KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Ibu-ibu Mereka


“Kai!!” Adinda langsung berlari saat keluar dari mobil dan menubruk Kaisar dengan pelukannya. “Astaga aku rindu sekali padamu!”


“Aku juga merindukanmu,” Kaisar mencium bibir Adinda sambil memeluknya. Baru seminggu terpisah, mereka bagaikan dua insan yang dipisahkan oleh dimensi bertahun-tahun. “Aku juga... merindukanmu,” sekali lagi Kaisar bergumam.


“Banyak yang ingin kuceritakan padamu Kai, mengenai Papaku dan saudaramu,”


Kaisar mengangguk sambil membopong Adinda masuk ke dalam mobil.


Mereka sudah tidak peduli yang lain, dunia ini milik berdua.


“Dia tidak menyapaku,” desis Valent dengan wajah sinis, “Aku yang lebih dulu mengenalnya selama 13 tahun ini, dan saat kembali bertemu dia tak acuh padaku,” gerutu pria itu perihal Adinda.


“Ya mungkin dia berpikir gara-gara kamu semua ini terjadi,” kata Olena.


“Tidak adil, tahu,”


“Aku harus bagaimana?!”


Lalu mereka berdua menatap ke arah tubuh tak sadarkan diri di dalam mobil.


“Kenapa Becca ada di sini?” raut wajah Valent mulai tegang, “Dia adalah anak yang paling setia pada Ayahku,”


“Dia bertanya mengenai Rafael dan ingin bertemu kalian,”


Valent menghela nafas, “Aku tidak terlalu mengenal Becca terus terang saja, tapi ayahku merekomendasikannya sebagai mata-mata berbakat. Jadi dia kubuat menjadi psikiater Velladurai. Selain membantu pekerjaannku, juga menekan biaya pengeluaran untuk perawatan pasca traumatik,”


“Wah! Bu Rebecca! Ini Bu Becca!!” seru Luis. Gale dan Alfredo mendekati mobil dan menunduk untuk melihat wanita yang terbius di dalam.


“Benar!” seru mereka kaget.


Valent mengangkat bahunya dan tersenyum getir ke Olena, “Mereka bertiga pasien-pasien tetap Becca, terlalu banyak hal mengerikan yang mereka lihat saat bekerja,”


"Dan hal-hal mengerikan itu gara-gara siapa? Kau atau Xavier?" tanya Olena sambil menyeringai.


Valent hanya menanggapinya dengan cebikan sinis.


**


Rebecca menatap suasana yang ada di depan matanya dengan terperangah.


Ia terbangun karena mendengar aliran air terjun yang bunyinya indah. Mengingatkannya akan pedalaman Brazil yang masih asri dan tak terjamah manusia. Udara hangat di sekitarnya membuatnya semakin terlena untuk meringkuk di atas hamparan lembut di bawahnya.


Namun,


Itu yang membuatnya curiga.


Ia di mana?!


Dan Rebecca pun memaksakan diri membuka matanya.


Lalu ternganga karena kaget.


Yang ia lihat pertama adalah air terjun setinggi 10 meter di depannya, di antara gunung-gunung batu yang berkilauan.


Ia berada di pinggir danau, di atas sofa empuk dengan kulit sofa bercorak khas Timur Tengah.


Rebecca mendongak ke atas, beberapa burung yang bentuknya tak pernah dilihatnya melayang di atasnya.


Dan saat burung-burung itu turun ke tanah berubah menjadi manusia.


Rebecca terpekik kaget, lalu mundur dan menekuk kakinya, berusaha melindungi tubuhnya.


Ia berada di hutan misterius... kondisi yang diluar nalarnya.


Dan saat ia menatap ke bawah, tanahnya berlapis emas.


Ada beberapa bangunan di sana, termasuk bangunan beratap seperti pendopo yang kini menaunginya.


Pilarnya terbuat dari batu mulia.


Rebecca menyentuhnya, lalu mengernyit.


“Emerald...” desisnya terpukau. Lalu ia melihat ke arah nakasnya, “Zamrut...” dan melihat ke arah cangkirnya, “ Safir...” isi cangkirnya ramuan herbal untuk menenangkan pikiran. Campuran cammomile, madu dan jahe.


Lalu tangannya mulai gemetar dan ia ketakutan. Bagaimana mungkin ia melihat surga dan ia ketakutan? Apa karena ia berpikir kalau ia belum pantas berada di sini?


“Becca,”


Sebuah suara yang ia kenal dari arah belakangnya.


Valent dan Michael menghampirinya.


“Gab-“


Belum selesai Rebecca menyapa, Michael sudah duduk di sisi kiri Rebecca dengan Valent di sisi kanannya.


“Apa yang kau inginkan dari kami Becca?” tanya Valent.


“Tidak perlu kau tanya ini di mana, cukup jawab saja pertanyaan Gabriel,” kata Michael.


Rebecca merasa, kedua kakaknya berbicara dengannya dengan penekanan nada. Itu berarti Rebecca masih dicurigai di sini.


Suatu hal yang wajar, menurut Rebecca.


“Setelah...” Rebecca menelan ludah karena tenggorokannya langsung terasa kering. Tapi ia mengumpulkan keberaniannya. Karena ia mengejar Adinda untuk hal ini, untuk menemui Kakak-Kakaknya dan bertanya kenapa semua menjadi pembelot.


Valgar bilang padanya kalau semua tindakan dibutuhkan untuk kesejahteraan asosiasi, termasuk bekerja sama dengan Abizar Azzarro. Apabila semua organisasi sudah tunduk di bawah Abizar, sudah ber-aliansi dengan Abizar, maka lebih mudah untuk mengendalikan kestabilan nasional.


