KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Perasuk


Kaisar hanya duduk di sofa depan air terjun sambil termangu. Ia sedang menenangkan dirinya yang sedih. Di pikirannya terbayang mayat kedua orang tuanya. Lalu perasaan ragu menyelimutinya. Apakah Conrad tega melakukan semua itu? Conrad yang selama ini ia kenal? Conrad adiknya?


Kalau tahta yang ia incar, dengan senang hati Kaisar akan memberikannya. Bahkan kalau Conrad ingin Kaisar pergi dari kerajaan semua akan diusahakan Kaisar.


Seumur hidupnya Kaisar mengenal Conrad, pria itu selalu mendukungnya sebagai seorang adik. Bahkan berkali-kali Kaisar menawarkan Tahta padanya, Conrad menolak.


Apa yang salah?


Ada sesuatu yang busuk di balik semua ini.


Sesuatu yang mempengaruhi Conrad.


Adegan demi adegan di minggu-minggu terakhir keruntuhan Zafiry berkecamuk di benak Kaisar.


Apa yang selama ini tertinggal? Atau terlupakan?


Apa yang membuat Conrad menjadi seperti itu?


Motif apa yang dirasa masuk akal?


Tidak mungkin karena emas dan tahta. Semua bisa dengan mudah dimiliki Conrad.


Lalu Kaisar membuka matanya.


‘Semua’ bisa dengan mudah dimiliki Conrad.


Kaisar berdiri dan mengeram, “Tapi kalau bukan Conrad, kau tidak akan dapat apa-apa. Walaupun kau memakai tubuhnya,”


Kemungkinan besar di kejadian ini ada salah perhitungan.


Kesalahan yang tidak disadari oleh si empunya permainan, karena ia tidak memahami peraturan sebaik Albert The Wizard. Tapi obsesinya terhadap kemenangan melebihi Raja dan Ratu sangat besar.


“The Greatest,” desis Kaisar sambil membuka matanya. Uap panas keluar dari tangannya yang berubah kemerahan. “Apa sebenarnya yang kau lakukan?” desisnya.


**


Dengan panik Valent mengemudikan mobilnya ke arah basecamp yang letaknya di pinggir Emerald City. Gallard dan Echo yang sedang berada di sana untuk membuat replika telur Orion untuk mengelabui Xavier, menyambutnya.


Valent keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya, wajahnya pucat dengan raut khawatir. Sementara Alfredo dan Jackal tiba menyusul Valent karena mereka melihat gelagat Bossnya itu sangat aneh. Tidak biasanya Valent terlihat sepanik itu. Mau ada B0m meledak, mau ada Kaisar ngamuk memakan semua pengawal, Valent selalu terlihat waspada dan terencana.


Yang Valent lihat pertama kali di basecamp adalah Minerva, anak Rafael yang saat ini usianya 17 tahun, berlari ke arahnya sambil memeluknya. “Paman...” hanya itu yang sanggup ia ucapkan, berikutnya ia hanya bisa menangis meraung.


“Ada apa ini? Kenapa Rafael? Apa yang terjadi?” Valent meraih lengan Minerva dan mencoba bertanya, tapi gadis itu hanya menangis histeris.


Berikutnya, tubuh Minerva limbung dan terjatuh.


Ia pingsan dalam keadaan pipinya tergenang air mata.


Tampaknya ia sudah menahan kesedihan semalaman sampai akhirnya tidak kuat lagi dan tenaganya habis.


“Astaga! Minerva? Minerva hey? Sayang...?” Valent mengelus-elus pipi Minerva dan mencoba membuatnya sadar. Karena tak ada hasil akhirnya ia bopong tubuh keponakannya itu masuk ke dalam basecamp.


Di dalam, sudah ada Irina, dan dua putrinya yang masih balita, Ivy dan Lily. Mereka istri dan anak-anak Michael.


“Gabriel...” Irina berdiri dan membantu Valent membaringkan Minerva yang pingsan.


“Di mana Michael?” tanya Valent.


“Dia di dalam,” dengan wajah muram, Irina menunjuk sebuah ruangan di ujung.


Valent akan beranjak ke sana, tapi Irina menahan lengannya. “Gabriel,”


“Aku perlu menemuinya,”


“Aku tahu kamu perlu, tapi yang kamu dengar ini akan membuatmu gila. Jadi kau harus tenangkan pikiranmu dulu,”


“Bagaimana aku bisa tenang Irina?!” seru Valent marah.


