Dosen Idiot

Dosen Idiot
94. Masalah Selesai! (SEASON 2 EPS. 12)


"Watashi o yurushitekudasai, Junhey! (Tolong maafkan Aku, Junhey!) Sambungnya. Sepertinya, Junhey masih menyimpan perasaan pada Hito. Kalau tidak, kenapa dia sampai masih dendam kepada ku? ditambah lagi ekspresinya yang terlihat masih bersimpati pada Hito, menjadi terlihat sangat jelas.


"Watashi wa sudeni anata o yurushimashita (Aku sudah memaafkan mu)." Lirih Junhey.


"So sweet.." Ledek Naoki. Tak habis pikir, kenapa Junhey mau memaafkan bajingan seperti Hito? Aku saja sebagai Laki-laki enggan menerima maafnya. Wanita memang tidak bisa menggunakan akalnya saat mereka jatuh cinta.


"Dakishimete mo īdesu ka (Bolehkah aku memeluk mu?)." Tanya Hito. Junhey mengangguk. Ketika mereka hendak saling berpelukan , seseorang menekan bel.


"Ting.. Nong.." Mereka menghentikan aktivitasnya.


"Watashi ni sa sete (Biar Aku saja)." Ucap Naoki. Aku mengangguk kecil kemudian Naoki segera pergi menuju pintu.


"Sekali lagi, maafkan Aku, Gan." Ucap Junhey yang terdengar cukup tulus bagi ku. Aku tersenyum tipis padanya.


"Sudahlah, lupakan yang sudah terjadi. Lagi pula, itu sudah sangat lama. Jalani kehidupan mu yang saat ini sedang Kamu jalani. Jangan berpikir ke belakang, tapi lihatlah selalu ke depan." Tepis ku dengan santai. Junhey terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin malu dengan ku.


"Anu.." Gumam Junhey ragu. Aku langsung memperhatikannya dengan seksama.


"Bolehkah kita semua seperti dulu lagi?" Tanya Junhey tiba-tiba yang membuat aku terkejut. Apa maksud dari pertanyaannya? Kembali seperti dulu lagi? Dulu yang seperti apa maksudnya?


"Tabemono ga kite imasu (makanan sudah datang)." Tiba-tiba saja Aku dikejutkan dengan kedatangan Naoki yang sedang membawa makanan yang sudah kupesan sebelumnya. Obrolan kami seketika buyar. Tapi baguslah, Aku jadi tidak perlu bersusah-payah untuk berpikir tentang jawaban apa yang akan ku berikan padanya.


"Kako no dekigoto o wasurete mirai o tsui taiken dekimasu ka (Bisakah kita melupakan kejadian masa lalu dan mengulang kembali masa depan?)." Tanya Hito tiba-tiba, membuat diriku gelagapan tak tahu harus menjawab apa. Aku menghela nafas panjang agar mengurangi jumlah beban yang ada di kepala ku.


"Kore made ni okotta koto o subete wasuremashou. Kore o watashitachi no kyōkun to kangaete kudasai. Sono Ue, Junhey wa anata o yurushimashita. (Baiklah kita lupakan saja semua yang pernah terjadi. Anggap saja ini menjadi sebuah pelajaran untuk kita. lagi pula, Junhey sudah memaafkan mu)." Aku membuat keputusan demikian. Lagi pula, ini juga bukan sepenuhnya urusan ku. ini adalah urusan mereka dan Aku hanya kebetulan terlibat di sini. Ya, seperti yang kita semua tahu masalahnya sudah selesai. Kami menyatukan gelas kami untuk bersulang.


"Kanpai! (Bersulang)." Gumam kami serentak, kemudian meminum sochu yang sudah ku pesan sebelumnya bersamaan dengan pizza. Kami pun tertawa bersama setelah sekian lama tidak berkumpul seperti ini. Aku jadi rindu masa-masa kuliah. Teman-teman ku saat ini sudah menjadi seorang yang berguna dan sukses dalam kehidupannya. Junhey adalah seorang wanita populer pada masanya. dan sekarang, dia sudah tumbuh dan berkembang menjadi sosok Pramugari yang cantik. Naoki sudah menjadi kepala penanggung jawab bagi timnya di pabrik tempat ia bekerja. Aku seperti yang kalian tahu saat ini sudah menyandang gelar S2 dan sudah menjadi dosen di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Lalu, Hito... Ah. Aku sampai melupakan Hito.


