KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Kebersamaan


“Cyril, kau ingat...” Valent berdiri di samping Kaisar yang sedang memandang ke arah bukit dalam wujud Harimaunya. “Kita pernah memandang ke arah Timur dan bermimpi suatu saat mendirikan kastil kecil dimana anak-anak kita bebas bermain,”


“Hehe,” desis Kaisar, “Kastil kecil yang aman dan mereka bebas mencorat-coret dan bermain dengan gaya sesukanya. Tentu aku ingat,”


“Saat itu posisi kita di Istana... Dan kita memandang ke Timur, jadi kita memandang ke Kastil Velladurai,” kata Valent.


“Ironis ya,”


“Tidak juga, sekarang kita tak usah susah-susah membangun. Sudah pasti anakmu brutal-brutal semua kan anak macan,”


“Heh,” Dengus Kaisar, “Ibuku bisa melahirkan ular dan burung. Bahkan serigala,”


“Ah ya benar juga. Kalau aku menikah dengan Orion, tidak terbayang seperti apa wujud anak kami,”


Lalu mereka terdiam. Terbayang Orion bertelur, lalu telurnya perlahan membesar, saat itu Kaisar dan Valent bertaruh akan jadi bentuk apa makhluk yang menetas dan voila! Putri Duyung.


“Khehehehehe mungkin saja,” kekeh Valent.


“Penyihir bersatu dengan siluman ular jadinya Mermaid,” kekeh Kaisar.


“Aku pasti akan membangun kolam yang sangat besar untuknya,”


“Anakmu belum lahir tapi rasa sayangmu sudah muncul yah,” ejek Kaisar, “Siapa tahu munculnya dalam bentuk Cangcorang, kan kita tak tahu,”


“Kau ini sinis ya kalau padaku,” dengus Valent, “Kalau kau mimpi buruk aku tidak mau menemanimu tidur lagi, dasar manja,”


“Sejak aku bangun lagi, aku belum pernah ya minta kau temani tidur,”


“Yeah, karena ada Adinda, dasar mesum kau!” Valent menjulurkan lidahnya.


Kaisar melirik Valent di sebelahnya. Walau pun dalam sosok yang berbeda, namun ingatan Valent adalah ingatan Albert. “Aku merindukanmu, Albert. Kini kusadari sejak awal sikapmu sebagai Valentino memang sangat mirip dengan Albert. Kau suka mengeluh tapi nyatanya kau kerjakan juga, kau baik terhadap anak buahmu dan seorang pemimpin yang mumpuni. Kau juga tetap meladeniku walau pun kau tidak suka,”


“Aku tidak merindukanmu, sepertinya aku setiap hari bertemu denganmu. Aku hanya diberi istirahat selama 33 tahun sebagai seorang Valentino Gabriel, baru saja aku mau kudeta, eeeh, kau datang... kapan aku kudeta kalau begini caranya,” omel Valent.


“Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Valent saja,”


“Baguslah, aku akan memanggilmu Kaisar. Karena cocok saja denganmu,”


“Cyril juga artinya Raja,”


“Tapi kata Kaisar lebih gagah terdengar di telingaku,”


“Terserah kau saja lah... Kau panggil aku Kutu Kupret juga aku akan menengok,” kata Kaisar.


“Kutu Kupret,”


“Apa, Brengsek?”


“Tuh kan marah sendiri,”


Kaisar mendorong Valent dengan cakarnya.


“Sekali lagi kau dorong aku, kukirimi surat cinta. Ingat, aku belum menikah,” dengus Valent.


Kaisar terkekeh. “Mengenai cinta-cintaan. Maaf kalau aku kembali ke masa lalu sedikit,”


“Apa lagi Yang Mulia...” desis Valent malas-malasan.


“Aku memang sempat berpikiran akan menjadikan Agha seorang Ratu, walau pun aku belum memiliki perasaan cinta untuknya,”


“Hm, kenapa kau tidak jadikan dia Ratu?”


“Karena aku tahu, kau jatuh cinta padanya,”


Valent menoleh dengan mata membulat, “Serius Kau?” sahutnya kaget.


“Matamu saat berbicara dengan Agha sangat lembut. Berbeda dari biasanya. Sepertinya kau sangat kagum padanya,”


“Ya, tapi tidak seharusnya kau melakukan itu untukku,” Valent mengucapkan kalimat ini masih dengan perasaan terharu.


“Pada akhirnya... justru tindakanku itu yang memicu peperangan ya. Seandainya sejak awal aku mengangkatnya-“


“Tidak, Kaisar, Tidak! Kali ini kau salah. Justru tindakanmu tidak memperistrinya saat itu sudah merupakan hal yang benar. Karena peperangan ini tidak akan terhindarkan, walaupun kau menikahinya atau tidak menikahinya, peperangan akan tetap terjadi. Takdir akan mencari jalannya sendiri agar target terpenuhi,”


“Apa maksudmu?”


