
Echo mengutak-atik kacamata khususnya ke arah telur asli Olena, lalu mengerutkan dahinya. “Sepertinya ada beberapa penyesuaian yang harus aku lakukan, guratan di telur asli ada yang berbeda di telur replika,”
“Penyesuaian? Tumben kau melewatkan bagian itu,” kata Gallard.
“Aku yakin tidak melewatkannya, Sesuai yang sudah kita foto kubuat seperti aslinya. Atau... telur ini memang ‘tumbuh’,” kata Echo.
“Tumbuh?”
“Ya, kau tahu, bertambah besar sehingga guratannya menyesuaikan,” Echo menaikkan bahunya.
“Apakah itu memang telur suatu makhluk?”
“Bisa jadi,”
“Olena?”
“Mungkin saja, hal-hal berbau di luar logika seperti itu bukan bidangku, Bro,”
Krekk..
Gallard dan Echo terdiam.
Telur di depan mereka bergerak sedikit.
“Kau lihat tidak?” bisik Echo.
“Lihat sekilas. Tapi siapa tahu itu telur Naga,”
“Naga sama imajinernya dengan phoenix, bodoh kau,”
“Naga terdengar lebih memungkinkan untuk nyata daripada Phoenix,”
Lalu mereka terdiam.
Mereka memfokuskan pandangan mereka, mendekatkan mata mereka ke arah telur. Echo memfokuskan kacamata khususnya agar lebih fokus melihat.
Di sana, disela-sela zamrut hitam yang berkerak, ada semburat magma yang mengalir berputar, bagaikan galaksi menyala kemerahan.
Kembali Gallard dan Echo memicingkan matanya sampai-sampai memiringkan kepalanya. Lalu memfokuskan pandangannya.
Aliran kemerahan bagaikan nyala api di dalam baru itu, perlahan berbentuk manusia.
Tidak hanya satu...
Tapi dua, tiga, dan bahkan mungkin jumlah mereka mencapai... sangat banyak. Wujud mereka bagaikan sedang tertidur, namun dengan tenang bagaikan tertidur di atas air yang kemerahan, lalu dibuat mengalir sedemikian rupa agar goncangan dari luar tidak mempengaruhi mereka.
Echo dengan gemetar mengambil obengnya, lalu memahat kerak yang memenuhi batu. Sepukul saja, bongkahan kerak jatuh ke lantai.
Ia bisa melihat, Zamrut itu berukir. Ukiran sehelai bulu.
Echo memukul-mukul bahu Gallard dengan gemetaran. Gallard mengerti maksud Echo, dia juga sedang dalam keadaan ketakutan sekaligus takjub.
Gallard mengambil obeng yang ada di dekat Echo, lalu ia meniru Echo untuk memahat telur itu.
Kerak berjatuhan. Itu bukan Zamrut Hitam...
Itu Zamrut merah.
Dengan pahatan bagaikan seekor burung sedang meringkuk. Sehingga bentuk benda itu bagaikan telur.
Itu Olena yang membatu, sedang memeluk Rakyat Zafiry.
“Ya Tuhan...” bulu kuduk mereka langsung berdiri.
“Hey, Orion,” panggil mereka serentak sambil menoleh ke belakang. Orion yang saat itu sedang meretas CCTV di semua kastil dan menghapus adegan mereka masuk ke kamar Xavier sambil membawa-bawa telur replika, menoleh dengan mengangkat alisnya.
Namun matanya langsung fokus ke arah benda merah di antara Echo dan Gallard.
“Kakak...” Orion gemetar. Air matanya langsung jatuh.
Gallard menelaah segalanya. Ia menatap Olena, ia melihat ke arah Orion, Lalu melihat ke arah Xavier. Saat Siluman tidak bisa mendeteksi keberadaan siluman lainnya, itu berarti tanda kehidupan sudah tidak ada. Jadi bisa dibilang Olena membatu dalam keadaan tewas.
Tapi ia bisa bangkit oleh sesuatu hal, namun saat bangkit, ia sudah tidak dapat melindungi orang-orang yang ada di pelukannya.
