KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Pelayan Baru


Malam itu udara sedikit dingin.


Keadaan kastil Velladurai sepi dan aman. Xavier sedang di luar negeri, dia membawa beberapa anak buahnya sampai minggu depan. Sementara Valent dipercaya untuk mengurusi transaksi di dalam negeri.


Adinda menggeliat karena merasa kepanasan.


Heran, di udara sedingin ini karena sudah menyambut musim gugur, ia malah kepanasan.


Namun, tubuhnya rasanya berat sekali untuk digerakkan. Di pikirannya ia hanya ingin berbaring selama mungkin, bergelung di dalam selimut hangat yang nyaman.


Adinda memeluk selimutnya yang herannya tidak berbentuk kain. Seperti tekstur kulit. Hangat dan beraroma wine, dengan jemari panjang dan kuat membelai lengannya dan memeluknya erat.


Hembusan nafas panas berbisik di leher Adinda, menyuarakan 'kamu akan jadi ratuku, izinkan aku merenggut keperawananmu'.


Suara dalam yang rendah, bernada memerintah sekaligus merayu. Suara seorang Raja.


Adinda merasa 'selimut' nya mengecup bahunya. Lalu merambat ke lengannya, ke pingangnya, dan tangan besar itu meremas kedua dadanya.


"Oh…" Adinda mendesis bergairah, namun entah bagaimana ia tidak mampu menyadarkan dirinya. Lemas dan letih bagai tak bertenaga, rasanya malas sekali melakukan apa pun.


**


"Astaga!!" seru Adinda bangun terduduk.


Dengan gemetar dan masih merasa shock, ia menggenggam erat selimutnya.


Mimpi itu datang lagi.


Mimpi erotis yang vulgar.


Kali ini Adinda merasa dengan yakin kalau jemari panjang itu menyusup ke area kewanit44nnya, membelainya perlahan.


Sampai membuatnya lupa diri dan kelelahan.


Dan kini saat terbangun Adinda merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa risih dan langsung ingin mandi.


Lagi-lagi ranjangnya basah.


"Apa aku mengompol?" kernyit Adinda merasa heran.


Tapi insting wanitanya berkata lain.


Bukan, ini bukan air seni, baunya tidak pesing. Ini berasal dari area kewanit44nnya.


"Aku mimpi basah atau bagaimana? Tapi semua terasa nyata," bisik Adinda sambil menelungkupkan kepalanya ke bantal.


Perasaannya campur aduk.


Bingung, risih, malu, marah, sedih jadi satu.


Ia tidak tahu harus apa selain menangis.


Lalu ia meraba bawah bantalnya.


Glock Meyer-nya masih di bawah bantal, dan dalam posisi terkunci.


Lalu ia meraba posisi di sebelahnya.


Masih hangat.


Cekungan sebesar itu kemungkinan cetakan tubuh Kaisar. Perajin ranjangnya perlu diapresiasi karena perabot buatannya bisa menahan beban lebih dari 500kg.


Dan posisi dimana Kaisar berada, kemungkinan tadi malam ditempati sosok yang berbeda.


"Atau karena aku fanatik sama Kaisar, aku jadi memimpikannya dalam wujud manusia?!" begitu akhirnya teori Adinda.


Lalu Adinda tertegun.


Sosok di mimpinya memiliki rahang persegi yang sempurna. Rambut hitam melebihi telinga yang teksturnya lembut. Kulitnya kecoklatan dan matanya bersinar merah. Wajahnya tidak terlalu jelas terlihat, tapi ada sebuah ukiran di dahinya. Tatto berbentuk simbol.


Suaranya rendah dan dalam.


Mirip suara Kaisar.


"Fetish-ku…" keluh Adinda.


Adinda lalu menghela nafas. Dan meminum air di sebelahnya.


Tapi lalu ia memuntahkannya lagi. Ada selembar bulu hitam di gelas airnya.


Tiba-tiba saja ia teringat, aktifitasnya sebelum tidur adalah meminum air putih. Ia terbiasa melakukannya sejak kecil, meniru kebiasaan ibunya.


Dan Kaisar… Walaupun tahu posisi tidurnya ada di sebelah kiri Adinda, tapi ia selalu mendatangi Adinda dari kanan. Baru memutar ranjang untuk berbaring di kirinya.


"Padahal posisi pintu lebih condong ke arah kiriku untuk apa dia ke kanan dulu?" ujar Adinda.


Dan gadis itu segera berpikir untuk tidak meminum airnya nanti malam.


"Kita lihat yang terjadi," desis Adinda tegang.


**


"Wooow," gumam semuanya saat mereka melihat Orion.


"Jangan ganggu sepupuku. Mulai sekarang dia bekerja di sini sebagai pelayan," dengus Valent.


Orion dengan seragam pelayan warna hitam. Malah terlihat sangat seksi dibanding wanita lain.


Seharusnya seragam itu tertutup, tapi saat dipakai Orion, di bagian dada malah terlihat sesak dan resletingnya turun terus. Karena capek bolak balik menaikkan zippernya terus, jadi Orion membiarkannya terbuka setengah, memperlihatkan belahan dada ranumnya yang bentukan bulatnya cantik dan presisi.


"Sejak kapan Boss Valent punya sepupu?! Kok nggak pernah cerita? Berapa tahun kita bekerja bersama aku tak pernah mendengarnya punya sanak saudara!" seru salah seorang anggota.


"Aku tidak suka menceritakan kehidupan pribadiku," desis Valent.


"Hei, sepupu," Orion memanggil Valent dengan nada mengejek, "Tugasku apa?"


"Bersih-bersih," sahut Valent.


"Bersih-bersih debu atau bersih-bersih kekacauan yang kau timbulkan?"


