


Adinda maju dan mendekat, hendak memeluk ibunya, namun sosok itu menembus tubuhnya.


Saat itu tahu ia berhadapan dengan wujud tak kasat mata dari ibunda tercintanya.


“Akhirnya kita bisa juga bertemu... selama ini ibu hanya bisa mengamatimu tumbuh menjadi gadis cantik,”


Adinda hanya bisa diam sambil menatap ibunya dengan sedih.


“Jangan sedih, sayang. Walau pun sebentar tapi saat ini berharga bagiku. Sekian lama aku mondar-mandir di sekitarmu karena ingin berbicara hal penting, tapi tenagaku tidak cukup. Sekarang sudah bisa karena baru saja darah siluman dan mengalir di tubuhmu,”


“Aku tidak mengerti, Ibu,” desis Adinda ragu.


“Adinda, ketahuilah satu hal ini,” desis Sang Ibunda.


“Ibu?”


“Berhati-hatilah dengan Sang Serigala. Ia tidak sebaik yang kalian kira...”


“Serigala?” Adinda mengernyit.


“Ia akan mewujudkan obsesi masa lalunya. Memiliki Sang Selir. Juga meraih Tahta Zafiry. Tapi dia tidak akan bisa mewujudkan semua itu tanpa restu Albert The Wizard. Karena itu selama 200 tahun ini, ia kehilangan arah...” Sosok Kirana mulai menghilang.


“Ibu? Mungkinkan ibu meninggalkan kami karena...”


“Aku menemukan Kitab itu, karena itu dia melenyapkanku sebagai hukuman. Tapi Xavier tidak tahu. Sebisa mungkin, kau jangan jauh-jauh dari Sang Harimau, Kekasihmu...”


“Apa ibu?”


Tapi sosok Kirana sudah lenyap sepenuhnya,


Berganti dengan sosok wanita memanggil-manggilnya.


“Adinda? Hey Adinda?”


Adinda membuka matanya.


Buram dan sekujur tubuhnya terasa sangat nyeri.


“Adinda, kau melindur sambil menangis,” kata Orion dengan terisak.


“Orion?”


“Aku pikir kami akan kehilangan kamu, wajahmu pucat sekali Adinda...” desis Orion.


“Aduh... sakiiiit!” keluh Adinda


“Pain killernya mulai habis efeknya, sebentar, aku hubungi suster,” Orion akan beranjak dari duduknya saat Adinda meraih lengannya dan menggeleng.


“Orion, baru saja aku memimpikan ibuku,” desis Adinda sambil menggenggam erat tangan Orion.


“Ah!” Orion duduk lagi, lalu menatap Adinda dengan serius, “Kau beruntung sekali Adinda. Aku bahkan tidak bisa memimpikan ibuku,” desis Orion muram.


Adinda yang tahu mengenai hal menyedihkan mengenai Kerajaan Zafiry hanya bisa terkulai lemas. “Mereka akan menemukannya. Ayah dan ibumu akan ditemukan,”


Orion menunduk. “Kita lihat saja. Aku sudah tidak memiliki harapan lagi akan menemui mereka dalam keadaan tersenyum,”


“Orion,” Adinda mempererat genggamannya, “Ibuku ditembak di depan mataku, saat Papa sedang pergi,”


Orion mengangkat wajahnya dan terbelalak menatap Adinda, “Astaga, Adinda...”


“Aku berusia 7 tahun dan sangat ketakutan saat itu. Ibu berusaha melindungiku. Dia bilang ‘aku yang menyebabkan semua ini, ku yang menemukannya. Jadi jangan ganggu anakku’,” Adinda menghela nafas, “Dan orang itu menembak ibuku,”


“Dia membiarkanmu...” gumam Orion.


“Ya, dia bilang... aku mirip dengannya, jadi tidak dibunuh,” desis Adinda.


“Dengannya?”


Adinda mengangkat bahunya, “Entahlah siapa yang ia maksud,”


“Siapa orang itu? Apakah dia tertangkap kamera?”


“Tidak, dia hilang tanpa jejak. Tapi aku mengingat samar-samar sosoknya,”


“Seperti apa?”


“Perawakannya tinggi, sangat tinggi. Memakai baju hitam-hitam, dengan jubah panjang. Matanya menyala, dan rambutnya keperakan... panjang sekali sampai ke pinggang,”


Orion terdiam mendengarnya.


Ia tahu sosok semacam itu. Kakaknya, Conrad, memiliki sosok yang mirip. Namun ia masih ragu untuk menyamakannya. Karena bisa jadi Conrad pun masih hilang entah kemana. Apakah masih hidup atau sudah meninggal, semua masih dalam keadaan tanpa kepastian.


“Dia tampan dan...” Adinda bergumam mencoba mengingat. Ada hal yang hilang di ingatannya. Sesuatu yang penting.


Gadis itu memejamkan matanya.


“Mungkin kamu shock waktu itu , kamu kan juga masih kecil,”


“Hey, Orion...”


“Ya?”


“Apa ada darah siluman yang mengalir di tubuhku? Kau pasti bisa mengendusnya kan?”


