Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak 5


BISMA


Aku sudah sampai pada kamar


yang aku pesan jauh sebelumnya. Aku sudah menduga kalau gadis bodoh seperti Ara


akan dengan mudah masuk ke dalam jebakanku. Aku tinggal rayu saja dia, dan dia akan


datang dengan sendirinya padaku.


Masalah virgin atau tidak,


aku tidak mempedulikannya.


Aku merapikan semua barang


yang aku bawa, termasuk barang milik Ara. Aku menata secara asal barang-barang


yang kami bawa, di sembarang tempat.


“Gue siapin minum dulu, ya,”


gumamku.


Ara sama sekali tidak


merespon ucapanku. Apa mungkin obat perangsang yang aku berikan di caffee tadi, sudah bekerja?


Kelihatannya, dia nampak


kegerahan sekali.


Aku pergi menuju dapur


untuk menyiapkan minuman untuk Ara. Kuambil gelas dan kumasukkan sekantung teh


celup ke dalamnya. Aku menuangkan air hangat ke dalam cangkir berisi teh celup


itu.


‘Harusnya sih sudah cukup,’ batinku masih risau dengan efek yang akan terjadi.


‘Tapi, apa salahnya ditambah


lagi? Takut udah gak ngefek karena kelamaan di jalan tadi,’batinku yang khawatir efek obatnya akan berkurang setelah beberapa


saat.


“Tambah lagi aja deh ya.


Beberapa tetes aja buat jaga-jaga.” Aku mengambil botol kecil berisi obat


perangsang itu, lalu menuangkannya ke dalam cangkir teh untuk Ara.


“Braaakkkk...”


‘Oh ****! Kenapa pake


tumpah segala,’batinku yang langsung


sigap mengambil botol yang tumpah untuk menyelamatkan sisa obat yang sudah


tumpah itu.


Aku menuangkan semua obat


yang tersisa ke dalam gelas teh untuk Ara, setelah itu mengaduknya menggunakan


sendok teh.


‘Siap. Sebentar lagi, kita


bakal ngerasain syurga dunia, Ra,’batinku


tersenyum nakal.


Aku menghampiri Ara yang


sedang mengibaskan kemejanya. Ia nampak kegerahan, padahal AC menyala di suhu


16 derajat celcius. Aku saja merasa sangat dingin. Takku sangka, obat itu


bereaksi begitu cepat.


Aku duduk di hadapannya.


“Loe pasti gerah, kan? Di sini


baru AC depan yang nyala. AC sebelah belum nyala. Loe minum dulu, gue mau nyalain


AC,” gumamku padanya.


Ia mengangguk pasrah dan


mengambil air yang sudah aku buatkan untuknya. Aku pergi untuk mengambil remot


AC, lalu mengintip keadaan dari bagian luar kamar.


Dia sudah meminum setengah


dari air yang sudah kubuat. Aku tersenyum penuh gairah.


‘Akhirnya loe masuk


perangkap gue.’


Beberapa waktu berlalu, aku


membiarkan obatnya bekerja lebih dulu. Sepertinya, sudah ada perubahan darinya.


Aku menghampirinya yang


sudah setengah membuka kancing kemejanya.


“Kenapa di sini panas


banget sih?” tanya Ara.


Aku tersenyum padanya.


“Gue udah nyalain AC, kok.


Tenang aja, nanti pasti dingin,” ucapku berusaha membuatnya tenang, jangan


sampai ia menyadari ada hal aneh di sini.


Wajahnya nampak berubah


menjadi merah padam. Mungkin sedikit saja sentuhan, bisa membuat dirinya


melayang.


Aku mendekati Ara yang sepertinya


nampak kesulitan bernapas.


“Kenapa, Ra?” tanyaku memastikan


jawabannya.


“Sesak.” Ara berkata


demikian.


Aku rasa, saat ini sudah.


Aku mulai melangsungkan niatku padanya. Aku menyenggol tangannya, sembari


sesekali ku elus, berpura-pura tidak sengaja untuk menyentuhnya.


“Maaf, Ra, tadi gue gak


sengaja,” ucapku.


Ia nampak tersenyum saat tangannya


kusentuh.


“Gak apa-apa. Gue seneng,


kok,” ucap Ara.


Aku semakin yakin, bahwa


obatnya sudah benar-benar bekerja.


Perlahan, aku menyentuh


bahunya. Satu sentuhan saja sudah membuat bulu tangannya merinding. Sedikit


demi sedikit, aku membuka kancing kemejanya. Hinga semua kancing kemejanya


terlepas.