Dua keponakannya langsung menangis mendengar suaranya yang bernada tinggi, membentak ibu mereka. Irina langsung memeluk kedua anaknya, lalu mengangkat kepalanya ke arah Valent. Valent diam sambil menahan emosinya.


“Gabriel, ada orang-orang yang mulai sekarang hidupnya akan dipenuhi ketakutan. Semua orang berduka, dan sudah ada banyak korban yang jatuh. Jadi tolong jangan mengambil tindakan yang dapat memperbesar konflik ratusan tahun,”


Saat itu Valent langsung mengerti. Bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan Zafiry.


Valent mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya.


Lalu pria itu memejamkan matanya dan berdiam sejenak.


Sebuah suara terlintas di benaknya.


Suara Albert.


Aku bersamamu, kau akan kuat.


Kata suara itu.


Kemudian, ia pun membuka matanya, perasaannya sudah lebih tenang. Apa pun yang terjadi, akan ia selesaikan. Akan mereka selesaikan.


Dan ia mengangguk ke arah Irina, menandakan ia sudah siap bertemu Michael, dan menerima kenyataan.


“Siapa itu Gabriel?” bisik Gallard ke Echo. Echo menggeleng sambil menaikkan bahunya.


**


Michael duduk di kursi di depan meja dengan wajah tercenung karena masih shock.


“Seharusnya aku...” gumamnya dengan pandangan kosong.


“Seharusnya aku korbannya,” gumamnya lagi berulang-ulang. “Semua gara-gara aku, semua salahku...”


“Michael,” Valent masuk dan menyapanya.


Michael menatapnya dengan nyalang, sambil gemetaran, “Seharusnya aku yang mati,”


Valent menarik nafas panjang, “Jangan mati dulu sebelum menceritakanku fakta yang sebenarnya, juga sebelum kau mengantarkan Ivy dan Lily ke pelaminan. Enak saja kau bilang mati  semudah itu, selesaikan dulu tanggung jawabmu ke keluargamu,” dengus Valent.


Michael terdiam.


“Jadi...” Valent duduk di depan Michael, namun ia letakkan tongkat Albert di sebelahnya. “Informasi apa yang harus aku tahu, karena di pihakku ada 2 pewaris tahta yang menunggu penjelasan,”


“AH, Cyril dan Orion...”


“Ya, juga Olena, dia tak masuk hitungan karena kau tak tahu dia memihak siapa dan apakah itu benar-benar telurnya atau hanya bongkahan batu biasa,”


“Itu telurnya, Conrad bisa merasakannya,”


“Kenapa Conrad tidak merasakannya selama ini?”


“Kekuatan Conrad saat ini terbatas, karena...” Kata-kata Michael terhenti.


“Karena apa Michael? Kenapa kekuatannya terbatas? Dia bahkan tidak bisa mendeteksi Orion dan Cyril sebelum mereka berdua masuk ke Velladurai. Ada apa di Velladurai? Kenapa dengan Conrad?” tanya Valent.


“Gabriel...” Michael menatapnya lurus.


“Apa?”


“Kamu tahu... The Greatest?”


“The Greatest? Dia penyihir dengan level di atas The Wizard kan?”


“Temanmu pasti tahu the Greatest,” desis Michael.


“Temanku?”


Michael mengangguk dan melirik ke samping Valent. Ke arah tongkat Albert.


Yang seharusnya tidak dapat dilihat siapa pun.


“Gabriel... Ada tujuannya kenapa kita dinamai dengan nama Malaikat. Tiga Malaikat Agung dalam Kristen Ortodoks. Karena Malaikat adalah hamba tanpa pamrih untuk TuhanNya. Dan menamai kita dengan nama itu bisa membuat keberadaannya tidak terdeteksi siapa pun bahkan oleh Cyril,” kata Michael. “Tapi mohon maaf... kami hanya manusia biasa. Terlalu besar ekspektasinya kalau berharap pada kita,”


“Kau ini bicara apa sih?” Valent semakin tak sabar.


“Tidak ada yang menyangka kalau Albert bereinkarnasi menjadi kamu. Sihirnya lumayan kuat. Pantasnya ia menyandang gelar The Greatest, tapi karena Albert mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi Cyril, maka gelar The Greatest jatuh ke wakil Raja, Si Penyihir Istana,”


“Ya aku sudah tahu yang itu,”


“Si penyihir istana yang tahu segalanya yang terjadi di dalam istana, tahu semua kelemahan masing-masing individunya, dan tahu ia bisa merebut semuanya untuk Tahta,”


“Apa?”


