KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Jatuh Cinta Sekali Lagi


“Kenapa Gabriel?” Orion memanggilnya. Gadis itu sedang duduk di sofa sambil merapal mantra untuk membuat batu mulia dari abu ayah dan ibunya. Walaupun keadaannya sudah lebih baik, dia dua kali pingsan, saat ini wajahnya masih pucat.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Valent melihat banyak sinar keluar dari tubuh Orion.


“Aku sedang memanaskan abu, mineralnya akan kuolah menjadi batu,”


Valent menatap Orion dengan takjub. Segala ilmu yang para siluman miliki, dengan keunikannya masing-masing, membuat Valent bingung. Butuh waktu lama untuk mencerna apa kelebihan dan apa kekurangan yang Kaisar dan Orion miliki.


Namun kalau ditanya, mereka tidak akan menjawab sekaligus apa saja kekuatan yang mereka miliki, saking perbedaannya sangat mencolok. Seiring berjalannya waktu, perlahan semua kemampuan mereka baru bisa terkuak seluruhnya.


Yang pasti, mereka bukannya tidak bisa mati.


Tampaknya, dari semua siluman, jenis Orion adalah yang paling rapuh. Dan jenis Kaisar adalah yang paling kuat.


Juga...


Kalau harimau saja adalah yang paling kuat, jadi yang tersakti dari semuanya adalah wujud Singa.


Yang bisa membunuh mereka hanyalah sesama siluman. Karena mereka pasti kebal peluru manusia.


Juga anak panah yang menembus mereka... terbuat dari mineral apa bisa menembus armor sekaligus kulit Singa Tundra yang kebal?


Apakah...


“Orion, aku mau bertanya,”


“Ya?”


“Waktu membuka kunci bawah tanah... Kaisar merontokkan bulunya,”


“Oh, iya. DNA Raja ada di bulu dan darah,”


“Ya, aku ingin bertanya, apa saja efek dari bulu siluman yang wujudnya seekor hewan buas?”


“Hem... Siluman yang memiliki rambut atau bulu adalah ciri khas siluman yang ilmunya di atas rata-rata. Apalagi kalau taring mereka panjang, itu sangat bergengsi. Bagaikan pria dengan otot berundak-undak,”


“Heh...” Valent terkekeh mendengar kiasan Orion.


“Bulu Harimau dan singa memiliki efek seperti pisau dan obat bius. Kalau tertusuk atau tertelan, fungsinya bisa melemahkan. Jadi mereka biasa menjadikannya ujung mata panah. Manusia dan siluman yang tertusuk bisa tak sadar diri, dan di saat yang bersamaan tubuh mereka tersayat. Kematian yang tidak sakit,”


“Wow...” desis Valent. “Kalau serigala?”


Orion menatap Valent dan menghentikan aktivitasnya. “Efeknya lebih lemah sebenarnya, fungsinya sama saja. Tapi aku lebih baik ditusuk dengan bulu singa dibanding dengan bulu serigala. Kalau bulu serigala, kita masih bisa merasakan sakit yang luar biasa karena efek biusnya tidak terlalu kuat,”


Valent diam.


Lalu ia merinding dan menelan ludahnya.


Kematian Raja dan Ratu... bisa dibilang sangat menyedihkan. Mereka pasti merasakan sakit yang amat sangat, saat anak panah berisi bulu anak kandungnya sendiri menembus tubuh mereka.


Dari ekspresi jenazah yang kosong, mereka pasti sudah menyerah dan pasrah saat tahu dalang dibalik semua itu adalah anak yang selama ini mereka besarkan dengan kasih sayang dan segala kecukupan.


Dari kondisi tubuh yang bentuknya manusia, dan kepala yang bentuknya siluman Singa, Valent bisa memprediksi kalau mereka dalam kondisi shock. Bisa jadi Conrad bedebah itu ada di depan mereka, menyaksikan sendiri orang tuanya meregang nyawa. Karena itu Raja dan Ratu berusaha berubah menjadi manusia untuk bicara dengan Conrad, tapi mereka keburu meninggal.


Meninggal dengan cara dipenggal.


Albert benar.


Si Penyihir benar akan semuanya.


