
Adinda...
Tolong Aku...
Dengan kaget Adinda terbangun dari tidurnya dan langsung terduduk.
Ia menatap sekelilingnya.
Saat ini ia masih di kamarnya.
Yang mana hal itu hal baik. Dengan keberadaan Conrad di kastil ini ia bahkan tak tahu besok masih bisa hidup atau tidak.
Adinda merogoh pistol di bawah bantalnya, memeriksa kuncinya, lalu memeriksa jumlah peluru di selongsong.
Dan dia duduk di sana, di tengah ranjang. Memusatkan pendengarannya.
Suara di luar sangat gaduh, berbagai alat berat di turunkan.
Kandang Kaisar sudah dirobohkan, binatang peliharaan Papanya sudah disingkirkan. Halamannya berubah menjadi area pelatihan anggota geng.
Lalu ia memusatkan pendengaran ke sebelah, ke kamar Kaisar.
Sepi...
Adinda merasa sedih sekaligus senang. Kaisar tak perlu ada di sini. Begitu menurut Adinda.
Kabar terakhir, Kaisar terluka cukup parah namun belum dipastikan ia masih hidup atau tewas. Orion juga terluka...
Adinda memeluk senapannya.
Di mana kekasihku?
Terdengar bunyi ketukan di pintu.
Adinda membuka matanya dan waspada.
Ia tahu siapa yang datang.
Pintu besar itu terbuka sendiri tanpa ada yang mendorong.
Seekor Serigala Hitam raksasa masuk dengan elegan dan duduk di depan Adinda.
“Lusa hari pernikahan kita,” desis serigala itu.
Bau amis darah bercampur dengan wangi kayu tercium santer ke seluruh ruangan kamar. Sang serigala baru makan malam. Entah siapa yang ia makan.
Dan ini pertama kalinya mereka bertemu hanya berdua saja, tanpa ada yang lain.
Biasanya di sebelah Conrad ada Valgar dan Xavier.
Adinda menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
“Kenapa kau minta tolong barusan?” tanya Adinda berusaha tenang.
Adinda sudah mempelajari sedikit mengenai makhluk di depannya ini. Dan berbicara setelah makan, adalah waktu yang tepat. Conrad tidak boleh kelaparan atau iblis akan menguasainya. Dan makanannya bukan sekedar makanan manusia.
Tapi manusia itu sendiri.
“Tolong menikahlah denganku,” desis Conrad.
Adinda menggeleng, “Kita berdua tahu, bukan itu maksudmu,”
“Hm, kau benar,” Conrad merubah wujudnya menjadi manusia. “Aku hanya bercanda tadi,”
Suatu hal yang mengherankan, saat menjadi serigala, tubuhnya ditutupi bulu hitam legam. Besar, kokoh dan kuat. Dengan mata merahnya dan taring besarnya yang tajam.
Tapi saat menjadi manusia, dia bercahaya dan terlihat indah, bagaikan malaikat yang turun ke bumi.
Rambut peraknya panjang menyentuh lantai, tampak lembut dan berkilau. Kulitnya yang seputih salju dan bibirnya yang kemerahan berbanding terbalik dengan bahunya yang kokoh.
Badannya memang tidak sebesar Kaisar atau Valent, namun Conrad memiliki pesonanya sendiri.
“Aku tidak akan bilang, tapi aku akan memberimu sebuah puzzle,” Conrad menarik sehelai rambutnya. Helaian yang lemas itu dalam sekejab berubah menjadi kaku dan tajam.
Sebuah pedang kristal.
“Aku membunuh orang tuaku dengan ini, ini bahan anak panah yang kuhujamkan ke seluruh tubuh mereka,” bisik Conrad.
Lalu ia menyodorkan pedang kristal itu ke Adinda.
“Ini juga bahan peluru yang kuhujamkan ke dahi Kirana,”
Adinda menatap Conrad tanpa ekspresi, ia belum mau mengangkat tangannya untuk menerima benda di tangan sang Pangeran.
“Agha... Aku capek,” desis Conrad. “Sudah lama aku ingin mati menyusulmu. Tapi iblis ini tidak memperbolehkanku,”
Adinda terpekik tertahan.
Dia menatap dalam-dalam mata Conrad yang kini warnanya redup. Tidak menyala membara seperti biasanya. Raut wajahnya juga berubah menjadi sangat lelah.
“Conrad, kamu di sana?” tanya Adinda.
Tapi gadis itu juga ragu, ia bagaimana pun harus berhati-hati.
Karena bisa jadi ini hanya akting, akal-akalan Conrad saja agar menarik simpati Adinda.
“Waktu ku hanya sedikit, iblis tertidur karena kekenyangan, aku sengaja makan lebih banyak agar memiliki waktu untuk menemuimu, dan aku sebenarnya tahu di mana Kak Cyril. Aku bisa merasakannya karena batinku terkoneksi ke Olena,” kata Conrad.
“Apa yang bisa kubantu?”
“Besok, kau akan bertemu dengan Rebecca. Dia seorang psikiater,”
“Ah, ya aku tahu. Dia psikiater kami khusus untuk-“
“Dia anggota assosiasi,”
“Apa?!”
“Dia sama seperti Gabriel, anggota assosiasi yang ditugaskan untuk memata-matai mafia. Memastikan agar kalian tidak merencanakan untuk mengkudeta pemerintah Ruby,”
“Kami sudah lama menjadi partnernya!”
“Memang itu tujuan Gabriel, agar semua bisa dikondisikan,”
“Astaga... Valeeent!” gerutu Adinda.
“Waktu itu Gabriel tidak tahu kalau ayahnya adalah sekutu kami,” kata Conrad, “Sekarang saat tahu, dia mungkin menyesali semua yang sudah terjadi,”
“Jadi apa yang harus kulakukan besok?!”
Conrad mengelus pipi Adinda, lalu dengan lembut menatap gadis itu, “Yakinkan dia kalau kamu tidak tahu keberadaan kakak saat ini,”
“Lalu?”
“Setelah konseling, tunggu di cafe dekat sana. Kau mungkin akan sendirian selama beberapa jam. Sibukkan dirimu dengan apa pun yang tidak mencurigakan, mungkin membaca novel atau bawa laptopmu untuk melukis, karena banyak anggota asosiasi yang akan memperhatikanmu,”
Adinda mengangguk, tanda kalau ia mendengarkan Conrad dengan serius.
“Rebecca akan melapor kepada kami mengenai kondisimu. Saat kami tahu kalau kamu tidak tahu keberadaan kakak, kami akan menarik pasukan untuk kembali ke markas, jadi hanya ada beberapa orang yang mengawasimu,”
Kembali, Adinda mengangguk.
“Setelah itu, Olena akan datang menjemputmu,”
Adinda ternganga sambil menutup mulutnya, “Astaga, Conrad...”
“Lalu, serahkan ini ke Kak Cyril... dia akan tahu apa yang harus dilakukan dengan ini,” Conrad menyerahkan pedang kristal yang kini berubah kembali menjadi helaian rambut.
“Adinda, kepergianmu akan membuat seluruh anggota marah. Itu sebuah kode kalau perang besar akan terjadi. Aku akan berusaha memperlemah kondisi tubuhku, sambil berharap Kak Cyril cukup kuat untuk menyerangku,”
Conrad meraih tangan Adinda dan mencium punggung tangannya, “Aku selalu mencintai Agha... tapi selamanya, Agha adalah milik Kak Cyril. Aku ikhlaskan semuanya. Termasuk hidupku atas dosa yang kuperbuat,”