"Ima doko de hataraite imasu ka (Di mana Kamu bekerja sekarang?)." Tanya ku. Hito menaruh gelas yang tadi Ia minum.


"Sobo no ie no chikaku ni rāmen-ten o hirakimashita. (Aku membuka kedai ramen di dekat rumah Nenek ku)." Jawab Hito. Aku mengangguk kecil ke arahnya. Sekarang, Ia sudah menjadi wirausahawan yang terlihat sukses.


"Watashi wa sore o ajiwawanakereba narimasen (Aku harus mencicipinya)." Ucap ku yang setengah meledek.


"Ngomong-ngomong, kemana gadis kecil yang kau ajak?" Tanya Junhey. Aku sampai melupakan Ara sangking asiknya pembicaraan kami. Aku sudah terlalu larut dalam obrolan kali ini.


"Tunggu sebentar. Saya akan memanggilnya." Lirih ku yang kemudian segera mencari keberadaan Ara. Aku terkejut saat melihat Ara sudah terbaring di ranjang. Wajahnya dan lipatan matanya menunjukkan betapa letih nya Ia hari ini. Aku menghela nafas kecil dan menghampiri dirinya. Aku pun duduk dipinggir ranjang. Ku belai lembut rambut serta pipinya yang halus.


"Kamu terlihat capek. Istirahatlah dan tidur yang nyenyak."


"Muach.." Aku mengecup sekilas keningnya kemudian kembali untuk menemani teman-teman ku yang sedang menunggu di ruang tamu.


Aku pun kembali dan duduk tempat duduk ku.


"Kare wa nemutte imasu (Dia sudah tidur)." Lirih ku. Mereka semua mengangguk kecil.


"Kon'ya tanoshimimashou (Ayo kita nikmati malam ini)." Ucap Naoki yang kelihatannya sudah setengah mabuk. Aku menghela nafas dalam-dalam. Tidak ada salahnya untuk menikmati malam ini karena tidak setiap hari kami bertemu. Akhirnya setelah sekian lama, Aku bisa kembali tertawa lepas bersama mereka. Masalah selesai!


*


-ARA MAIN-


Aku terbangun karena memikirkan sesuatu. Teman-temannya Morgan, apa mereka semua masih ada disini? Aku melirik ke arah jam dinding dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku terkejut dan segera bangkit dari tempat tidur ku.


Aku menuju ruang tamu tempat mereka berdiskusi. Betapa terkejutnya Aku saat melihat Morgan dan teman-temannya yang terlihat sudah tidak sadarkan diri lagi, terkecuali Junhey. Ia nampak asyik memandangi layar handphonenya.


"Lho kenapa pada tidur di sini?" Tanya ku. Junhey mengubah fokusnya ke arah ku. Ia tersenyum kepada ku. Entah apa arti dari senyumannya itu.


"Mereka mabuk." Jelasnya singkat. Aku hanya mengangguk kecil setelah mendengar penjelasannya.


"Terus kamu kenapa nggak ikut mabuk juga?" Tanya ku yang membuat Junhey tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Aku bingung. Apa ada yang salah dengan ucapan ku?


"Kamu polos sekali. Kalau Aku juga mabuk, siapa yang menjaga mereka? Bagaimana jika ada hal-hal yang tidak terduga di saat mereka tidak sadar?" Ucapannya terdengar sangat menjebak! Membuat diri ku seolah-olah terlihat bodoh di hadapannya. Harus ku akui, Aku memang mungkin sangat polos baginya. Mungkin karena keadaan saat ini yang baru saja bangun tidur, Aku jadi belum bisa mencerna ucapan ku.


"Iya, kamu betul. Terima kasih ya!" Ucap ku dengan nada datar. Ia tersenyum jahil ke arah ku.


"Maaf jika kehadiran diri ku mungkin saja mengusik kamu. Tapi Aku bukanlah seperti yang Morgan pikir. dan Aku pun sudah menyelesaikan masalah ku dengan Morgan. Sekarang, kami semua sudah dalam hubungan yang baik-baik saja." Ucapnya terdengar serius.


"Jika memang seperti itu, Aku akan menanyakannya langsung besok pada Morgan." Datar ku. Ia masih saja tersenyum.