“Setelah Adinda menikah dengan Conrad, Conrad berjanji akan menyerahkan kepemilikan organisasi sebesar 50% pada pemerintah, sedangkan 50% yang lain untuk Xavier. Saat itu Ayah akan membunuh Xavier, dan dengan demikian semua organisasi akan musnah. Itu rencananya,”


Lalu berikutnya, yang ada hanya keheningan.


Valent dan Michale sudah menduga dari awal, bahwa tidak mungkin perjanjian dari Abizar ke Xavier akan berakhir semudah itu. Apalagi Xavier saat ini sendirian. Tanpa Valent, ia goyah.


Seekor elang terbang rendah lalu mendarat di depan Valent dengan berubah menjadi manusia. “Paduka memanggilmu, katanya Sri Ratu membawa benda penting dari bagian Serigala,”


Valent memandang si elang dengan menaikkan alisnya.


“Dan si Paduka memanggilku dengan sebutan apa?”


“Katanya, Panggil si Master Pongah itu,”


“Hem,” Valent menyeringai ke arah Michael, “Walau pun ada julukan Pongah-nya, yang penting aku ‘Master’,”


“Gabriel, koki zaman sekarang juga bisa disebut Master,” desis Michael.


“Itu hanya nama acara, Michael. Sekali-kali buatlah aku ke-GR-an,” kata Valent sambil beranjak dan naik ke perahu di depan mereka.


“Kita naik perahu nih?”


“Sekalian ngobrol sama adik bungsu kita, aku yang mendayung kok... nggak usah bawel, Mike,”


“Dayung apanya, itu kan perahu motor... Dasar edan,” gerutu Michael sambil menggiring Rebecca naik ke atas perahu.


**


“Rafael adalah sumber informasi terpenting bagi organisasi, tidak mungkin Yang Mulia membunuhnya!” seru Rebecca. Tampaknya ia cukup shock saat dikabari kalau Michael melihat sendiri bagaimana cara Rafael wafat.


“Di saat terakhir, Conrad mengetahui kalau semua itu hanya akal-akalan kami untuk mengulur waktu agar Kaisar dan Orion tidak ditemukan oleh ayah,” desis Michael.


‘Kau...” Rebecca terisak, “Teganya kau... semua ini karena kau terlalu pengecut!” seru Rebecca menyalahkan Michael, “Seharusnya kau yang mati!!”


Michael menganggul dengan wajah muram, “Aku juga berpikir sepertimu. Tapi semua sudah terjadi. Kalau aku ikut mati juga, pengorbanan Rafael untuk kehidupanku dan keluargaku jadi sia-sia. Jadi kami memutuskan untuk bersembunyi di sini. Ini tempat teraman di muka bumi bagi kami,” desis Michael. “Percayalah Becaa, aku juga menyalahkan diriku sendiri,”


“Tidak ada yang perlu disalahkan kecuali Ayah,” desis Valent.


“Kita darah dagingnya,” desis Rebecca.


“Iya, sayangnya begitu. Dia Ayah kandung kita, dari ibu yang berbeda,” kata Valent.


“Apa tujuannya berbuat begitu?”


“Melahirkan bibit unggul terbaik untuk pasukannya,” kata Valent. “Dia percaya, kalau bukan dari darah dagingnya sendiri, tidak akan baik,”


“Bisa dibilang seluruh anggota asosiasi adalah darah dagingnya,” sambung Michael.


“Di 10 tahun terakhir dia tidak bercinta dengan wanita, tapi membekukan sel spermanya untuk ditanam di wanita-wanita yang ia sortir untuk melahirkan anaknya,”


“Apa yang terjadi dengan ibu-ibu kita?” tanya Rebecca.


Michael hanya menghela nafas dengan prihatin.


“Kami membentuk investigasi sendiri 5 tahun lalu. Dan menemukan fakta yang mencengangkan,” kata Valent. “Ibuku dari Kanada.”


“Lalu?”


“Hm,” Valent terdiam dan menatap ke arah depan. “Tidak usah kuceritakan nasibnya setelah melahirkanku. Yang terpenting yang harus kau tahu, Becca, adalah ibumu seorang dokter di Ruby Medical Center. Ia juga sering diminta tolong untuk kasus otopsi dari tim forensik. Dan di saat terakhir, ia mengautopsi jasad Jane Doe yang ternyata adalah ibu Rafael,”


“Jane Doe? Jadi itu mayat tak dikenal?”


“Ya, kasus mutilasi,”


“Astaga,”


“Dan ibumu melakukan penyelidikan sendiri. Sampailah benang merahnya mengarah ke arah Valentino Gary, si Ketua Asosiasi,”


“Apakah mereka akhirnya saling jatuh cinta?”


Valent menggeleng, “Tidak ada dari ibu kita yang jatuh cinta ke ayah. Karena mereka semua hamil dalam keadaan disandera. Dan setelah melahirkan kita, ia membunuh semua ibu kita,”


“Dan normalnya, saat melahirkan bayi perempuan, ibu dan anaknya dibunuh ayah,” kata Michael. “Kau pengecualian. Karena ibumu tahu kalau kau bisa berguna bagi asosiasi. Gen peneliti ibumu berbicara di sini,”


“Kalian... mendapatkan info semacam itu dari mana? Ibuku masih hidup! Dia di Finlandia!”


“Kau sudah coba mencari ibumu?”


“Ayah melarangku,”


“Dan kau menurut?!”


“Aku diancam akan dikeluarkan dari asosiasi kalau aku melanggar,” kata Rebecca.


“Ibumu memang di Finlandia, Becca,” desis Michael, “Makamnya,”