“Untuk membunuh Raja dan Ratu, hanya satu yang ia butuhkan,”


“Apa maksudmu Michael? Jangan bicara setengah-setengah!”


Michael meringis dengan pandangan mata kosong, lalu mengacungkan jarinya. Membentuk angka satu.


“Ia hanya memerlukan satu saja pewaris tahta, yang bisa ia kendalikan, yang bisa ia rasuki, untuk membunuh Raja dan Ratu,”


Valent terdiam.


“Dan pilihannya jatuh ke Conrad, yang saat itu hatinya sedang terombang-ambing karena cintanya ditolak Sang Selir,” desis Michael.


Valent menunggu kalimat selanjutnya, Michael dalam keadaan tidak stabil. Menyuruhnya diam sama saja membuang kesempatan.


“Gabriel... The Greatest belum mati, dia adalah ayah kita. Valentino Gary. Ia palsukan semua identitas kita, menyamar menjadi kebangsaan dari negara Barat, padahal dia adalah penduduk Zafiry. Tanah bertabur emas berlian. Kita adalah anak-anak Zafiry selama ini,” Michael menggelengkan kepalanya sambil terisak.


Valent mendengarkan semua dengan seksama.


Albert... Kau dengar?


Kau menitis di darah daging The Greatest.


Lagi-lagi informasi yang tidak masuk akal... aku mulai ingin meluluhlantakkan semuanya seperti kau dulu. Gerutu Valent dalam hati.


“Lalu Rafael? Dia mengorbankan apa?” tanya Valent sambil memijat dahinya. Terlalu banyak informasi yang masuk ke otaknya. Ia butuh tidur yang nyaman.


“Aku berkhianat melawan ayah. Aku yang tahu duluan mengenai Mansion Quon. Aku tahu mengenai Conrad, The Greatest, asal-asul kita, mengenai Agha dan semua koordinat keberadaan kalian. Aku yang mengusahakan agar Xavier yang menemukan kalian dan bukannya Ayah. Sebisa mungkin kalian ada di Velladurai. Tapi aku tidak bisa bilang ke kalian karena ayah menguasai semua akses teknologi,”


“Lalu... pengkhianatanmu mulai ketahuan,” tebak Valent dengan lesu.


“Ya. Dan Rafael membantuku. Dia meminta semua informasi ini, agar perhatian mereka beralih ke Rafael. Ia berusaha mencolok, agar aku tidak dicurigai. Ia sengaja bilang padamu mengenai harta karun di bawah mansion Quon dari Laptop Ayah! Dia bilang dia pernah melihatnya, padahal Tidak! Aku yang pernah melihatnya, aku yang memberitahunya mengenai Singa Tundra! Dan Rafael memberikan sample Hatred Orion padamu! Semuanya agar Orion dapat hidup di Velladurai, agar kau dan Cyril menyelamatkannya dari cengkeraman organisasi!” Michael mulai menangis lagi.


“Dia mengambil alih semua tanggung jawabku... agar aku memiliki waktu untuk lari menyelamatkan Irina, Ivy, Lily dan Minerva,” desis Michael.


Valent melempar kursi di depannya dengan marah.


“Kaisar, kau dengar semuanya?!” seru Valent.


Kaisar masuk ke dalam ruangan dan mengangguk. ”Ya, aku dengar semuanya,”


Michael sampai ternganga melihat sosok manusia tinggi tegap memasuki ruangan tempat mereka berdiskusi.


Kaisar menatap Michael dengan pandangan menyelidik. Di matanya, manusia selalu bisa berbohong. Tadi saat ia keluar dari kamar hendak menemui Valent, Alfredo dan Jackal menariknya ke dalam mobil dan membuntuti mobil Valent ke basecamp. Mereka berdua merasa ada hal aneh di diri Valent.


“Sesuai dugaanku, karena aku sangat mengenal Conrad. Dia memang labil tapi dia bukan pembunuh kecuali ada yang menguasai pikirannya saat ia sedang dalam kondisi putus asa,”


“Kini ada lagi yang harus kita selamatkan lebih utama! Yaitu saudaramu Conrad!” seru Valent kesal.