KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Persiapan


“Lena?” Kaisar mengetuk salah satu ruangan di pabrik sambil melongok ke dalam.


Pertama kali yang ia lihat di dalam ruangan adalah Gallard, berbaring di atas sofa dengan keadaan berdarah-darah, dan ia sedang menutup kedua matanya dengan lengannya. Sebatang rokok terselip di bibirnya dengan keadaan masih bernafas.


Kaisar menghampiri Gallard sambil melipat kedua lengan di depan dadanya. “Sakitnya hanya sebentar kok,”


“Hm,” desis Gallard.


“Dimana dia?”


Gallard menunjuk ke atas.


Lena, sedang bertengger di atas pagar balkon, dengan sayapnya yang berapi dan tampak menjilati darah yang masih menempel di punggung tangannya.


Ia sudah kenyang.


Sang putri phoenix, menunduk ke bawah, lalu terbang ke arah Kaisar.


Pria itu merentangkan tangannya, menyambut tubuh Olena dan memeluknya.


Olena bersandar di bahu Kaisar bagaikan balita yang menemukan orang tuanya. Meringkuk dan beristirahat. “Agha...” desisnya. Suaranya bening dan nadanya bagai bernyanyi.


Suara khayangan. Namun terdengar memilukan.


“Ya,” desis Kaisar.


“Dan Conrad,” tambah Olena.


“Tabahkan hatimu,” desis Kaisar.


Olena menangis. Air matanya bagaikan magma yang mengalir. “Ayah dan Ibu...”


Air mata olena menetes mengenai kulit Kaisar. Pria itu mengernyit karena nyeri. Tetesan magma membakar kulitnya. Membuat area yang tertetes gosong dan menghitam, “Dari mana kamu tahu?” desisnya.


“Orion membagi ingatannya padaku,” Olena menunjukkan lengannya yang ada bekas gigitan Orion.


“Kak,” Olena mengangkat wajahnya menatap mata Kaisar, “Padahal aku berharap saat bangun, orang yang pertama kulihat menyebutkan namanya kepadaku, sehingga aku bisa melupakan segalanya mengenai perang itu dan mengabdi ke Tuan yang baru,”


“Hai, namaku Gallard, orang pertama yang kau lihat di dunia ini,” gumam Gallard sambil tetap berbaring dan menutupi wajahnya.


“Terima kasih sudah memberiku makan, Gallard,” Olena tersenyum padanya.


“Sama-sama,” gumam Gallard cuek, “Sial, pusing sekali kepalaku,”


“Kau kehilangan banyak darah, berbaringlah sebentar lagi,” desis Kaisar. “Dan terima kasih kau menyebutkan nama Olena Of Zafiry alih-alih menyebutkan namamu,”


“Aku tersinggung kau tak percaya padaku, Boss,” desis Gallard.


“Maafkan aku,”


“Kuterima maafmu,”


Kaisar menurunkan Olena dan mengangkat wajah wanita itu, lalu menghapus air matanya. Walaupun tahu kulitnya  akan terbakar kalau melakukan hal itu, tapi Kaisar tidak peduli. “Kami akan bertemu Conrad, besok,” desis Kaisar.


“Kak, aku merasa Conrad bukanlah dirinya,” Olena tampak memijat dahinya, “Dia dikuasai sesuatu. Ia tidak ingin semuanya terjadi, tapi dia juga memiliki kesedihan terhadap masa lalunya. Dan kekuatan ini... menjadikan hatinya mati,”


“Kami juga berpikiran begitu. The Greatest selama ini menguasainya,”Kaisar mengecup jemari Olena. “Apa yang kau rasakan sekarang?”


“Aku merasa... kesedihan yang sangat mendalam,” Olena memejamkan matanya. Ia berusaha menyelami isi hati kakak kembarnya yang sosoknya jauh di sana. “Seperti... kau ingin mencegah sesuatu tapi tidak kuasa karena terlanjur menjual jiwamu ke iblis. Dan perjanjian itu tidak bisa dibatalkan atau kau sendiri akan mati,”


“Perjanjian...” gumam Kaisar. “Adakah hal semacam itu di Ilmu sihir Zafiry?”


“Maaf mengganggu pembicaraan kalian,” Gallard mengangkat tangannya, “Olena, bisakah kau berpakaian, aku mulai tidak fokus beristirahat. Kalian Siluman gemar sekali tel4njang sih,”


**


Malam itu, mereka mengatur strategi.


Namun dirancang seperti apa pun segala kemungkinan Conrad akan berbuat nekat tetap ada.


“Dia sudah tidak memiliki hati, Perjanjian dengan iblis menggerogoti sisi baiknya. Yang ada sekarang, yang tersisa hanya bagiannya yang gelap,” kata Olena saat mendengar berbagai rencana.


“Jadi rencana yang mana pun sama saja. Kemungkinan gagal tetap di atas 60%,” kata Valent sambil menghela nafas.


