Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak 6


“Drt....”


Handphone-ku bergetar, yang kutahu pasti telepon dari Dicky.


Aku tahu itu.


Maaf


kawan, aku sedang melakukan tugasku sekarang, untuk menolong gadisku. Bisma...


tidak akan aku lepaskan nanti jika aku bertemu denganmu.


“Maafin saya yang gak bisa


nepatin janji, untuk menjaga kamu,” lirihku.


Aku sangat menyayangi Ara,


tak peduli tentang apa yang hari ini terjadi.


Aku sangat mencintainya.


Kami melanjutkan adegan


romantis kami tanpa henti. Membuat diriku tergeletak lemas. Tapi efek obatnya


tidak kunjung hilang. Ia menjadi semakin ganas.


DICKY


Di sisi lain, aku menunggu


kabar dari Morgan. Aku kesal karena kejadian ini, di luar dari rencana kami


sebelumnya.


“Dasar Morgan. Saya tahu,


dia sedang berbuat apa,” lirihku yang setengah kesal padanya.


“Lepasin saya, Pak!” Bisma


berteriak meminta untuk dilepaskan ikatannya, namun aku hanya pura-pura tak


mendengarnya.


“Gak dengar,” lirihku bermaksud


untuk menggodanya.


“Okeylah, karena sudah


nyewa kamar VVIP dengan bayaran yang mahal, saya jadi ingin menginap semalam di


sini. Saya tidur duluan, ya?” ledekku pada boca bernama  Bisma.


“Lepasin saya, Pak!”


Bisma dibiarkan terikat seperti


itu. Aku tidak mempedulikannya sama sekali.


“Selamat malam,” lirihku,


sembari meregangkan otot tubuhku yang sudah kaku.


“Pak, lepasin!”


Aku meninggalkannya menuju


kamar.


Sungguh aku tidak pedulia


padanya.


            MORGAN


Oh... malam yang indah.


Aku melakukan semua itu


dengan Ara.


Aku begitu lelah.


Tak bertenaga untuk


menyeimbangi Ara. Aku menyelimuti tubuh Ara yang juga terlihat sudah lemas. Aku


memeluknya dari belakang. Aku ingin dia tahu, perasaanku ini memang sudah


seutuhnya untuk dia. Tidak peduli bagaimana pandangannya terhadapku, bagaimana


perlakuannya, bagaimana sikapnya. Aku sudah terpaku padanya.


***


ARASHA


Sesuatu yang hangat melingkar


di belakang tubuhku. Perlahan, aku mulai membuka mataku. Aku masih berusaha


keras untuk membuka mataku yang sayu.


Terlihat sebuah tangan


melingkar di perutku. Aku masih belum sadar dengan apa yang aku lihat ini. Aku masih


belum menyerah. Aku mengucek kedua bola mataku untuk membenarkan fokus


pandanganku yang sudah rabun.


Terlihat sekilas seseorang


di belakangku.


“Aaa....” Aku berteriak


sekencang mungkin dan bangkit dari tidur.


Aku melihat Morgan yang


tidur di sampingku, tak memakai busana. Diriku pun saat ini sedang tidak


memakai busana. Hanya terbalut dengan kain tipis, berwarna putih.


Aku shock bukan


main. Apa yang baru saja terjadi?


“Kenapa-kenapa ada loe?” Aku


berteriak sekeras mungkin.


Jantungku terasa hampir mau


copot. Namun sama sekali tidak ada respon darinya. Dia nampak terlihat sangat


lelah. Wajahnya mengkerut, ia sepertinya masih belum sadar dari tidurnya.


“Bukannya kemarin, gue sama


Bisma, ya?” lirihku yang masih tak mengerti dengan yang sudah terjadi.


Kenapa ada Morgan di sebelahku?


Apa aku melakukannya lagi dengan Morgan?


Hatiku sudah hancur satu


kali. Ditambah ini, hatiku sudah hancur beberapa kali oleh orang yang sama.


“Gue gak ngerti deh, Gan!


Kenapa loe lakuin ini sama gue?” Jeritku yang masih tertahan karena air mataku


yang hendak mengalir.


Aku kesal.


Sangat kesal.


Rasanya, seperti dijatuhkan


dari atas bukit menuju dasar jurang.


“Kenapa loe diem aja sih, Gan?


Jawab gue!”


Aku semakin menambahkan volume suaraku. Namun nampaknya Morgan masih saja belum bangun dari tidurnya.


Aku jadi teringat sesuatu.


“Jam!”


“Jam berapa sekarang?” Aku


menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi.


Aku menghela napas panjang.


