
Kaisar dan Valent masuk ke dalam Kastil Velladurai dengan berjalan berdampingan, namun pikiran mereka dipenuhi berbagai hal.
Dari mulai memikirkan mengenai isi pikiran Abizar Azzarro, sampai mengira-ngira bagaimana mungkin Xavier bisa sebodoh itu.
Saat ini mereka menuju ke kamar baru Kaisar. Lokasinya berdekatan dengan kamar Adinda yang memang dibuat berdempetan, dengan pintu penghubung pula.
“Valent,” panggil Kaisar.
“Hm?”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Adinda?”
“Dia targetku untuk menjadi istri,”
“Aku tidak membicarakan mengenai targetmu, aku tanya, bagaimana sebenarnya perasaanmu,”
“Yah...” Valent pun menghela nafas. Ia membuka pintu kamar Kaisar yang sedemikian besarnya sampai-sampai Valent haru membuka sisi-sisinya satu persatu. Pintu yang memang dirancang agar cukup dilalui Kaisar Sang Harimau Hitam.
Kaisar berubah menjadi sosok manusia saat sudah sampai di dalam kamarnya. Ia menyambar kimono yang dibelikan Jackal, pas untuk dipakainya.
Dan Valent menutup pintu sambil menjawab, “Dia tadinya kuanggap adik. Adik yang sangat manis. Kau sudah pernah melihat ibu Adinda?”
“Belum,”
“Sangat cantik. Sampai saat ia meninggal, aku menangisinya. Orang secantik itu harus meregang nyawa di tangan mafia,”
“Mafia yang mana?”
“Abizar Azzarro,”
“Astaga,” gumam Kaisar sambil menjatuhkan dirinya di sofa baru di dalam ruang jacuzzi.
“Aku tidak tahu bagaimana Xavier bisa menghadapi semua itu, bahkan masih bisa bekerjasama dengan Abizar Azzarro. Kalau aku, sudah kubumihanguskan semuanya, bahkan aku tak akan peduli dengan hidupku sendiri,”
“Apa alasannya membunuh ibunya Adinda?”
“Karena kastil ini,”
“Kastil ini? Kastil Velladurai ini?”
“Ya, Abizar ingin membelinya, tapi Xavier tidak melepasnya. Lalu pria brengsek itu mengancam Xavier dengan membunuh Kirana, ibu Adinda,”
“Setelah itu bagaimana?”
“Xavier tidak bergeming. Ia mempertahankan Kastil ini dan mengajukan tuntutan ke pengadilan. Hasilnya hak atas tanah ini berada di dalam silsilah keluarga Xavier. Karena itu kami masih di sini,”
“Xavier orang yang bijaksana,” kata Kaisar, “Ia pasti memikirkan keselamatan Adinda. Karena kalau sampai ia serang balik, sudah pasti ia kalah telak. Mengajukan tuntutan ke pengadilan adalah hal yang tepat,”
“Bekerja di bidang ini, tidak sepantasnya berkeluarga. Kita harus siap kehilangan orang-orang yang kita cintai. Tapi...” Valent menuangkan salah satu jenis liquor ke gelas kristalnya, “Kita hanya manusia biasa. Aku bisa jatuh cinta dan emosional,”
“Kami siluman juga tidak mengindahkan kalau hal itu bisa saja terjadi,”
“Perasaanku ke Adinda, tidak sekuat perasaanku ke Kirana...” lalu Valent terdiam sambil memandang gelas kristalnya yang berisi cairan berwarna coklat terang. “Sampai sekarang aku masih teringat caranya tersenyum, caranya menyapaku... bahkan saat ia menatapku dengan pandangan kosong dengan luka tembak di dahinya. Saat itu aku ditugaskan mengangkut jasadnya ke dalam kantong jenazah,”
“Aku turut berduka,”
“Hm,” Valent mengangguk pelan. Lalu menyeringai ke arah Kaisar. Pandangannya masih terasa pedih saat mengingat masa lalunya. “Aku tumbuh menjadi banyak orang dalam masa 200 tahun ini, Kai. Sambil menunggu kau bangkit, dalam keadaan lupa. Kubuat ingatanku tersimpan dalam tongkat zamrudku, ia menyerap semua kisah yang terjadi hari demi hari selama 200 tahun ini,”
“Aku mengerti maksudmu. Karena kalau kau mengingat masa selama 200 tahun ini, begitu banyak kepedihan yang akan kau rasakan,”
“Ya betul, manusia tidak dirancang untuk hidup lama, karena ia diberikan nafsu dan sifat tak pernah puas. Pasti ada kesalahan yang diperbuat. Bayangkan pedihnya hati ini kalau harus melalui usia sekian lamanya. Kehilangan berkali-kali, rasa kecewa yang menyesakkan, mau mati tapi tak bisa, capek tapi harus maju, dan entah sampai kapan harus berjuang,”
“Kau sedang membicarakan Conrad?” pancing Kaisar menebak jalanpikiran sahabatnya itu.