"Kamu bisa tidur di kamar ku jika kamu mau." Tawarnya.


"Aku tidur di sini aja. Mereka biarin aja tidur di sini." Jawab ku. Ia bangkit dari tempatnya dan berdiri di hadapan ku.


"Lagian pakai segala minum shochu sih!" Kesal ku yang lalu segera meninggalkan mereka. Sudahlah, biarkan Morgan bersenang-senang bersama dengan kawan-kawannya. Lagi pula, mereka bukannya setiap hari seperti ini.


*


Pagi menyapa. Aku membuka mata ku dan melirik ke arah jam dinding yang berada di sebelah kanan ku. Aku terkejut karena melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku yang kaget langsung segera bangkit dari tempat tidur ku. Aku berlarian menuju ruang tamu untuk melihat keadaan Morgan beserta kawan-kawannya.


"Selamat pagi, cantik." Sapa Morgan yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya. Aku menghela nafas karena lega, Ternyata efek minum semalam tidak sampai membuat mereka tidur seharian. itu membuat ku bingung! Sebenarnya, siapa di sini yang mabuk? Kenapa mereka bangun begitu pagi lebih pagi dari Aku yang tidak mabuk.


"G**ood morning, Ara! (Selamat pagi, Ara!)." Sapa Naoki yang terlihat sangat senang. Aku melontarkan senyum hangat ku padanya.


"Selamat pagi untuk kalian semua." Ucap ku ramah.


"Kemarilah, Saya sudah menyiapkan makanan untuk kamu." Panggil Morgan. Aku mengangguk kecil kemudian bergegas menghampiri Morgan dan duduk di sebelahnya. di meja kini sudah tersedia makanan yang Aku ketahui bernama ramen. Mata ku berbinar. Kebetulan sekali Aku sudah sangat lapar sejak kemarin.


"Wah ini kayaknya sih enak.." Lirih ku berdecak kagum. Morgan memberikan ku seporsi ramen dan juga sepasang sumpit. Aku mengambilnya dengan senang hati.


"Kono rāmen wa watashi ga resutoran kara chokusetsu chūmon shita tokubetsuna monodesu. Umaku ikeba, soreha shitsubō shimasen. (Ramen ini khusus Saya pesankan langsung dari restoran Saya. Semoga saja rasanya tidak mengecewakan)." Ucap seorang Laki-laki bernama Hito itu. Spontan Aku langsung menoleh ke arah Morgan.


"Katanya ramen ini khusus dia pesankan langsung dari restoran miliknya. Sebagai informasi, dia adalah pemilik kedai ramen terkenal. dan katanya semoga rasanya tidak mengecewakan." Jelas Morgan. Aku mengangguk paham. Untung saja Morgan cekatan dan segera memberitahu arti dari ucapan yang Hito ucapkan barusan.


"Oh begitu. Ngomong-ngomong, Apa mereka nggak bisa Bahasa Indonesia? Aku lelah dengar mereka berbicara Bahasa Jepang." Lirih ku kesal. Morgan sampai tertawa mendengar ucapan ku.


"Mereka tinggal di Jepang. Lahir dan tumbuh di Jepang. Apa alasan mereka untuk belajar Bahasa Indonesia?" Jawaban Morgan sama saja seperti jawaban Wanita itu. Sama-sama membuat ku selalu terjebak. Apa seperti ini pandangan mereka sebagai orang dewasa kepada ku yang mungkin saja dianggap kecil olehnya? Aku tidak menjawab ucapan Morgan. Aku hanya menyedekapkan tangan ku dan memanyunkan bibir ku di hadapannya.


"Kamu tenang aja ya. Saya pasti akan selalu jadi kamus kamu kok!" Ucap Morgan yang berhasil membuat hati ku sedikit terpukau. Kalau dipikir kembali, ternyata Aku sangat beruntung karena bisa memiliki Morgan yang banyak mengetahui segalanya yang tidak Aku ketahui. Jadi, sedikit banyaknya Aku bisa bertanya kepada Morgan hal yang tidak Aku ketahui. Membayangkannya saja, sudah sangat menyenangkan. Tidak hanya itu, mungkin saja Morgan bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Eh.. Anak-anak kami maksudnya.


"Sugoku romanchikku! Tabemashou. (Mesra sekali! Mari makan)." Ucap Naoki yang terdengar setengah meledek.