“Ingat! Yang membuat semua ini terjadi bukanlah perasaan kita maupun Conrad. Tapi kebencian The Greatest terhadap Raja dan Ratu. Kita hanyalah pionnya. Dia hanya mencari alat agar dia tidak membunuh dengan tangannya sendiri, dan menunggu kita saling membunuh,”


Kaisar mendengarkan Valent dengan seksama. Lalu mengangguk. “Kau benar,”


Kaisar mendorong Valent lagi, “Aku sebal kalau ada orang yang menyentuhku, rasanya jadi ingin mandi,”


“Dasar congkak,” gerutu Valent.


Tidak beberapa lama, Xavier menghampiri mereka bersama para Bodyguardnya. “Kaisar, Valentino,”


“Ya Boss?’ sapa Valent.


Kaisar hanya menggeram tidak suka.


“Abizar Azzarro meminta bertemu denganku besok pagi, kami akan membicarakan beberapa proyek kerjasama,”


Valent dan Kaisar terdiam.


Melihat sikap keduanya yang berubah, Xavier merasa sangat aneh. Tapi ia memutuskan untuk menjelaskan lagi lebih panjang sebelum bertanya ke intinya. “Ia akan melepas 50% aset Azzarro untuk Velladurai, termasuk membantu atas birokrasi kepemilikan Mansion Quon,”


“Untuk apa?” tanya Valent dengan nada rendah. Ia langsung dilanda perasaan tidak enak.


“Untuk ditukar dengan Adinda. Dia ingin memperistri Adinda,”


“Apa?”


“Aku jelas tidak ingin itu terjadi. Abizar termasuk orang yang paling licik yang kutahu. Ia juga dekat dengan orang pemerintah, termasuk beberapa asosiasi rahasia. Kedatanganku besok untuk memberi tawaran lain,”


“Lalu, apa rencanamu,”


“Aku tidak memiliki rencana. Aku sangat bingung,” kata Xavier.


“Dan tujuanmu menemui kami adalah...?” tanya Valent.


“Valentino, siapa kau sebenarnya?” tanya Xavier dengan mimik wajah curiga.


Valentino menatap Xavier tanpa ekspresi, sebisa mungkin ia memposisikan wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan, “Kenapa kau bertanya?”


“Abizar ingin kau ikut besok, itu salah satu syaratnya,”


“Mau apa dia?”


“Itu juga yang sekarang sedang kutanyakan padamu, apa hubunganmu dengan Abizar sampai dia minta agar kau ikut besok?”


“Ya jelas agar tidak ada penjaga di Kastilmu, kalau kita berdua terbunuh dia akan mudah mengambil alih semuanya,” desis Valent.


“Kupikir begitu tadinya, namun aku merasa kalau bukan itu alasannya. Dia juga memintaku agar kau membawa dua orang lagi,”


“Siapa?” Valent mengepalkan tangannya dengan erat, tanda sedang menahan kegeramannya.


“Katanya kau akan tahu siapa yang kau ajak,”


Valent menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Dasar Serigala licik,” gerutunya sambil menatap ke arah Kaisar.


“Jadi, siapa yang akan kau ajak, Valent. Usahakan seseorang yang kuat agar kita berdua tidak terbunuh di sana,”


“Kaisar...” Valent menatap ke arah sahabatnya itu, “Kau bersedia ikut?” tanyanya.


“Ah! Kalau Kaisar tentu saja aku sangat setuju dia ikut,” sahut Xavier lega.


Kaisar hanya mendengus tanda kalau ia bersedia.


“Satu lagi, siapa?”


Dan Valent menyeringai, “Orion,”


“Kenapa harus gadis cantik dan rapuh itu Valentino?!”


“Dia sepupuku,”


“Aku tetap tidakpercaya dia sepupumu, dia mungkin semacam agen rahasia milikmu yang kau lepas untuk mengamati tingkah laku anak buah kita, atau mencari penyusup di Kastil Velladurai!”


Terkadang, insting Xavier terhadap sesuatu lumayan tajam, walau pun kenyataannya sebaliknya. Tapi Valent akan menjadikan Orion sesuai dengan imajinasi Xavier.


“Kau ini jenius sekali Boss! Seperti biasa!” seru Valent pura-pura senang.


“Woooow! Sudah kuduga! Aku akhir-akhir ini memang merasa akan ada yang mengkudeta organisasiku! Hampir saja aku minta kau memata-matai setiap staff, tapi kau ternyata sudah bergerak duluan! Aku bangga padamu Valentino!!” Xavier menepuk-nepuk bahu Valent dengan antusias.


Valent hanya bisa berdehem.


Kasihan sekali Xavier yang polos.