Valent hanya tersenyum tipis sambil mengangkat slokinya, “Dia sangat malang, menurutku,”
Kaisar pun terdiam dan menarik nafas.
**
Sampai beberapa saat mereka terdiam dan Orion masuk ke dalam kamar Kaisar bersama dengan Adinda yang masih memakai arm sling. Wajah Orion tampak panik
“Itu benar-benar telur Kak Olena,” ujar Orion langsung berbicara tanpa kata-kata pembuka terlebih dahulu.
“Kau yakin?”
“Aku yakin, tapi aku tak tahu Kak Olena memiliki cukup tenaga untuk kembali bangkit atau tidak,”
“Apa yang terjadi?”
Dan Orion menceritakan kejadian kemarin, saat Xavier pingsan.
Beberapa saat kemudian, Valent menengadahkan tangannya, “Kau butuh waktu seharian untuk menceritakan ini kepada kami?! Orion itu kan hal penting, bagaimana sih kau?”
“Aku semalaman di kamar Adinda, karena aku ketakutan!” desis Orion, “Kau dan Kakak juga butuh waktu seharian untuk menceritakan mengenai Valgar kepada kami,” ia berbalik menuduh Valent.
“Karena Itu terlalu sadis untuk diceritakan kepada kalian para gadis,” desis Valent, “Kami tidak pandai merangkai kata-kata seperti kalian,”
“Tapi aku perlu tahu, aku juga korban!” sahut Orion.
“Ya kami semua korban, Albert bahkan kehilangan nyawanya. Lebih besar mana penderitaanku?”
“Seperti biasa, kau paling pandai bersilat lidah,” gerutu Orion
“Lidahku tidak pandai bersilat, dia lebih menguasai kungfu,”
“Apa sih, tak lucu!”
“Apa saja yang sudah di sentuh Xavier pada dirimu, hai Nona yang kecantikannya melebihi Dewi Venus?!”
Orion memekik tak percaya, “Ternyata itu inti masalahnya selama inikah?! Aku menolak bersamamu dan kau jadi sinis seperti ini!”
“Kalian juga membuat rencana tanpa melibatkan aku!”
“Aku tak terlalu percaya mengingat kau mengumbar-umbar dadamu dengan mudahnya,” desis Valent, “Ah iya, seragam Kerajaanmu juga terbuka di bagian dada. Sebegitu bangganya kau dengan bongkahan lemakmu itu,”
“Kalau aku disentuh-sentuh cewek lain, kau jangan mengomel,”
“Buat apa aku mengomel? Memang kita ada hubungan apa?”
Alis Valent naik mendengar kata-kata Orion.
Alis Orion juga naik karena dia menantang Valent.
“Sepertinya kita harus menyingkir,” bisik Kaisar ke telinga Adinda. Adinda terkikik, lalu mengangguk.
Pria itu membopong Adinda ke kamar sebelah selagi Valent dan Orion berdebat.
“Kita ada hubungan apa katamu? Setelah semua yang terjadi...” desis Valent muram.
“Aku sudah memutuskanmu, ingat tidak?”
“Alasan yang tidak bisa kuterima. Karena Albert hah?!”
