Dosen Idiot

Dosen Idiot
Kencan Buta 2


Aku bergegas memakai sepatu, dan mengambil tas. Aku menyelipkan beberapa permen susu di saku tas.


Aku tidak tahu, sebenarnya isi hatiku itu seperti apa. Aku hanya menjalani hubungan, yang menurutku nyaman. Tapi, aku tidak tahu, orang seperti apa Morgan itu?


Memang, dia sudah banyak menolongku, tapi kalau aku sampai jatuh cinta padanya karena itu, itu berarti aku hanya iba terhadapnya, bukan?


Aku tidak mau mengawali hubungan karena merasa iba. Itu akan membuatku terus terpaku dengannya.


“Dring... dring….” Handphone-ku berdering. Kusentuh layar berwarna hijau, untuk mengangkat telepon, yang aku ketahui dari Kakak.


“Ya?” tanyaku.


“Ada Morgan, nih,”


“Oke, aku ke sana, Kak.”


“Tuut….”


Aku mengakhiri telepon dari Kakak.


Aku tiba-tiba saja menjadi gugup tak menentu.


Apa yang salah denganku? Padahal, aku baru saja mengisi perutku.


Apa tadi aku salah makan?


Ah. Sepertinya tidak.


Tapi, aku seperti gemetar mendengar Morgan sudah sampai di rumahku. Apa artinya ini?


Seumur hidupku, aku tidak pernah mengajak siapa pun datang ke rumahku. Bahkan, Reza saja tidak pernah aku biarkan datang ke rumah ini, karena takut dengan ancaman kakak, yang katanya ingin menghentikkan pasokan dana padaku, jika aku sampai ketahuan berpacaran.


Huft.


Zaman Sekolah Menengah Atas, zaman di mana aku merasakan kebahagiaan, sekaligus kesedihan mendalam karena kehilangan cinta pertamaku.


Ah.


Kenapa tiba-tiba aku teringat kembali dengan masa lalu?


“Ah. Payah banget sih gue!” Aku membentak diriku sendiri, dengan maksud memberikan semangat.


Apa yang salah dariku?


Aku merasa aku baik-baik saja.


Apa aku sakit? Apa lain kali saja aku pergi?


“Ah. Masa iya gue tolak, sih? Kan gak enak juga,” lirihku, kesal.


“Tapi gue lemes gini, kenapa ya? Parah sih kalo gini mah.”


Aku sangat gelisah, memilih antara keluar atau tetap di dalam kamar. Aku tidak bisa menjamin keselamatanku, kalau aku masih tetap nekat pergi.


“Crekkkk....” Seseorang terdengar seperti sedang membuka pintu kamarku.


“Hah, siapa tuh?” Pekikku, yang langsung menoleh ke sumber suara.


Aku membulatkan mataku.


“Hah? Ngapain loe di sini?” lirihku ketakutan, setengah mati.


Aku melihat Morgan, yang sudah berada di ambang pintuku.


“Brakk…”


Morgan menutup pintu kamarku kembali. Aku semakin ketakutan dibuatnya.


“Eh, loe jangan macem-macem deh ya!” Ancamku sinis.


Seperti biasa, Morgan datang dengan gayanya yang cool, yang menyebalkan itu. Aku benci sikapnya yang tidak bisa manis dengan siapa pun, termasuk jika ia berhadapan denganku.


Ia berdiri di hadapanku, yang sedang duduk di bibir ranjang. Suasana sangat canggung. Morgan hanya memandangku, tak bergeming sama sekali.


Pikiranku sudah melayang-layang, khawatir Morgan melakukan sesuatu yang tidak aku sukai.


Ia tiba-tiba saja duduk di sampingku, membuatku agak merasa canggung. Terlihat ia duduk dengan sangat ragu. Terbayang tidak, kondisi jantungku sekarang, seperti apa?


Rasanya, seperti habis lari maraton sejauh 5-km tanpa henti.


Aku menoleh ke kanan, membuang pandanganku darinya. Morgan pun tidak menatapku sama sekali. Ia hanya memandang arah depannya.


Aku memainkan jemariku, karena merasa sangat cemas, khawatir dengan apa yang nantinya mau ia lakukan. Aku belum cukup siap untuk melakukan adegan itu lagi dengannya.


