
“Drt....”
Handphone-ku bergetar, yang kutahu pasti telepon dari Dicky.
Aku tahu itu.
Maaf
kawan, aku sedang melakukan tugasku sekarang, untuk menolong gadisku. Bisma...
tidak akan aku lepaskan nanti jika aku bertemu denganmu.
“Maafin saya yang gak bisa
nepatin janji, untuk menjaga kamu,” lirihku.
Aku sangat menyayangi Ara,
tak peduli tentang apa yang hari ini terjadi.
Aku sangat mencintainya.
Kami melanjutkan adegan
romantis kami tanpa henti. Membuat diriku tergeletak lemas. Tapi efek obatnya
tidak kunjung hilang. Ia menjadi semakin ganas.
DICKY
Di sisi lain, aku menunggu
kabar dari Morgan. Aku kesal karena kejadian ini, di luar dari rencana kami
sebelumnya.
“Dasar Morgan. Saya tahu,
dia sedang berbuat apa,” lirihku yang setengah kesal padanya.
“Lepasin saya, Pak!” Bisma
berteriak meminta untuk dilepaskan ikatannya, namun aku hanya pura-pura tak
mendengarnya.
“Gak dengar,” lirihku bermaksud
untuk menggodanya.
“Okeylah, karena sudah
nyewa kamar VVIP dengan bayaran yang mahal, saya jadi ingin menginap semalam di
sini. Saya tidur duluan, ya?” ledekku pada boca bernama Bisma.
“Lepasin saya, Pak!”
Bisma dibiarkan terikat seperti
itu. Aku tidak mempedulikannya sama sekali.
“Selamat malam,” lirihku,
sembari meregangkan otot tubuhku yang sudah kaku.
“Pak, lepasin!”
Aku meninggalkannya menuju
kamar.
Sungguh aku tidak pedulia
padanya.
MORGAN
Oh... malam yang indah.
Aku melakukan semua itu
dengan Ara.
Aku begitu lelah.
Tak bertenaga untuk
menyeimbangi Ara. Aku menyelimuti tubuh Ara yang juga terlihat sudah lemas. Aku
memeluknya dari belakang. Aku ingin dia tahu, perasaanku ini memang sudah
seutuhnya untuk dia. Tidak peduli bagaimana pandangannya terhadapku, bagaimana
perlakuannya, bagaimana sikapnya. Aku sudah terpaku padanya.
***
ARASHA
Sesuatu yang hangat melingkar
di belakang tubuhku. Perlahan, aku mulai membuka mataku. Aku masih berusaha
keras untuk membuka mataku yang sayu.
Terlihat sebuah tangan
melingkar di perutku. Aku masih belum sadar dengan apa yang aku lihat ini. Aku masih
belum menyerah. Aku mengucek kedua bola mataku untuk membenarkan fokus
pandanganku yang sudah rabun.
Terlihat sekilas seseorang
di belakangku.
“Aaa....” Aku berteriak
sekencang mungkin dan bangkit dari tidur.
Aku melihat Morgan yang
tidur di sampingku, tak memakai busana. Diriku pun saat ini sedang tidak
memakai busana. Hanya terbalut dengan kain tipis, berwarna putih.
Aku shock bukan
main. Apa yang baru saja terjadi?
“Kenapa-kenapa ada loe?” Aku
berteriak sekeras mungkin.
Jantungku terasa hampir mau
copot. Namun sama sekali tidak ada respon darinya. Dia nampak terlihat sangat
lelah. Wajahnya mengkerut, ia sepertinya masih belum sadar dari tidurnya.
“Bukannya kemarin, gue sama
Bisma, ya?” lirihku yang masih tak mengerti dengan yang sudah terjadi.
Kenapa ada Morgan di sebelahku?
Apa aku melakukannya lagi dengan Morgan?
Hatiku sudah hancur satu
kali. Ditambah ini, hatiku sudah hancur beberapa kali oleh orang yang sama.
“Gue gak ngerti deh, Gan!
Kenapa loe lakuin ini sama gue?” Jeritku yang masih tertahan karena air mataku
yang hendak mengalir.
Aku kesal.
Sangat kesal.
Rasanya, seperti dijatuhkan
dari atas bukit menuju dasar jurang.
“Kenapa loe diem aja sih, Gan?
Jawab gue!”
Aku semakin menambahkan volume suaraku. Namun nampaknya Morgan masih saja belum bangun dari tidurnya.
Aku jadi teringat sesuatu.
“Jam!”
“Jam berapa sekarang?” Aku
menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi.
Aku menghela napas panjang.
