KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Brangkas Emas


"Kami duluan yang turun," desis Valent sambil mencegah Kaisar.


Dengan mengernyit, Kaisar menatap Valent.


"Kenapa harus kamu? Mau menjarah benda pusaka sebelum kularang?"Kaisar tersinggung diberi perintah oleh seorang manusia.


"Kau terlalu berprasangka buruk mengenaiku," desis Valent.


Dari luar menara terdengar teriakan orang-orang yang panik. Alfredo dan Echo datang dengan kantong plastik jenazah. Mereka tersenyum masam ke arah Kaisar.


Sampai sekarang mereka belum memberitahu siapa pun bahwa Adinda di rumah sakit. Kaisar dan Valent hanya tahu kalau Adinda bersama dengan Orion. Untungnya Adinda cepat ditangani.


Setelah memastikan Adinda beristirahat dan ditangani dengan baik di rumah sakit, Alfredo dan Echo kembali ke Quon untuk mengemudikan truk pengangkut.


Kaisar masih tidak mengerti arti darri senyuman penuh keprihatinan yang dilayangkan padanya.


"Jelaskan padaku arti raut wajah kalian sekarang,"


"Masa kau tak mengerti sih?!" gerutu Valent. "Pokoknya kau jaga di luar. Kami bertiga tangani jenazah orang tuamu. Setelah itu kau masuk dan mencari hal-hal pentingmu,"


Valent menuruni anak tangga, diikuti Alfredo dan Echo.


Kaisar menatap mereka bertiga sambil menghela nafas.


Valent benar.


Apa jadinya ia saat melihat tubuh orang tuanya sudah tidak bernyawa. Kaisar juga tidak ingin kehisterisannya merugikan orang lain.


Jackal menghampiri Kaisar yang sedang menunggu dan menyerahkan ponselnya. "Boss, dari Gallard," kata Jackal.


"Kayaknya aku butuh ponsel juga," desis Kaisar.


"Anggap saja sudah dibelikan, kamar barumu akan siap besok pagi," desis Jackal sambil tersenyum.


"Ya?" sapa Kaisar di telepon.


"Boss Kais, ada hal penting yang akan kuberitahukan padamu,"


"Apa itu?"


"Apa ada kerabatmu yang wujudnya serigala?" tanya Gallard dari seberang telepon.


Kaisar mengernyit karena merasa aneh dengan pertanyaan itu. Karena walau pun Valent mengetahui latar belakang keluarganya lewat kitab Zafiry, tapi tidak ada anak buah yang lain yang diberitahu. Jadi kecil kemungkinan mereka tahu bentukan dari wujud SIluman adik-adiknya. "Ada, adikku yang kedua, Pangeran Conrad," jawab Kaisar.


Terdengar helaan napas Gallard. "Aku dan Luis baru saja bertemu dengannya,"


"Kamu bercanda ya?"


"Luis bahkan menembaknya,"


"Dia serigala hitam raksasa yang besar sekali, melompat ke arah Gale! Tentu saja aku menembaknya!!" terdengar suara Luis yang panik sebagai latar belakang.


"Mungkin hewan lain dari dalam hutan?" Kaisar masih ragu.


"Hutan yang mana? Di Emerald City tidak ada hutan, adanya kebun," kata Gallard.


Hati Kaisar terasa bergemuruh. Ada rasa semangat dalam hatinya, juga rasa syukur dan kelegaan mendengar adiknya masih hidup. Tapi kalimat Luis yang tadi membuatnya ragu kalau itu adalah Pangeran Conrad. Karena adiknya itu tidak pernah menyerang manusia.


Conrad adalah pria terlembut yang Kaisar tahu.


“Boss Kais, kita bicarakan setelah nanti bertemu! Aku lagi ngebut ke basecamp untuk mempersiapkan gudang. Pokoknya kau sdudah tahu kalau ada siluman serigala berkeliaran. Ah, dan satu lagi, Wujud manusianya mengenakan seragam Abizar Azzarro!” Dan sambungan telepon pun terputus.


