
BISMA
Aku sudah sampai pada kamar
yang aku pesan jauh sebelumnya. Aku sudah menduga kalau gadis bodoh seperti Ara
akan dengan mudah masuk ke dalam jebakanku. Aku tinggal rayu saja dia, dan dia akan
datang dengan sendirinya padaku.
Masalah virgin atau tidak,
aku tidak mempedulikannya.
Aku merapikan semua barang
yang aku bawa, termasuk barang milik Ara. Aku menata secara asal barang-barang
yang kami bawa, di sembarang tempat.
“Gue siapin minum dulu, ya,”
gumamku.
Ara sama sekali tidak
merespon ucapanku. Apa mungkin obat perangsang yang aku berikan di caffee tadi, sudah bekerja?
Kelihatannya, dia nampak
kegerahan sekali.
Aku pergi menuju dapur
untuk menyiapkan minuman untuk Ara. Kuambil gelas dan kumasukkan sekantung teh
celup ke dalamnya. Aku menuangkan air hangat ke dalam cangkir berisi teh celup
itu.
‘Harusnya sih sudah cukup,’ batinku masih risau dengan efek yang akan terjadi.
‘Tapi, apa salahnya ditambah
lagi? Takut udah gak ngefek karena kelamaan di jalan tadi,’batinku yang khawatir efek obatnya akan berkurang setelah beberapa
saat.
“Tambah lagi aja deh ya.
Beberapa tetes aja buat jaga-jaga.” Aku mengambil botol kecil berisi obat
perangsang itu, lalu menuangkannya ke dalam cangkir teh untuk Ara.
“Braaakkkk...”
‘Oh ****! Kenapa pake
tumpah segala,’batinku yang langsung
sigap mengambil botol yang tumpah untuk menyelamatkan sisa obat yang sudah
tumpah itu.
Aku menuangkan semua obat
yang tersisa ke dalam gelas teh untuk Ara, setelah itu mengaduknya menggunakan
sendok teh.
‘Siap. Sebentar lagi, kita
bakal ngerasain syurga dunia, Ra,’batinku
tersenyum nakal.
Aku menghampiri Ara yang
sedang mengibaskan kemejanya. Ia nampak kegerahan, padahal AC menyala di suhu
16 derajat celcius. Aku saja merasa sangat dingin. Takku sangka, obat itu
bereaksi begitu cepat.
Aku duduk di hadapannya.
“Loe pasti gerah, kan? Di sini
baru AC depan yang nyala. AC sebelah belum nyala. Loe minum dulu, gue mau nyalain
AC,” gumamku padanya.
Ia mengangguk pasrah dan
mengambil air yang sudah aku buatkan untuknya. Aku pergi untuk mengambil remot
AC, lalu mengintip keadaan dari bagian luar kamar.
Dia sudah meminum setengah
dari air yang sudah kubuat. Aku tersenyum penuh gairah.
‘Akhirnya loe masuk
perangkap gue.’
Beberapa waktu berlalu, aku
membiarkan obatnya bekerja lebih dulu. Sepertinya, sudah ada perubahan darinya.
Aku menghampirinya yang
sudah setengah membuka kancing kemejanya.
“Kenapa di sini panas
banget sih?” tanya Ara.
Aku tersenyum padanya.
“Gue udah nyalain AC, kok.
Tenang aja, nanti pasti dingin,” ucapku berusaha membuatnya tenang, jangan
sampai ia menyadari ada hal aneh di sini.
Wajahnya nampak berubah
menjadi merah padam. Mungkin sedikit saja sentuhan, bisa membuat dirinya
melayang.
Aku mendekati Ara yang sepertinya
nampak kesulitan bernapas.
“Kenapa, Ra?” tanyaku memastikan
jawabannya.
“Sesak.” Ara berkata
demikian.
Aku rasa, saat ini sudah.
Aku mulai melangsungkan niatku padanya. Aku menyenggol tangannya, sembari
sesekali ku elus, berpura-pura tidak sengaja untuk menyentuhnya.
“Maaf, Ra, tadi gue gak
sengaja,” ucapku.
Ia nampak tersenyum saat tangannya
kusentuh.
“Gak apa-apa. Gue seneng,
kok,” ucap Ara.
Aku semakin yakin, bahwa
obatnya sudah benar-benar bekerja.
Perlahan, aku menyentuh
bahunya. Satu sentuhan saja sudah membuat bulu tangannya merinding. Sedikit
demi sedikit, aku membuka kancing kemejanya. Hinga semua kancing kemejanya
terlepas.
