
“Ayolah Albert... jadi suamiku saja ya?” ia mengalungkan kedua lengannya di leher Albert.
“Sudah kubilang, aku mencintai orang lain,”
“Apa orang itu mencintaimu?”
“Tidak,”
“Ya menyerah saja,”
“Kau sudah punya puluhan budak dan ksatria yang rela kau apa-apakan, kenapa harus aku?”
“Ini masalah hati, Albert. Aku sudah suka padamu sejak aku menetas...”
“Iya karena makhluk pertama yang kau lihat adalah aku,” gerutu Albert. Waktu itu ia sedang rebutan mainan dengan Pangeran Cyril, lalu Pangeran mendorongnya, Albert mengenai ranjang dimana telur Orion dihangatkan.
Dan telur itu jatuh tepat di pangkuan Albert.
Lalu menetas.
Seorang bayi perempuan manis menatap Albert dengan berbinar.
“Setidaknya cium aku agar aku mimpi indah...” rayu Orion.
Wangi nectar menyebar lagi.
Menggelitik hidung Albert.
Hasrat prianya langsung meninggi. Bagian tubuh yang itu langsung aktif.
“Orion,” keluh Albert.
“Sedikit saja yaaa? Kumohon?” Jemari Orion dengan jahil membelai tubuh Albert yang mulai menegang.
Albert menghela nafas, Ia menyerah.
Ia menundukkan kepalanya dan mencium bibir lembab Orion.
Namun saat lidah bercabang Orion mulai jahil dan membelit lidahnya, Albert menjentikkan jarinya.
Orion langsung terpelanting jatuh.
“Albeeeeert!” keluh Orion kesal.
Albert menjilati bibirnya yang rasanya manis, rasa Orion. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Istirahat sana, badanmu panas...” Pria itu melambaikan tangan ke pengawal kerajaan yang berada di sekitar sana. “Kubilang jangan menari di tengah hujan tadi pagi. Ular kok bisa demam... seharusnya darahmu dingin, bisa tahan segala cuaca,” ejek Albert sambil menyeringai dan melanjutkan perjalanannya.
**
Saat sampai di istana dan menelurusi koridor lantai 3 untuk beristirahat di kamarnya sendiri, sebuah berlian masuk ke sepatunya.
"Duh…" desisnya sambil berhenti berjalan dan membuka sepatunya lalu menepuk-nepuknya. "Siapa sih yang menabur-nabur beginian di lantai?! Nyapu yang bersih dong…" keluhnya.
Lalu…
Ia mendengarnya.
Sebuah pertengkaran di dalam kamar yang berada di dekatnya.
Kamar Pangeran Conrad.
Suara itu samar karena pintunya berperedam. Tapi malam itu demikian hening, membuat Albert memperhatikannya.
Apalagi penjaga sedang tidak ada di tempat, karena memang Pangeran Conrad tidak suka diikuti kemana-mana.
Albert mengernyit.
Lalu dengan penasaran menuju ke arah pintu besar berukiran unik di ujung ruangan.
Kenapa dia merasa aneh, karena takutnya penyusup.
Pangeran Conrad memiliki tabiat yang sangat lembut. Ia seorang perayu dan seniman. Ia gemar memainkan dawai lagu-lagu lembut dan melukis.
Suatu hal yang langka mendengarnya berteriak. Kecuali hal serius seperti membicarakan perang dan kejadian tidak manusiawi. Itu saja dia lebih banyak diam menahan geram daripada Pangeran Cyril yang meledak-ledak.
Tapi di dalam kamar itu, ia mendengar pertengkaran besar.
Ada lubang kunci di pintu itu, yang membuat suara dari dalam bisa samar-samar terdengar di malam yang sunyi ini.
Karena merasa perdebatan yang terjadi sangat serius, Albert pun mengintip dari sela kunci.
“Aku menyerahkan diriku padamu bukan untuk ini! Yang kau lakukan bisa membunuh semuanya!!” seru Agha panik.
“Memang itu maksudku,” desis Conrad sambil duduk di salah satu sofa dan melipat kakinya dengan anggun. “Aku akan membangun kerajaan baru dengan birokrasi baru. Tapi tidak akan terwujud kalau Ayah dan Ibuku belum mati,”
“Pangeran Cyril dengan senang hati memberikan tahtanya padamu! Untuk apa kau lakukan ini semua?!”
“Huh!” dengus Conrad, “Tahta dengan campur tangan seseorang sepertinya di kerajaanku hanya akan mengganggu pergerakanku. Dia juga harus mati,”
“Kesepakatan kita bukan begini! Aku tidak menyangka kau ternyata hanya orang gila!!” seru Agha sambil mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai. Tampaknya ia akan beranjak untuk pergi.
Namun tangan Pangeran Conrad dengan cepat terjulur mencengkeram leher Agha dan menjatuhkan wanita itu ke atas karpet dengan kasar.
