
“Kaisar di mana?” tanya Adinda di pagi itu. Gadis itu sebenarnya sudah tahu lokasi Kaisar, namun ia sedang menguji apakah ayahnya tahu mengenai semua cerita atau tidak.
Adinda tidak diizinkan terlibat dalam segala pertempuran karena lukanya masih belum pulih.
“Dari mana kamu mendapatkan luka tembak itu?” dengan pandangan menyelidik Xavier menatap pinggul anaknya.
“Karena rasa sayang, kudapatkan dari rasa sayangku terhadap seseorang yang kuanggap sahabat,” desis Adinda.
Xavier menghela nafas dan memandang sekelilingnya. “Kau bilang karena latihan tembak, Anak Papa sudah bisa berbohong rupanya,”
“Yang bilang latihan tembak adalah Valent, aku bahkan tak perlu mengucapkan sepatah kata pun,”
“Kau tahu apa yang terjadi?” ia merentangkan tangannya ke segala arah, “Papa akan semakin kaya!”
Adinda melihat beberapa anak buah Abizar Azzarro mulai masuk ke dalam kastil. Xavier sedang menyeleksi mereka.
“Ya, bisa kulihat Papa sekarang berteman dengan pembunuh Mama,”sindir Adinda.
“Apa buktinya kalau Abizar Azzarro membunuh Kirana?”
“Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, aku tak akan lupa,” geram Adinda.
“Adinda, kamu masih 7 tahun. Sudah 15 tahun berlalu, ingatan itu sudah diragukan kebenarannya,”
“Itulah Papa... tidak pernah percaya ke anak sendiri,” sindir Adinda lagi. “Lalu Papa akan mengurus semua ini sendirian?”
“Ya! Papa bisa mengurus semuanya sendirian,”
“Papa tidak bisa berhitung dan tidak memiliki kemampuan akuntansi,”
“Kamu bisa membantu Papa,”
“Aku tak bisa, selain itu aku tak berminat. Dan Conrad tahu itu. Perlahan harta Papa akan habis tanpa campur tangan Mama... atau Valent,”
“Conrad...” desis Xavier sambil memandang Adinda dengan muram, “Jadi kamu tahu semuanya,”
“Papa selalu dibantu dalam hal manajemen, dan terakhir yang kutahu sebelum Valent diangkat menjadi asisten, sepeninggal Mama, Papa hampir bangkrut,”
“Adinda,” Xavier menangkap tangan anak gadisnya itu dan menatapnya dengan sendu, “Papa lakukan semua ini untuk keselamatan kamu. Kamu tidak boleh terlihat bersama Kaisar lagi,”
Adinda dengan wajah marah hanya memandangi Papanya. Tapi dia hanya diam.
“Kamu adalah satu-satunya harta Papa. Dan saat ini, kalau diukur dari berbagai aspek, Abizar Azzarro bisa menjamin hidup kamu dibandingkan Sang Pangeran yang sudah kehilangan tahtanya dan entah kapan dia bisa jadi Raja,” desis Xavier. “Papa lihat sendiri bagaimana mereka bertarung. Kaisar ragu-ragu, tapi Conrad... dia sangat kuat,”
“Dia kuat karena dipengaruhi Valgar,” desis Adinda. “Tapi Kaisar punya Valent. Papa masih ingat kan dari mana dipan yang Papa tiduri berasal? Kalau bukan karena Valent yang pandai mengatur keuangan, sudah pasti kita sekarang tidur di pinggir jalan, bukannya di ranjang empuk,”
Adinda menepis tangan Papanya.
“Adinda,” desis Xavier.
“Sekarang terserah papa mau bagaimana,”
“Jangan sampai kau bertemu Kaisar. Dia akan membunuh kalian berdua. Kamu adalah pancingannya,”
“Kubilang terserah papa,” Adinda tak acuh dan berjalan menuju kamarnya.
“Pernikahanmu dan Conrad akan dilaksanakan minggu depan,”
Dan Adinda pun menghentikan langkahnya.
Ia menoleh dan menatap Xavier dengan sinis.
“Pernikahan tanpa perjanjian darah yang di restui oleh keempat pewaris tahta, tidak akan ada gunanya,” desis Adinda.
