
18+ Alert!
"Gue juga gak suka loe tiba-tiba cium gue, dan tiba-tiba pergi gitu aja ninggalin gue yang udah pasrah!" Ucapnya semakin melantur. Aku hanya tidak ingin melakukan hal yang dia tidak suka. Aku tidak akan memaksanya lagi jika dia tidak mau. Aku hanya melihat dirinya yang menyedihkan itu.
"Gue gak suka loe tarik ulur gue, gue gak suka loe bersikap baik sama cewe mana pun, gue gak suka loe ngedeketin gue padahal loe punya pacar, pokoknya gue gak suka apapun tentang loe!" Jelasnya dengan nada teler. Ternyata omongan asal ku membekas di hatinya. Dia mengira aku memang benar mempunyai pacar.
"Itu berarti..." Ucap ku yang terpotong karena ragu. Apa aku sudah tidak waras dengan mengajak ngobrol wanita yang sedang mabuk?
"Satu lagi! Gue gak suka gaya bicara loe yang kepotong gitu!" Tambahnya. Aku tersenyum kecil mendengar pernyataannya itu. Aku masih terlalu dini untuk mengakui perasaan ku padanya. Ada beberapa hal yang harus aku jaga. Apa saja? Kejutan dong.. 😋
"Itu berarti kamu suka sama saya?" Tanya ku spontan. Ia malah memejamkan matanya.
"Gak tau!" Jawabnya asal. Astaga! Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa membuat ku kesal. Apa sulitnya untuk berbicara terus terang?
"Hmm.. Apa boleh, malam ini saya tidur dan menikmati malam bersama kamu?" Tanya ku yang sudah sedikit terangsang padanya. Apa salahnya aku memanfaatkan situasi yang jarang seperti ini? Bagaikan kucing yang melihat ikan.
"Apa boleh buat, kita gak cuma sekali ngelakuin ini bareng." Ucapnya. Memang frontal sekali kedengarannya. Aku pernah mendengar kalau seseorang sedang mabuk, semua hal yang ia pendam pasti akan keluar dengan sendirinya. Dan semua akan menjadi lega.
"Frontal ya." Lirih ku. Ia tersenyum seperti cengengesan. Ternyata ada untungnya juga kejadian seperti ini untuk ku. Aku jadi tahu isi hatinya. Ia melingkarkan lengannya ke leher ku. Ia menatap ku dengan tatapan yang lucu bagi ku.
"Eh om, janji ya ga bakal ninggalin gue?" Tanyanya membuat aku terkejut. Aku menelan ludah ku. Apa yang harus aku katakan padanya?
"Emm.."
"Oke lah! Saya ngomong ini karena kamu lagi mabuk." Tegas ku. Ia seperti tertawa kecil.
"Jadi.. Malam ini milik kita?" Tanya ku.
"Milik gue!" Jawabnya yang tetap membuat aku terkekeh. Jawaban demi jawaban dari dirinya membuat aku sedikit kesal.
"Kita pacaran ya?" Tanyanya. Aku harus menjawab apa? Memang benar, lama kelamaan ucapannya semakin ngawur saja. Ia memaksa ku mendekat ke arahnya dengan lengan yang masih melingkar di leher ku.
"Gue gak suka sama perasaan yang gue alami sekarang." Lirihnya. Aku menatap dalam matanya yang redup akibat terlalu banyak minum.
"Jadi.. Mau kamu apa?" Tantang ku padanya. Lama-kelamaan aku yang menjadi mabuk. Ia mual seperti menahan muntah. Aku khawatir dengan keadaannya saat ini. Sepertinya, bukan saat yang tepat untuk aku berbicara serius padanya.
Ia meraba 'milik ku' yang masih terbungkus dengan celana. Aku menjadi tegang karena dia terus-menerus memainkan jarinya.
"Hmmppphhh..." Nafas ku mulai tidak beraturan.
"Kamu gak keberatan? Hmppph aku ngelakuin ini ke kamu?" Tanya ku sembari mengelus pipinya menggunakan hidung ku. Terdengar desahan nafasnya yang sudah mulai tidak beraturan. Kami sepertinya sudah terbawa suasana.
