
“Perasaan loe aja kali.” Tepisku sinis.
“Ra, agak dijaga sopan santunnya, ya. Dia seumuran sama kakak, lho.” Ucap kakak, terdengar seperti peringatan, tapi aku tidak takut dengan ucapannya.
“Buat cowok yang udah punya wanita yang mau dia seriusin, buat apa harus jaga tata krama?” ucapku sinis, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
MORGAN
“Aduh, itu anak. Bener-bener dah. Sorry, ya, Gan.” Gumam Arash, yang sepertinya merasa tidak enak denganku.
Aku melontarkan senyuman ke arahnya, untuk memberitahu padanya, kalau aku baik-baik saja.
“Gak papa, Rash. Gue ngerti kok.” Jawabku, berusaha memberikan jawaban yang membuatnya tenang.
“Huft....”
“Kenapa dia bilang begitu, ya?” gumam Arash yang terlihat bingung.
“Satu kemungkinan, dia denger pembicaraan kita tadi. Tapi yang dia tangkap, salah.” Ucapku dengan tegas.
Tidak mungkin, kan, anak itu bisa tiba-tiba mengetahuinya kalau tidak mendengar pembicaraan kami secara
diam-diam?
“Hmm... kebiasaan deh anak itu. Gue berharap sih... loe bisa cepet-cepet takhlukin hati dia. Gue juga harap,
loe bisa cepet-cepet nikah sama dia, biar loe bisa didik dia dan bisa jagain dia, selagi gue ngurusin bisnis orang tua. Karena cuma loe doang yang gue percaya, buat jaga Ara. Dia satu-satunya harta gue yang tersisa.” Ucap Arash
panjang lebar, yang sepertinya sangat tulus, membuatku agak sedih ketika mendengarnya.
“Sedang diusahakan.”
Suasana nampak hening seketika. Aku mendadak mengantuk.
“Boleh pinjam toilet?”
***
ARASHA
“Brukk....”
Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Pikiranku sangat kacau saat ini. Kejadian hari ini, benar-benar di luar logikaku.
“Sumpah, gue kesel banget!” Jeritku lirih, sembari memukul-mukul bantal yang sedang aku peluk.
“Kenapa sih, harus ada dia di sini?” ucapku kesal, aku baru sadar kalau mobil yang aku lihat di depan tadi, adalah mobil milik Morgan.
Kenapa bisa secepat itu aku melupakannya?
Wajar saja, itu tidak penting bagiku.
“Kenapa dia malah ternyata temannya kakak? Ah, makin kesel gue!”
“Kriett....”
Terdengar suara orang yang baru saja membuka pintu kamarku.
“Kakak?” pekikku lirih, namun ia tak menjawabnya.
“Brukkk....”
Pintunya tertutup kembali. Aku yang tersadar kalau itu bukan kakak, langsung segera bangkit.
“Siapa itu--”
“Hmm....”
Seseorang menindih tubuhku dan menutup mulutku, membuatku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Aku berusaha
berteriak meminta bantuan, namun tidak bisa karena tertahan oleh tangannya.
Aku panik, dan meronta dengan sekuat tenaga yang aku miliki. Namun tetap saja, tubuhnya masih lebih besar dan kuat dibanding dengan tubuhku.
“Sttt... ini aku.” Ucapnya berbisik.
Aku membulatkan mataku. Ternyata yang kulihat itu Morgan. Aku sudah bisa tenang, karena aku mengetahui dirinya. Ia pun perlahan melepaskan tangannya.
‘Gue kira maling.’ Batinku yang masih berpikir.
Tapi, mau apa dia ke kamarku?
“Gila! Mau ngapain loe di kamar gue?” tanyaku dengan setengah menarik urat, karena takut kakak mendengar
dan mengetahui apa yang terjadi di sini, “mau loe apa, sih?” sambungku.
“Saya mau kamu jawab pertanyaan saya.” Ucapnya dengan nada yang aneh, membuatku agak takut dengannya.
“Aduh plis deh, benerin dulu cara loe buat berbicara sama gue! Gue gak suka orang yang sok jaga image-nya!”
Celaku, Morgan terlihat menghela napas panjang.
“Jawab pertanyaan aku.”
Nadanya agak canggung, tapi aku lebih bisa menerima yang sekarang dia ucapkan.
“Kamu ada perasaan sama laki-laki kasar itu?” tanyanya yang membuatku agak tersinggung.