“Ah, kalau itu... baru saja aku men-transfusikan darahku padamu. Kau kehilangan banyak darah soalnya,”


Mata Adinda membesar, “apakah tidak apa-apa seperti itu?”


“Golongan darahmu O-, jenis yang katanya hanya dimiliki sekitar 2,55 persen populasi dunia, tapi hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah yang sama,”


“Memang apa jenis golongan darah bangsa siluman sepertimu?”


“Bisa dibilang kami ini rh-null sekaligus universal. Kami bisa mengubah DNA kami sendiri. Menyesuaikan. Tidak logic memang, kau tahu sendiri kemampuan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan MakhlukNya," desis Orion.


"Ya ampun Orion, berkatmu ibuku bisa menemuiku barusan. Terima kasih," Adinda menarik Orion ke dalam pelukannya dan ia mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


Orion menarik nafas panjang dan membenamkan kepalanya di bahu Adinda, "Terakhir kali kami bertemu, ibuku memelukku seperti ini, karena saat itu aku sedang sakit..." gumam Orion.


Adinda tak bergeming.


sekian detik dalam diam mereka saling berpelukan, sampai Adinda merasakan bahunya hangat.


Air mata.


Bahunya hangat karena tetesan air mata.


Orion sedang menangis dalam diam.


Adinda memberinya waktu untuk menumpahkan segala kesedihan.


Kalau bisa, ia luangkan waktu selama mungkin untuk sahabat barunya ini. Namun seperti yang kita tahu, mereka sedang di tengah sebuah misi penting.


transceiver Orion berbunyi 'beep', menandakan seseorang menghubunginya. "Tim A masuk," desis suara dari seberang sana. Suara Alfredo.


"Orion dan Adinda di sini," desis Orion.


Adinda memperhatikannya. Ia sudah cukup kagum saat pertama kali mendengar kalau teknologi di Zafiry cukup maju, lebih canggih daripada dunia di zaman sekarang. Namun tetap saja ia terpukau melihat Orion dan gadgetnya.


"Kami menemukannya. Raja dan Ratu Zafiry," suara Valent dari ujung sana.


Suaranya bergema, sepertinya ia sedang berada di dalam sebuah hangar. Adinda langsung tahu kalau Valent dan teman-temannya sudah di basecamp.


Markas yang mereka sewa, letaknya berjauhan dari Kastil Velladurai. Bentuknya bekas pabrik konveksi, mereka gunakan untuk menyimpan emas sebelum dibagi rata.


"Kalian sudah menemukan Ayah dan Ibuku? Bagaimana keadaan mereka?" suara Orion penuh pengharapan.


Lalu dari arah belakang, terdengar...


Auman Kaisar.


Kencang sekali.


Suaranya bergema memenuhi sudut ruangan, sampai transceiver mereka bergemerisik.


Saat itu Orion tahu...


Sudah pupus harapannya untuk sekali lagi memeluk ibunya.


**


Di lain tempat.


Pangeran Conrad menoleh ke samping, ke luar jendela. Ia mendengar Auman itu.


Belakangan ia sering mendengarnya. Kadang bernada marah, kadang sedih dan memilukan seperti saat ini.


ia hanya terpaku menatap langit malam yang gelap.


Luka akibat tembakan di bahunya sedikit demi sedikit tertutup.


Ia sudah makan malam ini, darah seorang wanita malam yang baru saja ia hisap habis. Jadi staminanya cepat pulih.


Auman itu panjang dan memilukan.


Pangeran Conrad hanya menatapnya tanpa ekspresi. Seakan ia sudah tahu beginilah hasilnya.


"Salahmu sendiri, Kak..." desis Pangeran Conrad, "Kau terlalu sombong karena Ayah Ibu memanjakanmu, memberimu semuanya. Kau punya segalanya,"


Pangeran Conrad berdiri dan menuju jendela. Lalu menyeringai.


"Kita lihat apakah kau sanggup menghadapiku setelah 200 tahun tertidur,"


Lalu ia menyambar ponselnya dan menekan rangkaian nomor.


"Mau apa kau menelponku Abizar?! Aku sedang sibuk!!" seru Xavier Velladurai kesal dari seberang telepon. Pria itu mengangkat telepon dari Conrad setelah dering pertama.


"Aku mau mengajukan penawaran untukmu," Kata Conrad.


"Apa lagi?! Awas kau main curang! Aku akan segera melenyapkanmu!!"


"Bagaimana kalau kita bersatu? Azzarro dan Velldurai bergabung. Kau bisa jadi pemimpinnya... asal aku dapat deviden 50% setiap tahun,"


Hening dari seberang sana.


"B-b-bergabung? Rencana licik apalagi ini?!" desis Xavier akhirnya.


"Kau bisa kuasai Azzarro asalkan... serahkan putrimu padaku,"


"Apa maksudmu dengan kata 'serahkan' itu?" gumam Xavier waspada.


"Mungkin.. aku mengajukan pernikahan bisnis,"


"Kau gila?"


"Sejak kapan aku waras?"


"Ah iya, Kau gila dan jahat. Tapi kau juga jenius,"


"Aku sudah hidup cukup lama sampai tahu bagaimana cara menangani kalian, dasar bocah-bocah ingusan..." desis Conrad licik.