“Siapa...” Gallard menelan ludah, “Siapa yang sedang dilindungi Olena?”
“Itu... para bayi dari ruang inkubator. Manusia dan Siluman. Mereka tumbuh dalam dekapan Kak Lena bertahun-tahun ini. Kak Lena sempat mengambil mereka tampaknya,”
“Hah?” Gallard dan Echo saling berpandangan.
“Selama ini mereka bisa tetap hidup karena menyerap kekuatan Kak Lena,” kata Orion. “Itu sebabnya Kak Lena ‘tewas’,”
“Dia bukan tewas karena perang,”
“Dia mungkin lemah karena perang, tapi jelas yang menewaskannya karena dia memberikan semua energinya untuk semua yang ada di pelukannya.,” Orion memicingkan mata menatap ke dalam telur. “Jumlahnya bisa ribuan, “ desis Orion. “Ini di luar perkiraan kami,”
Gallard pun menunduk sambil berpikir. Lalu ia menghubungi Alfredo yang sedang berada di basecamp. Ia menitipkan ponsel yang tidak dapat dilacak kepada Alfredo tadi, saat ia dan Echo harus mengurusi replika.
“Ya?” tanya Alfredo.
“Bro... apa yang bisa kita lakukan agar Mansion Quon bisa menjadi milik kita?” tanya Gallard.
“Ya Ampun, aku tidak tahu jawabannya. Boss Valent saja sulit mendekati pihak Pemerintah!”
“Mansion Quon harus menjadi milik kita,”
“Mau ku juga begitu, tapi kau tampaknya tidak terlalu peduli dengan keadaan ini pada awalnya, kenapa sekarang sepertinya kau sangat bersemangat?”
Gallard pun menarik nafas.
“Kita kehilangan banyak kerabat, banyak orang-orang yang kita sayangi, sampai kita putus asa, benar kan Bro?”
“Ya benar,” jawab Alfredo.
**
Xavier duduk di sofa santainya kening berkerut.
Ini pagi hari, seingatnya ia ada di dalam kamarnya, di malam hari, bersama Orion si seksi sedang menawarinya teh Assam dengan campuran susu.
Pagi ini saat bangun ia merasa capek, seakan tubuhnya remuk redam.
Di luar jendelanya, ia bisa melihat Kaisar sedang berjemur di bawah sinar matahari. Sang Harimau Hitam, seperti biasa sedang menatap ke arah depan, ke arah perbukitan dengan pandangan nanar seakan sedang menunggu sesuatu akan datang.
Xavier menatap binatang buas raksasa itu, memperhatikan sosoknya yang gagah.
Lalu benaknya kembali ke masa lalu, saat neneknya menceritakan mengenai kedigdayaan Zafiry.
Xavier, dengarkan. DI suatu tempat di Ruby Country, ada istana Zafiry di bawah tanah. Tertutup oleh keegoisan manusia dengan bangunan tinggi di atasnya. Dijaga oleh ribuan penjahat, disamarkan oleh tumpukan senjata dan birokrasi. Karena itu negara ini dijaga oleh berlapis-lapis organisasi. Ini sudah rahasia umum. Kerajaan dengan tanah yang terbuat dari emas, dan berlian sebagai kerikilnya ada di bawah negara ini.
Lalu Xavier pun teringat saat ia pertama kali menemukan Kaisar.
Hutan belantara di pedalaman Brazil yang dihuni oleh suku-suku Kanibal. Namun semua suku saat itu ditemukan sudah tak bernyawa. Hanya anak-anak yang selamat, dibiarkan menangis di samping mayat orang tuanya yang sedang memegang panah beracun.
Seakan mereka sedang dalam kondisi di tengah-tengah penyerangan.
Para anak buah Xavier, orang-orang bayarannya, melaporkan bahwa sebagian besar manusia yang mati, tewas karena kehabisan darah. Beberapa di antaranya mati dengan kondisi hancur seakan dilempar oleh sesuatu yang besar.
Harimau Hitam itu berukuran raksasa, ganas dan kebal peluru.
Aumannya membelah angin, ia bagai marah akan sesuatu yang besar, sekaligus terdengar sedih dan menyayat hati akan kehilangannya.