“Siapa yang loe panggil kasar?” tanyaku bingung.
“Bisma? Maksudnya Bisma?” tanyaku untuk memastikan.
Morgan mengangguk pelan.
“Gue sama dia pacaran!” Jawabku asal.
Dia nampak setengah tidak percaya dengan ucapanku.
“Aku cuma mau peringatin kamu. Jangan main-main dengan laki-laki itu.” ucapannya membuatku terkekeh.
Aku membelalak ke arahnya.
“Apa urusannya sama loe?” sinisku.
Ia hanya terdiam, kemudian berusaha mendekati wajahku. Kini aku merasa wajahku menjadi panas dan terbakar.
Jantungku berdebar.
Apa yang ingin dia lakukan?
“Jangan macem-macem deh loe!” Bentakku yang khawatir.
Tatapan kami hanya berjarak 3 cm sekarang, dengan tubuh yang masih tertindih tubuhnya. Ia terdiam, kemudian
mulai mengelus pipiku.
Seketika jantungku terasa memberontak. Selemah ini aku di hadapan laki-laki? Aku sama sekali tidak memahami diriku sendiri.
Mudah terbuai, mudah kesal juga.
“Sejauh apapun kamu melangkah....” Ucapnya sembari mengelus pipiku terus-menerus. Sesekali kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan tangannya.
“Sekuat apapun kamu menghindar...,” “Aku akan tetap di sini.”
“Deg....”
Ungkapannya kian lama, membuatku mati rasa. Aku tidak tahu dengan perasaan ini. Aku sangat bingung dengan rasa yang kumiliki. Aku suka dengan Bisma. Tapi kalau terus menerus seperti ini, Aku tidak akan bisa menjamin kalau aku tidak akan jatuh cinta pada Morgan.
“Aku akan jagain kamu,” “nemenin kemana pun kamu mau pergi.”
“Dan...”
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu yang kudengar tentang percakapan Morgan dan kakak tadi, membuatku jadi geli sendiri mendengarnya.
“Stop!” Potongku, membuat Morgan menghentikan ucapannya.
“Loe pikir, gua akan mudah kemakan omongan gombal loe?” tanyaku sinis, “gue itu udah punya pacar! Loe juga
udah punya orang yang dijodohin sama loe, kan? Mantannya Kakak gue? Apa loe gak malu, hah? Gimana kalo kakak gue tau loe punya rasa sama gue? Dia pasti bakalan kecewa sama loe!” Ucapku panjang lebar.
“Pfffttt....”
Dia hanya tertawa setelah mendengar ucapanku, membuatku bingung.
“Kenapa ketawa? Loe harusnya mikir, heh!”
“Kamu itu sedang tidak cemburu, kan?”
Pertanyaannya membuatku malu sendiri. Apa yang barusan aku katakan, ternyata malah semakin memancing
kecurigaannya.
“Ra, please, be my girl.” Gumamnya sontak mengejutkanku.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa membelalak.
“Cupppss....”
Morgan mencium keningku. Aku tercengang, sama seperti saat pertama dia menciumku. Lidahku kelu, seketika
dunia terasa seperti berhenti sejenak.
“Tidak perlu menjawab sekarang. Saya hanya mau menyampaikan perasaan saja.” Ucapnya.
Aku terfokus dengan ucapannya yang masih terdengar formal itu. Mungkin, karena sudah terbiasa menggunakan
bahasa formal, ia jadi terbawa sampai sekarang.
“Jangan pake--”
“Iya, aku lupa. Aku usahakan supaya gak pakai bahasa baku lagi.” Potongnya spontan, membuatku semakin
kesal.
“Gue punya hak buat nolak loe!” Gumamku dengan ragu.
Morgan sepertinya tak menghiraukan ucapanku. Ia memeluk tubuhku dengan pelukkan yang hangat. Tubuhku
sesak karena tertindih terlalu lama dengan tubuhnya. Ia membelai rambutku dengan lembut. Takku sangka,makhluk semacam dia bisa membuat hal hangat semacam ini.
Aku tersadar kembali dengan suasana yang terjadi.
“Udah deh, pergi aja sana!” Bentakku sembari mendorong tubuh Morgan, “nanti kakak gue ngeliat, bisa mati gue!” Sambungku.
Ia melontarkan senyuman, lalu bangkit dan merapikan pakaiannya yang berantakan karena terdorong olehku.
Aku menarik selimutku dan membalikkan badanku membelakangi Morgan.