
Mansion Quon, keesokan harinya.
Suasana malam itu tenang dan dingin. Dua orang polisi berjaga di luar gerbang Mansion yang dipasangi Police Line. Sementara beberapa polisi mengobrol dan merokok di pelataran parkir Mansion.
Sementara di dalam Mansion itu, di setiap ruangan masih ada polisi yang berjaga di pintu masing-masing kamar. Ada 3 menara di sama, dan semua karyawan dan anak buah Quon sudah pergi. Hanya ada satu dua polisi yang berjaga dengan senter dan laras pendek mereka senantiasa terselip di pinggang.
Semua tahu properti itu sedang dalam sengketa.
Pemerintah Ruby Country, dengan diwakili pengadilan, ingin membagi aset Adam Quon antara ahli waris dan brankas Pemerintah. Mereka juga mencari formula apa yang terakhir dikembangkan organisasi Mafia itu.
Racun yang diproduksi oleh Quon sangat efektif.
Bisa membuat kondisi Pertahanan Ruby Country menguat di dunia.
Tapi sampai sekarang, walau pun dari sudut ke sudut mereka mencari contoh formula itu, tetap saja tidak ketemu.
Mereka sudah mencoba mencari lewat jasad yang ditinggalkan, sayang sekali sifat zat berbahaya itu bisa menyatu dengan organ sekitar 1 hari setelah kematian. Jadi tidak terdeteksi kandungannya.
Velladurai saja, saat memeriksa kandungan formula itu, mereka cepat-cepat meneliti dalam waktu sehari. Setelah itu formula hilang di udara. Karena itu sempat banyak peneliti yang terpapar karena zat itu menguap.
Polisi sedang panik dan bingung.
Ada beberapa pihak yang berpikir kemungkinan formula dijarah oleh Velladurai. Tapi organisasi itu tidak terjamah Polisi.
Surat penggeledahan memang sudah diproses, namun mereka tetap tidak bisa menembus pertahanan dinding Velladurai. Sebagai gantinya, pajak yang dibayarkan oleh Velladurai sangat besar, membuat pemerintah Ruby Country dan Walikota Emerald City tidak bisa berkutik. Tentu saja masalah pajak itu, Valent sudah berhitung.
Nyatanya harta Quon yang mereka jarah waktu penyergapan itu lumayan besar.
Sebuah mobil pick up masuk ke wilayah Quon.
Velladurai...
Dengan kata lain anak buah Valent.
Xavier bahkan tidak mengetahui hal ini.
“Berhenti! Ini Area Terlarang!” para polisi melambaikan tangan mereka ke udara. Beberapa di belakangnya bersiaga dengan laras panjang.
Alfredo dan dua orang anak buah Valent yang berada di dalam mobil, juga sekitar 5 orang di belakang pick up, mereka saling bertatapan.
“Kalian siap?” Tanya Alfredo melalui ear piece.
“Siap...” desis semua yang ikut dalam rencana kali ini.
Dan Alfredo menekan pedal gas sedalam mungkin. Mobil pick up itu ngebut ke depan, lalu menabrak pagar. Polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Alfredo menjalankan mobilnya lurus, targetnya adalah pintu depan Mansion.
“Kita hampir sampaaaaiiii!” teriaknya bersemangat.
BRAKK!!
Mobil itu terbanting ke samping. Lalu menabrak pintu depan.
DOR!DOR!
Suara tembakan menggema di udara.
“Alfredo, kau terlalu bersemangat!” keluh teman-temannya yang berada di belakang Pick Up.
“Kapan aku malas-malasan kalau urusan beginian?!” seru Alfredo sambil mengokang AK-47nya.
Terdengar suara seruan polisi di luar sana.
“Jangan bergerak dan Jangn bertindak gegabah!” seru Polisi. “Kalian sudah terkepung!!”
“Bagaimana Tim A?”
“Sebentar...” desis Echo.
“Ayolah, polisi semakin dekat ini...”
“Oke, mereka sudah masuk,” kata Echo kemudian.
“Sip! Mari kita pesta di luar!” seru Alfredo sambil membuka pintu Pick Up, dan mengangkat tangannya.
“Hey hey Tuan-tuaaan. Kalem dulu dooong,” sapa Alfredo.
“Letakkan senjatamu, dan tunjukan tanganmu ke udara,” seru salah satu polisi.
“Tidak mau,”
“Kami tidak akan segan-segan menembakmu,”
“Dengar ya, Pak Polisi,” Kata Echo sambil mengangkat tangannya, “Kita sekarang berada di area dimana yuridiksi semua pihak tidak berlaku. Menurut perjanjian pertanahan yang ditandatangani oleh Quon dan Pemerintah, area ini berada di kekuasaan Quon dan kebal hukum. DAN KALIAN BELUM RESMI MEMILIKINYA!”