Kaisar menatap Jackal yang juga menatapnya dengan alis terangkat. Saking hebohnya suara Gallard dan Luis, Jackal yang berdiri di dekat Kaisar saja sampai bisa mendengarnya.


“Siapa asaro ini? tanya Kaisar.


“Abizar Azzarro adalah saingan Velladurai, menguasai 6 dari 7 distrik di Ruby City,” kata Jackal.


“Ah! Valentino pernah membicarakan itu denganku,”


“Ya, mereka lebih banyak bergerak di property. Entah bagaimana aset mereka di pertanahan lumayan banyak, usaha mereka tambang batu mulia, batubara, dan mereka mendirikan banyak sekali area casino dan club malam,”


“Pertanahan ya…” gumam Kaisar. Ia teringat satu hal, namun harus ia kaji ulang setelah situasi membaik.


“Ada rumor kalau tiga perempat tanah di Ruby City ini sebenarnya milik mereka, tapi Pemerintah membelinya. Makanya hubungan mereka dengan Pemerintah sangat erat. Kita belum bisa menggapai mereka,”


Kaisar mencerna semua ucapan Jackal.


**


“Kaisar tidak boleh melihat ini…” gumam Valent saat melihat pemandangan di depannya.


Alfredo dan Echo juga terperangah. Tapi dengan ngeri.


di sekitar mereka adalah gudang bawah tanah seluas setenga hektar… 5000 m2 dipenuhi dengan emas dan berlian. Penuh sampai ke atap.


Valent merekrut anak buahnya dengan cara yang lumayan persuasif. Ia membangun rasa persaudaraan yang kuat diantara setiap individunya. Juga mengajari bahwa jangan sampai harta dan wanita merenggangkan hubungan kekerabatan mereka. Contoh yang dapat menghancurkan mereka sampai ke tulang sum-sum karena dua hal itu sangat banyak. Sehingga pada akhirnya yang mereka inginkan hanyalah membunuh diri.


Jadi, melihat tumpukan emas dan benda mulia di sekitar tidak membuat mereka terperangah. Justru mereka langsung waspada.


dan bagaimana mungkin selama ini tidak ada yang tahu?


Untuk apa Quon menyimpan sebanyak ini, tapi tidak menggunakannya.


Dengan harta sebanyak ini bisa saja Quon melejit menjadi organisasi nomor 1. Mengingat sifat Quon yang serakah.


Jadi, mereka belum menyentuhnya. mereka takut ada kutukan atau sensor panas yang membuat mereka langsung mati dalam sekejab.


Tapi bukan itu yang mereka perhatikan sekarang.


Di depan mereka,


ada dua kepala Singa berbulu putih. Ukurannya sangat besar, dua kali lebih besar dari ukuran kepala Kaisar. Mata mereka yang redup menatap kosong ke arah depan. Tapi Valent bisa melihat bias sinar kemerahan di pupil mereka. Mungkin tadinya warna matanya sama dengan Kaisar dan saudaranya.


Dari mahkota yang ada di kepala mereka, terlihat jelas kalau posisi mereka sangat penting di sebuah kerajaan. Mungkin saja Raja dan Ratu.


Di atas dahi mereka terdapat guratan yang sama dengan yang dimiliki Kaisar dan Orion. Lambang Kerajaan Zafiry.


Namun yang mengenaskan… di bawah kepala itu ada sebuah peti kaca. Di dalamnya ada kerangka dengan banyak panah di sela-sela rusuk mereka.


Kerangka manusia, tanpa kepala. Tangan dan kakinya dipajang terpisah dari tubuhnya. Dengan kata lain terpotong menjadi beberapa bagian.


Masih mengenakan armor dan pakaian dari helaian kain sutra berkualits tinggi yang indah. Darah kehitaman membasahi setiap sudutnya.


Dari kesan yang didapat, Entah bagaimana caranya keduanya dipenggal dalam keadaan setengah berubah wujud. lalu tangan dan kaki manusianya dipotong.


