
Pagi harinya,
“Xavier dalam perjalanan pulang,” Valent menyeringai ke arah Kaisar dan Orion, “Rencana kita berhasil. Dia sangat panik mengetahui Mansion Quon terbakar, juga panik saat dikabari kalau Adinda terluka,”
Kaisar saat itu dalam wujud Harimau. Ia sedang menjilati wine yang disediakan oleh Orion yang kini dalam wujud manusianya tapi berpakaian pelayan.
“Kau bilang apa padanya mengenai Adinda?” tanya Kaisar.
“Adinda terluka saat latihan menembak,”
“Hm, bisa diterima walau pun sulit dipercaya,” desis Kaisar meremehkan.
“Sudahlah kau terima saja,” kata Valent, “Xavier mudah dibohongi,”
Adinda menyeringai, ia sudah keluar dari rumah sakit dan saat ini sedang terbaring di ranjangnya dengan perban membalut pinggulnya.
“Aku akan menjemput Papamu, kau siap-siap mendengar omelannya,” desis Valent sambil mengecup dahi Adinda. “Dan kau,” ia menunjuk Orion.
Orion mengangkat alisnya.
“Kau adalah sepupuku, mengerti? Sepupu. Bukan calon istri. Jangan keceplosan,” desis Valent.
Orion hanya menghela napas, lalu menunduk menghormat, “Baik Tuan Boss,” desisnya mencibir.
“Kau sedang menekan seorang Putri Raja,” gerutu Kaisar.
“Aku juga akan bilang padamu, Cyril. Kau adalah harimau. Mengerti?! Ha. Ri. Mau. Kerjamu mengaum, bukan memberi perintah. Awas kalau kau keceplosan ketawa di depan Xavier, kuumbar kalau kau pernah mengompol saat usiamu 13 tahun waktu ketakutan dimarahi Raja,”
Kaisar tertegun.
“Harusnya itu hanya Albert yang tahu!!” seru Kaisar panik.
“Aku sekarang Albert, ingatannya semua di sini,” Valent menunjuk kepalanya. “Kau mau aku tutup mulut? Tembak aku dulu,” kekeh Valent sambil berlalu.
Adinda dan Orion saling bertatapan, lalu melirik Kaisar.
“Kakak pernah-“
“Diam kau,” geram Kaisar sambil duduk meringkuk di lantai.
Orion dan Adinda langsung mengulum senyum mereka
**
"Valentino!" seru Xavier sambil turun dari pesawat pribadinya. "Apa yang terjadi?! Kudengar ada penyerangan di Quon!"
"Itu urusan polisi, Boss. Kau tahu sendiri mereka tidak membiarkan siapa pun masuk. Banyak pihak yang ingin mengklaim status mansion dan tanahnya," desis Valent sambil menghampiri bossnya.
Suasana bandara, seperti layaknya bandara, panas dan berangin. Valent menaikkan kacamata hitamnya agar menempel lebih solid di pangkal hidungnga, lalu menyeringai, "Tapi itu keuntungan bagi kita kan Boss. Kalau bangunannya luluh lantak, dan terbukti di sana tak ada benda berharga lagi, kita akan lebih mudah mengambil-alihnya,"
"Kau benar juga!" sahut Xavier berbinar, "Lalu bagaimana? Kapan sertifikatnya jadi milik kita?"
Valent melirik Xavier dengan curiga, "Kenapa kau masih bersikeras untuk memiliki area itu? Sudah tak ada apa pun di sana," ia membukakan pintu mobil untuk Bossnya.
"Menurut leluhurku, ada harta karun dibawah tanah Mansion Quon! Sebelum itu, kau lihat ini..." Tampak Xavier melambaikan tangan ke anak buah di belakangnya dan menyuruh mereka memasukkan sebuah peti berukuran 1 meter ke jok depan.
Lalu ia menyeringai ke arah Valent. "Kau tak akan percaya apa yang kutemukan,"
Valent tahu ada apa di dalam sana, tapi berpura-pura tak tahu. "Mainan apa lagi yang kau bawa? Bikin profit tidak? Nilai investasinya menurun atau naik? Kita BEP tidak? Ini benda seharga 500 miliar yang kemarin berkurang dari rekeningmu itu?"
"Hem…" Xavier tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti. "Ini benda yang tidak terharga. Tidak ada emas yang bisa membelinya. 500 miliar hanya receh untuk memiliki telur Phoenix seperti ini,"
"Telur Phoenix?" desis Valent.
"Ya!"
"Kau yakin itu bukan telur burung unta yang dilukis aneh-aneh?!"
"Telur ini terbuat dari Zamrut Hitam!"
"Kau yakin itu bukan telur Komodo?"
"Valentinooo…" keluh Xavier, "Aku bingung sampai sekarang apa sih obsesimu selain uang?"
"Kuusahakan obsesiku selogis mungkin," desis Valent. Walaupun pada akhirnya tak ada yang bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat ini, penglihatannya berbeda. Ia melihat ada bara api di dalam peti yang diletakkan Xavier di jok depan. Juga ada hawa sihir yang sangat kuat dari dalam sana.
