KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Ikatan


“Kamu bersedia jadi Ratuku?” desis Kaisar.


"Aku hanya menjawab pertanyaanmu waktu itu. Saat aku tidur, kau berbisik di telingaku," kata Adinda.


"Hm, betul," Kaisar tersenyum dan menurunkan Adinda ke ranjang dan membelai pipinya. "Dan kamu tahu, menjadi seorang Ratu bukanlah tanggung jawab yang bisa ditinggalkan segitu saja,"


Alis Adinda terangkat.


"Yang Mulia, saat ini aku berharap untuk menjadi Ratu dalam kehidupanmu saja. Ratu-Mu. Bukan berarti aku mengincar tahta Kerajaanmu," kata Adinda.


"Kuanggap itu sama. Dengan menjadi istriku, secara tidak langsung kau mewarisi tahta dan menjadi Ratu,"


"Tapi aku belum memaafkan kelancanganmu menyentuhku tanpa izin, jelas?"


"Baiklah, Ratuku…" Kaisar mengecup pelan bibir Adinda.


Adinda menyambutnya sambil membelai rahang Kaisar. "Apakah aku terburu-buru menerimamu?" desisnya sambil menikmati sentuhan demi sentuhan, kecupan demi kecupan dari Sang Pangeran. "Aku bahkan belum tahu persis siapa kamu,"


Dan tubuhnya sedikit melengkung saat Kaisar menangkup puncak dada Adinda dengan mulutnya. Kini gadis itu sudah tidak berbusana. Pakaian mahal yang dikenakannya sudah berubah jadi serpihan kain lusuh di lantai.


Lidah Sang Pangeran menggoda Adinda dengan jamahannya. Ujung dada Adinda mengeras dan jemari gadis itu mencengkeram rambut Kaisar yang agak panjang.


"Kamu jatuh cinta padaku yang masih berbentuk Harimau. Suatu hal yang diluar nalar,"


"Bentuk manusiamu jauh lebih mengagetkan," Adinda menarik leher Kaisar dan meminta ciuman lagi.


Dalam sekejab gadis itu kecanduan.


"Mau menikah secara perjanjian darah denganku?" kata Kaisar.


Adinda membuka matanya dan menatap Kaisar.


"Begitu cepatnya? Perjanjian darah?"


"Hal yang dilakukan pasangan kekasih di bangsa kami, sebelum menuju jenjang pernikahan,"


"Apa efeknya?"


"Kalau salah satu berkhianat, ia akan sakit kecuali pihak yang dikhianati memaafkannya,"


"Kalau sudah menikah bagaimana?"


"Kalau sudah ceremonial, pihak yang berkhianat akan mati. Pihak yang dikhianati akan kehilangan kekuatan sihirnya dan menjadi wujud Hewan selama 50 tahun,"


"Wah, kejam. Tapi kupikir adil sih,"


"Jadi setelah tahu hal ini, saat kamu melihat ada hewan yang dinyatakan punah tiba-tiba terlihat lagi di hutan, hati-hati saja,"


"Hehe, baiklah…" mereka kembali berciuman.


"Rasanya sudah lama sekali aku mengenalmu. Seakan kita sudah sering bertemu,"


"Kita memang sering bertemu, Adinda. Bahkan malam hari pun aku tidur denganmu,"


"Maksudku bukan itu. Sulit dijelaskan,"


"Aku hanya menggodamu. Aku tahu persis maksudmu. Aku juga merasakan hal yang sama," Kaisar mengecup leher Adinda dan memeluknya.


Pelukan yang selalu membuat Adinda nyaman.


Hangat dan terasa aman, terlindungi dari semua yang membuat hatinya gundah.


"Seakan kita sudah bersama selama ratusan tahun. Rasanya aku sangat merindukanmu," bisik Adinda.


"Mari kita buat perjanjian darah," kata Kaisar. "Tapi mungkin aku sedikit curang, karena Perjanjian Darah hanya bisa berlaku kalau disetujui oleh pewaris tahta yang lain. Dengan kata lain, adik-adikku,"


Adinda hanya menatap Kaisar dengan sendu.


"Jeda waktu persetujuan mereka 3 hari, kalau tidak ada yang protes, dianggap setuju. Kita akan bertunangan," tambah Kaisar.


"Baiklah. Kita lakukan," desis Adinda. "Bagaimana prosesnya?"


Kamu minum darahku, aku minum darahmu, diiringi dengan mantra pengikat,"


"Baiklah,"


Dan Kaisar pun merapal mantra.


**


Sementara itu.


"Astaga…" Valent berbaring di ranjangnya sambil menutupi matanya dengan lengan. "Aku rasanya kecanduan s3k5. Tak pernah cukup. Sampai pusing rasanya," keluhnya.