Aku sudah tidak sabar


menantikan hal ini. Aku sangat tergoda olehnya. Aku pun membuka kaos yang aku


kenakan.


“Loe juga kepanasan, Bis?”


Aku hanya mengangguk pelan.


“Ayo kita mandi,” ajakku.


Ara mengangguk pasrah.


MORGAN


Aku berlari dengan sangat


kencang untuk bisa menyelamatkan Ara dari laki-laki brengsek itu. Tanpa pikir


panjang, aku berusaha melompati 3 anak tangga sekaligus untuk menuju ke lantai


30 gedung ini.


“Ya, tinggal 1 lantai


lagi!” Aku berusaha menyemangati diriku sendiri.


Aku tidak ingin menyesal


nantinya. Cukup aku yang bisa merasakan kehangatan tubuh Ara. Aku tidak rela membagikannya


pada siapa pun juga, terutama bocah brengsek itu.


Dengan perjuangan dan susah


payah, aku berhasil mencapai lantai paling tinggi di hotel ini.


Aku berlarian sembari


melihat ke arah huruf yang tertera di pintu tiap-tiap kamar.


“A.”


“B.”


“C.”


“....”


“....”


“....”


Sampai akhirnya....


“G!”


Aku sampai!


Kunci kamar VVIP


menggunakan sebuah kartu, yang hanya ditempelkan saja pada sensornya.


Dengan cepat, aku


menempelkan kartu tersebut dan membuka pintunya.


Terlihat Bisma yang sudah


tak berbusana, dan ingin menerjang Ara.


“BAJINGAN!” Teriakku, hingga


ia menghentikan aksinya tersebut yang membuat remuk jantungku.


Aku menghampirinya dengan


perasaan kesal dan menyeret lengannya tanpa ampun.


“Eh apaan nih? Lepasin!” Teriaknya


dengan sangat keras, sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramanku.


Ia lolos dengan perjuangan


ekstra yang ia hadapi. Mungkin karena aku sudah lemas, karena berlarian tadi,


tenagaku menjadi tidak sebanding dengan tenaganya.


Dicky pun datang pada saat


yang tepat. Bisma ingin lari dari sini, tapi Dicky menghadangnya.


“Mau kemana, kamu?” tanya


Dicky yang masih terdengar olehku.


 Aku langsung menghampiri Ara yang sudah


setengah tak berbusana, lali membuka jas yang kupakai untuk menutupi sekujur


tubuh Ara yang indah.


Satu masalah sudah selesai.


Aku sudah bisa menangani Ara saat ini. Tinggal satu masalah lagi yang harus


kami selesaikan.


“Kunci kamar gimana?”


tanyaku.


“Aman.” Dicky menyeret


bisma keluar kamar dan membawanya ke kamar sebelah yang sebelumnya sudah kami


pesan.


Dicky bersedia mengurus Bisma


dan memberikannya pelajaran, sementara aku akan mengurus Ara di sini.


Aku berhamburan memeluk Ara


yang nampak sudah sangat kacau. Hatiku terasa sangat tersayat, karena sudah


melihat pemandangan yang seharunya tidak aku lihat.


Aku tidak bisa memaafkan


Bisma, sampai kapan pun.


“Kenapa kamu bisa begini


sih, Ra?” lirihku yang sudah tak tahu harus berbicara apa lagi.


“Engh... panas,” lirihnya.


Ara berbicara seperti itu. Tidak


salah lagi, Bisma sudah benar-benar ingin menghancurkan Ara dengan


memberikannya obat ini.


‘Apa mungkin... obat


perangsang?’batinku yang hanya asal menebak.


“Pasti kamu lagi tersiksa,


ya?” lirihku, “Izinin saya buat nolong kamu ya, Ra,” tanyaku lirih tanpa


menunggu persetujuan Ara.


Ara nampak sudah pasrah


dengan yang terjadi pada dirinya. Bahkan aku pikir, dia sudah tidak sadar diri


lagi.


Aku membuat rangsangan


kecil untuk sekedar membantunya, yang tak lain hanya untuk membantu menghilangkan


efek obat tersebut.


“Maaf, ya,” lirihku yang


sebetulnya tak tega melakukan ini.


Tapi jujur saja, di dalam


lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat merindukan sentuhannya.


Aku mulai membuka pakaianku.


Perlahan namun pasti, aku sudah sangat siap untuk melakukannya bersama dengan Ara.


Aku memulai dengan ciuman


kecil yang aku daratkan di bibirnya. Ia kali ini melawan dan tidak hanya diam


saja. Niatku yang ingin membantunya malah jadi terbawa suasana. Aku mulai


bergairah kembali karenanya.