"Shaberi sugiru (bawel banget)." Ceplos Morgan.


"Kenapa?" Tanya ku berbisik.


"Kita diomelin! disuruh makan katanya." Jawab Morgan kembali berbisik. Aku sempat tertawa karna perkataan Morgan.


"Mmmm... Oishī! (Mmm.. Enak!)." Ucap ku spontan setelah merasakan ramen yang dibawa oleh Hito. Mereka semua tersenyum pada ku.


"Kare wa ima atamagaī (Dia sudah pandai sekarang)." Gumam Naoki dengan tawanya. Morgan melihat ke arah ku sembari tersenyum tipis.


"Oroka. (Bodoh)." Lirih Morgan dengan tatapan yang aneh. Aku mengernyitkan dahi ku.


"Kamu ngomong apa!" Kesal ku. Ia tertawa dihadapan ku.


"Itu artinya Cantik." Jawab Morgan yang terdengar tidak masuk akal. Aku sangat mengetahui cantik dalam Bahasa Jepang.


"Bohong! Cantik itu bahasa Jepangnya Kirei. Kamu kenapa jadi bohongin Aku kayak gini sih?" Sinis ku kesal kepadanya. Ia berusaha menenangkan ku.


"Ohayō min'na (Selamat pagi semua)." Seseorang tiba-tiba saja datang dan menyapa kami. Aku spontan melirik ke arahnya. Terlihat Junhey yang sedang membawa koper. Sedang apa Dia?


"Ah. Ohayō"


"Ohayō."


-MORGAN MAIN-


"Naze sūtsukēsu o motte iru nodesu ka (Kenapa kamu membawa koper*?)." Tanya ku yang bingung. Terlihat pakaiannya yang sangat rapi.


"Watashi wa shigoto no tame ni modoranakereba narimasen. Hikōki no naka de anata ni aitakattanode, sukoshi yasumu koto ni shimashita. (Aku harus kembali untuk pekerjaan ku. Aku hanya penasaran melihat mu waktu itu di pesawat dan memutuskan untuk mengambil cuti)." Jelasnya yang sama sekali tidak masuk akal. Aku hanya memandangnya datar.


"Sā, sonoyōni shinaide kudasai. Watashitachiha nagaiai otagai ni atte imasen. Kare ga anata ni au no ni jikan o kaketa koto o anata wa shiawase ni omou hazudesu. Kare no okage de, watashitachi wa ima kono yō ni atte imasu. (Ayolah, jangan seperti itu. Kita sudah lama tidak bertemu. Harusnya kamu senang karena dia sampai meluangkan waktu untuk bertemu dengan mu. karena dia, kita jadi bertemu seperti ini sekarang)." Ucap Naoki yang terkadang ada benarnya. Aku menghela nafas ringan dan mengubah sikap ku.


(Yoshi, kūkō made tsureteitte hoshī? (Baiklah mau aku antar ke bandara?)." Tanya ku. Junhey tersenyum mendengarnya.


"Wazawaza suru hitsuyō wa arimasen. Junhei o kūkō ni tsurete ikimasu (Tidak perlu repot-repot. Aku akan mengantar Junhey sampai bandara)." Sambar Hito. Aku dibuat terkekeh olehnya.


"Sore wa anata ga omou kotode wa arimasen (Ini tidak seperti yang kamu bayangkan)." Ucap ku semaksimal mungkin untuk meminimalisir segala bentuk kesalahpahaman.


"Watashi wa utsukushī koto o shitte imasu. Anata wa watashi o megutte tatakau hitsuyō wa arimasen (Aku tahu Aku cantik. Tidak usah kalian memperebutkan ku)." Tukas Junhey dengan sangat percaya diri. Aku sampai jijik sendiri mendengarnya.


"Sūnengo, gārufurendo no Morgan ga Junhey no kotoba o hayaku kiitara, ōkina mondai ga hassei surudeshou. Saiwaina koto ni, kare wa anata no gengo o rikai shite imasen. (Beberapa tahun lagi jika pacarnya morgan mendengar ucapan Junhey tadi, akan terjadi masalah besar. untung saja dia belum mengerti bahasa mu)." Ledek Naoki. Tawanya pecah sehingga membuat Ara terlihat kebingungan.


@sarjiputwinataaa