Saat dia merapal mantra pemusnah, dia berhasil menidurkan Cyril, Orion dan Olena, Memusnahkan semua bangunan, melelehkan sebagian besar emas dan batu mulia agar meresap ke dalam bumi, memasukkan para siluman ke dalam batu mulia dan memendam mereka di dalam tanah untuk tidur panjang, tapi juga menewaskan semua manusia di dalam kubah Zafiry.


Tapi tidak dengan Raja, Ratu, dan Pangeran Conrad yang rasa dendamnya lebih besar daripada kekuatan The Wizard.


Juga... manusia-manusia yang menunggu di luar kubah. Mereka tidak terpengaruh.


Saat mantra itu dirapal, kubah akan terbuka. Zafiry dalam kondisi tanpa pelindung. Dan manusia yang berada di luar bisa masuk.


Astaga...


Tragis sekali.


Valent mengusap lehernya untuk meredakan ketegangan. Kaisar sedang berada di rumah sakit menunggui Adinda, dan anak buahnya sebagian berada di basecamp untuk membagi emas. Sisanya beristirahat di mess Velladurai.


Namun gadis di depannya ini, Orion si ular hitam yang cantik ini senantiasa mengikuti Valent sejak mereka bertemu.


“Orion, kenapa kau menyukaiku?” tanya Valent sambil memandang Orion dengan sendu. Kenyataan kalau Valent adalah reinkarnasi Albert membuatnya penasaran apakah Orion tahu bahwa di masa lalu ia adalah orang yang dicintai gadis ini?


“Entahlah, aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu,” Orion meletakkan kembali abu ayah ibunya yang sudah setengah jadi untuk proses menuju bentuk batu, ke dalam guci. “Rasanya... aku begitu rindu kalau kau tak ada. Aku juga merasa kalau sangat mengenalmu. Seakan kita sudah lama bersama,”


Gadis itu menatap Valent dengan sendu.


Matanya yang kemerahan dengan jelas menyatakan perasaannya.


Valent tidak kuat menatap Orion lama-lama. Perasaan Albert di dalam mimpi sudah tersampaikan padanya. Bahwa sebenarnya ia juga menyukai Orion, namun rasa cintanya kepada Agha lebih besar.


Rasa empati di diri Valent muncul.


Orion kini tanpa pegangan, hanya Kaisar yang ia miliki.


“Sebesar apa kalau dibandingkan dengan... rasa sukamu terhadap Albert?” tanya Valent hati-hati.


Ya, ada rasa cemburu di nada suara Valent.


Tapi pria itu berusaha menyembunyikannya.


“AH... Albert, dari mana kamu tahu nama itu? Apa dari Kakak?” tanya Orion pelan.


“Aku sudah...” Valent tidak melanjutkan kalimatnya.


Orion menangis.


Lagi-lagi air matanya tumpah.


Ia terlalu banyak merasakan kehilangan.


“A-a-aku,” Orion menunduk. Punggungnya bergetar.


Ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata dari bibirnya karena rasa sedih mencekat tenggorokannya.


Valent menghela nafas, dan mengambil pena di atas nakasnya. Pena yang terbuat dari giok hijau dengan ornamen sayap emas di ujungnya. Tampaknya, Orion tidak bisa melihat benda itu seperti teman-temannya juga. Seakan benda itu tidak ingin terdeteksi siapa pun kecuali Valent.


“Albert meninggal untuk mengorbankan hidupnya demi kami, para pewaris tahta yang tak tahu diri ini,” erang Orion. “Apa gunanya diriku sebenarnya? Kalau bisa kuganti nyawa ini dengan nyawa Albert, aku akan merelakannya! Dia bodoh sekali mempercayakan dunia ini pada kami!”


Orion terisak lagi, “Seandainya bisa kuulang kembali masa itu... aku akan maju mengejarnya! Di matanya mungkin selama ini aku terlihat seperti gadis yang senang bermain-main, dia tidak tahu kalau kulakukan itu karena ia selalu menolakku. Apalagi saat dia bilang kalau dia mencintai orang lain, kau bayangkan perasaanku!”


Valent hanya diam sambil menatap pena di tangannya, yang perlahan berubah menjadi tongkat.