“Bagian paling buruknya apa?”


“Ia akan menawanku dan Orion. Lalu bisa jadi menculik kekasihmu. Obsesinya adalah Agha, dan karena Agha sudah tiada, Adinda Xavier akan jadi pelampiasannya. Kemungkinan terburuk, ia akan memaksa dengan segala cara untuk membuat Adinda melakukan Perjanjian Darah dengannya,”


“Perjanjian Darah harus melalui persetujuan para ahli waris. Aku, Olena dan Orion harus setuju dan sukarela memberikan hal terbaik dari tubuh mereka, baru Perjanjian Darah itu sah dan dapat dilaksanakan,” kata Kaisar.


“Oh, dia dapat membuat kita setuju. Kubilang tadi kan, segala cara. Itu berarti Segalanya,” kata Olena.


“Maksudmu dengan cara mengancam?” dengus Kaisar meremehkan.


“Lebih dari itu. Ia bisa saja menyakiti semua yang ada di sini, demi agar kau bilang ‘Baiklah’, Peperangan akan kembali terulang. Kau mau Rakyat Zafiry tersiksa untuk kedua kalinya? Conrad tahu kelemahanmu, Kak,”


Senyum Kaisar menghilang, digantikan dengan ketegangan.


“Tapi satu hal... dia tidak akan menyakiti Adinda,” desis Valent.  “Agha hidup di dalam diri Adinda, seperti Albert hidup dalam diriku. Aku bisa merasakannya. Namun dalam perpaduan yang jauh lebih baik, lebih memikat. Seperti saat seseorang bertobat, berjanji akan melakukan hal-hal baik... Adinda versi ‘suci’nya. Jadi jelas Conrad menginginkannya. Bisa jadi, kalau dia melihat Adinda secara langsung, Conrad bisa saja lebih menginginkan Adinda daripada Agha,”


“Betul, aku setuju dengannya,” kata Olena, “Agha tertutup dengan ‘selimut’ keserakahannya akan Cyril. Namun Adinda masih polos dan hidupnya dimanjakan oleh kasih sayang. Masa lalu mereka berbeda, pembentukan sifat mereka jelas berbeda,”


“Conrad yang sekarang lebih kuat darimu, Kak. Karena dia diliputi dendam. Tolong hati-hati,” kata Olena.


“Apa kemungkinan terburuknya sehingga Perjanjian darah tidak terjadi?” Michael bergabung dengan mereka.


“Salah satu ahli waris mati setelah ia bilang ‘aku tidak restui’. Maka titahnya akan kekal,”


“Jaman sekarang sebuah pernikahan bukan lagi hal utama. Kuanggap Pernikahan dan Perjanjian Darah sama halnya,” kata Michael. “Jadi apa hal penting dari Perjanjian ini, pasti ada yang menonjol kan, makanya dari tadi kalian membicarakan hal itu,”


“Jiwa akan bersatu. Sampai selamanya. Kalau salah satu mati, pasangannya juga akan mati. Kalau salah satu mulai mencintai orang lain, maka keduanya akan mati. Jadi tidak akan ada pengkhianatan. Hal lain, kekuatan akan bersatu. Adinda akan diwarisi kekuatan pasangannya. Ia akan bisa berubah wujud, kemampuannya akan setara, bahkan hidup panjang umur seperti pasangannya,”


“Wah, tampaknya manusia akan butuh perjanjian semacam itu. Terlalu banyak kecurangan di kehidupan kami,” desis Michael sambil terpukau.


Valent mengusap dahinya dengan putus asa, “Kalau begitu, yang bisa kita lakukan hanya improvisasi,”


Lalu keadaan hening.


Dalam diam, mereka menatap ratusan rakyat Zafiry yang duduk di sana. Mereka mulai memilih satu per satu ruangan sebagai rumah mereka. Wajah mereka tampak nyaman dengan rumah baru, pabrik terbengkalai yang kini dirancang semirip mungkin dengan rumah asal mereka.


“Mereka hanya bayi saat aku memeluk mereka,” desis Olena sambil mengusap air matanya tanda keharuan, “Aku tidak bisa membiarkan mereka larut dalam penderitaan, mereka anak-anakku...”


“Anak-anak kami juga,” desis Kaisar. “Akan kulakukan yang terbaik untuk kerajaanku,”


Kaisar menyadari hal penting. Yang berharga baginya adalah Kerajaannya. Rakyat Zafiry. Dari awal hanya mereka.


Namun Agha yang kini menjelma menjadi Adinda adalah hal yang berharga bagi Conrad melebihi apa pun. Conrad rela mengorbankan Kerajaan dan keluarganya hanya untuk Agha. Ia tidak mencari kekayaan dan tahta. Ia hanya butuh cinta dari Agha.


“Mungkin aku akan berpisah sementara dari Adinda,” desis Kaisar pelan sambil termenung.