"Ah, iya…" BRAKK!! Orion memukul pilar dengan tangan kurusnya. Beton itu retak dan bagian yang ditinjunya membentuk ceruk dalam.


Semua melongo, bengong karena terpana dan kaget.


"Yang kuanggap gangguan, siap-siap saja gegar otak," ancam Orion sambil menyeringai licik.


"Bagaimana? Masih berani mendekat? Walaupun dia pelayan, perlakukan dia seperti Boss Lady ya. Awas kalian macam-macam," ancam Valent sambil memicingkan mata menatap para anak buahnya.


Orion mengikuti Valent menuju perpustakaan untuk memulai tugas bersih-bersihnya hari itu.


"Kemungkinan besok malam kita ke Quon," desis Valent sambil menekan kode sidik jari di pintu perpustakaan. "Persiapkan dirimu,"


"Aku mau lihat Kitab Zafiry yang asli," kata Orion.


"Ada di brankas," kata Valent sambil mempersilahkan Orion masuk lebih dulu.


Orion masuk ke perpustakaan dan menatap semuanya. Tumpukan buku dan benda pusaka berserakan di mana-mana.


"Wah, aku merasa familiar dengan benda-benda di sini,"


"Apa ada benda dari sukumu?"


"Kemungkinan banyak, dari hawanya,"


"Kaisar pernah kubawa ke sini tapi dia tidak menyadari apapun,"


"Mungkin dia menyadari tapi belum bisa mengambil kesimpulan. Wanita memiliki insting yang lebih peka,"


"Kalau begitu…" Valent mendekati Orion dan memeluknya dari belakang. Tangannya meremas bokong Orion yang padat lalu memukulnya dengan gemas.


"Astaga, Gabriel!" keluh Orion.


"Apakah kamu peka terhadap keinginanku saat ini?"


"Lepaskan aku, Gabriel," geram Orion. Gadis itu belum mau bergerak karena tak ingin Valent terluka karena hantamannya. Bagaimanapun saat ini ia hanya bisa bergantung pada Valent.


"Kamu seksi sekali… Apa yang ada di pikiranmu saat memakai seragam ini, hah?!" ujar Valent sambil mengecup leher Orion dalam-dalam akibat menahan gairah yang sebentar lagi mau meledak.


"Aku tidak bermaksud tampil seksi, Boss Valent," Tukas Orion.


Valent mencengkeram rambut Orion dan membalik tubuh gadis itu dengan sedikit gerakan kasar.


Tarikan jemarinya di sela-sela rambut pendek Orion membuat gadis itu mendongak ke arahnya sambil meringis nyeri.


"Ohya?! Kau dari tadi melirikku seakan ingin cari perhatian," geram Valent sambil membalik kembali tubuh Orion dan membuat gadis itu membungkuk.


"Kamu mau apa?!" jerit Orion kesal. Sebelah tangannya mencengkeram lengan Valent karena jambakan pria itu mulai terasa nyeri, sementara sebelah tangannya lagi menyangga tubuhnya ke meja di depannya agar tidak jatuh.


Valent menarik rok Orion ke atas pinggang, "Kamu tidak pakai apapun di balik rok," terdengar seperti gerutuan.


"Aku baru akan membelinya kalau kita ke kota," keluh Orion.


"Baguslah," terdengar dentingan besi dari arah belakang Orion.


Valent sedang membuka ikat pinggangnya.


Lalu menurunkan resleting celananya.


"Jadi, Putri Zafiry. Kamu akan dilecehkan oleh seorang budak. Sudah siap?"


"Kamu gila- OH!!" jerit Orion saat Valent dengan agak kasar memasuki tubuhnya. "Gabriel! Kurang ajar!!" Orion seharusnya bisa melempar Valent karena kekuatannya sudah pulih.


Tapi ia dalam posisi sensitif.


Entah bagaimana, Valent berhasil menekan area titik spotnya, sehingga lutut Orion lemas seketika.


Dalam keadaan seperti itu, Orion mengendus sesuatu. Wangi tembakau yang kuat.


"Kakak datang!" serunya ke Valent.


"Astaga!!" seru Valent kesal.


Luar biasa kesal.


Ia mencabut tubuhnya dari Orion. Membuat gadis itu memekik karena perih yang melandanya.


Valent langsung merapikan pakaiannya.


Sementara Orion masih terduduk di lantai sambil terengah-engah.


"Urusan kita belum selesai," sahut Valent sambil menuju ke arah pintu untuk membuka kode akses.


"Awas saja kau kalau berani memaksaku lagi," gerutu Orion sambil berusaha berdiri.


Kaisar, dalam wujud Harimau hitam, sudah berdiri di depan pintu perpustakaan saat Valent membukanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Kaisar.


"Tak ada yang spesial," gerutu Valent. Ya jelas, percintaan mereka harus tertunda.


"Hidungku tak bisa dibohongi," kata Kaisar


"Kalau begitu, gunakan hidungmu untuk mengendus artefak peninggalan sukumu besok malam," kata Valent sambil berjalan dengan langkah menghentak-hentak karena sedang sangat kesal, menuju brankas tempat Kitab Zafiry disimpan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kaisar sambil mengendus Orion yang masih terduduk di lantai. Tapi berikutnya Harimau itu mundur selangkah sambil mengernyit.


"Ya ampun, tidak bisakah kalian menahan hasrat barang sehari saja?!" cemooh Kaisar.


Orion mencibir saat mendengar dengusan Valent.


"Loh?" beberapa menit kemudian terdengar ujaran kebingungan dari arah Valent.


"Ada apa?" tanya Kaisar.


"Kitabnya hilang,"