
"Aku turut berduka cita," gumam Valent. "Tapi kalau pun mereka masih hidup, mereka pasti berada di tempat yang tersembunyi. Manusia tidak suka kalau ada makhluk yang lebih superior, mereka akan menganggapnya sebagai ancaman,"
"Dari aliansimu, apakah ada pihak yang bisa dipercaya?" tanya Kaisar.
"Kalau kakakku saja kuragukan, aku tidak ingin percaya siapa-siapa dulu," gumam Valent.
"Tunggu kode dariku, baru kita diam-diam ke sana. Bertiga saja. Walaupun aku juga tidak percaya dirimu,"
"Aku sampai saat ini belum untung apa pun, rugi iya. Kurang darah, pusing mikirin ini-itu, hampir mati pula," gerutu Valent. "Kau benar-benar harus membantuku untuk membasmi segala hal mengenai mafia ini," desis pria itu sambil menunjuk Kaisar.
"Kalau benar informasimu mengenai keberadaan orang tua kami, aku bersedia membantumu. Tapi kalau infonya tidak benar, aku selesaikan dengan caraku sendiri,"
"Bagaimana caramu?"
"Kuhabisi Xavier, kuculik Adinda, kubunuh semua manusia yang tidak mau tunduk dibawahku. Toh aku punya Orion,"
"Aku sudah pulih sepenuhnya," Orion menghembuskan api dari mulutnya, perlahan siluetnya membentuk sebuah simbol Zafiry. "Tapi aku tidak terlalu setuju mengenai Adinda,"
"Kenapa?" tanya Kaisar.
"Aku juga tidak setuju," gerutu Valent.
"Diam kau," hardik Kaisar.
"Adinda milikku," klaim Valent.
"Siapa bilang?!" cemooh Kaisar.
"Tidak bisa, kamu milikku," desis Orion ke Valent.
"Atas dasar apa kau mengklaim aku?" sahut Valent.
"Kau menyediakan sajian untukku, darahmu adalah sajian tertinggi. Secara resmi kamu sudah menjadi milikku,"
"Kau berada di dunia manusia, klaim-mu tidak berlaku. Enak saja. Pokoknya Adinda milikku,"
"Kita lihat saja dia memilih siapa," dengus Kaisar.
"Kakak, aku benar-benar tidak setuju kau mau menjadikan manusia seorang Ratu," kata Orion. Padahal masalah utamanya bukan itu.
Valent sampai memicingkan mata ke Orion untuk memperingatkan gadis itu.
"Aku tidak menemukan siluman Zafiry untuk naik tahta. Yang hidup hanya kita," kata Kaisar.
"Tidak bisakah kau menunggu beberapa ratus tahun lagi? Siapa tahu ada yang selamat," pinta Orion.
"Hehe," kekeh Valent, "beberapa ratus tahun lagi, entahlah dunia ini masih selamat atau malah sudah kiamat,"
"Kau ini menyebalkan sekali ya," gerutu Kaisar ke Valent.
"Pokoknya, kalian berdua akan kusediakan identitas baru. Orion, kau menyamar jadi pelayan baru di sini, oke?! Kaisar, tetaplah dengan wujud harimau,"
"Siapa kau memerintahku?" dengus Kaisar.
"Oh iya Yang Mulia, maaf, tapi kau sedang dalam kondisi dikudeta. Terima saja nasibmu sebagai sandera," sindir Valent.
**
Adinda membaca buku di ranjangnya, sebuah novel percintaan klasik yang seharusnya indah, asalkan pikiran Adinda tidak kemana-mana. Dengan mengernyit dia berusaha mengingat-ingat malam tadi saat ia dalam keadaan bermimpi.
Pria di mimpinya…
Besar dan tinggi. Dengan otot yang terpahat sempurna. Dan tubuh yang sekeras batu. Namun kehangatannya menenangkan.
Ia memeluk Adinda dari belakang. Hembusan napasnya masih Adinda ingat. Wangi wine bercampur tembakau yang kental.
"Bukan tembakau… Sandalwood dan cengkeh. Seperti parfum pria. Hangat dan maskulin," gumam Adinda sambil mengelus-elus dagu runcing mungilnya.
Suaranya rendah dan dalam.
Terakhir yang ia katakan, seingat Adinda, mengenai kunci kamar.
Tapi Adinda merasa pernah mendengar suara seperti itu, entah dimana.
"Ggggrh," Kaisar masuk ke kamarnya.
Dada Adinda langsung berdegup kencang.
"Astaga," desis Adinda kaget.
"Siapa yang kau maksud hangat dan maskulin?" tanya Kaisar sambil naik ke ranjang Adinda.
"Hm… Kau?"
"Hah?"
Adinda terdiam. Wajahnya langsung merah.
Aku lancang sekali, apa yang kukatakan barusan?! Dasar mulutmu! Gerutu Adinda dalam hati.
