
Dini hari, Kaisar pulang ke Kastil Velladurai. Valent hanya bilang ke anak buah Xavier yang lain kalau mereka baru kembali dari pesta. Xavier bahkan agak menggerutu mengomeli Valent karena besok ada pertemuan penting tapi Valent malah enak-enakan berpesta.
Tanpa Xavier tahu kalau di basecamp ada banyak sekali kejadian.
Valent hanya bertanya ke Xavier mengenai Telur Phoenix, “Bagaimana? Telur burung untamu sudah menetas?”
Xavier hanya mengangkat bahunya sambil cemberut.
“Sekali lagi kau membuang-buang uang. Tahu begitu kan lebih baik kita membeli senjata dan bahan makanan,” Valent berlagak mengomeli Xavier. Xavier hanya mengibaskan tangannya, tanda ia sedang pusing.
“Kau gemar sekali sih mengomeli Xavier,” desis Kaisar.
“Bocah itu walaupun terlihat bodoh dan seringkali polos, tapi sebenarnya instingnya lumayan tajam. Aku terkadang memang suka kasihan padanya,”
“Terkadang,”
“Iya, kasihannya kadang-kadang saja. Sisanya lebih banyak sebalnya. Tapi kalau masalah kamu, tidak terhitung dalam sehari berapa kali aku sebal padamu,”
“Jangan berani-berani kau membandingkanku dengan Xavier, dasar Dukun Santet,” gerutu Kaisar.
“Pangeran Tukang Ngompol,” balas Valent.
Kaisar mengulurkan kaki harimaunya dan menjegal Valent sampai pria itu terjatuh tersandung.
Lalu Harimau itu masuk ke dalam kamarnya sendiri sambil tak lupa memandang Valent dengan sinis yang memang sudah jadi kebiasaannya.
**
“Kau sedang apa?” Orion terbangun dan memeluk tubuh telanjang Valent dari belakang sambil menciumi leher pria itu. Dadanya yang besar ia tekan untuk merayu Valent dengan lebih intens.
“Membebaskan kutukanku,” desis Valent. Ditangannya ada bola api berwarna hijau yang berputar bagaikan ****** beliung.
“Kutukanmu ke siapa?”
“Hm... mereka pantas mendapatkannya jalan cinta mereka lumayan terjal,”
Orion berhenti merayu, “AH, ke kakak dan Adinda,”
“Hm,” gumam Valent lagi.
"Kapan sih kau merapalkan kutukan untuk mereka?"
"Dulu,"
"Dulu?!"
"Dulu sekali, sehari sebelum peperangan. Aku kesal dengan Cyril. Aku merapal mantra yang bilang, dia tidak akan bisa mengambil kegadisan Sang Ratu, sebelum aku mengizinkannya,"
"Jahat kau... dasar jahil!" Orion terkekeh.
“Tapi Kau kan menyukai Adinda, sudah ikhlas lahir batin ya?”
“Tampaknya, aku tidak terlalu menyukainya, karena dia maupun Agha hanya pelampiasanku dari seorang Putri Ceroboh yang kerjanya melepas afrosidiak,”
“Siapa?”
“Dia sangat cantik dan selalu merayuku untuk bercinta. Sampai-sampai aku terbayang masa depan bersamanya dan memiliki banyak anak darinya,”
“Hehe,” tangan Orion merambat dan membelai tubuh sensitif Valent dengan perlahan. “Aku mencintaimu, Penyihirku,” bisik gadis itu.
Valent tersenyum.
Ia merasakan suatu hal yang memabukkan di dalam hatinya. Melebihi feromon, melebihi miras, melebihi psikotropika.
Rasa Cinta.
Manis sekali terasa di relung hatinya.
“Aku juga mencintaimu,” balas Valent sambil menoleh ke samping dan mencium pipi Orion. Tidak butuh waktu lama sampai ciuman itu menyerang ke seluruh tubuh Orion dan pelukan Valent yang hangat menyelimuti gadis itu.
Bisa dibilang, percintaan mereka kali ini lebih penuh makna karena semua rahasia sudah terlepas.
“Aku tidak ingin berpisah darimu untuk yang kedua kalinya,” desis Orion saat mereka hampir sampai ke puncak.
“Aku juga tidak ingin,” Valent mempercepat gerakannya menjadi lebih cepat, disertai pekikan kencang dari Sang Putri. “Mungkin sekarang, Bisa jadi aku akan seperti Conrad, kubuang semuanya demi kamu,”
“Astaga, Gabriel,” des4h Orion dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, tapi bercampur khawatir.
“Sebentar...” desis Gabriel tiba-tiba sambil menghentikan gerakannya
Orion memekik kesal, “Gabriel! Aku sudah hampir sampai!”
Valent menyeringai dan menatap Orion dengan mata berkilat, “Bagaimana kalau kau mengubah setengah tubuhmu jadi ular. Mungkin area pinggang ke bawah,”
Orion ternganga mendengarnya, “Ya Ampun dasar psycho...”