Aku sudah tidak sabar
menantikan hal ini. Aku sangat tergoda olehnya. Aku pun membuka kaos yang aku
kenakan.
“Loe juga kepanasan, Bis?”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Ayo kita mandi,” ajakku.
Ara mengangguk pasrah.
MORGAN
Aku berlari dengan sangat
kencang untuk bisa menyelamatkan Ara dari laki-laki brengsek itu. Tanpa pikir
panjang, aku berusaha melompati 3 anak tangga sekaligus untuk menuju ke lantai
30 gedung ini.
“Ya, tinggal 1 lantai
lagi!” Aku berusaha menyemangati diriku sendiri.
Aku tidak ingin menyesal
nantinya. Cukup aku yang bisa merasakan kehangatan tubuh Ara. Aku tidak rela membagikannya
pada siapa pun juga, terutama bocah brengsek itu.
Dengan perjuangan dan susah
payah, aku berhasil mencapai lantai paling tinggi di hotel ini.
Aku berlarian sembari
melihat ke arah huruf yang tertera di pintu tiap-tiap kamar.
“A.”
“B.”
“C.”
“....”
“....”
“....”
Sampai akhirnya....
“G!”
Aku sampai!
Kunci kamar VVIP
menggunakan sebuah kartu, yang hanya ditempelkan saja pada sensornya.
Dengan cepat, aku
menempelkan kartu tersebut dan membuka pintunya.
Terlihat Bisma yang sudah
tak berbusana, dan ingin menerjang Ara.
“BAJINGAN!” Teriakku, hingga
ia menghentikan aksinya tersebut yang membuat remuk jantungku.
Aku menghampirinya dengan
perasaan kesal dan menyeret lengannya tanpa ampun.
“Eh apaan nih? Lepasin!” Teriaknya
dengan sangat keras, sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramanku.
Ia lolos dengan perjuangan
ekstra yang ia hadapi. Mungkin karena aku sudah lemas, karena berlarian tadi,
tenagaku menjadi tidak sebanding dengan tenaganya.
Dicky pun datang pada saat
yang tepat. Bisma ingin lari dari sini, tapi Dicky menghadangnya.
“Mau kemana, kamu?” tanya
Dicky yang masih terdengar olehku.
Aku langsung menghampiri Ara yang sudah
setengah tak berbusana, lali membuka jas yang kupakai untuk menutupi sekujur
tubuh Ara yang indah.
Satu masalah sudah selesai.
Aku sudah bisa menangani Ara saat ini. Tinggal satu masalah lagi yang harus
kami selesaikan.
“Kunci kamar gimana?”
tanyaku.
“Aman.” Dicky menyeret
bisma keluar kamar dan membawanya ke kamar sebelah yang sebelumnya sudah kami
pesan.
Dicky bersedia mengurus Bisma
dan memberikannya pelajaran, sementara aku akan mengurus Ara di sini.
Aku berhamburan memeluk Ara
yang nampak sudah sangat kacau. Hatiku terasa sangat tersayat, karena sudah
melihat pemandangan yang seharunya tidak aku lihat.
Aku tidak bisa memaafkan
Bisma, sampai kapan pun.
“Kenapa kamu bisa begini
sih, Ra?” lirihku yang sudah tak tahu harus berbicara apa lagi.
“Engh... panas,” lirihnya.
Ara berbicara seperti itu. Tidak
salah lagi, Bisma sudah benar-benar ingin menghancurkan Ara dengan
memberikannya obat ini.
‘Apa mungkin... obat
perangsang?’batinku yang hanya asal menebak.
“Pasti kamu lagi tersiksa,
ya?” lirihku, “Izinin saya buat nolong kamu ya, Ra,” tanyaku lirih tanpa
menunggu persetujuan Ara.
Ara nampak sudah pasrah
dengan yang terjadi pada dirinya. Bahkan aku pikir, dia sudah tidak sadar diri
lagi.
Aku membuat rangsangan
kecil untuk sekedar membantunya, yang tak lain hanya untuk membantu menghilangkan
efek obat tersebut.
“Maaf, ya,” lirihku yang
sebetulnya tak tega melakukan ini.
Tapi jujur saja, di dalam
lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat merindukan sentuhannya.
Aku mulai membuka pakaianku.
Perlahan namun pasti, aku sudah sangat siap untuk melakukannya bersama dengan Ara.
Aku memulai dengan ciuman
kecil yang aku daratkan di bibirnya. Ia kali ini melawan dan tidak hanya diam
saja. Niatku yang ingin membantunya malah jadi terbawa suasana. Aku mulai
bergairah kembali karenanya.