
Adinda menatapnya tanpa ekspresi. Namun dari keadaan dan kondisi tubuhnya, Kaisar bisa melihat kalau gadis itu gemetar.
Mungkin bukan itu jawaban yang diharapkan Adinda. Gadis itu malah merasa ketakutan saat Kaisar bicara yang sebenarnya.
“Aku bisa berubah wujud menjadi manusia,” Kaisar meminum winenya sampai habis, “Kalau tidak bisa, malah aneh kan. Kami ini bangsa siluman,” dan Harimau itu berjalan ke arah lantai dua, tempat kamar Adinda berada.
Langkah perlahannya dan kepalanya yang menoleh ke belakang, ke arah Adinda, mengisyaratkan kalau ia ingin gadis itu mengikutinya.
Tapi Adinda tetap di tempatnya, menatap Kaisar dengan ragu dan tegang.
“Terserah kau saja,” cibir Kaisar seakan mencemooh Adinda.
Adinda menggigit bibirnya dan menatap tubuh raksasa Kaisar menjauh. Ia menyesal menanyakan hal tadi ke Kaisar. Karena saat ini rasanya ia belum siap terhadap kemungkinan yang ada.
Di benaknya tersirat berbagai pertanyaan. Seperti bagaimana jika ia benar-benar bisa berubah wujud? Apa yang harus kulakukan setelah itu? Bagaimana aku bisa memperlakukannya?
Tapi ia butuh jawaban.
Jadi, dengan membulatkan tekadnya, dan menahan gemuruh di dada, Adinda pun bangkit dari duduknya dan mengikuti Kaisar.
Harimau itu berjalan perlahan, namun langkahnya lebar karena tubuhnya besar. Adinda setengah berlari mengikutinya. Tubuh Adinda yang kurus dan tampak ringkih membuatnya tampak sangat mungil saat berdampingan di samping Kaisar yang gagah.
Bisa jadi Adinda remuk dalam sekali injak kalau Kaisar marah padanya.
Tapi tidak… Bukan tipikal si siluman Harimau Hitam membunuh tanpa alasan. Lagipula, saat kesalahan fatal diakibatkan oleh Adinda seperti berkhianat yang menurut Kaisar adalah alasan membunuh paling kuat, bisa jadi bukan Kaisar yang akan mencelakai Adinda.
Cara Kaisar memperlakukan wanita, lembut dan romantis.
Apalagi ke makhluk rapuh seperti Adinda.
Kaisar berhenti di depan kamar gadis itu, menoleh ke arah Adinda memberi isyarat kalau ia ingin Adinda masuk lebih dulu.
Adinda pun masuk.
Saat sampai di tengah ruangan, Adinda masih tidak tahu apa kira-kira yang ingin disampaikan Kaisar.
"Kaisar, apakah kau pernah melakukan sesuatu ke minumanku?" tanya Adinda sambil menghela napas,
Tidak ada jawaban dari Kaisar.
Adinda pun menoleh ke belakang.
Dan matanya terbelalak.
Bibir dan tangannya gemetaran.
Kalimat yang ingin ia sampaikan tercekat di pangkal tenggorokannya
Di depan matanya, Harimau Hitam raksasa itu berjalan memutarinya. Sosoknya perlahan berubah.
Mulai dari kepalanya menjadi kepala manusia, lalu tubuhnya. Ia pun berdiri dan ukurannya menciut menyesuaikan.
Tubuh yang dipenuhi bulu hitam perlahan menjadi kulit manusia berwarna eksotis.
Dua kaki depan menjadi tangan, dan samoai ke bagian lain semua berubah menjadi manusia.
Bagian terakhir yang berubah adalah area buntut. Bahkan Kaisar tetap membiarkan bagian itu ada.
Adinda kenal sosok itu.
Juga guratan ukiran di dahinya.
Rahang perseginya, otot sempurnanya yang terpahat secara istimewa, dan mata tajam yang berwarna merah membara itu. Bahkan saat siang hari seperti ini menyala secara jelas.
"K-kamu…" Adinda ketakutan.
Tapi ia memutuskan untuk tetap di sana.
Rasa shocknya timbul, tapi rasa ingin tahunya lebih besar.
Juga…
Sosok itu pernah 'menyentuhnya' secara intim.
Jadi kecil kemungkinan akan menyakiti Adinda.
"Ya," jawab sosok itu, "Aku ingin kamu memasuki alam bawah sadar lebih dalam. Jadi kumasukan sehelai bulu,"
GRAKK!!