Orion menutupi wajahnya sambil terisak, “Seandainya aku bisa bilang dengan lebih cepat, kalau aku benar-benar mencintainya. Sekarang semua sudah terlambat...”


“Aku juga mencintaimu,”


Orion mengangkat wajahnya. Ia kenal suara itu.


Seketika ia berhenti menangis dan menatap ke depan.


Albert ada di depannya, sedang menatapnya.


Pria itu sedang duduk sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Orion, tongkat sihir kesayangannya tersangga di bahunya.


“Kini, Aku juga mencintaimu Orion, maafkan aku sudah begitu bodoh karena terpikat orang lain dulu. Aku tidak merasakan ketulusan hatimu karena dibutakan oleh pesonanya,” Albert mengangkat tangannya dan membelai pipi Orion, menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu.


“Maafkan aku sudah begitu bodoh karena menolakmu. Posisimu yang seorang Putri Raja dan Siluman membuatku tidak percaya diri untuk pantas bersanding denganmu. Jadi aku menolakmu dan mengubur dalam-dalam perasaanku. Dan aku mulai mencari wanita lain untuk mengurangi perasaanku padamu,”


“Albert... bagaimana kau bisa...” desis Orion terpana.


“Valentino Gabriel adalah wujudku di masa depan,” desis Albert. “Walau pun sekarang aku tidak bisa merapal mantra, tapi nyatanya, aku kembali jatuh cinta padamu. Sekali lagi jatuh cinta padamu,”


Perbincangan mereka terputus oleh dering ponsel di atas meja.


Albert mengambil ponsel itu, lalu mengangkatnya.


“Ya, Boss...” desisnya memakai suara Valent.


“Apa yang terjadi Valentino?! Adinda bagaimana? Kenapa mansion bisa bisa terbakar?!” terdengar suara panik Xavier dari seberang sana.


Albert terkekeh geli, “Aku jelaskan saat kau sudah sampai rumah saja, terlalu banyak untuk dijelaskan melalui telepon,” Kata Albert kemudian. Lalu pria itu memutuskan sambungan teleponnya. Dan kembali menatap Orion.


“Semua ingatan dan perasaanku akan kutransfer ke Valent, Dia memang titisanku tapi nyatanya kami sebenarnya dua pria yang berbeda. Dia juga memiliki kehidupan sendiri,” Pria itu menatap Orion dengan rasa pedih yang tertahan.


“Orion,” Ia menyentuh pipi Orion dengan lembut. Orion masih menatapnya dengan terpana, “Aku sudah meninggal. Tolong relakan aku. Yang kau lihat ini hanya sebuah refleksi yang kurekam di masa lalu melalui tongkat sihirku. Tapi kini kau memiliki Valentino,”


Orion merasa waktunya bersama Albert tidak bertahan lama.


Reflek,ia menggenggam tangan pria itu dan menatapnya dengan pandangan mengiba, “Albert, kumohon...” desisnya.


Albert mengelus kepalanya dengan sayang, “Selamat tinggal Tuan Putri. Kamu selalu membuatku terpukau, dan pasti Ayah Ibumu juga bangga telah membesarkanmu dengan baik,”


“Ah... Albert...”


Dan sosok Albert pun menghilang, berganti dengan Valentino yang berdiri di depannya. Mata hijau Valentino, baru disadari oleh Orion, sangat mirip dengan Albert. Juga rambut kecoklatannya yang agak gondrong dan rahang perseginya.


Apalagi caranya bicara yang terkesan sinis itu.


Apakah itu sebabnya Orion langsung menyukai Valent? Mungkinjuga. Sosok Albert sejak awal berada dalam diri Valent.


Valent menatap Orion sambil mengernyit.


“Ingatan dan pengetahuan Albert telah tertanam di otakku, aku merasa seperti seorang jenius gila,” desis Valent.


“Hm” Orion tidak bisa bicara apa pun, semua terjadi begitu cepat. Ia bahkan tidak bisa menghindar.


“Lalu... Ori?”


“Ya?”


“Kamu mencintai Albert, tapi kau bercinta denganku. Itu namanya selingkuh,” desis Valent sambil cemberut.