Para polisi saling melirik.
Mereka mengakui kalau Echo benar.
“Dan kami MEMBAYAR GAJI KALIAN LEWAT PAJAK, kami juga tidak menawar saat ada fee untuk bisnis. Jadi kalian tidak berhak menembak kami,”
“Kami tidak akan terpancing. Kami aparat dipilih oleh rakyat, untuk melindungi rakyat,” kata Polisi
“Apakah kalian melihat ada Rakyat di sini, Hah? Masyarakat umum, hah? Kalian tidak bisa mengatakan kalau ini lokasi public! Ini area Quon, memiliki undang-undangnya sendiri! Dan terakhir, seingat kami, kami lah yang merebutnya,”
“Kami mafia,” sahut Alfredo. “Sudah pasti kami melanggar hukum,”
“Apa tujuan kalian kemari?”
Alfredo melihat ular besar di atas atap. Orion sudah berhasil menyusup.
Jadi, adegan mengulur waktunya sudah selesai.
Kalau Orion sudah sampai bisa ke atap yang mana adalah tempat paling ramai, sebenarnya, jadi semua polisi di dalam sudah berhasil di bekuk.
Mungkin setengahnya sudah di luar Mansion, sehingga yang ada di dalam tinggal sedikit orang. Memudahkan Tim A untuk melumpuhkan semuanya.
“Tujuan kami? Iseng saja sih,” ujar Alfredo sambil menyeringai.
“Apa?”
“Masker,” desis Alfredo.
Semua anggota Velladurai memasang masker Bio Hazard.
Dan sedetik kemudian, semua polisi berjatuhan satu persatu.
“Di luar aman, tinggal di dalam. Semoga berhasil, teman-teman,” desis Alfredo ke Tim A.
**
Adinda mengisi peluru biusnya dengan seksama. Ia sudah menghabiskan 30 peluru sampai dengan saat ini. Gadis itu membidik setiap targetnya tanpa meleset. Itu sebabnya ia dan Orion bisa menuju ke atap dengan mudah.
Sementara Orion saat ini sedang mengeluarkan para polisi yang pingsan satu per satu ke luar. Ia lemparkan begitu saja dengan ekornya. Toh di luar sudah ada anak buah Velladurai yang bertugas menangkap tubuh-tubuh tak sadar para polisi.
“Kenapa sih aku ditugaskan denganmu...” gerutu Orion.
Adinda diam saja sambil memeriksa kemungkinan ada polisi lain yang memergoki mereka.
Orion masuk ke dalam salah satu ruangan sambil memeriksa laptopnya yang berisi drone pengintai. Ada sekitar 3 drone yang dilengkapi dengan sensor magnetis, diterbangkan untuk mencari mineral khususnya emas dan logam mulia.
“Orion, beberapa polisi menuju kemari, kemungkinan mereka melihatmu tadi saat melepaskan zat bius di atap,”
“Sebentar, droneku menangkap sinyal aneh di menara 3,”
“Menara 3 tempat kamar para pelayan,”
“Ya, dan tempat aku disekap,”
Adinda diam lagi.
Ia memfokuskan pandangan ke teleskop di atas senjatanya.
DZING!
Satu peluru bius ia tembakkan ke arah polisi.
DZING! DZING!
Dan dua peluru lain.
Sukses membuat ketiganya tidur.
Lalu ia mengarahkan pengamatannya ke tempat lain, ia periksa sudut demi sudut siapa tahu ada yang masih tertinggal.
Dan saat itu ia melihat laser merah dari arah jendela. Sinarnya menuju ke arah dada Orion.
“Sniper...” gumam Adinda tegang.
“Apa?” desis Orion
DZING!!
“Orion, Awas!!” Adinda langsung berlari ke arah Orion secepat yang ia bisa.
CRASH!!
Peluru mengenainya.
Adinda jatuh ke lantai,
Disertai dengan Orion yang ternganga kaget.
Saat itu dengan terpaku ia melihat tubuh Adinda yang meringkuk di lantai.
Darah membasahi area sekitar perut Adinda.
Dan Orion pun mengambil senapan di depannya, milik Adinda, dan membidik si Sniper.
DZING!!
Kena.
“Adinda! Adinda! Hey!!” seru Orion sambil melempar senapannya dan mengguncangkan pelan tubuh gadis berambut coklat panjang itu.
Adinda tak sadarkan diri.