Adinda meraih glock-meyer yang ia selipkan di belakang pinggangnya, tertutup oleh tuniknya, lalu ia arahkan ke Kaisar.
"J-j-jangan bergerak!" desis Adinda gemetaran.
Kaisar menyeringai, "Kamu yakin bisa membidikku dengan benda itu? Tahu kan kalau aku kebal peluru yang dari besi?"
"Kubilang jangan bergerak!!" seru Adinda.
Fokus Adinda teralihkan.
Ke bagian paling memukau pria itu, titik sensitif.
Gadis itu bahkan sampai melongo melihat ukurannya.
Tapi, ia sudah pernah melihatnya sekali. Saat tubuh pria ini tidak berbentuk manusia.
"Aku tidak bergerak," desis Kaisar tenang.
"A-apa yang kau lakukan padaku tadi malam? Dan malam sebelumnya?"
"Sedikit membiusmu,"
"Untuk apa kau lakukan itu? Dan…ah!" Adinda memekik karena teringat sesuatu, "Aku masih perawan kan?!"
"Sayangnya…" Kaisar menyeringai lagi, "Kau masih perawan,"
"Woh, syukurlah," desis Adinda sambil mengatur nafasnya.
"Aku tidak berniat melakukan hal itu pada wanita yang tidur pulas, kecuali sedikit menyentuh ini-itu,"
"Ini-itu? Itu sudah bentuk pelecehan! Apalagi kau melakukannya tanpa izinku!"
"Tapi kau suka,"
"Sialan! Bukan itu maksudnya! Tetap saja aku tidak suka kalau ada yang menyentuhku dalam keadaan tidur!" seru Adinda.
"Baiklah, kuakui yang itu aku salah. Jangan teriak-teriak, Princess. Kau bisa membuat semua orang berlari kemari,"
"Siapa saja yang tahu kau bisa berubah wujud? Apa Papaku tahu?!"
Kaisar mengangkat bahunya tanda ia tidak tertarik menjawab.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Adinda masih mengacungkan senjatanya.
Kaisar beranjak dan maju menghampiri Adinda.
"Ja-jangan mendekat," suara Adinda gemetaran.
Tapi dengan langkah tegas Kaisar tetap berjalan ke arah Adinda.
"Kai," Adinda sekali lagi memperingatkannya.
Kaisar merebut senjata Adinda, menghancurkan benda baja itu dengan sebelah tangannya, lalu ia menarik leher Adinda ke arahnya dan mencium bibir mungil gadis itu.
"Umh!!" Adinda meronta karena kaget. Tangannya memukul-mukul dada Kaisar yang kokoh.
Kaisar tak bergeming.
Ia menyesap Bibir Adinda seperti ia menyesap wine di ambang gelas kristal. Rakus dan penuh hasrat.
Rasanya sudah lama sekali ia tidak bersentuhan dengan wanita. Dan selapar itulah si Pangeran Zafiry.
Adinda pun terlena.
Dari sebuah pukulan, kini tangan dengan jemari lembut itu bertengger di dada Kaisar.
Sementara kepalanya mendongak untuk menyambut ciuman pria bertubuh tinggi dan besar itu.
Lidah mereka saling membelit, saling memanggut.
Jiwa bertemu jiwa, di bibir masing-masing. Secara tak langsung Kaisar menyatakan cintanya, dan Adinda tidak menolaknya. Bentuk pembalasan panggutannya menandakan ia menerima pria itu menjadi kekasihnya.
Ciuman mereka membara seperti warna mata Kaisar.
Jemari Adinda membelai dada Kaisar, turut ke otot perutnya, naik lagi ke leher pria itu, lalu ia mengalungkan kedua tangannya ke leher si Pangeran.
Seakan meminta agar Kaisar mensejajarkan wajah mereka.
Kaisar menurutinya.
Ia angkat tubuh mungil Adinda. Sangat ringan bagai mengangkat ranting pohon. Dan ia gendong di sepanjang pinggangnya.
Tangannya bertengger di bokong Adinda. Menahan paha gadis itu agar solid di gendongannya.
Dan saat mereka berdua melepas tautannya, saat itu mereka mengerti kalau perasaan yang mereka miliki bukanlah main-main.
Adinda berusaha mengingat semua yang Kaisar lakukan malam hari.
Sampai ke sebuah kalimat, yang secara sukarela gadis itu ucapkan.
"Jadikan aku Ratumu... Maka akan kuberikan diriku sepenuhnya,"