“Ternyata masih jam 4,” lirihku
merasa sangat tenang.
melihat sekelilingku.
Kemejaku sudah berhamburan
di mana-mana. Aku berusaha mengambilnya kembali.
“Aws....”
Terasa sangat nyeri pada
bagian bawahku.
Sakit sekali.
“Kenapa, Ra?” tanya Morgan
tiba-tiba membuatku terkejut.
Rupanya, rintihanku tadi membuatnya bangun dari tidur.
“Gue masih punya pertanyaan
buat loe! Sekarang, ambilin baju gue dulu!” Geramku dengan sangat kasar.
Morgan memperhatikanku, lalu
berusaha bangkit dan mengambil bajuku yang berserakan di lantai. Ia
memberikannya padaku. Aku langsung seketika merampasnya dengan kasar.
“Toilet?” tanyaku dengan
nada malu karena Morgan juga mengambil pakaian dalamku.
“Hoam... buat apalagi pakai
baju di toilet? Saya sudah melihat dan merasakan seluruh tubuh kamu,” jawabnya
yang makin membuatku geram.
‘Tapi, iya juga sih.’
pikirku dalam hati.
Akhirnya dengan perasaan
was-was, aku memakai bajuku dan kembali membelakanginya.
Aku telah selesai memakai
bajuku. Aku melihat Morgan dengan senyum manisnya, sedang memperhatikanku.
Mendadak, wajahku menjadi terasa panas sekali.
“Heh... ngapain loe
ngeliatin gue?” ketusku.
Morgan semakin tersenyum
manis saat aku membentaknya. Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya ada orang
seperti ini di dunia ini.
“Apaan sih loe!”
“Kamu yang kenapa?” tanya Morgan
balik.
Aku semakin gondok dengan
sikapnya yang pandai membolak-balikkan keadaan.
“Gak usah ikut nanya gitu,
deh. Gue gak suka sama loe ya! Sampe kapan pun, gue gak akan pernah suka sama
loe!” Aku memelototinya dengan tatapan yang kasar.
Ia hanya menghela napas,
kemudian mendecap melihat tingkah laku kasarku yang mungkin sudah di luar batas.
Aku duduk di bibir ranjang,
agak jauh dari tempat Morgan duduk. Ia seperti sedang berusaha untuk mendekatiku,
tapi aku menahannya.
“Et... gak usah deket-deket
gue!” ujarku.
Lagi-lagi Morgan tersenyum
hangat padaku. Entah apa yang ia pikirkan tentang aku. Aku sudah tak peduli
lagi dengan pikirannya yang serba kotor itu.
“Jawab yang jujur!” ucapku.
Morgan memperhatikanku
dengan seksama. Ia hendak menempelkan kepalanya ke pundakku. Jujur, aku merasa
risih sekali dengan tingkahnya itu.
“Udah dibilang, gak usah
macem-macem! Denger gak sih loe?”
Lagi-lagi morgan menggodaku.
Aku tak mengerti.
Ya, dari awal pun aku sudah
tidak mengerti dengan semua sikap dan tingkahnya itu.
“Semalem apa yang terjadi?”
tanyaku.
Morgan kelihatan sedang
mempersiapkan jawaban yang tepat. Terlihat dari gerak-geriknya yang selalu
menunduk. Aku harus mengetahui tentang keadaan yang sebenarnya. Tak peduli,
seberapa lama aku harus menunggunya.
“Huft....”
Akhirnya setelah beberapa
saat, Morgan menghela napas panjang.
“Bisma mau ada niat jahat
ke kamu.”
Nampaknya Morgan
benar-benar memikirkan jawaban yang tidak ingin menyakiti hatiku. Ia memilih
bahasa yang baik, menurutku.
“Lho... ada niat apa dia?”
tanyaku yang ingin memastikan jawabannya.
“Dia mau tidur sama kamu,” jawabnya
dengan lirih, membuatku tak habis pikir.
Aku mendelik setelah mendengar
jawaban darinya.
“Tunggu, gue gak ngerti
deh! Semalem sih... emang bener gue sama dia. Tapi kenapa jadi loe yang ada di
samping gue?” tanyaku sinis.
Morgan terlihat memakai
kaos polosnya dengan cepat.
“Soal itu, kamu gak usah
pikirin. Yang penting, saya senang karena tidak terjadi apapun sama kamu,”
jawabnya, membuat diriku sangat penasaran.
Bisa-bisanya dia
merahasiakan sesuatu hal yang menyangkut diriku.
Aku tak tahan lagi. Emosiku
meledak-ledak.
“Plak....”