Xavier hanya menghela nafas seakan putus asa membujuk Adinda, “Kau benar, dan ketiganya memihak Kaisar, Tapi...”
Xavier berhenti bicara karena ia menyadari perubahan raut wajah Adinda. Tiba-tiba wajah putrinya itu tegang, menatap ke arah belakang Xavier.
“Ada apa?” Xavier mengernyit sambil menoleh ke belakang.
Lalu ia berteriak kaget dan sampai jatuh terduduk.
“Ya-ya-Yang Mulia, Anda mengagetkanku,” gagap Xavier.
“Kau naif sekali Xavier,” suara Conrad bagaikan bisikan yang pelan, namun terdengar menusuk di telinga.
“Saya minta maaf,” desis Xavier.
Membuat Adinda mengernyit tak senang. Untuk apa Papanya meminta maaf kepada monster ini?!
“Aku tak mau menikah denganmu, walau pun kau akan membunuhku,” tembak Adinda langsung.
“Aku tidak akan membunuhmu,”
“Kau membunuh Mamaku,”
“Ya betul... di depan matamu,” desis Conrad. “Masih kuingat mata coklatmu itu menatapku sambil ketakutan. Kau bahkan tidak bergerak,”
“Kenapa kau lakukan itu? Persaingan bisnis? Kupikir tidak, karena kelihatannya kau memang berencana menyerahkan semua aset ke Papaku sejak awal,”
“Yaaa, semua ini upeti untuk kepemilikanmu. Kau benar. Kurencanakan sejak awal aku membunuh Kirana,”
“Apa yang terjadi Conrad? Apa yang membuatmu membunuh ibuku,”
“Dirimu,” desis Conrad sambil memicingkan mata menatap Adinda.
Adinda mundur selangkah, “Diriku?”
Conrad memiringkan kepalanya sambil memejamkan matanya, tampaknya ia berusaha mengingat masa lalu, “Hm... Kirana bilang harga Adinda lebih besar dari semua aset yang kumiliki saat itu. Saat kutanya hargamu, dia bilang sebanyak apa pun emas di dunia ini, tidak akan sanggup membeli dirimu,”
“Astaga,” Xavier menggelengkan kepalanya. Ia mendengarkan dengan rasa kaget, juga shock yang traumatis. Pria itu tidak mengira begitu kejadiannya.
“Jadi... kubunuh dia, kubangun organisasi dengan lebih besar, hingga Papamu yang naif ini menjualmu dengan upeti yang kutawarkan. Kehadiran Kirana hanya akan mengganggu tujuanku,”
“Huh!” Adinda mendengus sinis menertawakan Conrad, “Tetap saja kau tak bisa memilikiku,”
“Adinda...” Conrad menggelengkan kepalanya perlahan, senyum sinisnya semakin lebar, “Kau masih ingat caraku menembak dahi Kirana?”
“Adinda...” Conrad menyeringai memperlihatkan senyum sinisnya yang dihiasi gigi-gigi tajam. Sekilas ia terlihat tampan, namun di lain pihak ia sangat mengerikan. “Kalau sampai perjanjian darah itu tidak terlaksana, Papamu akan kupenggal. Sekali lagi, di depan matamu sendiri. Aku akan pastikan kau menyaksikan kematian kedua orang tuamu. Sama seperti aku menyaksikan kematian kedua orang tuaku,”
Xavier hanya menunduk dengan gemetaran.
“Tolong kau bilang itu ke kakak-ku kalau kalian bertemu kembali, hehehehe,” dan Conrad pun berbalik arah, meninggalkan mereka diiringi tawa licik yang terdengar menyebalkan.
**
Sementara itu di Istana Baru Kaisar.
“Jadi berapa?” tanya Kaisar sambil berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Dikurangi pajak pendapatan, dikurangi kurs saat ini, dikurangi-“
“Lebih cepat sedikit dong, aku pegal berdiri terus,”
“Diam dulu Bro! Bagaimana aku bisa menghitung kalau mulutmu itu terus-menerus mengoceh?! Dikurangi gratifikasi, dikurangi sarana dan prasarana umum, dikurangi kegiatan sosial...”