“Ayolah, sayang... aku ingin merasakan bagaimana kalau area bokongmu menyatu dan bentuknya-“
“Ku-ubah dari pinggang ke atas saja,” gerutu Orion
“Jangan dong jadinya malah lucu, nanti seperti dinosaurus tapi kakinya kecil, malah aku eneg melihatnya,”
**
Kaisar termenung sambil menatap air terjun buatan di depannya. Ia saat ini berada di dalam jacuzzi raksasa miliknya, menikmati air hangat merendam tubuh manusianya yang tinggi besar.
Ia bisa merasakan, mungkin saja ini terakhir kalinya ia melihat mahakarya ini di kamarnya. Ia tidak bisa menjamin dirinya akan baik-baik saja besok.
Begitu pikirnya.
Perjanjian darah memang sesuatu yang sakral. Lebih mengikat dari pernikahan ala manusia. Bisa dilakukan apabila pihak yang berkaitan dengan kedua mempelai setuju. Dalam hal ini adalah keluarga sang siluman.
Itu berarti, ayah dan ibu kedua belah pihak yang berjenis siluman. Kalau mereka berdua tiada, bisa saudara–saudara kandung dari si siluman yang sedang dalam kondisi sehat dan waras.
Ia teringat saat menawari Adinda hal itu di awal. Sebuah Perjanjian darah untuk mengikat cinta mereka berdua.
Ia mengira saudara-saudaranya semua setuju. Lalu Orion menyatakan kalau ia menentang. Karena gadis itu tahu Adinda adalah keturunan Agha.
Dan Agha adalah biang masalah di sini.
"Astaga, Agha…" Kaisar mengusap rambutnya yang basah.
Sungguh, ia tidak habis pikir wanita itu akan berperan besar ke dalam kehidupannya. Ia tidak pernah mencintai wanita itu.
Agha memang berulang kali bilang mengenai perasaannya. Bahwa dia sangat memuja Sang Pangeran, juga akan melakukan apa pun untuk kesenangan Cyril Si Harimau. Termasuk sebuah pernikahan.
Namun Kaisar tidak mengindahkannya.
Kaisar tidak memiliki perasaan terhadap Agha. Seorang Ratu adalah partner sejati seumur hidup, harus orang yang bijaksana, sejalan pemikirannya, dan benar-benar dicintainya. Dan menurut Kaisar, Agha tidak memenuhi kualifikasi. Wanita itu bukan seorang pemimpin, ia menyukai kemewahan, dan ia tidak terlalu bijaksana.
Namun… Adinda, berbeda seratus delapan puluh derajat.
Pertama kali melihat Adinda, Kaisar sudah menyukainya.
Kaisar pun berdiri dan melilit pinggangnya dengan handuk, lalu berjalan menuju Kamar Adinda.
**
Langkah beratnya menapak ke lantai batu di kamar gadis itu. Pintu penghubung yang terbuka tidak membuat Adinda terbangun, gadis itu meringkuk di ranjang besarnya.
Kaisar menarik selimut Adinda dari bawah kaki gadis, lalu ia biarkan kain sutra itu teronggok di lantai.
Sepasang kaki dengan betis langsing, mulus berkulit warna gading. Tanpa sehelai benang pun, hanya ada perban di bagian pinggangnya.
Kaisar membelai kaki itu, lalu mengecup jemari mungilnya dengan lembut.
Ciumannya perlahan merangkak naik ke mata kaki, dan betis Adinda. Seinchi demi seinchi ia belai dengan bibirnya.
Terdengar des4han pelan Adinda, tanda ia merasakan sensasi yang menggelitik kulitnya. Gadis itu masih tertidur pulas.
Sampai di area paha, Kaisar berhenti.
Tubuhnya sudah mengeras sepenuhnya tapi ia masih menahan diri. Ia akan memperlakukan gadis yang dicintainya ini selembut yang ia bisa.
Ia rentangkan paha Adinda.
Belahan mungil di tengah area paha, sebuah mawar pink yang merekah.
Kaisar menjilat bibirnya tanda ia sangat lapar.
Bagian wanita sudah sangat ia hafal, setiap lipatan, lekukan dan keindahannya sudah di luar kepalanya.
Tapi milik Adinda benar-benar menggugah seleranya. Kaisar pun mendekat, lalu mengeluarkan lidahnya.
Ia rasakan sedikit area tengah.
Berikutnya ia tak dapat lagi menahan dirinya.
Adinda terasa bagaikan buah yang rasanya sangat manis, dengan wangi bunga yang tercampur ke dagingnya. Ia rasakan semua dengan lidahnya. Rakus dan menuntut. Dengan perasaan haus, ia hisap seluruh cairan yang keluar, sampai Adinda terbangun dengan gairah yang menggebu.
"Kais- Ooh astaga!" pekik Adinda kaget sambil melengkungkan tubuhnya. "Aaah, aaah, Kaisar!"