Orion menyapu sisa darah yang ada di pinggir bibirnya. Dia diam saja.


Karena kecanduan Valent memang adalah efek dari feromon yang disebarkannya. Darah Valent mengalir deras dan rasanya sangat enak saat sedang bergairah.


Lagipula, tubuh Valent dianggapnya jauh lebih seksi dibandingkan budak-budak atau ksatria-ksatria di kerajaannya, yang dengan sukarela sering menyerahkan darah mereka untuk tenaga Sang Putri junjungan.


Tapi dia jelas tidak suka kalau Valent memaksanya. Ia seorang Putri, dan ia tidak pernah 'dipaksa' apalagi oleh seseorang yang dianggapnya budak seperti Valent.


"Banyak makan ya Gabriel, agar sel darahmu senang dan senantiasa membelah diri," kekeh Orion.


"Ungkapan rancu macam apa itu… Bisa jadi di seluruh dunia hanya kau yang berujar begitu," gerutu Valent.


Orion cekikikan.


Namun tiba-tiba seketika ia tegang.


Energi yang aneh langsung menyerangnya, seakan angin beliung memenuhi tempat itu.


"Perjanjian darah…" gumam Orion dengan mata yang merah menyala.


Tapi wajahnya tampak marah.


"Kakak… Tidak! Tidak! Jangan terikat dengannya! Tidak…" Orion mengenakan pakaiannya dan langsung menghambur ke arah pintu.


"Heh? Kenapa kamu? Orion tunggu dulu!!" Valent ikut panik dan berpakaian seadanya secepat yang ia bisa karena sambil mengejar Orion.


**


BRAKK!!


“Hentikan, Kak!!” seru Orion sambil mendobrak masuk ke dalam kamar Adinda.


Di belakangnya, Valent terengah-engah karena mengejar Orion, tapi matanya langsung fokus ke depan, ke arah Adinda dan Kaisar yang sedang dalam posisi tidak siap, tanpa pakaian.


“Eh? Apa yang sedang kalian lakukan?” gumam Valent langsung curiga.


“Hah?!” dengus Valent kaget.


“Kau lakukan itu tanpa persetujuan kami! Para pewaris tahta! Kalau tidak ada yang merespon dalam waktu 3 hari, gadis ini akan jadi istrimu!” Seru Orion marah.


“Ada waktu 3 hari untukmu merespon,” kata Kaisar tetap tenang.


“Ya, dan aku tidak setuju!” tegas Orion.


Semua diam.


“Anu.. siapa dia?” Adinda menatap Orion dengan terheran-heran. Masalahnya gadis berambut hitam dengan semangat berapi-api di depannya ini sangat cantik, dengan tubuh yang bisa dibilang sempurna, impian semua wanita. Dan dia menyebut Kaisar dengan sebutan ‘Kak’.


“Ini Adikku, Putri Orion,” kata Kaisar.


“Dia…” Adinda memperhatikan sosok Orion dengan terpukau, terus terang saja dia langsung merasa tidak percaya diri. “Siluman juga?”


“Iya, dia-”


“Terserah wujudku apa, tapi tidak akan kubiarkan tahta Ratu jatuh ke tangan keturunan pengkhianat!” seru Orion.


“Orion!” Valent marah dan memperingatkan gadis itu. Ia mencengkeram lengan Orion dan menariknya menjauh. Tapi Orion menepis tangannya.


“Diam Gabriel! Terserah apa urusanmu, tapi ini masalah hidup dan matiku!” bentak Orion. tubuh manusianya seketika berubah menjadi ular hitam dan ia melempar Valent sampai membentur dinding.


Valent mengeluh kesakitan dan tersungkur di lantai sambil terbatuk.


“Orion,” Kaisar beranjak dan mencoba menghampiri adiknya untuk menangkan.


“Orion, jangan.. Uhuk!!” Valent terbatuk sambil memuntahkan darah.


“Dia keturunan Agha Kak! Agha si pemberontak selir utama-mu itu!!” jerit Orion sambil menggigit tangan Kaisar dan mentransfer ingatannya.


“Astaga…” desis Kaisar sambil tertegun setelah ingatan Orion terbaca olehnya.


“Lihat kan? Dia manusia yang menyebabkan kehancuran suku kita, kematian banyak orang, dan keruntuhan kerajaan kita!! Setelah itu dia melarikan diri dan beranak pinak di Ruby Country. Seluruh harta suku kita tersebar di kastil ini!! Bukti kalau Velladurai adalah keturunan pengkhianat!!” seru Orion masih dalam wujud ular.


“Pantas saja aroma tubuh Adinda terasa sangat kukenal…” desis Kaisar.


“Seharusnya malah kau bunuh gadis itu, bukannya menikahinya!!” Seru Orion.