“Ternyata masih jam 4,” lirihku


merasa sangat tenang.


melihat sekelilingku.


Kemejaku sudah berhamburan


di mana-mana. Aku berusaha mengambilnya kembali.


“Aws....”


Terasa sangat nyeri pada


bagian bawahku.


Sakit sekali.


“Kenapa, Ra?” tanya Morgan


tiba-tiba membuatku terkejut.


Rupanya, rintihanku  tadi membuatnya bangun dari tidur.


“Gue masih punya pertanyaan


buat loe! Sekarang, ambilin baju gue dulu!” Geramku dengan sangat kasar.


Morgan memperhatikanku, lalu


berusaha bangkit dan mengambil bajuku yang berserakan di lantai. Ia


memberikannya padaku. Aku langsung seketika merampasnya dengan kasar.


“Toilet?” tanyaku dengan


nada malu karena Morgan juga mengambil pakaian dalamku.


“Hoam... buat apalagi pakai


baju di toilet? Saya sudah melihat dan merasakan seluruh tubuh kamu,” jawabnya


yang makin membuatku geram.


‘Tapi, iya juga sih.’


pikirku dalam hati.


Akhirnya dengan perasaan


was-was, aku memakai bajuku dan kembali membelakanginya.


Aku telah selesai memakai


bajuku. Aku melihat Morgan dengan senyum manisnya, sedang memperhatikanku.


Mendadak, wajahku menjadi terasa panas sekali.


“Heh... ngapain loe


ngeliatin gue?” ketusku.


Morgan semakin tersenyum


manis saat aku membentaknya. Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya ada orang


seperti ini di dunia ini.


“Apaan sih loe!”


“Kamu yang kenapa?” tanya Morgan


balik.


Aku semakin gondok dengan


sikapnya yang pandai membolak-balikkan keadaan.


“Gak usah ikut nanya gitu,


deh. Gue gak suka sama loe ya! Sampe kapan pun, gue gak akan pernah suka sama


loe!” Aku memelototinya dengan tatapan yang kasar.


Ia hanya menghela napas,


kemudian mendecap melihat tingkah laku kasarku yang mungkin sudah di luar batas.


Aku duduk di bibir ranjang,


agak jauh dari tempat Morgan duduk. Ia seperti sedang berusaha untuk mendekatiku,


tapi aku menahannya.


“Et... gak usah deket-deket


gue!” ujarku.


Lagi-lagi Morgan tersenyum


hangat padaku. Entah apa yang ia pikirkan tentang aku. Aku sudah tak peduli


lagi dengan pikirannya yang serba kotor itu.


“Jawab yang jujur!” ucapku.


Morgan memperhatikanku


dengan seksama. Ia hendak menempelkan kepalanya ke pundakku. Jujur, aku merasa


risih sekali dengan tingkahnya itu.


“Udah dibilang, gak usah


macem-macem! Denger gak sih loe?”


Lagi-lagi morgan menggodaku.


Aku tak mengerti.


Ya, dari awal pun aku sudah


tidak mengerti dengan semua sikap dan tingkahnya itu.


“Semalem apa yang terjadi?”


tanyaku.


Morgan kelihatan sedang


mempersiapkan jawaban yang tepat. Terlihat dari gerak-geriknya yang selalu


menunduk. Aku harus mengetahui tentang keadaan yang sebenarnya. Tak peduli,


seberapa lama aku harus menunggunya.


“Huft....”


Akhirnya setelah beberapa


saat, Morgan menghela napas panjang.


“Bisma mau ada niat jahat


ke kamu.”


Nampaknya Morgan


benar-benar memikirkan jawaban yang tidak ingin menyakiti hatiku. Ia memilih


bahasa yang baik, menurutku.


“Lho... ada niat apa dia?”


tanyaku yang ingin memastikan jawabannya.


“Dia mau tidur sama kamu,” jawabnya


dengan lirih, membuatku tak habis pikir.


Aku mendelik setelah mendengar


jawaban darinya.


“Tunggu, gue gak ngerti


deh! Semalem sih... emang bener gue sama dia. Tapi kenapa jadi loe yang ada di


samping gue?” tanyaku sinis.


Morgan terlihat memakai


kaos polosnya dengan cepat.


“Soal itu, kamu gak usah


pikirin. Yang penting, saya senang karena tidak terjadi apapun sama kamu,”


jawabnya, membuat diriku sangat penasaran.


Bisa-bisanya dia


merahasiakan sesuatu hal yang menyangkut diriku.


Aku tak tahan lagi. Emosiku


meledak-ledak.


“Plak....”