Kaisar terkekeh sambil sedikit menoleh ke belakang, menatap Olena yang duduk di atas meja sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Wanita itu dengan muka berbinar menatap kakaknya. Sementara Gale sedang tiduran di sofa di samping meja karena, lagi-lagi, kurang darah.
“Kau sudah 15 menit menghitung kekayaanku,” desis Kaisar.
“Asetmu ini jauh lebih besar dibandingkan milik Negara! Aku hitung perbandingan kasar tanpa PDB ya! Ini aset perseorangan..." gerutu Valent. "Aku hanya minta waktu setengah jam, dan kau memberiku waktu 15 menit, apa susahnya sih!!” seru Valent emosi.
“Sayang, jangan teriak-teriak, kau mau anak kita mendengar ayahnya marah-marah? Bisa berpengaruh ke pengendalian diri mereka!” kata Orion.
Valent diam.
Lalu menarik nafas panjang. Dan kembali berkutat dengan laptopnya tanpa bicara. Dia mencoba bersabar.
“Jadi kumanfaatkan saja kesempatan ini untuk membuatnya kesal,” bisik Kaisar ke Olena.
“Jangan dong, Kak... nanti dia stress terus nangis gimana?”
Brakk!
Valent menekan tombol keyboard laptop keras-keras, menegur Kaisar dan Olena yang sedang membicarakannya.
Kaisar berdehem sambil mesem-mesem.
Setelah beberapa saat,
“Asetmu bernilai... yah... cukup mengesankan sih,” desis Valent kemudian sambil menaikkan bahunya. Tampaknya ia tidak terlalu tertarik. “Tapi tidak perlu terlalu sombong ya Baginda. Kalau Tuhan berkenan, dia akan mengambil semuanya,”
“Sebutkan saja jumlahnya, Hai Manajer Keuangan. Kau bawel sekali!” sahut Kaisar.
“Oh iya lupa, dikurangi gajiku 10%,”
“1%,” ralat Kaisar.
“10%,”
“Itu tidak sesuai kesepakatan,”
“Itu kesepakatan awal sebelum Orion hamil. Tapi karena mau tak mau aku akan jadi iparmu kunaikkan 10%. Anakku ada 13, semuanya keponakanmu loh! Masa kau tak kasihan?!”
“Oke, kalau begitu, kau tetap 1% tapi keponakanku masing-masing 5%,”
“Sebelum mereka dewasa, aku walinya. Pokoknya gajiku 10% dari asetmu, berikan padaku setiap tahun, berlaku selama kau hidup,”
“Aku lebih suka Albert dari pada kau,” gerutu Kaisar.
“Aku lebih suka Xavier dibanding kau,” desis Valent.
“Iya, karena Xavier mudah dibohongi,”
“Secara tak langsung kau menuduhku penipu. Bukan karena itu, tapi kau lebih merepotkan! Aku sampai harus menyerahkan nyawaku untuk pengorbanan,"
“Kau bukan penipu, kau hanya licik,”
“Kau hitung sendiri nih asetmu, dasar Raja congkak!” Valent memutar laptopnya ke arah Kaisar.
“Begitu saja ngambek. Yang hamil siapa yang sensitif siapa...” Kaisar kembali meletakkan laptop itu ke pangkuan Valent yang masih cemberut.
“Mereka selalu begini?” tanya Olena ke Orion sambil berbisik.
“Mereka selalu begitu,” kata Orion yang berwujud ular.
“Hm, menarik. Padahal tak penting, tapi menarik,” desis Olena.
“Aset bersihmu setelah dikurangi ini-itu, 500 Miliar,” kata Valent kemudian
“Sedikit sekali,” kernyit Kaisar.
“Dalam Dollar,” tambah Valent.
“Oh... oke,”
Lalu semua terdiam.
"Kau bisa mendirikan negara sendiri," desis Valent.
"Oke,"
"Mau pakai nama Zafiry lagi?"
"Bagaimana kalau The New Zafiry?"
"Kau ini tidak kreatif, Raja Garong,"
"Lalu apa usulmu, Dukun Santet?"
"Hm... Gabrielpolitan?"
"Kenapa seperti merk es krim?!"