Lalu seorang tetua desa maju dan mengorbankan diri.
Ia mencoba berbicara dengan si Harimau.
“Katanya, tempatnya bukan di sini. Ia mencari Kerajaannya,” kata si tetua desa waktu itu.
“Di mana Kerajaannya? Biarkan kami tahu, dia kan kami bawa ke sana asalkan dia bisa tenang,” kata Xavier waktu itu.
Si tetua Desa pun berbicara lagi ke arah Harimau itu, “Negeri Para Siluman,” kata si Tetua Desa.
Xavier pun mengernyit. Ia pun mencoba untuk mengucapkan sebuah kata. Walaupun ia sendiri tak yakin akan berhasil.
Xavier maju dan menghadang Harimau Hitam.
“Zafiry,” sahutnya.
Si Harimau Hitam terdiam beberapa saat dan menghampiri Xavier. Pandangannya mengancam Xavier, seakan bilang : kalau kau berbohong, kau akan kubunuh.
Xavier tahu itu makna dari pandangan tiu, walau pun si Harimau tidak bicara dengannya.
Itu yang membuat mereka berhasil membawa Kaisar ke Velladurai.
Walau pun saat memasuki Ruby City, Kaisar mulai berontak. Terlihat ia ingin keluar dari truk berkerangkeng kuat milik Xavier.
Tapi Xavier tidak membiarkannya keluar sebelum sampai di Kastil Velladurai. Kerangkeng yang ada di truk Xavier buatan Valgar Assosiation. Bahannya yang kuat dan misterius karena tidak ada yang tahu kandungannya terbuat dari apa, tadinya membuat skeptis banyak orang.
Untuk apa Valgar menciptakan kurungan sedemikian besar dan kuat? Seakan ada makhluk Raksasa yang akan datang dan mereka sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari?!
Namun kurungan semacam itu juga ada di Quon dan Abizar Azzarro. Dan Xavier berani bertaruh, ada juga di Valgar Association.
4 kurungan untuk 4 makhluk besar. Jumlahnya sama dengan pewaris tahta Zafiry. Xavier sudah mengendus adanya konspirasi sejak itu.
Mungkin mereka tahu mengenai legenda Zafiry, masalahnya mereka tidak tahu organisasi penjahat mana yang akan mendapatkannya. Legenda sengaja disebar ke seantero negeri, dengan cerita ditambah-tambahkan agar semua waspada dan memburu.
Namun, kata nenek Xavier, mereka tidak tahu kalau leluhur Velladurai membuat suatu Kitab.
Di kitab itu terdapat suatu kordinat, yang hanya bisa didapat dengan teknik tertentu. Peninggalan Agha si Selir.
Dengan tulisan di samping kordinat, “Temukan Sang Harimau, maka yang lain akan menyusul dengan sendirinya,”
Karena itu Xavier dapat menemukan Kaisar.
Kitab itu sendiri adalah kordinatnya.
Ponsel Xavier bergetar, mengagetkannya. Nomor tak dikenal, tapi Xavier tahu siapa yang menelponnya.
Xavier mengangkatnya dan berbicara.
“Ya Abizar,” sapanya dengan tegang.
“Xavier, tawaranku hanya berlaku sekali seumur hidup,” desis Abizar dari seberang.
“Baiklah, mari kita bertemu besok pagi,”
“Lalu, aku ingin kau membawa beberapa orang,”
Xavier mengerutkan keningnya,”Siapa?”
“Asistenmu, dan dua orang lagi,”
“Siapa yang dua orang lagi?”
“Asistenmu akan tahu siapa yang akan dia bawa besok, heheheh,”
“Asistenku? Maksudmu Valentino?”
“Ya. Valentino,”
“Kenapa aku harus membawanya? Dia mengurus pekerjaanku saat aku tak ada, kalau aku tiba-tiba kau tembak, dia yang akan menggantikanku menghabisi kalian,” kata Xavier.
“Hubunganku dan Valentino... bisa dibilang hubungan masa lalu. Bawa dia dan dua orang pilihannya, atau perjanjian batal dan Velladurai akan berperang dengan kami,”