“Ergh…” keluh Valent sambil mencoba berdiri. Sakit karena tulangnya retak tidak sebanding dengan rasa kuatirnya. “Tingkahmu seperti yakin saja kalau Adinda tahu dia keturunan Agha. Kuyakin juga dia bahkan tidak kenal siapa itu Agha,”


“Siapa Agha?” tanya Adinda


“Dia selir Utama, tugasnya menghilangkan keperjakaan si Pangeran Zafiry,” umpat Valent. “Sekaligus sepertinya orang kesayangan sang calon raja,” Valent bermaksud membuat Adinda cemburu.


“Apa?” gumam Adinda sambil terpekik tak percaya. “Dan kau masih berani menyentuhku saat hatimu tertambat pada wanita lain? Kurang ajar kau!!” seru Adinda ke arah Kaisar.


Valent terkekeh. “Ya memang seharusnya kau menikah denganku,” desis Valent. “Lupakan saja semua urusan slimuan ini, biarkan mereka pergi mengurusi urusannya sendiri, dan kamu bisa menikah denganku,” akhirnya Valent pun tidak peduli terhadap keselamatan Kaisar dan Orion.


“Aku tidak mencintaimu, Val,” desis Adinda.


“Sial, aku jadi brother-zone selama ini,” ketus Valent.


“Aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Agha, dia hanya selir,”


“Tetap saja kalian bercinta. Dan ada kemungkinan dia mengandung anakmu dan aku ternyata keturunanmu juga! Kau memang brengsek!!” umpat Adinda sambil membuka lemarinya dan mengenakan pakaian.


“Agha tidak dalam keadaan hamil saat kami terakhir bertemu,”


“Siapa yang tahu?!” seru Adinda marah sambil melempar pakaian laki-laki, milik Papanya di masa muda, ke arah Kaisar, menyuruhnya juga berpakaian.


Kaisar menghela nafas, lalu berpakaian dan terduduk di sofa.


ia merasa pusing, lalu terdiam.


hanya terdiam di sofa sambil menunduk.


mencoba memikirkan semuanya dengan kepala dingin.


Sementara Valent yang sudah pulih, walaupun tulang rusuknya retak, mencengkeram leher ular Orion dan menggeretnya paksa ke luar kamar Adinda. “SIni kau!!”


Tenaga yang cukup kuat untuk seorang manusia bisa menggeret paksa seekor ular besar sepanjang 10 meter dan berbobot hampir 300 kg.


Namun, langkah mereka terhenti.


Karena di luar kamar Adinda, sekitar selusin anak buah Valent yang kuatir dan sedang mengangkat senjata karena mendengar keributan di dalam sedang bersiaga.


Luis, Gallard, dan beberapa lainnya menatap Orion dengan mulut ternganga.


"U-ular…" gagap mereka, ketakutan.


Valent menarik nafas menahan sabar. Luis dan Gallard sudah ia kenal sejak awal meniti karier di Velladurai. Valent kenal keluarga mereka, permasalahan mereka, bahkan rahasia terdalam mereka.


Tapi mereka tidak kenal Valent.


Ada beberapa orang lain yang selama ini patuh pada perintah Valent. Tapi mereka kurang respek terhadap Xavier.


"Boss, apa yang terjadi?" desis Luis.


"Sejak kapan kalian di sini?" desis Valent tegang.


"Sejak… Boss dibanting oleh…" Gallard melirik Orion.


"Jangan bilang siapa pun mengenai hal ini. Kemungkinan yang kalian impikan selama ini akan terwujud dalam waktu dekat," kata Valent dengan suara rendah.


Kudeta dalam Velladurai.


Itu yang sedang mereka rencanakan.


Mungkin bisa lebih mudah dengan adanya Kaisar dan Orion di sisi mereka.


"T-tapi itu dibelakang Boss…" Luis phobia ular. Melihat ular raksasa bermata merah dan taring panjang membuatnya hampir pingsan ketakutan. Dengan gemetar ia mengokang AK-47nya.


"Sabar Luis, dia bukan musuh," desis Valent.


"Dia bukan musuh tapi dia baru saja membantingmu ke dinding," kata Gallard lagi, dia juga waspada.


Valent menarik nafas, "Kalian berjaga di depan kamar Adinda, jangan biarkan siapapun masuk. Kalau mendengar keributan, hubungi aku,"


"Gab-, Valentino, kakakku tidak boleh ber-"


"Sudah kau diam! Dasar anak nakal!" seru Valent sambil kembali menggeret Orion ke basement menuju kamarnya.


"Kakak, pikirkan baik-baik tindakanmu!!" seru Orion dari luar kamar.


"Duh!! Bawel banget sih!!" sahut Valent tak sabar.