Dan sekali lagi ia memekik. Tangannya berada di atas kepala Kaisar, meremas rambut pria itu.
Adinda masih perawan, tidak ada pengalaman apa pun dengan pria. Kini ia merasa tangan besar Kaisar dibatas dadanya, meremasnya dengan gairah yang menggebu.
Ia jelas sangat ketakutan, namun tidak kuasa menolak.
Tanpa disadarinya, reflek ia rentangkan lebar-lebar pahanya dan ia tekan kepala Kaisar untuk lebih erat.
Jemari Kaisar menangkup bokongnya dan meremasnya. Desisan penuh kenikmatan dari bibir tipis Adinda, dan juga penyerahannya, membuat Kaisar menyudahi aksinya itu.
Pria itu menarik lidahnya kembali dan naik ke atas ranjang.
Adinda terbaring dengan lemas, nafasnya terengah-engah.
"Lagi-lagi kau tidak berpakaian," gumam Kaisar dengan suara serak.
"Lagi-lagi kau masuk kamarku diam-diam," sahut Adinda masih dengan nafas yang tidak beraturan.
Kaisar membelai pinggang Adinda yang terluka, "Rasanya akan tidak menyenangkan di awal,"
Adinda melirik tubuh Kaisar yang ukurannya membuat ia menelan ludahnya karena khawatir. "Aku yakin kau bisa memperlakukanku dengan baik," ujar Adinda.
Kaisar tersenyum tipis, matanya yang berwarna membara menatap Adinda dengan lembut.
Lalu ia tempelkan ujung tubuhnya ke area kuncup Adinda, dan ia belai dengan perlahan untuk mer4n9sang gadis itu. "Kau merasakannya?" tanya Kaisar.
Adinda mendesis sambil memejamkan matanya, gadis itu mengangguk perlahan. Cairan keruh keluar dari tubuhnya, membasahi ujung tubuh Kaisar.
"Lakukan, masuklah… Kuserahkan semuanya padamu," desis Adinda sambil mengambil tangan Kaisar, lalu menyelipkan jemari-jemari lembutnya ke sela-sela jemari kokoh lelaki itu. Dan mencium punggung tangan Kaisar.
Kaisar tersenyum penuh rasa sayang. Ia mengangkat pinggul Adinda sedikit lalu memasukinya.
Adinda tersentak dan membelalak. Rasa perih dan terbakar langsung menyerangnya. Ia berusaha menahan benda asing yang masuk ke tubuhnya. Tapi ia juga tidak rela mengeluarkan benda itu keluar tubuhnya.
"Kais-" nafasnya tertahan.
Kaisar menggeram. Lalu kembali menghujam tubuh Adinda.
Berkali-kali.
Sebanyak mungkin sampai ia tak sadar akan keadaan sekitarnya.
Yang ia pedulikan hanya Adinda yang kini sedang berteriak-teriak penuh gairah di bawahnya.
**
Gallard dengan terseok-seok menghampiri meja di depannya untuk mengambil air mineral yang tersedia di teko kristal di atasnya.
Dengan tangan yang masih gemetar ia mengangkat gelasnya dan mendekatkan ke bibirnya.
Air yang mengalir di tenggorokannya terasa menyejukkan.
"Gale,"
Drakk!!
Gallard menjatuhkan gelasnya dengan kaget.
Olena di depannya, menatapnya dengan ekspresi yang susah dijelaskan. "Kau mengagetkanku,"
"Kau masih kurang darah," kata Olena.
"Kamu minum banyak sekali, Princess, mana mungkin aku sembuh sesingkat itu," Gallard menunduk untuk mengambil gelas di lantai. Tapi Olena keburu membungkuk untuk mengambilkan gelas itu.
Gallard mengambil gelas itu dari tangan Olena, lalu menatap wanita di depannya ini.
"Kau lihat apa yang kulihat," desis Olena.
"Kau juga melihat apa yang selama ini kulihat," gumam Gallard.
"Olena Zafiry Of Gale? Bisa-bisanya kau kepikiran untuk memanggilku dengan sebutan itu…"
Gallard tersenyum tipis sambil menunduk malu, "Aku sudah tertarik padamu saat pertama kulihat matamu,"
"Lalu?"
"Yang kupikirkan saat itu, bagaimana kau bisa ingat jati dirimu, sekaligus menjadi milikku," kata Gallard sambil menegak air mineral.
"Terima kasih, sekali lagi," kata Olena.
Gallard mengangguk.
"Karena kini, bisa dibilang kita sudah menyatu, Kau lihat bayangan yang barusan?" tanya Olena.
Gallard mengangguk.
"Kejatuhan Kaisar…" desis Gallard tegang. Visi itu yang membuatnya dari tadi gemetar. Bukan karena kurang darah, tapi karena perasaan takut.
"Dan kematian seseorang…" kata Olena menambahkan.
Gallard mengangguk lagi, "Kita harus siapkan rencana cadangan,"
**