Kaisar berbaring tapi dengan mata menatap Adinda. Terlihat dia lumayan kaget dengan lontaran Adinda, "Kau tidak sedang menggoda Harimau kan?" tanya Kaisar, setengah menyindir.
"Kau bukan Harimau biasa, mana ada Harimau bisa bicara dengan manusia lewat telepati," desis Adinda curiga. "Kalau kau bisa berubah jadi manusia, mungkin aku pun tak heran,"
Adinda bermaksud memancing Kaisar.
Tapi Kaisar hanya terkekeh dan meletakkan kepalanya di bantal.
"Hei, Pangeran… Ini masih pukul 22 masa kau sudah langsung tidur?!" Adinda mengguncang-guncangkan punggung Kaisar.
Tapi Kaisar tetap tidur.
Dan wanita itu pun menghela napas, lalu menutup buku novelnya dan meletakkannya di nakas di samping ranjangnya.
Lalu ia berbaring sambil memeluk punggung Kaisar dari belakang.
"Wangi tembakau…" desis Adinda sambil tersenyum merasa nyaman.
Dan ia pun memejamkan matanya.
Dan detik berikutnya ia terbelalak.
Tembakau…
Bukan,
Sandalwood bercampur cengkeh.
Aroma tubuh pria itu.
Siapa lagi yang wanginya khas seperti ini selain Kaisar?!
Adinda menegakkan tubuhnya dengan hati-hati.
Lalu perlahan, ia meraih pistol yang ia simpan di bawah nakas.
Dan ia sembunyikan di balik bantalnya.
**
"Kau hampir saja keceplosan," gerutu Valent saat kembali ke kamarnya setelah memeriksa pembukuan di ruang kerja Xavier.
Ular besar berwarna hitam sedang mengangkat perabotan yang berserakan di dalam kamar dengan ekornya yang panjang.
"Kakakku jatuh cinta dengan keturunan pengkhianat. Siapa yang tidak ribut?!" dengus Orion melalui telepati.
Valent mengamati sekitarnya. Setidaknya sudah lebih rapi dan bisa ditempati dibanding sejam yang lalu, porak poranda.
Lalu pria itu menatap ular hitam di depannya yang masih sibuk mengatur perabotan.
"Hei," Valent mengerutkan keningnya.
"Ada apa lagi?"
"Kalau wujudmu begitu… Dimana bokongmu? Apa seluruh ekor itu adalah bokongmu?"
Orion menghela napas sambil melirik Valent dengan kesal, "Pernah dibelit sampai tulangmu remuk, Gabriel?"
"Terus terang saja, kau sangat cantik dalam wujud manusia. Tapi saat jadi ular kau itu seksi,"
Mata Ular Orion membelalak, "Aku serius, kalau kita berada di Zafiry saat ini, kau ucapkan itu ke anggota kerajaan, kami akan langsung memenggalmu di tempat,"
"Oke, aku akan tidur. Rasanya aku meracau kecapekan. Tolong sekalian bereskan plafon," Valent membuka pakaiannya lalu masuk ke balik selimut.
"Baiklah Boss Valent," sindir Orion. Lalu ia melihat dompet Valent tergeletak di atas meja.
Dengan ekornya ia membuka isinya. Lalu melihat ada black card di selipannya.
Orion menyeringai licik, lalu menyimpan kartu itu untuk ia gunakan besok pagi berbelanja ke kota.
Dan lalu ia kembali beres-beres.
"Hei Ori," panggil Valent dari balik selimut.
"Aku sibuk," dengus Orion.
"Sini masuk selimut. Udaranya lagi dingin,"
"Aku berdarah dingin,"
"Sejak kapan kau jual mahal seperti itu?!" Valent menyibakkan selimutnya.
"Sejak aku ditolak. Baru kali ini ada budak yang menolakku. Harga diriku sedang sangat terluka," ujar Orion tak acuh. Dalam hatinya ia membatin, Black Card mu mungkin bisa mengurangi rasa sakit hatiku.
"Kau itu Siluman, bukan anak abege yang suka galau,"
"Aku keduanya, mungkin," gerutu Orion. "Sudah ular, abege pula. Lengkap sudah. Sana minta Adinda menemanimu saja,"
"Kok aku berasa dimusuhi istri," dengus Valent. "Adinda hanya alatku untuk meraih posisi tertinggi,"
"Lalu aku bagaimana? Pengalih perhatian?! Mau disabet atau Dibakar, Gabriel?!"
Valent menipiskan bibirnya, "Mau dipeluk. Sini, nanti kuizinkan ke kota," perintahnya sambil menepuk sisi sebelahnya.
"Benar ya?!" ujar Orion penuh harap.
"Iya, Tapi bersamaku," kata Valent.
"Oke,"
"Tolong berubah wujud ya, nanti ranjangku ambruk,"