Dan dijadikan pajangan.


“B-B-Boss… bagaimana cara kita mengangkut tubuh sebesar itu?”


Valent menggenggam kedua tangannya menahan geram. Ia sangat marah dan sedih.


“Satu per satu kita turunkan, masih dengan petinya. Tutupi sebisanya. Perlakukan mereka seperti itu jasad kedua orang tu akita sendiri,” Valent mengambil nafas panjang. “Aku butuh lebih banyak orang,” gumamnya kemudian.


**


Kaisar berdiri dengan melipat kedua lengannya di dada, menatap satu persatu anak buah Valent turun, tapi mereka naik kembali dalam kondisi mengangkut peti yang ditutupi kain. Ada 10 peti yang dinaikkan, dan beberapa orang tampak terisak saat membawa peti itu naik ke truk.


Kaisar sampai mengernyit merasa aneh.


Apa yang mereka angkut?


Tapi instingnya memutuskan untuk mempercayai Valent.


Alfredo selesai menaikkan peti ke sepuluh ke dalam truk, lalu menghampiri Kaisar.


“Boss,” desisnya. “Apa pun yang terjadi, aku ingin kau tahu bahwa kami semua adalah temanmu. Kami peduli denganmu,” katanya.


Lalu pria itu mengangguk menghormat dan kembali turun ke bawah tanah.


Kaisar menatap sosok Alfredo dengan tegang.


Valent naik dan merenggangkan lehernya. “Bro,” sapanya.


“Kau pasti tidak akan bilang yang terjadi kan?” desis Kaisar.


Valent tersenyum tipis. “Tadinya, Iya. Aku tak ingin menunjukkannya padamu karena takutnya kau emosi dan mengacaukan semuanya,” desis Valent.


 Lalu pria itu mengangkat wajahnya dan memandang Kaisar, “Tapi saat di bawah sana dan memperhatikan semuanya, aku berubah pikiran lagi. Dari semua orang, justru kau yang harus tahu. Kau anak mereka. Kuanggap kau seorang Raja dan sudah bisa mengendalikan emosimu,”


Mendengarnya, bukannya tenang Kaisar justru malah gusar. Suatu hal yang diluar kebiasaan Valent membicarakan sesuatu dengan nada serius seperti itu.


“Apa maksudmu bicara begitu? Apa yang terjadi di bawah?! Dan peti-peti apa yang mereka angkut itu?!” Kaisar memberondong Valent dengan pertanyaan.


Namun kalimatnya langsung berhenti saat Valent mengangkat benda di tangannya yang ditutupi kain.


Valent membuka benda itu dengan tangannya..


Mahkota Ayah Kaisar. Raja Zafiry..


Kaisar langsung tahu kalau itu milik ayahnya karena Mahkota emas itu bertahtakan batu Ruby warna putih yang langka. Warna Rubynya menandakan kalau yang terakhir mengenakannya adalah Makhluk dari dataran tinggi yang dipenuhi salju. Dan ada dua makhluk dari kerajaan Zafiry yang berasal dari daerah bersalju…


Yaitu Ayah dan Ibunya. Para Singa Tundra.


Tubuh Kaisar gemetar.


Nafasnya semakin memburu.


“Kaisar, yang kehilangan kedua orang tua bukan hanya kamu, setengah dari orang-orang disini juga melihat kedua orang tua mereka mati di depan matanya sendiri, adik dan kaka, kerabat mereka, anak-anak mereka... Kau lebih beruntung karena tidak melihat kejadiannya langsung, rasa traumatis pasti ada. Tapi aku lebih menghargai pengendalian diri, sesulit apa pun itu, maaf, tapi simpan dulu rasa dukamu sampai di basecamp nanti…”


Ucapan Valent, tegas dan lugas, namun tetap menunjukan empati.


Ucapan seorang pemimpin. Jati dirinya yang sebenarnya.


Dan jelas ia lebih berpengalaman memimpin di bandingkan Kaisar dan sudah sering menghadapi situasi semacam ini.