Matanya yang berwarna merah menyala memperlihatkan kemarahannya.
“Aku ingin berkuasa di dunia yang luas, di dunia Manusia. Bukan di Zafiry yang sempit ini. Semua di Zafiry membuatku sesak. Perdamaian yang digaung-gaungkan Ayah sebagai sebuah prestasi, bagiku adalah sebuah kemunafikan! Aku muak melihat semua tersenyum mengejekku, mereka selalu membanding-bandingkanku dengan Cyril yang gagah perkasa,” dengan sebelah tangan, Conrad menahan kedua tangan Agha di atas kepala wanita itu.
“Buka,” geramnya.
Agha menendang dada Conrad, namun sekali lagi bagaikan menendang dinding, tak berpengaruh besar.
“Aku ini selir, bukan seorang pel4cur!!” seru Agha marah sambil meronta.
Lutut Conrad menahan sebelah paha Agha dan memasukkan dua jarinya ke tubuhnya, membuat Agha mengerang karena merasakan nyeri.
“Selir yang tidak dicintai, derajatmu sudah jatuh sampai dasar bumi, hehehe,” kekeh Conrad mengejek Agha.
Kalimat itu membuat Agha terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih.
Ia tahu, perkataan Conrad benar.
Walau pun seorang selir utama, tapi Pangeran Cyril tidak mencintainya. Ia melayani Pangerannya hanya karena kewajiban. Bukan urusan hati yang tertaut.
“Yang tidak akan kubunuh hanya kamu, berterima kasihlah karena aku mencintaimu,” Desis Conrad sambil membuka kain penutup tubuhnya dan mulai memasuki Agha.
Agha sekali lagi mengerang karena kesakitan.
“Buat semuanya seakan wajar, kau keluar saja dari sini lebih dulu. Tunggu aku di tempat yang kita sepakati, lalu di luar sana kita menikah. Jelas?”
Tapi Agha tidak menjawab.
Gerakan Pangeran Conrad perlahan mulai membuatnya tak berdaya. Dari rasa sakit berubah menjadi kenikmatan.
“Aku akan membunuh Raja dan Ratu. Lalu berikutnya Cyril. Jadi manfaatkan dengan baik saat-saat terakhir kalian bersama,”
“Hentikan,” isak Agha.
“Bukan saatnya memohon, Agha. Seharusnya kau senang jadi Ratu di hidupku,”
“Aku akan membunuhmu setelah bisa keluar dari Zafiry,” geram Agha.
“Aku penasaran, kau bisa membunuhku sebelum atau setelah kita menikah, hehe,” dan gerakan Conrad semakin lama semakin cepat. Sehingga berikutnya yang bisa keluar dari mulut Agha hanya des4h4n penuh keputusasaan dan rasa pedih di hatinya.
Albert dengan tergesa-gesa kembali ke kamarnya.
Lalu ia membuka buku mantranya, dan menghapal sebuah mantra.
Setelah hapal, ia menatap tongkatnya.
Dan menyalurkan energinya.
“Jelmaanku, bagian diriku,” dia berkata dengan nada rendah, “Kau akan lahir menyesuaikan kebangkitan Pangeran Cyril. Kalian akan bertemu kembali di Kerajaan ini,” lalu ia merapal mantra dan tongkat itu berubah menjadi semacam pena.
Dan Albert pun mendongak lurus.
Menatap Valent dengan serius. "Aku merapal mantra pemusnah karena serangan bukan berasal dari manusia. Saking parahnya pengkhianatan dan kekuatan siluman yang besar, dengan segala tipu daya dia merusak dari dalam kerajaan," kata Albert ke arah Valent.
“Mantra pemusnahku tidak sanggup untuk menidurkan Raja dan Ratu. Tapi bisa membunuh sebagian besar manusia yang berada di kubah dan menidurkan para penyandang tahta. Yang kutakutkan, Pangeran Conrad juga akan kebal dengan mantra karena dendamnya sangat besar. Mungkin dia akan bangun lebih awal. Tapi tenang saja, Manusia tidak bisa dilawan semudah perkiraannya,”
Albert terlihat mempersiapkan beberapa ramuan.
“Gabriel,” desisnya, “Mimpi yang kau lihat ini adalah refleksi dari tongkat yang kau miliki. Sampaikan semuanya kepada junjunganku, Pangeran Cyril. Maaf kalau kau harus lahir sebagai jelmaanku, kau pasti sangat kerepotan. Tapi aku hanya bisa bergantung padamu,”
Dan Valent pun membuka matanya.
Lalu langsung terduduk.
Tubuhnya dipenuhi peluh dan dia terengah-engah.
“Astaga...” desisnya, “Mimpi macam apa itu? Semua terasa sangat nyata...”