“Karena kata-katamu pemicunya, kau menuduhku berselingkuh,”
“Aku hanya bingung, tidak menuduhmu macam-macam, Princess,”
Mereka lalu terdiam.
“Aku benci kau,” gumam Orion.
“Aku merindukanmu,” balas Valent.
“Sialan kau,” gerutu Orion.
“Ayolah Orion, aku cinta abadimu selama ini,” desis Valent.
“Yang kau mau hanya bercinta denganku,”
“Bukannya sebaliknya? Kau bercinta denganku karena menganggapku budak,” desis Valent cepat.
“Kau juga bercinta denganku karena pengaruh feromon,”
“Aku membiarkan diriku terkena pengaruhnya,”
“Untuk apa kau lakukan itu?”
“Biar kau senang,”
“Selalu saja merendahkan diriku, dari 200 tahun lalu sifatmu tidak berubah. Kau selalu menganggapku bangsawan murahan!”
Valent menarik nafas untuk meredakan kesabarannya, “Mau tahu sejujurnya?”
“Apa?!”
“Tapi jangan marah,”
“Mana bisa kau tak marah?!”
“Ya sudah, kukatakan saja sejujurnya,”
“Aku menunggu...”
Lalu ruangan hening.
“Valentino Gabriel...” geram Orion.
“Aku mencintaimu sejak kecil, tapi kau ini putri raja, sedangkan aku hanya penyihir miskin yang kebetulan saja menjadi teman main putra mahkota. Sudah begitu saat kau mengalami masa puber kau bukannya menghubungiku tapi malah ke pasar budak untuk memilih orang-orang yang akan melayani kebutuhan seksualmu! Kau pikir hatiku tidak remuk redam melihat keperawananmu direbut oleh budak sahaya?! Setelah itu aku patah hati berbulan-bulan, mencoba menghindarimu dan dalam masa itu hanya Agha yang jadi temanku bercerita! Dan saat aku mulai melupakanmu kau datang lagi membawa ramuan sialan yang kau racik sendiri. Kau pikir aku tak tahu kau mencampurkannya ke dalam minumanku? Aku ini penyihir sudah pasti aku tahu dari baunya! Aku malah bingung maumu apa sih sebenarnya hah?! Kenapa kau terus-terusan menyiksaku?! Aku jadi semakin takut padamu dan memutuskan untuk mencintai orang lain saja, nahas bagiku aku selalu saja salah mencintai. Ah! Sudahlah... aku menyerah,”
Valent berjalan keluar dari ruangan Kaisar sambil mengibaskan tangannya.
Tapi lengannya ditangkap oleh Orion.
“Lepaskan aku Princess,” keluh Valent.
“Maafkan aku,”
“Sudah terlambat,”
“Aku memang mencintai Albert tapi aku bercinta denganmu,”
“Ck,” Valent menghela nafas. “Kau menganggapku budak,”
“Gabriel, aku salah, maafkan aku,”
“Apa lagi yang kau inginkan dariku,” desis Valent pelan.
Orion melipat bibirnya dan menggigitnya dengan galau, “Gabriel... Albert sudah tiada. Cintaku sudah kandas. Aku hanya perlu waktu sebentar untuk mencerna semuanya,”
Valent masih diam.
“Walaupun perasaan Albert dan ingatannya tertanam di dirimu, tetap saja kau bukan dirinya. Kau adalah Gabriel. Kalian orang yang berbeda! Tuhan menciptakan kematian dan kehidupan bagi manusia sepertimu, bukannya di tengah-tengah,”
Valent tetap diam.
“Boleh kita mulai dari awal?” tanya Orion merayu Valent.
“Bagaimana kalau... Albert ternyata masih hidup?” Valent menatap Orion dengan ekspresi sinis. Dalam sekejab mata ia berubah menjadi sosok Albert The Wizard. Dengan seragam favoritnya, tongkat, dan topi lancip lusuh yang sering dikenakannya.
Mata hijau menatap Orion lurus.
Orion gemetar menatap sosok di depannya.
“Aku masih hidup, lalu bagaimana sekarang situasinya?” tanya sosok Albert di depannya.