"Kami sudah bisa berdamai," desis Xavier sambil masuk ke mobil.
"Besok kau temani aku ke gedung Abizar Azzarro," Kata Xavier.
"Untuk apa kita kesana?"
"Abizar menghubungiku, katanya ada kerjasama yang akan membuatku untung besar. Tapi aku ragu akan tawarannya, dia terkenal licik dan culas,"
"Abizar…" gumam Valent. Ia lalu teringat kalau Luis dan Gallard bertemu dengan Siluman Serigala yang sosok manusianya memakai seragam Abizar Azzarro.
"Aku membutuhkanmu untuk menghitung untung rugi dari kerjasama yang ditawarkan. Nanti hasil akhirnya akan kupikirkan, berdasarkan insting,"
"Insting…" gumam Valent sambil terkekeh.
"Hey, Boss," sahut Valent, "Bagaimana penampilan Abizar?"
"Entahlah,"
"Entahlah?"
Xavier mengangkat bahunya. "Dia selalu menemui orang-orang dengan topeng serigala. Perawakannya tinggi dan menurutku sedikit flamboyan. Tipe anggun yang melambai begitu,"
"Hah?" kernyit Valent
"Iya, seperti kau saat sedang mengibaskan tangan mengusir anggota dari kantor, kalau kau tak ingin diganggu," kekeh Xavier.
"Sialan kau," gerutu Valent.
Sampai sekarang, Valent tidak sampai hati memberitahu ke Kaisar dan Orion dalang di balik semua ini. Dan dia yakin sekali kalau Conrad adalah salah satu dari pejabat di dalam Abizar Azzarro.
Namun amanah Albert harus disampaikan sebelum terlambat.
"Ini," Xavier merogoh tasnya dan menyerahkan kitab Zafiry ke pangkuan Valent.
"Lagi-lagi buku dongeng ini," walau pun terkesan menggerutu, namun jantung Valent langsung deg–degan.
"Bacalah sedikit saja. Kau sudah melihat Kaisar kan? Harimau Hitam Raksasa. Sosok seperti itu ada di dalam kitab ini. Namanya Pangeran Cyril. Leluhurku yang membuat kitab ini, dia adalah selir Pangeran Cyril di Zafiry, namanya Agha,"
Valent hanya diam. Dia sudah tahu semua itu. Perasaan Albert yang ada di dirinya langsung bergemuruh.
"Jadi kau keturunan makhluk negeri dongeng, begitu?" Valent menunjukan kalau ia tidak tertarik sebisa mungkin, untuk memancing Xavier agar meyakinkannya. Semakin banyak cerita yang diutarakan Xavier, semakin bagus.
"Bukan, Valentino… Bukan begitu! Setelah Agha berhasil melarikan diri dari kerusuhan yang melanda Zafiry, ia menikah dengan Velladurai, seorang saudagar dari Spanyol. Lalu ia ke Ruby Country dan beranak pinak di Emerald City,"
"Hm…" Valent hampir menangis karena perasaan Albert terpancar kuat. Namun mati-matian ia tahan.
"Xavier, kenapa negara ini dinamakan Ruby? Lalu semua distriknya memakai nama batu mulia. Tempat Abizar Azzarro juga di Diamond City,"
Xavier menganggukan kepalanya, dan bercerita dengan semangat, "Karena konon, di sinilah letak Zafiry. Ruby Putih adalah batu mulia yang ada di mahkota Raja Zafiry. Saat emosinya meledak, batu itu bersinar kebiruan. Di suatu tempat di Ruby City yang belum dapat dideteksi, terdapat makam Sang Raja dan Ratu,"
"Siapa yang memberimu semua informasi itu?!" pancing Valent.
"Cerita dari turun temurun," desis Xavier. "Tahukan kamu, dulu pernah ada Serigala Raksasa yang ditangkap pemerintah di Ruby City? Katanya hewan itu siluman! Aku yakin itu pasti Pangeran Kedua, Pangeran Conrad,"
"Dan kapan hal itu terjadi?"
"Sekitar 200 tahun lalu,"
Valent meringis menunjukan kalau ia sulit percaya.
Tapi ia tahu, semua cerita itu bukan dongeng. Semua benar adanya.
"Jadi dia tidak pernah tertidur," gumamnya.
"Apa?" tanya Xavier.
Valent melirik Xavier, "Aku membeli mesin untuk mencetak besi baja. Kugunakan untuk membuat senjata," ia mengalihkan perhatian.
"Kau jenius seperti biasa! Aku juga sempat kepikiran setelah kasus Quon, karena tidak ada senjata yang bisa melawan racun mereka, juga karena Kaisar kebal peluru, aku merasa seandainya muncul hewan eksotis sejenisnya, bagaimana cara kita melawannya?" ujar Xavier bersemangat. "Mungkin, bukannya Kaisar kebal peluru, tapi kualitas senjata kita yang memang jelek!"
"Ck!" decak Valent sambil nyinyir. Mana bisa dia bilang kalau membeli mesin pencetak senjata adalah ide Kaisar kalau pujiannya selangit begini?!