"Terlalu banyak bicara."
"Cuppp.. Mphhhhh.." Ia menyambar bibir ku membuat aku mendesah nikmat. Perlahan kami terbawa suasana. Aku terus menggerayangi tubuhnya yang indah itu. Perlahan aku membuka Bra yang ia pakai. Aku senang melihat bongkahan kenyal itu akhirnya sudah lepas dari sangkarnya. Melakukan hal ini bersamanya membuat imajinasi fantasi ku melayang drastis. Kami sudah mabuk dalam cinta malam ini. Biarlah malam ini menjadi malam milik kita berdua.
"Arghhhh.." Ia menjerit lirih membuat aku semakin bergairah. Setiap rintihan dan desahannya memacu jantung ku untuk berdegup semakin kencang dan semakin kencang lagi. Buat ku mati berdiri dan tak ada kata lagi. Ingin rasanya aku memilikinya. *Jangan nyanyi ya gaes. 😂
Aku mulai merasa bibir ku sakit karena mungkin dia terlalu bersemangat dan menggigitnya terlalu keras. Aku juga tak mau kalah dengannya.
"Rrrgggg.."
"Arhhhhh..." Aku menggigitnya dengan keras. Aku melihat ke arahnya.
"Darah!!" Ternyata aku sudah benar lepas kendali. Aku membuat bibirnya berdarah. Aku kebingungan harus berbuat apa.
"Yaaahh.. Ra!!" Pekik ku yang mulai panik dengan keadaan. Ia malah tersenyum sembari memejamkan mata. Aku pikir, ia menikmatinya. Aku mulai menggerayangi bagian dadanya. Ia seperti sedang merasakan kenikmatan.
"Drrrriiinnngggg..." Telfon berdering. Aku menghentikan aktivitas ku dan melihat siapa yang menelfon.
Rupanya yang berdering adalah handphone milik Ara. Di sana tertera nama Bisma. Aku menahan kesal sekarang. Aku sudah memperingatkan dia untuk tidak menghubungi Ara lagi. Tapi kenapa dia masih menelfon sampai saat ini?
'Gak akan saya biarin kamu dapetin Ara lagi.' Batin ku mantap. Aku melanjutkan aktivitas ku bersamanya. Ia terlihat masih menikmati setiap sentuhan yang aku berikan. Aku mulai menggesekkan 'milik ku' ke 'miliknya'. Ada perasaan bahagia karena bisa melakukan ini lagi dengannya. Aku ******* kembali bibirnya yang basah terkena bekas air liur ku. Aku tidak akan berbuat kasar lagi saat menciumnya.
"Ahhhh.." Desahannya sangat membuat ku bergairah. Perlahan, aku mulai membuka celana yang aku pakai. Terlihat sesuatu yang gagah dari balik celana ku. Aku meraba halus pinggulnya yang kecil itu. Perlahan, aku melepas rok mini yang ia pakai. Aku tidak menyangka akan berbuat seperti ini lagi dengannya. Jantung ku terus berdegup kencang. Nafas ku sudah memburu tak beraturan. Aku mulai memasukannya.
"Ssssssssss ahhhhh..." Desahannya terus menerus terdengar. Bagai alunan musik nan merdu. Aku menikmati malam ini bersamanya. Setidaknya, aku sudah lega dengan sesuatu yang selama ini ku tahan.
Aku bergerak pelan dan lembut agar dirinya tidak terlalu merasakan sakit. Beberapa saat berlalu. Aku melihat dia yang sudah kacau dan tidak sadarkan diri lagi. Dia mungkin sudah terlalu lelah untuk melayani ku malam ini. Ku belai lembut wajahnya yang hampir tertutup rambut. Aku mengamati setiap cm wajahnya. Tak ku sangka aku akan melakukannya lagi bersama dia. Sekuat apapun aku menahannya, pasti akan selalu kalah dengan pesona yang ia miliki. Aku terlalu percaya dengan diri ku sendiri.
@sarjiputwinataaa