Beberapa waktu berlalu. Namun ia masih tidak memulai pembicaraan. Aku jadi merasa ia mengabaikanku.


Padahal aku dari tadi berusaha mengumpulkan keberanianku untuk hal-hal yang tidak terduga yang mungkin nanti akan ia lakukan kepadaku.


Bisa saja.


Sia-sia pikiran kotorku sejak tadi.


“Ekhm….”


Setelah beberapa saat, akhirnya aku mendengar suara deheman darinya. Aku menoleh ke arahnya. Nampaknya, ia berusaha mempersiapkan sesuatu sampai mengambil jeda yang lumayan lama.


Ia mengambil napas panjang.


“Grebb….”


Ia tiba-tiba saja menggenggam tanganku, membuatku terkejut bukan main. Kami berdua saling berhadapan.


“Boleh saya tanya sesuatu?” tanya Morgan.


Aku mengangguk kecil tanpa sadar. Ia terlihat seperti sedang berusaha menguatkan dirinya. Aku penasaran dengan apa yang ingin ia tanyakan.


“Apa kamu bisa melakukan satu hal?” tanyanya.


Aku semakin penasaran, tapi terpaksa harus diam, untuk beberapa saat.


“Kamu bisa menolak, kalau kamu merasa keberatan,” ucapnya.


Apa yang akan Morgan tanyakan padaku? Aku sama sekali tidak paham dengan kondisi perasaanku saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sendiri tidak tahu.


Suasana menjadi lebih canggung dari suasana awal. Aku sudah kehabisan kata, padahal sejak tadi aku sama sekali tidak berkata apapun. Entah apa lagi yang akan ia lakukan. Perasaanku tidak menolak, dan logikaku pun sedang pro dengan perasaan. Aku sama sekali tidak membenci dia.


“Kamu...”


“Kamu...”


“Mau...”


Apa yang akan ia katakan?


Aku ingin sekali memukul kepalanya itu. Kenapa dia mendadak jadi gagap seperti ini?


MORGAN


‘Aduh... kenapa saya jadi panas dingin begini, sih? Tinggal ngomong aja susah banget!’ batinku merasa terganggu dengan sikap idiotku ini.


Sikap rancu ini muncul lagi. Aku tidak pernah seperti ini lagi sejak saat itu. Saat aku menyatakan perasaanku pada Meygumi. Sudah lama waktu berlalu. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu.


‘Ungkapin aja sih! Dia juga belum tentu terima,’ batinku merasa kesal dengan perasaanku.


“Kamu… mau....” Aku langsung merogoh saku celanaku untuk mengeluarkan beberapa permen, lalu menyodorkannya pada Ara.


“Permen?”


Terlihat wajah Ara yang langsung bersemu menjadi merah. Auranya langsung berubah menjadi seram. Sepertinya, ia sangat marah padaku. Kenapa aku harus menawarkan permen padanya? Omong kosong apa ini?! Aku ke sini untuk menyatakan perasaanku padanya. Tapi kenyataannya, aku malah mempermainkan perasaannya saja.


“Gue benci sama loe!” Teriaknya dengan keras, kemudian berlari pergi ke arah pintu kamarnya, membuka kunci dan berhambur ke luar ruangan.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mampu menahan perasaan kesal terhadap diriku ini. Aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya.


Tapi jika diamati, kenapa dia sepertinya marah padaku? Aku sudah bilang padanya, untuk menolaknya jika dia tidak mau. Bukan berarti untuk marah dan meninggalkanku, bukan?


Aku tidak mengerti dengan yang wanita pikirkan. Memangnya, aku salah apa? Apa yang ia tunggu, sehingga membuatku merasa serba salah seperti ini?


***


ARASHA


‘Tega banget dia ngomong gitu ke gue!’ batinku yang terus-menerus meluapkan emosiku.


Entah kenapa, ucapannya itu membuat aku merasa sangat kesal. Bukan itu yang aku harapkan! Bukan ucapan itu yang aku ingin dengar.


Aku berjalan cepat menuju ruang tamu.


“Grebb….”


Seseorang menahan tanganku. Kulihat, memanglah Morgan yang menahanku.


“Ish, lepasin gue!” Bentakku yang berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya.


“Eh, kenapa nih?” tanya kakak tiba-tiba, yang memang sudah dari tadi menunggu kami di ruang tamu.